Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Saturday, April 13, 2013

Alasan Islam Berangkat dari Tanah Arab

Andai saja dakwah Islam lahir di tengah bangsa yang berperadaban tinggi
dan memiliki pemikiran filsafat yang sudah terbangun
pasti akan muncul banyak  “setan” yang menyangkal kenabian Muhammad saw
Mereka akan menuduhnya sebagai upaya eksperimental-kebudayaan
atau sebagai salah satu pemikiran filsafat belaka.

Mungkin sebagian besar dari kita (umat Islam) belum pernah terbesit pertanyaan tentang awal mula munculnya agama Islam. Tanpa perlu banyak bertanya, begitu saja kita memeluk agama Islam. Entah karena memang kita pasrah saja, atau memang kita malas untuk bertanya, atau memang kita buta tentang pertanyaan itu.

Memang, selama ini kita memeluk agama Islam begitu saja kita menerima, tanpa ada penasaran kenapa kita harus melaksanakan apa-apa yang menjadi ajarannya. Hal itu terjadi, dimungkinkan karena kita mengikuti keturunan atau lingkungan. Andai saja tidak karena keturunan atau lingkungan, sangat dimungkinkan kita tidak berada dalam dekapan agama Islam, sebagaimana anak-anak non Islam.

Atau, kemungkinan lain kenapa kita berada dalam dekapan agama Islam, karena kita ditakdirkan untuk melangkah di jalan yang diridoi Allah. Sehingga, kita tak pelu bertanya banyak hal tentang agama Islam, terutama awal munculnya Islam dan kenapa Islam harus berangkat dari tanah Arab. Meski demikian, sebagai umat Islam yang memiliki pemikiran yang kuat dan dalam, tentu akan bertanya-tanya lalu mencari jawaban tentang apa yang digelisahkan tentang agama Islam. Tujuan hal itu, bukan mencari celah untuk lepas dari Islam, akan tetapi untuk menambah keyakinan pada agama yang dipeluknya.

Salah satu yang mungkin harus dipertanyakan adalah kenapa Islam berangkat dari tanah Arab? Bagi yang benar-benar ingin menambah keyakinannya dalam memeluk agama Islam, dipersilakan melanjutkan bacaannya hingga titik akhir.

Tanah Arab diapit dua peradan besar
Untuk mengetahui jawaban tentang dari pertanyaan di atas, pertama kita mesti mengetahui karakter atau cirri khas, dan kondisi kehidupan bangsa Arab sebelum Islam. Selain itu, kita harus mengetahui gambaran geografis kawasan yang mereka diami. Bahkan, kita juga harus miliki gambaran tentang berbagai bangsa lain yang ada pada saat itu, sperti Persia, Romawi, Yunani dan India, termasuk tradisi yang berkembang dan cirri khas peradaban masing-masing.

Pertama, kita mengkaji secara sepintas bangsa-bangsa yang hidup di sekitar tanah Arab sebelum Islam. Saat itu, di dunia terdapat dua bangsa besar yang menjadi pusat peradaban dunia, yaitu Persia dan Romawi. Selain itu, ada pula Yunani dan India.

Kala itu, Persia menjadi tempat pertarungan berbagai pandangan agama dan filsafat. Di wilayah ini terdapat aliran Zoroaster yang dianut para penguasa. Salah satu ajarannya adalah menganjurkan setiap laki-laki untuk menikahi ibu, anak perempuan, atau saudara perempuannya. Bahkan Raja Yazdajird II yang berkuasa pada pertengahan abad kelima Masehi menikahi putrid kandungnya sendiri. Ajaran aneh ini hanya salah satu dari sekian banyak ajaran agama Zoroaster yang benar-benar menyimpang dari dari akal sehat. Akan tetapi, tentu bukan di sini tempatnya untuk membeberkan semua ini.

Sementara itu, imperialisme Romawi mencekeram kuat. Kerajaan besar ini terlibat konflik berkepanjangan dengan kaum Nasrani Syiria dan Mesir. Berbekal kekuatan militer yang mereka miliki, Romawi mengobarkan semangat imperialism ke penjuru dunia. Salah satu misinya adalah menyebarkan ajaran Kristen yang telah dimodifikasi sesuai keinginan mereka.

Sebagaimana Persia, Romawi juga pernah “sakit keras”. Pada saat itu, hamper seluruh wilayah Romawi dilanda kesulitan. Ketimpangan ekonomi muncul dalam bentuk penindasan dan pajak mencekik kebanyakan rakyat.

Adapun Yunani ketika itu masih tenggelam dalam kubangan takhayyul dan metologi teologis yang menjebak penduduknya dalam debat kusir yang tidak bermanfaat.

Sementara itu, tentang India dinyatakan Prof. Abu Hasan an-Nadwi sebagai berikut. Semua penulis sejarah India sepakat menyatakan, sejak paruh awal abad keenam Masehi India mengalami kemunduran luar biasa dalam bidang agama, moral, dan sosial. Bersama Negara-negara tetangganya, India terperosok ke dalam dekadensi moral dan patologi sosial kemasyarakatan.

Jadi, jika harus mengerti, ternyata yang menjatuhkan banyak bangsa dan Negara ke jurang kekacauan dan kesengsaraan tak lain adalah peradaban dan tamadun yang hanya dibangun di atas nilai-nilai matrealistik, tidak disertai model ideal-luhur yang bisa menuntun ke jalan yang lurus dan benar. Hal ini terjadi karena peradaban mana pun di dunia, dengan segala keragaman dan deferensiasinya, tidak lain hanyalah “jalan” atau “sebab”. Jika sang pemilik tidak memiliki pemikiran yang benar dan model ideal yang sahih, maka peradaban itu hanya akan menjadi jalan menuju kesengsaraan dan kekacauan. Sebaliknya, jika sang pemilik memiliki akal sehat yang lurus –yang biasanya didapat dari wahyu Ilahi- semua peradaban dan tamadun yang dimiliki pasti akan menjadi jalan mulus yang mengantarkan mereka pada kebahagiaan sempurna dalam semua sendi kehidupan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, Semenanjung Arab pada masa itu adalah kawasan yang tenang karena terhindar dari semua bentuk kekacauan yang menyebar di sekitarnya.penduduk Arab ketika itu tidak mengenyam kemewahan dan peradaban, seperti yang diraih Persia dan menjadikan mereka terperosok ke dalam kehancuran. Selain itu, mereka juga tidak disibukkan dengan berbagai bentuk paham amoral yang menghancurkan akhlak. Bangsa Arab ketika itu tidak memilik kepongahan seperti militer Romawi yang membuat mereka berhenti mencaplok wilayah-wilayah di sekitarnya. Mereka juga tidak memiliki kekayaan filsafat-dialektika seperti bangsa Yunani yang mengubah mereka menjadi bangsa dikuasai takhayyul dan dan mitos.

Pada saat itu, Arab tak ubahnya “bahan baku” yang belum diolah dan diubah bentuk. Di tengah masyarakat yang masih murni inilah, fitrah kemanusiaan tetap terjaga. Nilai-nilai luhur, seperti kejujuran, kehormatan, suka menolong, dan menjaga harga diri mewarnai masyarakatnya. Namun sayang, mereka belum mendapatkan pelita yang dapat menerangi jalan mencapai keluruhan. Mereka hidup di tengah kejahiliaan. Karena ketidaktahuan itulah, mereka banyak yang tersesat. Mereka tega membunuh anak-anak perempuan denga dalih menjaga kehormatan. Mereka rela mengeluarkan harta secara berlebihan demi mengejar kemuliaan. Mereka juga tidak segan saling membunuh satu sama lain demi menjaga harga diri.

Kondisi seperti inilah yang digambarkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala di dalam Al—Qur’an:
وَإِن كُنتُم مِّن قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّآلِّينَ
 “Dan sesungguhnya kamu sebelum hari ini adalah dari golongan orang-orang yang telah sesat”.(Surah A1-Baqarah Ayat 198)

Ayat ini lebih merupakan petunjuk bahwa kesesatan bangsa arab rupanya lebih dapat “dimaafkan” dibandingkan bangsa lain kala itu, bukan untuk menunjukkan kebodohan dan penghinaan kepada mereka. Alasannya, bangsa lain tenggelam dalam kemerosotan moral, padahal mereka di tengah obor peradaban dan tamadun yang terang menderang. Kelebihan yang mereka miliki justru memerosokkan mereka dalam jurang kerusakan.

Melalui gambaran kondisi bangsa Arab dan bangsa lain di sekitarnya sebelum Islam, kita dapat dengan mudah mengungkap alasan yang tersembunyi di balik ketetapan Allah memilih tanah atau semenanjung Arab sebagai bangsa pertama yang menerima dakwah agung ini. Dari kalangan merekalah yang pertama dititahkan Allah untuk menebarkan dakwah Islam ke seluruh penjuru bumi agar semua manusia menyembah Allah.

Banyak orang berpendapat, pemeluk agama sesat dan pemuja peradaban yang rusak akan sulit diobati sebab mereka memandang baik kerusakan yang menjangkiti diri mereka, bahkan memanggakannya. Adapun fase pencarian akan lebih mudah menerima kebodohan karena tidak akan membanggakan tamadun atau peradaban yang mereka sendiri belum mencapainya. Kelompok yang kedua ini tentu lebih mudah untuk diobati dan diarahkan.

Alasan terpilihnya tanah atau semenanjung Arab ini sama halnya dengan alasan terpilihnya Rasulullah yang ummi alias tidak bisa membaca dan menulis. Bagi Allah, demikian itu bisa jadi agar manusia tidak meragukan misi kenabian yang diemban Muhammad saw. Selain itu, Allah mengunci mati semua pintu keraguan terhadap keabsahan dakwah Rasulullah saw.

Hal lain yang turut melengkapi alasan Allah yang sedang dibicarakan ini, adalah lingkuang tempat tinggal rasul yang buta huruf itu memang seharusnya di lingkungan yang juga “buta huruf”, berbeda dengan semua bangsa yang ada di sekitarnya. Maksudnya, bangsa Arab kala itu adalah bangsa yang belum “terkomentasi” peradaban yang ada di sekelilingnya. Pikiran mereka belum dicemari berbagai berbagai macam filsafat yang tidak jelas ujung-pangkalnya.

Alasan lain lagi, menepis keraguan dari dada semua manusia. Tidaklah mudah untuk dipercaya, andakata nabi yang diutus Allah dari kalangan terpelajar yang menguasai kitab-kitab kuno, sejarah bangsa purba dan peradaban di sekitarnya. Di samping itu, Allah juga ingin menepis keraguan manusia, seandainya dakwah Islam lahir di tengah bangsa berperadaban tinggi dan memiliki pemikiran filsafat yang sudah terbangun, seisal Persia, Yunani, atau Romawi. Jika itu terjadi, pasti akan muncul banyak  “setan” yang menyangkal kenabian Muhammad saw. Mereka akan menuduhnya sebagai upaya eksperimental-kebudayaan atau sebagai salah satu pemikiran filsafat belaka.

Berkenaan denga alasan tersebut, telah diterangkan dengan tegas dalam Al—Qur’an:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَآِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن آَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, (Al-Jumu’ah 62: 2)

Alasan Lain yang cukup konkrit

Pertama
Sebagaimana yang telah diketahui bersama, Allah menjadikan Baitullah sebagai temapt berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Selain itu, menjadikannya sebagai rumah pertama yang diabngun untuk manusia; sebagai tempat pelaksanaan ibadah dan membangun syi’ar Islam. Di tempat itu pulalah Allah jauh sebelumnya telah mengukuhkan dakwah bapak para nabi, Ibrahim as. Dengan segala bentuk keistimewaan itu, kawasan yang penuh berkah ini memang layak menjadi pijakan bagi dakwah Islam yang merupakan lanjutan millah Ibrahim, menjadi tempat kelahiran dan diutusnya Nabi terakhir yang masih keturunan lagsung dari Nabi Ibrahim as.

Kedua
Jika ditinjau dari letak geografis Semenanjung Arab yang dipilih Allah sebagai tempat kelahiran dakwah agung ini, seperti yang telah disebutkan, kawasan ini memang terletak tepat di tengah-tengah berbagai bangsa yang ada di sekitarnya.

Ketiga
Letak tana atau Semenanjung Arab yang strategis ini ikut mendukung penyebaran dakwah Islam ke tengah bangs-bangsa itu menjadi jauh lebih mudah dilakukan. Jika memperhatikan perjalanan dakwah Islam di tempat kelahirannya dan pada masa kepemimpinan para Khulafa ar-Rasyidin, Anda pasti dapat menlihat jelas kebenaran pendapat ini.

keempat
Allah telah berkehendak menjadikan bahasa Arab sebagai dakwah Islam. Selain itu, Allah juga menjadikan bahasa Arab sebagai alat pertama untuk “menerjemahkan” firman-Nya yang kemudian disampaikan pada kita.

Kelima
Kalau saja mau meneliti karakter berbagai macam bahasa yang ada di dunia, kita dapat mengetahui bahwa bahasa Arab sedemikian istimewa dibandingkan bahasa-bahasa yang lain. Oleh karena itu, pantaslah ia dijadikan bahasa utama umat Islam yang tinggal di seluruh penjuru dunia.

Refrensi: Dr. Muhammad Ramdhan al-buthy,  Fiqh as-Sirah, hlm. 19-23
Sumber gambar: static.canalblog.com
http://cyberdakwah.com/2013/03/menguak-akar-perpecahan-dalam-islam/

Monday, April 1, 2013

Sejarah Pengakuan Kemerdekaan RI

 
Pengakuan atas Kemerdekaan RI tak lepas dari dukungan negara-negara Timur-Tengah, pemimpin negeri, ulama, pemimpin organisasi, bahkan masyarakat di sana.

Buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" memaparkan demikian bersimpatinya tokoh-tokoh Timur-Tengah dalam menyokong kemerdekaan RI, baik secara moral, material, dan diplomasi meski negeri mereka sendiri berada dalam ancaman sekutu kala itu. Hingga kemudian berbuah pengakuan defacto kedaulatan RI yang pertama kali oleh Negara Mesir.

Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Diplomasi revolusi Indonesia di luar negeri ini merupakan kegigihan para pemuda-pelajar Indonesia di Timur Tengah. Seruan-seruan bagi Indonesia merdeka memang telah bergaung dikalangan pemuda-pelajar Indonesia jauh sebelum tahun ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan. Perhimpunan-perhimpunan pelajar Indonesia dibentuk hingga kemudian mendapatkan momentumnya pada 17 Agustus 1945. Mereka membentuk panitia-panitia perkumpulan kemerdekaan Indonesia di negara-negara Timur Tengah dengan panitia pusatnya berada di Mesir. Mereka berperan seperti layaknya duta besar dengan menjalin komunikasi dengan para pimpinan negeri-negeri Arab, ulama, ormas yang menghasilkan dukungan sangat kuat kepada Indonesia. Mereka membantah 'black out' propaganda bohong sekutu di luar negeri yang sangat gencar atas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baik melalui media-media Timteng & media-media internasional maupun dengan mengirim surat/kawat protes, seruan, memorandum secara langsung kepada negara-negara yang bersangkutan atau kepada lembaga internasional seperti PBB.

M. Zein Hassan, Lc. Lt. adalah orang yang diamanahi sebagai ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. Sebagai ketua, ia merelakan kesempatan untuk meraih gelar Dr. (S3) yang sudah di depan mata. Ia meninggalkan pelajaran dan bahan-bahan penulisan risalah dengan judul "Kemerdekaan Dalam Islam" yang telah dikumpulkannya selama 2 tahun guna meraih titel ilmiah Dr. yang diidam-idamkan demi perjuangan kemerdekaan tanah air Indonesia.

Sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk 'Panitia Pembela Indonesia'. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Muhammad Ali Taher (Pemimpin Palestina) menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!"
Bahkan setahun sebelum proklamasi terjadi, ketika berkembang isu bahwa Jepang mengakui kemerdekaan Indonesia, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini kepada Alam Islami pada 6 September 1944. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, disebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.”

Dukungan media-media Timur Tengah surat kabar maupun radio lokal pun begitu kuat dan gencar dalam menggalang opini mendukung Indonesia dan memberitakan setiap perkembangan yang terjadi. Siang-malam surat kabar-surat kabar dan pemancar-pemancar radio menyiarkan berita-berita agresi Belanda terhadap bangsa Indonesia.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.
Pasca agresi militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir terutama dari aktifis Ikhwanul Muslimin berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau motor-motor-boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.

Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir. Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan:

"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain."
 ”Kemenangan diplomasi Indonesia mulai di Kairo. Karena dengan pengakuan mesir dan negara- negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau.” Dr. Moh. Hatta

 A.H. Nasution dalam sambutannya mengatakan:
”Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan Iran beserta Turki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : ”ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.”

 Buku ini ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc. Lt. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan), dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

http://www.iatekunsri.com/index.php/artikel/artikel-bebas/120-dirgahayu-negeriku-ke-66-sejarah-pengakuan-kemerdekaan-ri

Friday, February 22, 2013

Mengenal Raja Faisal bin Abdul Azis


Faisal bin ‘Abd al ‘Aziz Al Sa’ud (1906 – 25 Maret 1975) adalah Raja Arab Saudi yang menjabat mulai tahun 1964 hingga tahun 1975. Raja Faisal lahir di Riyadh dan merupakan anak keempat Raja Abdul Aziz Al Saud. Faisal juga keturunan langsung syaikh Muhammad Abdul Wahhab melalui ibunya. Di antara keluarganya, pendidikan Faisal terutama pendidikan agama tergolong menonjol.

Pada umur 16 tahun Faisal dipercaya menjadi pemimpin sebuah ekspedisi untuk menumpas pemberontakan sebuah suku di Asir, Hijaz bagian Selatan. Kemudian pada umur 19 tahun ia menjadi komandan pasukan yang merebut kota Jeddah dari suku Hashemit, rival dinasti Arab Saudi. Ayahnya mengangkat Faisal menjadi Raja Muda Hijaz pada tahun 1926. Faisal mencapai puncak karir militernya pada tahun 1934 dengan suatu kenaikan pangkat yang cepat setelah merebut pelabuhan Hoderida selama perang singkat melawan Yaman. Setelah Arab Saudi didirikan, dia diberi jabatan Menteri Luar Negeri Arab Saudi pada tahun 1932. Jabatan ini ia jalankan dengan cukup baik. Buktinya, ketika membawakan pidato kenegaraan dalam KTT Perdamaian di Versailles, Prancis, kharisma kepemimpinannya berhasil memukau delegasi asing yang hadir di konferensi tersebut.

Setelah resolusi PBB mengenai pemecahan Palestina dan pendirian Israel, Pangeran Faisal (masih belum menjadi raja) mendesak ayahandanya supaya memutuskan hubungan dengan Amerika Serikat, tetapi desakannya itu ditolak. Dan akhirnya pada tanggal 2 November 1964, ia pun dilantik menjadi Raja.

Dalam pidato penobatannya Faisal mengatakan, “Saya memohon kepada Allah semoga berkenan melindungi kita. Kiranya kita sekarang dapat memulai sebuah pekerjaan besar di atas suatu landasan yang kuat. Al-Qur’an tidak pernah menghalangi kemajuan. Allah senang kepada umatnya yang kuat. Mari kita lipatgandakan setiap usaha di semua bidang kehidupan untuk menyejahterakan kehidupan rakyat dan meletakkan negara dalam kedudukan yang terhormat.”

Faisal dikenal sebagai raja yang shalih dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Dia lebih mengutamakan kepentingan rakyat (pro poor) daripada mengikuti ambisi pribadi dan golongan untuk memupuk emas dan tahta. Apalagi untuk korupsi. Hal ini terlihat ketika tahun 1967 Raja Faisal menghapus program perbudakan dengan cara membayar budak-budak sewaan dari tangan majikan-majikannya. Ia rela membayar hingga 2800 dollar hanya untuk seorang budak. Raja Faisal juga melakukan penghematan kas kerajaan dengan menarik 500 mobil Cadillac milik istana. Dananya digunakan untuk membangun sumur raksasa sedalam 1200 meter yang kemudian menjadi sumber mata air rakyat di lahan-lahan tandus di Semenanjung Arab.

Ia memimpin embargo minyak kepada negara-negara Barat. Akibatnya industri dan transportasi di negara Barat menjadi kacau. Rakyat Amerika dan Eropa mengantri panjang untuk mendapatkan BBM. BBM dijatah seperti Indonesia pada masa krisis. Akibatnya Amerika terpaksa menghentikan sementara bantuannya kepada Israel. Untuk mengatasi krisis Presiden AS Richard Nixon sampai turun tangan langsung. Ia segera mengunjungi Raja Faisal di negaranya pada bulan Juni 1974 dan memintanya menyerukan penghentian embargo minyak dan perang Arab-Israel.

Dengan penuh izzah Raja Faisal berkata, “Tidak akan ada perdamaian sebelum |Yahudi mengembalikan tanah-tanah Arab yang dirampas pada tahun 1967!”

Alhasil Nixon pulang ke negaranya dengan tanpa hasil. Penolakan itu jelas membuat Amerika merasa geram. Diam-diam mereka merencanakan sebuah operasi untuk menyingkirkan Raja Faisal.

Pada tanggal 25 Maret 1975 Faisal wafat, dibunuh oleh keponakannya sendiri Faisal bin Mus’ad di istananya. Faisal bin Mus’ad menyamar sebagai seorang delegasi Kuwait yang menunggu untuk bertemu dengan Raja Faisal. Saat Raja Faisal berjalan ke arahnya untuk menyambut, Faisal bin Musad mengeluarkan sepucuk pistol dan kemudian menembakkannya ke tubuh Raja Faisal sebanyak tiga kali. Penyelidikan resmi menyatakan pembunuhan itu dilakukan atas inisiatif Faisal bin Mus’ad sendiri. Namun banyak orang yakin, Amerika dengan CIA-nya berperan sebagai dalang pembunuhan itu.


Berikut adalah petikan pidato yang menggetarkan dunia Islam dari Raja Faisal:
“Saudara-saudaraku, apa yang kita tunggu? Apakah kita mau menunggu nurani dunia? Dimanakah nurani dunia itu?

Sesungguhnya Al-Quds yang mulia memanggil kalian dan meminta tolong kepada kalian, wahai saudara-saudara, , agar kalian menolongnya dari musibah dan apa yang menimpanya. Apa yang membuat takut kita? Apakah kita takut mati? Dan adakah kematian yang mulia dan utama dari orang yang mati berjihad di jalan Allah.

Wahai saudaraku kaum muslimin, kami menginginkan kaum dan kebangkitan Islam, yang tidak dimuliakan oleh kesukuan, kebangsaan, dan juga partai. Tapi dakwah Islamiyah, seruan kepada jihad fi sabilillah, di jalan membela agama dan akidah kita, membela kesucian kita. Dan aku berharap kepada Allah, jika menetapkan aku mati, maka tetapkanlah aku syahid fi sabilillah.

Saudaraku
Maafkanlah aku, agar kalian tidak menuntutku. Karena sesungguhnya ketika aku berteriak, masjid mulia kita dihinakan dan dilecehkan, dipraktekkan di dalamnya kehinaan, kemaksiatan, dan penyimpangan moral.

Sesungguhnya aku berharap kepada Allah dengan ikhlas. Jika Ia tidak menetapkan kami untuk berjihad dan membebaskan tanah suci, maka janganlah palingkan aku sesaat darinya di hidupku”
(Dari berbagai sumber)

Thursday, February 21, 2013

AL-DIRIYAH Tonggak Sejarah Kerajaan Arab Saudi

oleh:  Oleh Indah Wulandari
 
At Turaif District in ad-Dir'iyah
At Turaif District in ad-Dir'iyah Saudi Arabia
Pemimpin Turki Ibrahim Pasha pernah memerintahkan penghancuran Diriyah. Sementara, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya.
 
Melacak asal Dinasti Saudi dalam silsilah resmi Kerajaan Arab Saudi tentu tak pernah lepas dari keberadaan lokasi bersejarah Diriyah dan Qasr al-Hakam. Kedua tempat yang terletak di pinggiran Kota Riyadh ini tengah menjadi perhatian Pemerintah Arab Saudi untuk renovasi besar-besaran.
 
Kebesaran Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke-12 Hijriah atau abad ke-18 Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud. Wilayah yang kemudian dikenal sebagai Al-Diriyah itu resmi berdiri pada 1175 H/1744 M. Wilayahnya pun meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.
 
Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencegah perilaku bidah dan khurafat, kembali pada ajaran para salafus shalih, dan berpegang teguh pada dasar-dasar agama Islam yang lurus.
 
Periode awal Negara Saudi Arabia itu berakhir pada 1233 H/1818 M. Periode kedua di mulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada 1240 H/1824 M. Periode ini berlangsung hingga 1309 H/1891 M. Pada 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz ber hasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika dia merebut kembali Kota Riyadh yang merupakan ibu kota bersejarah kerajaan ini.
 
Semenjak itulah, Raja Abdul Aziz mulai bekerja, membangun, serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern. Yaitu, ketika dia berhasil mengembalikan suasana keamanan, ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang dikenal dengan nama Kerajaan Arab Saudi. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada 1351 H/1932 M, sekaligus merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.
Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja Dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam. Dia juga berupaya meng amankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian pada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan solidaritas Islam.
 
Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-jejak langkahnya dalam memimpin Kerajaan Arab Saudi. Mereka adalah Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan pelayan dua kota suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Kota terkenal
Meski acap kali beberapa pihak mengidentifikasi lokasi Diriyah dengan pemukiman kuno yang disebutkan oleh Yaqut dan Al-Hamadani yang dikenal sebagai “Ghabra”, sejarah sejatinya bermula pada abad ke-15. Menurut penulis sejarah dari Najd, kota ini didirikan pada 1446-1447 oleh Mani al-Mraydi, nenek moyang keluarga Kerajaan Saudi.
 
Mani dan keturunannya berasal dari daerah Al-Qatif di bagian timur Saudi atas undangan dari Ibnu Dir, yang kemudian menjadi penguasa kelompok permukiman yang kini mencapai Riyadh. Ibnu Dir berhubungan dekat dengan Mani ‘al-Mraydi.
 
Sejak Ibnu Dir berkuasa, klan Mani diyakini telah meninggalkan area Wadi Hanifa pada beberapa tanggal tidak diketahui dan diperkirakan kembali ke negara asal mereka. Awalnya, Mani dan keturunannya menetap di Ghusaybah dan Al-Mulaybeed. Mereka dikenal sebagai kelompok Mrudah.
 
Setelah distrik Al-Turaif itu selesai dibangun, banyak keluarga dari kota lain atau dari suku Badui padang pasir terdekat akhirnya menetap di daerah itu. Memasuki abad ke-18, Diriyah telah menjadi sebuah kota terkenal di Najd.
 
Reruntuhan kota tua Diriyah ditemukan di antara kedua sisi lembah sempit yang dikenal sebagai Wadi Hanifa. Banyak bangunan kuno membujur hingga ke arah selatan melalui Riyadh dan seterusnya. Bangunan-bangunan itu hampir seluruhnya terbuat dari bahan bata lumpur.
 
Setelah melalui beberapa proses rekonstruksi, reruntuhan dibagi menjadi tiga kabupaten, yakni Ghussaibah, Al-Mulaybeed, dan Turaif. Kesemuanya ditemukan dibangun di atas perbukitan yang menghadap ke lembah. Di antara ketiga itu, Al-Turaiflah yang letaknya paling tinggi. Namun, aksesnya terjangkau oleh wisatawan dengan berjalan kaki saja.
 
Bagian dari tembok kota itu ditemukan di sepanjang tepi wadi dan juga terbuat dari batu bata lumpur. Tatanannya pun menyerupai bentuk kota modern di ketinggian yang lebih rendah di kaki bukit dekat Turaif. Bagian utara kota ter diri atas lembah, sejumlah kebun, kebun sawit, peternak an kecil, serta perkebunan milik penduduk. Sebuah bendungan yang dikenal sebagai Al-Ilb terletak lebih utara.
 
Diriyah pada abad itu berkembang pesat. Penaklukan Saudi terhadap Kota Suci Makkah dan Madinah memicu kemarahan dari Pemimpin Turki Ibrahim Pasha, memerintahkan penghancuran Diriyah (1811-1818.)
Upaya perlawanan ditampakkan para bangsawan Saudi dengan menghidupkan kembali Negara Wahhabi Diriyah. Ibrahim pun memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan kota dengan membakarnya. Ketika Kerajaan Saudi kembali pada kejayaannya tahun 1824 hingga 1902, mereka membangun lagi wilayahnya hingga ke selatan di Riyadh.
 
Dalam The Kingdom, yang pertama kali diterbitkan pada 1981, penulis Inggris Robert Lacey mengamati bahwa Al-Saud telah berhasil menancapkan kebesaran negarawan. Selanjutnya, kebesaran itu menjadi modal penerusnya untuk mengembangkan kekayaan yang dimiliki wilayah tersebut. Sebuah kota baru lalu didirikan oleh Pemerintah Saudi pada akhir 1970 hingga Kota Diriyah direnovasi sebagai simbol tonggak sejarah Saudi. ed: asep nur zaman

Menjadi Situs Warisan Dunia
Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi Pangeran Salman memimpin pertemuan langsung dengan pengurus Raja Abdul Aziz Foundation (Darah) di istananya di Riyadh beberapa waktu lalu. Pangeran Salman adalah ketua dewan direksi Darah yang tengah melakukan pengembangan lokasi cikal bakal Dinasti Al-Saud, Diriyah, dan Qasr al-Hakam.
 
Komisi untuk Pariwisata dan Purbakala Saudi (SCTA), seperti dilansir laman Arab News, juga berusaha mencari cara pelestarian terbaik bagi dua situs warisan budaya itu. Pasalnya, Diriyah dan Qasr al-Hakam menyimpan berbagai simbol dari arsitektur warisan Saudi. Keduanya juga termasuk lokasi yang paling pen-ting dalam sejarah awal pembentukan Kerajaan Saudi.
 
Diriyah merupakan ibu kota Saudi pertama yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Unesco pada 2010. Sementara, Istana Musmak yang menjadi saksi bersejarah Saudi berada di area Qasr al-Hakam.
 
Nantinya, renovasi yang dilakukan bertujuan untuk melindungi sekeliling kedua tempat tadi. Beberapa konstruksi baru bakal didirikan di daerah Qasr al-Hakam serta akan melingkupi kawasan komersial Suwaiqah, Al-Muaiqiliyah, Dayrah, Zal, dan Justice Square. Renovasi lainnya juga dilakukan di area Al-Safah, alun-alun Muhammad bin Saud Imam, serta alun-alun dan halaman Istana Al-Musmak.
 
Sebagai pelengkap nuansa eksotik Arab, ribuan pohon kelapa sawit ditanam di lahan seluas 4.500 meter persegi. Pepohonan ini menyebar di seluruh halaman istana. Sisanya ditanam di bagian selatan. Pengembang juga memanfaatkan sisi timur untuk dijadikan sebagai gurun buatan dengan kontur tanah yang lebih tinggi agar melindungi kawasan istana.
 
Jalanan di sekeliling istana dibentuk jalan setapak beraspal. Sehingga, orang umum ataupun keluarga kerajaan bisa mengadakan acara-acara di kawasan tersebut dengan akses yang mudah. Area sekitar masjid Istana Musmak pun turut dirombak dengan gaya arsitektur Timur Tengah klasik. Masjid tersebut juga dirancang dengan keunikan tersendiri. Bangunannya memiliki dua menara dengan masing-masing ketinggiannya mencapai 50 meter. Pangeran Turki bin Abdullah Masjid juga dibuatkan akses jalan khusus melalui Justice Square dan Safa Square melintasi istana dan masjid tersebut.
 
Tahap pertama dari pengembangan Diriyah melibatkan pengembangan jaringan jalan, prasarana, halaman, dan pemisahan area dari kawasan museum Diriyah. Disusul tahap perbaikan Masjid Imam Muhammad bin Saud, renovasi Syekh Muhammad bin Abdul Wahab Foundation, dan penambahan fasilitas pencahayaan dan peredam suara di area museum.
 
Rumah-rumah tradisional dari tanah lempung di kawasan Diriyah juga akan direnovasi sebagai bagian dari pengembangan museum. Wisatawan juga dimanjakan dengan fasilitas toko-toko suvenir tradisional. Kompleks untuk kantor pemerintah, kantor pariwisata, dan pusat infomasi pengunjung menjadi sentra pendukungnya.
 
Tahap pembangunan perdana juga mencakup pembangunan pendukung pariwisata. Mulai dari taman umum di samping Hotel Heritage Al-Turaif Warisan hingga Hotel Al-Bujairi. Kemudian ada perbaikan stasiun kereta api Al-Turaif, renovasi restoran tradisional, klub kesehatan, apartemen, dan pembangunan pasar untuk produk pertanian.
 
Pemerintah Saudi memfokuskan pembangunan di Kabupaten Al-Turaif, Diriyah, karena sebagian bangunan bersejarah berdiri di sana. Sebagian besar berupa gedung-gedung kuno Pemerintahan Kerajaan Saudi. Termasuk pula Istana Salwa yang dibangun oleh pendiri Kerajaan Saudi, Imam Muhammad bin Saud, pada pertengahan abad ke-18.
 
Kebanggaan warga Al-Turaif bertambah dengan keberadaan Masjid Imam Muhammad bin Saud di daerahnya. Di tempat itulah ulama besar Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab menggembleng murid-muridnya.
 
Kawasan distrik Al-Bujairi termasuk pula area utama Diriyah yang menyimpan peninggalan budaya kerajaan. Di tempat ini berdiri masjid tertua dari generasi pertama ulama Salafi. Le taknya di tepi timur Wadi Hanifa. indah wulandari ed: asep nur zaman. 
 
Oleh Indah Wulandari, (Sumber: Khazanah, Republika Online, Kamis, 22 Desember 2011)