Showing posts with label palestina. Show all posts
Showing posts with label palestina. Show all posts

Monday, January 21, 2013

Palestina Sampaikan Terima Kasih atas $100 Juta Bantuan Saudi

Hidayatullah.com—Presiden Palestina Mahmud Abbas mengucapkan terima kasih kepada Raja Saudi Abdullah atas keputusannya yang akan mengirimkan bantuan US$100 juta (sekitar 1 trilyun rupiah) untuk negara Palestina.

“Presiden Abbas mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Raja Saudi itu,” lapor kantor berita Palestina WAFA.

Hari Rabu (16/1/2013) Abbas dilaporkan menerima telepon dari Menteri Keuangan Saudi Ibrahim al-Assaf yang menginformasikan rencana Raja Abdullah untuk mengirim uang US$1 juta ke anggaran negara Palestina.

Bantuan dari Kerajaan Arab Saudi itu dirasa sangat berarti, sebab menyusul pengakuan sebagian besar negara anggota Majelis Umum PBB atas negara Palestina, pemerintah Zionis Israel menahan semua uang yang menjadi milik Palestina, hasil dari pungutan pajak rakyat. Uang sebesar US$120 juta itu diambil paksa oleh Israel untuk membayar hutang Palestina kepada perusahaan listrik milik Zionis Yahudi.

Abbas mengancam akan mengadukan Israel ke Mahkamah Kejahatan Internasional (ICC) jika tidak memberikan uang pungutan pajak tersebut.

Uang sumbangan dari Arab Saudi itu akan memungkin pemerintah Palestina membayar gaji para pegawai dan anggota militernya yang dua bulan terakhir ini belum mendapatkan gaji sama sekali.

Kementerian Keuangan Palestina mengatakan, negaranya membutuhkan US$150 juta setiap bulan untuk membayar gaji pegawai.

Hari Ahad kemarin, pejabat Palestina bertemu dengan Liga Arab di Kairo guna mendiskusikan “jaring keamanan finansial” untuk Palestina. Demikian lapor Saudi Gazette (18/1/2013).*

Rep: Ama FarahRed: Dija

“Selamat Datang Duta Palestina!”

oleh : Muhammad Dinul Haq

MAKAN malam kali ini terasa lebih hangat dan sarat akan ukhuwah. Bukan karena menu yang beraneka cita dan rasa khas Timur Tengah, atau hangatnya teh daun mint dan secangkir kopi, tapi karena kami duduk satu meja dengan seorang pemuda Gaza, Palestina. Bersama dua sahabat saya, Lukman Hakim dan Abdil Munzir merasa istimewa bisa duduk bersamanya di antara ratusan mahasiswa lainnya malam, hari Sabtu (15/12/2012)  di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM).

Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh , 19 tahun 6 bulan. Itulah namanya yang saya lihat di situs resmi Islamic University of Madinah. Penampilan santun dengan wajah khas bangsa Palestina yang sering terlihat di layar kaca dan surat kabar di Madinah. Pertemuan kami berempat malam itu menyisakan cerita panjang perjalanan anak Jalur Gaza ini menuju Kota Nabi, Madinah al-Munawwarah, Saudi Arabia. 

“Saya sudah sepekan di Madinah ini, tapi saya masih susah meyakinkan diri saya bahwa saya disini,” kata Abd el-Qadir membuka pembicaraannya dengan logat Arab khas Palestina. 

“Masya Allah... Benarkah?” sambut saya.

“Ya, keluar dari Jalur Gaza seperti mimpi indah dan Anda memiliki nyawa baru,” katanya meyakinkan sambil menghirup udara panjang.

“Apakah ini kunjungan pertamamu ke Arab Saudi?” Abd Munzir mencoba menyusuri lebih jauh.

“Bahkan ini untuk pertama kalinya Ana keluar dari Gaza, Penjara Raksasa itu,” jawabnya, 
dengan mata terbuka meyakinkan, lalu memuji Allah Subhanahu Wata'ala.

Saya teringat laporan khusus “Penjara Raksasa Bernama Gaza” di salah satu rubrik majalah Suara Hidayatullah beberapa bulan lalu di Tanah Air. Pikiran saya langsung terbang ke Indonesia, negeri yang sangat peduli dengan kondisi saudaranya di Bumi Para Nabi itu.
Terbayang pula ramainya suasana demontrasi pro Palestina dengan spanduk-spanduk besar bertuliskan “Save Palestine!”, “Bebaskan Al-Quds!”, “SBY, Kirim TNI ke Gaza!!!” dan kalimat-kalimat serupa, diiringi nasyid-nasyid heroik perjuangan, lalu ditutup dengan pelelangan dana sosial peduli Palestina.

Saat di Tanah Air, saya dan teman-teman selalu ingin mendengar langsung warga Palestina tentang banyak hal. Saya sering melihat dan membaca kabar-kabar al-Quds, mendengarkan laporan perjalanan para relawan yang dimudahkan Allah menuju Kiblat pertama umat Islam itu. Dan kini, cerita itu hanya berjarak 30 cm dari telinga saya, langsung dari lisan pemuda Syam.

“Anda sering ke Masjid Al-Aqsha?” tanya Lukman sambil menikmati ayam panggangnya.

“Demi Allah, bahkan saya belum pernah melihat Al-Quds, kecuali di televisi Gaza. Yahudi membuat penjara raksasa bernama Gaza, kami dikepung dari darat, laut dan udara. Tank-tank bergerak di samping rumah-rumah kami seperti hewan ternak. Ke mana mata memandang hanya terlihat moncong senjata yang masih panas setelah memuntahkan pelurunya....” tutur Abd el Qadir dengan gaya bicara yang cepat.

“Kami mengambil keringanan shalat di dalam rumah dengan keluarga kami, darurat. Anda tidak akan pernah bisa membayangkan tank-tank itu mendobrak pintu rumah kami dan masuk menabrak panci-panci yang bergelantungan di dapur kami. Anda tidak bisa membayangkan moncong senjata itu berada tepat di kepala seorang bapak, dan istrinya menahan jari telunjuk (tentara) Yahudi agar tidak menembak suaminya. Dan bapak itu mati di depan istrinya, lalu datang giliran sang istri dan anak untuk ditembak juga...”

Dibiarkan Membangun, lalu Dibom
Mendengar langsung cerita el-Qadr, seolah kantin malam itu hanya milik kami berempat. Sangat dramatis. Sambil menyebut asma Allah dan bertakbir, kami mengikuti “siaran langsung” kabar Palestina ini. Tentunya sudah sering kami dengar cerita serupa, tapi kali ini beda getarannya.

“Alhamdulillah ya akhi, antum (kamu) sekarang bersama kami di sini (Madinah, red). Di Indonesia sana, Anda memiliki banyak saudara yang peduli dengan kondisi Palestina,” sahut saya, lalu menceritakan pada Abd el Qadir betapa semangatnya teman-teman di Tanah Air mendukung pembebasan Palestina.

“Alhamdulillah! Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman di sana. Ini makan malam pertama saya di kampus (UIM), dan saya duduk dengan Antum; saudara-saudara saya dari Indonesia. Di Gaza saya melihat banyak orang Indonesia yang membantu kami, mereka membangun Rumah Sakit dan Madrasah, juga markas logistik untuk kami,” katanya sambil tersenyum penuh rasa syukur.

“Tapi dasar Yahudi, sepekan kami dibiarkan membangun, lalu mereka datang pekan berikutnya dengan pesawat-pesawat besar membawa bom dan rudal menghancurkan bangunan kami,” lanjutnya lagi, sambil menggelengkan kepala keheranan. 
Makanan kami masih banyak tersisa, terlalu larut dalam cerita haru kondisi saudara-saudara seiman di Palestina. Saya lihat raut wajah Mundzir menyisakan air muka sedih dan prihatin. Sedangkan Lukman masih memegang gelas teh yang dari tadi jarang diminumnya. Kami pun mencoba mengorek perjalanan dia menuju Kota Nabi, dan bagaimana dia bisa diterima di kampus UIM ini (cerita perjalanannya akan saya tuliskan di bagian kedua dari tulisan ini).
30 menit berlalu, azan Isya’ memanggil kami. Setelah mencuci tangan, kami berempat bergerak menuju masjid Fakultas Bahasa Arab di dekat Mat’am (tempat makan) ini. Sejak itu pula, sepertinya kami diresmikan sebagai teman dekat baru Abdul Qadir Umar. Kami menjelaskan seluk beluk kampus dan aturannya, seolah kami mahasiswa senior yang sudah lama berada di Madinah ini.

“Alhamdulillah... Saya bisa menyembah Allah dengan tenang di sini, tanpa bisingan peluru, dan tanpa suara menggigit dari rantai tank dan mesin pesawat tempur,” ucapnya sambil berjalan di tengah kami, mengangkat tangannya dengan telapak terbuka.

Merajut Mimpi di Kota Nabi 
MENINGGALKAN sanak keluarga dan tanah air tercinta untuk menuntut ilmu adalah salah satu hal paling dramatis dalam perjalanan hidup seorang penuntut ilmu. Apalagi tanah air itu sedang dalam kondisi sulit dan membutuhkannya secara fisik dan moril.
Itulah bagian menarik dari cerita Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh, 19 tahun, seorang anak kelahiran Gaza pada makan malam kami, Sabtu (15/12/2012)  itu di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM). Saat itu saya ditemani dua kawan saya, Lukman Hakim dan Abdil Munzir. Bagian kedua dari tulisan ini mengajak Anda membuka mata melihat semangat Bangsa Palestina dalam menuntut ilmu di tengah kepungan maut Bangsa Yahudi yang hina.

“Anda datang sendiri atau bersama rombongan Mahasiswa Palestina?” tanya saya membuka hiwar (percakapan) perjalanan Abd el-Qadir menuju Madinah.

“Saya hanya sendiri ke sini. Sebenarnya jumlah mahasiswa Palestina yang diterima tahun ini di Madinah ada 13 orang, namun hanya ana (saya) yang berangkat,” jawab Abd el-Qadir sambil menikmati makroni kukusnya.

Masya Allah! Saya langsung membandingkan jumlah teman-teman Indonesia seangkatan saya yang diterima tahun ini, ada 112 orang. Palestina yang negara Arab dan dekat Arab Saudi hanya bisa mengutus 13 orang, itupun hanya Abd el-Qadir yang bisa tembus ke jantung Kota Nabi seorang diri.

“Ikhwah (saudara) yang lain?” Mundzir mencoba memastikan.

“Wallahu a’lam. Saya tidak bertemu mereka di Mesir kemarin, semoga mereka menyusul,” terangnya.

“Mesir? Anda pernah kesana?” tanya saya keheranan, karena dia katakan sebelumnya bahwa ia baru pertama keluar dari Jalur Gaza.

“Ya, Mesir. Ana sempat tinggal dua bulan setengah di sana. Dan di sanalah saya mengurus administrasi dan imigrasi untuk masuk ke Arab Saudi,” jawabnya meyakinkan.

“Lho, kok di Mesir, bukannya di Palestina sana mengurusnya?” tanya Lukman dengan nada heran mewakili keheranan kami.

“Wallahi, ya Akhi (Demi Allah, wahai saudaraku)! Kami tidak mempunyai bangunan kantor yang memadai dan mampu mengurus administrasi. Semuanya lumpuh, sibuk dengan kekhawatiran. Bahkan negara kami tidak mempunyai pesawat untuk perjalanan luar negeri. Alhamdulillah, Mesir adalah saudara negeri kami, ia banyak membantu kami,” jelas Abd el-Qadir.

Penjelasan teman baru kami ini mengingatkan saya akan Indonesia tercinta, negara kaya yang diliputi banyaknya fasilitas umum, baik berstandar nasional maupun internasional. Mulai dari masjid jami, bandara internasional, pelabuhan megah yang diisi kapal-kapal dagang negara asing, mall, apartemen, kampus dan taman kota. Belum lagi fasilitas-fasilitas olahraga dari stadion-stadion megah dan venue-venue pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional. Sangat kontras dengan Palestina, yang menurut cerita Abd el-Qadir, jangankan mall, gedung untuk mengurus administrasi keimigrasian saja lumpuh. Pesawat banyak, tapi pesawat tempur milik Yahudi yang bandaranya ada di Kapal Induk Amerika, di lautan luas sana.

“Lalu, dari Gaza ke Mesir naik apa? Mobil?” tanya saya.

“Ya, naik mobil menempuh kurang lebih 7 jam perjalanan, melewati pos-pos keamanan Israel. 

Bisa lolos satu pos saja Anda harus sujud syukur memuji Allah. Itu ajaib, karena setiap pos menyediakan peluru hangat untuk Anda. Ana juga melewati Terusan Suez, yang sebelumnya melewati ‘pulau’ Sina (Sinai) yang ada Bukit Tur Sina di dalamnya, bukit bersejarah yang Allah bercakap dengan Nabi Musa As disana,” cerita Abd el-Qadir.

“Kemudian kami berempat (tanpa ada komando) membaca bersama bagian terakhir ayat ke 164 dari surat An-Nisa: “وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا” sambil kami mengangkat jari telunjuk kami dengan senyuman, bak isyarat mengingatkan satu sama lain tentang ayat mulia ini,” tambahnya.

Pergi untuk Kembali
Abd el-Qadir melanjutkan ceritanya. Selama 2,5 bulan di Mesir, dia sibuk mengurus administrasi. Dia tinggal bersama kerabatnya di sana. Petugas administrasi di Mesir sempat heran, mengapa Abd el-Qadir bisa keluar dari Gaza untuk keperluan menuntut ilmu?

“Bahkan mereka sempat mengatakan bahwa ‘Tidak ada belajar di luar, tidak ada Arab Saudi, tidak ada Jami’ah Islamiyah Madinah, lebih baik Anda pulang ke Gaza!’” tutur Abd el-Qadir dengan mimik memperagakan nada bicara petugas keimigrasian Mesir.

“Ana juga sempat berkeliling Mesir, mengunjungi Universitas Al-Azhar. Sempat ada keinginan untuk membatalkan perjalanan ke Madinah dan belajar di Al-Azhar saja, berhubung pihak imigrasi tidak memberikan lampu hijau selama dua bulan itu. Tapi alhamdulillah, Allah menguatkan hati saya. Seberat apapun perjalanan menuju Kota Nabi, harus saya tempuh. 

Bukankah perjalanan menuju Masjid Nabawi itu disyari’atkan walaupun dengan susah payah?!” lanjutnya dengan bahasa meyakinkan.
Langsung terbersit oleh penulis akan Hadits Rasulullah SAW:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ؛ المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Tidaklah pelana unta itu dikencangkan (janganlah bersusah payah melakukan perjalanan dengan sengaja) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsho.”

Kemudian Abd el-Qadir Umar menggambarkan bahwa Palestina pasti membutuhkan dirinya sekarang sebagai bahan bakar perjuangan melawan Yahudi Israel. Di usia 7 tahun masa kecilnya saja, tuturnya, dia sudah keluar bersama teman-temannya dalam ‘proyek’ Intifadhah. Mengumpulkan batu-batu dan kerikil-kerikil tajam untuk orang dewasa. Tapi menuntut ilmu itu juga disyari’atkan walaupun dalam kondisi perang. Niat Abd el-Qadir keluar dari Gaza adalah menuntut ilmu, pengamalan dari firman Allah SWT:
وَمَا كَانَ المُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْ لَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُم إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah: 122), ayat ini sempat dibaca oleh Munzir sebelum dibaca oleh Abd el-Qadir. 

“Ana meminta pada Allah agar ana menjadi golongan dalam ayat ini. Menuntut ilmu di Kota Nabi adalah impian indah anak-anak kecil Palestina, mereka selalu menyebut-nyebut dalam permainan mereka; ‘Belajar... belajar... berangkat ke Makkah, belajar... belajar... berangkat ke Madinah...’ Tapi itu semua hanyalah mimpi bagi mereka. Semuanya lumpuh, semuanya sibuk membebaskan Palestina,” ujar Abd el-Qadir setelah membaca ayat tadi.

“Demi Allah ikhwah, kalau bukan karena menuntut ilmu, ana lebih memilih tinggal di Gaza. Mati di tanah kami adalah kemuliaan bagi kami, tapi cinta ana pada ilmu menahan itu. Ana melihat potensi besar dalam diri ana untuk mendalami ilmu agama, agar ana kembali nanti 
membimbing teman-teman di sana. Mereka juga membutuhkan ilmu-ilmu syari'at untuk mereka beribadah dengan benar. Mereka juga harus belajar, karena tidak ada manusia yang dilahirkan berilmu,” lanjutnya.

Kalungan Bunga untuk Abd el-Qadir
“DEMI ALLAH ikhwah (saudara, red), kalau bukan karena menuntut ilmu, Ana lebih memilih tinggal di Gaza. Mati di tanah kami adalah kemuliaan bagi kami, tapi cinta ana (saya) pada ilmu menahan itu,” demikian aku Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh, Sabtu (15/12/2012) malam itu di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM).

Hati saya bergetar luar biasa mendengar penjelasan anak Jalur Gaza ini. Seperti mendapat suntikan motivasi tersendiri bagi saya untuk belajar lebih giat. Kondisi keamanan Indonesia tidak sepanas kondisi Palestina. Bahkan negara saya, Indonesia sangat jauh lebih baik kondisinya.

Perjalanan saya menuju Kota Nabi pun tidak seberat perjalanan pemuda satu ini; tidak ada pos-pos keamanan Israel yang harus dilewati, naik pesawat megah dan besar milik Kerajaan Arab Saudi, dijemput panitia Indonesia di Madinah, alhamdulillah. Terus terang saya merasa bersalah dengan Abd el-Qadir kalau tidak bersemangat sepertinya.

Ada juga rasa gregetan kalau mengingat sebagian teman-teman dan pemuda di Tanah Air yang bermalas-malasan dalam belajar. Atau dengan mudah “membeli” ijazah tanpa ada standarisasi keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya jadi teringat bait-bait puisi sastrawan Taufiq Ismail berjudul “Palsu”. Puisi ini menceritakan perjalanan hidup seorang pelajar yang dari kecil sampai sarjananya dipenuhi dengan nilai dan ijazah palsu. Sampai akhirnya pelajar itu mencetak generasi palsu untuk tanah air. Lucu, tapi menikam.

Pikiran saya kembali lagi ke rangkaian cerita anak negeri Palestina tadi. Dalam perjalanan pulang dari Kampus UIM ke apartemen dengan bus seusai makan malam itu, saya kembali berbincang dengan el-Abd el-Qadir.

Awalnya dia lebih banyak menikmati suasana indah Kota Madinah al-Munawwarah dengan lampu-lampu yang terang dan taman-taman kota yang dilengkapi dengan air mancur bercahaya. Lebih setengah perjalanan menuju apartemen, saya membiarkannya akrab dengan dinding kaca bus kami. Setengah perjalanan berikutnya, baru saya kembali mengajaknya bicara. 

“Anta naim (kamu tidur)?” sapa saya bercanda.

“Laa, Wallahi (Tidak, Demi Allah)! Ana hanya teringat Palestina. Alangkah indahnya kalau bangunan-bangunan di sana seperti bangunan-bangunan yang tegak di sini. Pohon-pohon kurma kami sekarang tidak seindah pohon kurma Madinah. Padahal Anda tahukan, kualitas buah kurma Negeri Syam (istilah untuk negara-negara bagian utara Jazirah Arab seperti Palestina, Yordania, dll. Pen)  dan buah Zaitunnya tidak kalah bagusnya...?!” tutur bocah berusia 19 tahun itu, lalu teringat rumah di kampung halamannya yang hancur dihantam bom 15 tahun lalu.

“Alhamdulillah, kami sekeluarga utuh. Dan ini untuk kali pertama ana meninggalkan mereka,” lanjutnya.
Percakapan kami di bis banyak membahas tentang perkenalan kondisi Indonesia-Palestina. Saya juga tahu dari ta’aruf (perkenalan) kami kalau dia anak ke 11 dari 12 bersaudara. Kakak terbesarnya laki-laki berusia 42 tahun.

“Alhamdulillah, banyak pasangan muda yang menikah di sana, nikah perjuangan. Bagaimanapun juga Palestina membutuhkan stok Mujahid lebih banyak untuk berjihad membebaskan Palestina. Dan Masya Allah, tabarakallah, jumlah anak laki-laki lebih banyak dari perempuan. Mati satu, tumbuh seribu,” terang Abd el-Qadir tersenyum.

“Masya Allah, Allahu Akbar! Lalu ana dengar kalian memiliki program Tahfidzul Qur’an (menghafal al-Qur’an), benarkah?” tanya saya simpatik.

“Ya! Itulah modal terbesar kami, al-Qur’an. Lebih dari seribu penghafal diwisuda setiap tahunnya di Palestina. Dan di setiap rumah harus ada minimal satu orang hafidz (penghafal) Al-Qur’an, walaupun rumah itu sudah roboh dihantam rudal dan diinjak tank,” jawabnya bangga.
Haru dan bangga mendengarnya. Spirit al-Qur’an betul-betul dimaksimalkan saudara-saudara di Palestina sana. Saya jadi enggan melontarkan pertanyaan terakhir ana, “Apakah Anda hafidz al-Qur’an?”. Keterangannya tadi sudah menjawab pertanyaan itu.

Bus kami berhenti tepat di jalan samping apartemen. Saya menemani Abd el-Qadir ke kamarnya di lantai 8, lalu saya turun menuju kamar di lantai 4. Malam ini ada doa khusus buat teman baru kami itu, buat bangsa Palestina, negeri para Anbiya. Tempat di sana ada mi’roj Nabi Muhammad SAW menuju langit yang tujuh, kiblat pertama umat Islam, tanah warisan Khalifah Umar bin Khattab, Kholid bin Walid dan Sholahuddin Al-Ayyubi. 

Rasanya saya pengen mimpi bertemu Abd el-Qadir Umar malam ini, menyambutnya dengan kalungan bunga di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah bersama Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz As-Saud, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Wali Kota Madinah beserta staf masing-masing seraya berkata, "Selamat Datang Duta Palestina di Kota Nabi!".*

Muhammad Dinul Haq/Kontributor Hidayatullah.com di Madinah

Note : Kisah ini dimuat di Hidayatullah.com secara bersambung
Sumber  Hidayatullah.com

Thursday, December 13, 2012

Sikap Ulama Terhadap Konflik Palestin – Yahudi


Syaikh Muhammad Bun Umar Bazmul hafizhahullah 
Berikut penjelasan yang disampaikan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah ketika beliau menjawab pertanyaan tentang sikap dan kewajipan kita berkaitan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita di Ghaza (Gaza), Palestin. Penjelasan ini beliau sampaikan pada hari Isnin, 9 Muharram 1430 H, dalam salah satu pelajaran yang beliau sampaikan, iaitu pelajaran syarh kitab Fadhlul Islam. Apa yang disampaikan sebenarnya merupakan sikap secara umum dalam menyikapi konflik Palestin-Yahudi yang terus saja berlangsung. Semoga bermanfaat.
Kewajipan berkaitan peristiwa yang menimpa saudara-saudara kita kaum muslimin di Jalur Ghaza Palestin baru-baru ini adalah sebagai berikut:
Pertama:
Merasakan besarnya nilai kehormatan darah (jiwa) seorang muslim. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Majah (no. 3932) dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar RA berkata: Saya melihat Rasulullah SAW sedang thawaf di Ka’bah lalu beliau berkata (kepada Ka’bah):
مَا أَطْيَبَكِ وَأَطْيَبَ رِيحَكِ، مَا أَعْظَمَكِ وَأَعْظَمَ حُرْمَتَكِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَحُرْمَةُ الْمُؤْمِنِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ حُرْمَةً مِنْكِ، مَالِهِ وَدَمِهِ
“Betapa bagusnya engkau (wahai Ka’bah), betapa wangi aromamu, betapa besar nilai dan kehormatanmu. Namun, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau, baik kehormatan harta mahupun darah (jiwa)nya.” (Ash-Shahihah no. 3420)
Dalam riwayat At-Tirmidzi (no. 2032) dengan lafaz: Dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar RA, bahawa Rasulullah SAW naik ke atas mimbar kemudian beliau berseru dengan suara yang sangat keras seraya berkata:
يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ! لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ! وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ! وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ! فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai segenap orang yang berislam dengan ucapan lisannya namun keimanannya tidak menyentuh qalbunya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin, janganlah kalian mencela mereka, dan janganlah kalian mencari-cari aib mereka. Kerana barangsiapa yang mencari-cari aib saudaranya muslim, nescaya Allah akan terus memeriksa aibnya. Barangsiapa yang diperiksa oleh Allah segala aibnya, nescaya Allah akan membongkarnya walaupun dia (bersembunyi) di tengah rumahnya.”
Suatu ketika Ibnu ‘Umar RA melihat kepada Ka’bah dengan mengatakan (kepada Ka’bah): “Betapa besar kedudukanmu dan betapa besar kehormatanmu, namun seorang mukmin lebih besar kehormatannya di sisi Allah SWT dibanding kamu.”(Al-Imam At-Tirmidzi rhm. berkata tentang kedudukan hadits tersebut: “Hadits yang hasan gharib.” Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rhm. dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi (no. 2032))
Seorang muslim, jika melihat darah kaum muslimin ditumpahkan, jiwanya dibunuh, atau hati kaum muslimin disakiti, maka tidak diragukan lagi pasti dia akan menjadikan ini sebagai perkara besar, kerana terhormatnya darah kaum muslimin dan besarnya hak mereka.
Bagaimana menurutmu, kalau seandainya seorang muslim melihat ada orang yang hendak menghancurkan Ka’bah, ingin merobohkan dan mempermainkannya, maka betapa dia menjadikan hal ini sebagai perkara besar?!! Sementara Rasulullah SAW telah menegaskan: “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan seorang mukmin jauh lebih besar di sisi Allah dibanding engkau (wahai Ka’bah), baik kehormatan harta mahupun darah (jiwa)nya.”
Maka perkara pertama yang wajib atas kita adalah merasakan betapa besar nilai kehormatan darah kaum mukminin yang bersih, yang baik, dan sebagai pengikut Sunnah Rasulullah SAW, yang sentiasa berjalan di atas bimbingan Islam. Kita katakan, bahwa darah (kaum mukminin) tersebut memiliki kehormatan yang besar dalam hati kita.
Kita tidak ridha –demi Allah– dengan ditumpahkannya darah seorang mukmin pun (apalagi lebih), walaupun setitis darah sahaja, tanpa alasan yang haq (dibenarkan oleh syariat). Maka bagaimana dengan kebengisan dan tindakan yang dilakukan oleh para ekstremis, orang-orang yang zalim, para penjajah negeri yang suci, bumi yang suci dan sekitarnya??! Innalillah wa inna ilaihi raji’un!!
Maka tidak boleh bagi seorang pun untuk tidak peduli dengan darah (kaum mukminin) tersebut, terkait dengan hak dan kehormatan (darah mukminin), kehormatan negeri tersebut, dan kehormatan setiap muslim di seluruh dunia, dari kezaliman tangan orang kafir yang penuh dosa, durhaka, dan penuh kezaliman, seperti peristiwa (yang terjadi sekarang di Palestin) ataupun kezaliman yang lebih ringan dari itu.
Kedua:
Wajib atas kita membela saudara-saudara kita. Pembelaan kita tersebut harus dilakukan dengan cara yang syar’i. Cara yang syar’i itu tersimpulkan sebagai berikut:
Kita membela mereka dengan cara berdoa untuk mereka. Kita doakan mereka pada waktu sepertiga malam terakhir. Kita doakan mereka dalam sujud-sujud (kita). Bahkan kita doakan dalam qunut (nazilah) yang dilakukan pada waktu shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr (pemerintah).
Jangan hairan dengan kenyataan saya “dalam qunut nazilah yang dilakukan dalam shalat jika memang diizinkan/diperintahkan oleh waliyyul amr.” Kerana umat Islam telah melalui pelbagai musibah yang dahsyat pada zaman sahabat Nabi SAW, namun tidak ada riwayat yang menyebutkan bahawa para sahabat melakukan qunut nazilah selama mereka tidak diperintah oleh pemimpin (kaum muslimin).
Oleh kerana itu saya katakan: Kita membantu saudara-saudara kita dengan doa pada waktu-waktu sepertiga malam terakhir. Kita bantu saudara-saudara kita dengan doa dalam sujud. Kita membantu saudara-saudara kita dengan doa saat kita berdzikir dan menghadap Allah, agar Allah  menolong kaum muslimin yang lemah.
Semoga Allah SWT membebaskan kaum muslimin dari cengkaman tangan-tangan zalim, mengukuhkan mereka (kaum muslimin) dengan ucapan (aqidah) yang haq, serta menolong mereka terhadap musuh kita, musuh mereka, musuh Allah, dan musuh kaum mukminin.
Ketiga dan Keempat:
Berkaitan sikap kita terhadap peristiwa Ghaza:
Kita harus waspada terhadap orang-orang yang memancing di air keruh, menyeru dengan seruan-seruan yang penuh emosional atau seruan yang ditegakkan di atas perasaan (jauh dari bimbingan ilmu dan sikap ilmiah), yang justeru membuat kita terjatuh pada masalah yang makin besar.
Kalian tahu bahawa Rasulullah SAW berada di Makkah, berada dalam periode Makkah, ketika itu beliau mengetahui bahwa orang-orang kafir terus menimpakan siksaan yang keras terhadap kaum muslimin. Sampai-sampai kaum muslimin ketika itu meminta kepada Rasulullah SAW agar mengizinkan mereka berperang (berjihad). Ternyata Rasululllah SAW hanya mengizinkan sebahagian mereka untuk berhijrah (meninggalkan tanah suci Makkah menuju ke negeri Habasyah). Namun sebagian lainnya (tidak beliau izinkan) sehingga mereka terus minta izin dari Rasulullah SAW untuk berperang dan berjihad.
Dari sahabat Khabbab bin Al-Arat RA:
شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللهِ n وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ: أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا، أَلاَ تَدْعُو اللهَ لَنَا؟ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
Kami mengadu kepada Rasulullah ketika beliau sedang berbantalkan burdahnya di bawah Ka’bah –di mana saat itu kami telah mendapatkan siksaan dari kaum musyrikin–. Kami berkata kepada beliau: “Wahai Rasulullah, mintakanlah pertolongan (dari Allah) untuk kami. Berdoalah (wahai Rasulullah) kepada Allah untuk kami.”
Maka Rasulullah berkata: “Dulu seseorang dari kalangan umat sebelum kalian, ada yang digalikan lubang untuknya kemudian ia dimasukkan ke lubang tersebut. Ada juga yang didatangkan padanya gergaji, kemudian gergaji tersebut diletakkan di atas kepalanya lalu dia digergaji sehingga badannya terbelah dua. Namun perlakuan itu tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Ada juga yang disisir dengan sisir besi, sehingga berpisahlah tulang dan dagingnya, akan tetapi perlakuan itu pun tidaklah menyebabkan mereka berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah akan menyempurnakan urusan ini (Islam), hingga (akan ada) seorang pengendara yang berjalan menempuh perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut, dia tidak takut kecuali hanya kepada Allah atau serigala (yang akan menerkam) kambingnya. Akan tetapi kalian ini tergesa-gesa.” (riwayat Al-Bukhari (no. 3612, 3852, 6941))
Rasulullah terus berada dalam kondisi ini dalam periode Makkah selama 13 tahun. Ketika beliau berada di Madinah (setelah peristiwa hijrah ke Madinah), setelah berjalan selama dua tahun turunlah ayat:
“Telah diizinkan bagi orang-orang yang diperangi kerana mereka telah dizalimi. Sesungguhnya Allah untuk menolong mereka adalah sangat mampu.” (Al-Haj: 39)
Maka ini merupakan izin bagi mereka untuk berperang (berjihad).
Kemudian setelah itu turun lagi ayat:
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Baqarah: 190)
Kemudian setelah itu turun ayat:
“Maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, kerana sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (At-Taubah: 12)
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada Hari Akhir.” (At-Taubah: 29)
Yakni boleh kita katakan, bahawa perintah langsung untuk berjihad turun setelah 16 atau 17 tahun berlalunya awal risalah. Jika masa dakwah Rasulullah adalah 23 tahun, bererti 17 tahun adalah perintah untuk bersabar. Maka kenapa kita sekarang terburu-buru??!
Kalau ada yang mengatakan: “Ya akhi, mereka (Yahudi) telah mengepung kita! Ya akhi, mereka (Yahudi) telah menzalimi kita di Ghaza!!”
Maka jawapannya: “Bersabarlah. Janganlah kalian terburu-buru dan janganlah kalian malah memperumit masalah. Janganlah kalian mengalihkan permasalahan dari kewajipan bersabar dan menahan diri kepada sikap perlawanan ditumpahkan padanya darah (kaum muslimin).”
Wahai saudara-saudaraku, hingga pada jam berangkatnya saya untuk mengajar, jumlah korban terbunuh telah mencapai 537 orang dan korban luka 2,500 orang. Apa ini?!!
Bagaimana kalian menganggap enteng perkara ini? Mana kesabaran kalian? Mana sikap menahan diri kalian? Sebagaimana jihad itu ibadah, maka sabar pun juga merupakan ibadah.
Bahkan tentang sabar ini Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az-Zumar: 10)
Jadi sabar merupakan ibadah. Kita beribadah kepada Allah SWT dengan amalan kesabaran.
Kenapa kalian mengalihkan umat dari kondisi sabar menghadapi kepungan musuh kepada perlawanan dan penumpahan darah?
Kenapa kalian menjadikan warga yang aman, yang tidak memiliki keahlian berperang, baik berkaitan urusan-urusan mahupun strategi-strategi perang, sebagai sasaran serbuan, sasaran serangan, dan sasaran pukulan tersebut, sementara kalian sendiri keluar menuju Beirut dan Lubnan??! Kalian telah menimpakan bencana terhadap umat, sementara kalian sendiri keluar (dari Palestin)??!
Oleh kerana itu saya katakan: Janganlah seorang pun menggiring kita dengan perasaan atau emosi untuk membelakangi realiti.
Kami mengatakan: Wajib atas kita untuk bersabar dan menahan diri serta tidak terburu-buru. Sabar adalah ibadah. Rasulullah SAW telah bersabar dengan kesabaran yang panjang atas kezaliman Quraisy dan atas kezaliman orang-orang kafir. Kaum muslimin yang bersama beliau juga bersabar. Apabila dakwah Rasulullah SAW selama 23 tahun, sementara 17 tahun di antaranya Rasulullah bersabar (terhadap kekejaman/ kebengisan kaum musyrikin), maka kenapa kita melupakan sisi kesabaran?? Dua atau tiga tahun mereka dikepung/diboikot! Kita bersabar dan jangan menimpakan kepada umat musibah, pembunuhan, kesusahan, dan kesulitan tersebut. Janganlah kita terburu beralih pada aksi militan!!
Wahai saudaraku, takutlah kepada Allah! Ketika Rasulullah SAW merasa belas kasihan kepada umatnya dalam masalah shalat, padahal itu merupakan rukun Islam yang kedua, beliau mengatakan (kepada Mu’adz): “Apakah engkau hendak menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?!!” kerana Mu’adz membaca surah terlalu panjang dalam shalat; Maka bagaimana menurutmu terhadap orang-orang yang hanya kerana (menuruti) perasaan dan emosinya yang meluap menyeret umat kepada penumpahan darah dan aksi perlawanan di mana mereka tidak memiliki kemampuan, bahkan meski satu per sepuluh saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan?
Bukankah tepat kalau kita katakan (kepada mereka): Apakah kalian hendak menimpakan musibah kepada umat dengan aksi perlawanan ini, yang sebenarnya mereka sendiri tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan tersebut?!
Tidak ingatkah kita ketika kaum kafir dari kalangan Quraisy dan Yahudi berupaya mencabik-cabik Rasulullah SAW dalam perang Ahzab, setelah adanya pengepungan (terhadap Rasulullah dan para sahabatnya) yang berlangsung selama satu bulan, lalu sikap apa yang Rasulullah lakukan? Beliau SAW mengutus (utusan) kepada kabilah Ghathafan seraya untuk menyampaikan kepada mereka: “Saya akan memberikan kepada kalian separuh dari hasil kebun kurma di Madinah agar mereka (kabilah Ghathafan) tidak membantu orang-orang kafir dalam memerangi kami.”
Kemudian baginda mengutus kepada para pimpinan Anshar. Mereka pun datang (kepada baginda). Rasulullah SAW menyampaikan kepada mereka bahawa baginda telah mengambil kebijakan begini dan begini. Kemudian baginda bersabda: “Kalian telah melihat apa yang telah menimpa umat berupa kegentingan dan kesulitan?”
Perhatikan, keletihan dan kesulitan yang menimpa umat bukanlah perkara yang enteng bagi baginda SAW. Rasulullah tidak rela memimpin mereka untuk melakukan perlawanan jihad dalam keadaan mereka tidak memiliki daya dan kemampuan. Sehingga dengan itu baginda SAW menerima idea dari sahabat Salman Al-Farisi untuk membuat parit (dalam rangka menghalangi kekuatan/ serangan musuh).
Demikianlah (cara perjuangan Rasulullah). Padahal baginda adalah seorang Rasul dan bersama beliau ada para sahabatnya. Apakah kita lebih kuat imannya dibanding Rasulullah?! Apakah kita lebih kuat agamanya dibanding Rasulullah??! Apakah kita lebih besar kecintaannya terhadap Allah dan agama-Nya dibanding Rasulullah dan para sahabatnya??!
Tentu tidak, wahai saudaraku.
Sekali lagi, Rasulullah tidak memaksakan (kepada para sahabatnya) untuk melakukan jihad (terhadap orang kafir). Bukan perkara yang ringan bagi baginda ketika kesulitan yang menimpa umat sudah sedemikian parah. Sehingga terpaksa baginda mengutus kepada kabilah Ghathafan untuk memberikan kepada mereka separuh dari hasil kebun kurma Madinah (agar mereka tidak membantu kaum kafir menyerang Rasulullah dan para sahabatnya). Namun Allah kuatkan hati dua pimpinan Anshar. Keduanya berkata: “Wahai Rasulullah, mereka tidak memakan kurma tersebut dari kami pada masa jahiliah, maka apakah mereka akan memakannya dari kami pada masa Islam? Tidak wahai Rasulullah. Kami akan tetap bersabar.”
Mereka (Anshar) tidak mengatakan: “Kami akan tetap berperang (berjihad).” Namun mereka berkata: “Kami akan bersabar.”
Tatkala mereka benar-benar bersabar, setia mengikuti Rasulullah dan ridha, datanglah kepada mereka pertolongan dari arah yang tidak mereka sangka. Datanglah pertolongan dari sisi Allah. Datanglah hujan dan angin, dan seterusnya. Bacalah peristiwa ini dalam kitab-kitab sirah, pada (pembahasan) tentang peristiwa perang Ahzab.
Maka, permasalahan yang saya ingatkan adalah: Janganlah ada seorang pun yang menyeret kalian hanya dengan perasaan dan emosinya, sehingga dia akan membelakangkan realiti yang sebenarnya kepada kalian.
Aku mendengar sebahagian orang mengatakan bahawa “Penyelesaian permasalahan yang terjadi adalah dengan jihad dan seruan untuk berjihad!”
Tentu saja saya tidak mengingkari jihad, jika yang dimaksud adalah jihad yang syar’i. Sementara jihad yang syar’i memiliki syarat-syarat. Syarat-syarat tersebut belum dipenuhi kita sekarang ini. Kita belum memenuhi syarat-syarat terlaksananya jihad syar’i pada hari ini. Sekarang kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukan perlawanan. Allah tidak membebani seseorang kecuali sebatas kemampuannya.
Apabila Sayyiduna ‘Isa pada akhir zaman nanti akan berhukum dengan syariat Muhammad, ‘Isa adalah seorang nabi dan bersamanya ada kaum mukminin, namun Allah  mewahyukan kepadanya: ‘Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Gunung Ath-Thur kerana sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak mampu melawannya.’ Siapakah kaum tersebut? Mereka adalah Ya’juj dan Ma’juj.
Perampasan yang dilakukan oleh Ya’juj dan Ma’juj –mereka termasuk keturunan Adam (yakni manusia)– terhadap kawasan Syam dan sekitarnya adalah seperti perampasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir dan ahlul batil terhadap salah satu kawasan dari kawasan-kawasan (negeri-negeri) Islam. Maka jihad melawan mereka adalah termasuk jihad difa’ (pertahanan, membela diri). Meskipun demikian, ternyata Allah mewahyukan kepada ‘Isa –beliau ketika itu berhukum dengan syariat Nabi Muhammad–: “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Gunung Ath-Thur. Kerana sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.”
Allah tidak mengatakan kepada mereka: “Berangkatlah melakukan jihad (perlawanan) terhadap mereka.” Allah juga tidak mengatakan kepada mereka: “Bagaimana kalian membiarkan mereka menguasai negeri dan umat?” Tidak. Tapi Allah mengatakan: “Naiklah bersama hamba-hamba-Ku ke Gunung Ath-Thur. Kerana sesungguhnya Aku akan mengeluarkan suatu kaum yang kalian tidak akan mampu melawannya.” Inilah hukum Allah.
Jadi, meskipun jihad difa’, tetap kita harus melihat kemampuan. Kalau seandainya masalahnya adalah harus melawan dalam situasi dan kondisi apapun, maka apa gunanya Islam mensyariatkan bolehnya perdamaian dan gencatan senjata antara kita dengan orang-orang kafir? Padahal Allah telah berfirman:
“Jika mereka (orang-orang kafir) condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya (terimalah ajakan perdamaian tersebut).” (Al-Anfal: 61)
Apa makna itu semua?
Oleh kerana itu, Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rhm. memfatwakan bolehnya berdamai dengan Yahudi, meskipun mereka telah merampas sebagian tanah Palestin, dalam rangka menjaga darah kaum muslimin, menjaga jiwa mereka, dengan tetap diiringi upaya mempersiapkan diri sebagai kewajipan menyiapkan kekuatan untuk berjihad. Persiapan kekuatan untuk berjihad dimulai pertama kali dengan persiapan maknawi imani (yakni mempersiapkan kekuatan iman), baru kemudian persiapan persenjataan/fizik.
Maka kami tegaskan bahwa:
Kewajiban kita terhadap tragedi besar yang menimpa kaum muslimin (di Palestin) dan negeri-negeri lainnya:
- Bahwa kita membantu mereka dengan doa untuk mereka, dengan cara yang telah saya jelaskan di atas.
- Kita menjadikan masalah darah kaum muslimin sebagai perkara besar, kita tidak boleh mengentengkan perkara ini. Kita sedar bahawa ini merupakan perkara besar yang tidak diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya serta kaum muslimin.
- Kita bersikap waspada agar jangan sampai ada seorang pun yang mengheret kita hanya dengan perasaan dan emosi kepada perkara-perkara yang bertentangan dengan syariat Allah.
- Kita mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah dengan cara mengingatkan diri kita dan saudara-saudara kita tentang masalah sabar. Allah telah berfirman:
“Bersabarlah sebagaimana kesabaran para ulul ‘azmi dari kalangan para rasul.” (Al-Ahqaf: 35)
Kerana sesungguhnya sikap sabar merupakan sebuah siasat yang bijaksana dan terpuji dalam situasi dan kondisi seperti sekarang. Sabar merupakan ubat. Dengan kesabaran dan ketenangan serta tidak terburu-buru, insya Allah masalah akan diselesaikan. Kita memohon kepada Allah pertolongan dan taufiq. Adapun mengheret umat pada perkara-perkara yang berbahaya, maka ini bertentangan dengan syariat Allah dan bertentangan dengan agama Allah.
Kelima:
Memberikan bantuan material yang disalurkan melalui lembaga-lembaga rasmi, iaitu melalui jalur pemerintah. Selama pemerintah membuka pintu (penyaluran) bantuan material dan sumbangan, maka pemerintah lebih berhak didengar dan ditaati. Setiap orang yang mampu untuk menyumbang maka hendaklah dia menyumbang. Barangsiapa yang lapang jiwanya untuk membantu maka hendaklah dia membantu. Namun janganlah menyalurkan harta dan bantuan tersebut kecuali melalui jalur rasmi agar lebih terjamin, insya Allah, akan tepat sasaran. Jangan tertipu dengan nama besar apapun, jika itu bukan jalur rasmi yang dapat dipertanggungjawabkan. Janganlah memberikan bantuan dan sumbanganmu kecuali pada jalur rasmi.
Inilah secara ringkas kewajipan kita terhadap tragedi yang menimpa saudara-saudara di Ghaza.
Saya memohon kepada Allah agar menolong dan mengukuhkan mereka serta memenangkan mereka atas musuh-musuh kita dan musuh-musuh mereka (saudara-saudara kita yang di Palestin), serta menghilangkan dari mereka (malapetaka tersebut).
Kita memohon agar Dia menunjukkan keajaiban-keajaiban Qudrah-Nya atas para penjajah, para penindas, dan para perampas yang zalim dan penganiaya (Yahudi) tersebut.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ
Disalin dari Majalah Asy-Syariah Edisi 048 dengan dialih bahasa.
http://ilmuanmalaysia.com/2012/12/13/palestin-kita-belum-memenuhi-syarat-jihad-syaikh-muhammad-bin-umar-bazmul-hafizhahullah/

Sunday, December 9, 2012

Palestina Diakui PBB, Ini Reaksi Arab Saudi

Palestina Diakui PBB, Ini Reaksi Arab Saudi
Warga Palestina merayakan pengakuan negara Palestina oleh PBB di Ramallah,Ahad (2/12). (AP/Majdi Mohammed)

Arab Saudi kemarin mendesak Dewan Keamanan PBB agar melihat dukungan luar biasa yang diberikan kepada warga Palestina di Sidang Majelis Umum sebagai tanda positif untuk mendorong proses perdamaian di Timur Tengah.

Dewan Kabinet Arab saudi, yang dipimpin oleh Putra Mahkota Salman, mengucapkan selamat kepada pemerintah Palestina dan rakyat yang telah mendapat pengakuan dari Sidang Umum PBB.

Seperti diberitakan sebelumnya, sebanyak 138 anggota Sidang Umum PBB mengakui status Palestina. Hanya sembilan negara yang menentang. Sedangkan 41 negara lainnya memilih abstain.

"Kabinet menyambut baik keputusan Majelis Umum dan mengucapkan selamat kepada pemerintah dan rakyat Palestina atas prestasi bersejarah ini,'' ujar  Menteri Kebudayaan dan Informasi Abdul Aziz Khoja seperti dikutip Arabnews.com.

Kabinet Saudi menegaskan kembali dukungannya bagi Palestina untuk memperoleh hak-hak mereka yang sah, terutama membentuk sebuah negara merdeka dengan Yerusalem sebagai ibukotanya.(Rep)

Friday, November 23, 2012

Palestina, Tanah Kaum Muslimin

PALESTINA NEGERI PILIHAN
Inilah tanah pilihan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan keberkahan tanah Palestina, tanah yang juga termasuk bagian dari Syam. Keberkahannya ini dapat dirunut, misalnya Syam menjadi tempat hijrah Nabi Ibrahim Alaihissalam, tempat singgah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjalankan Isra dan Mi’raj, tempat dakwah para Nabi. Dakwah yang membawa misi agama tauhid. Dan juga lantaran keberadaan Masjidil Aqsha di tanah Palestina yang penuh berkah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [Al-Israa : 1]
Selain memuliakan tanah Palestina, Allah juga memilih Mekkah dan Madinah. Begitulah Allah telah mengistimewakan wilayah Syam, dan Masjidil Aqsha. Dan Allah memilih Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menjadikannya sebagai khatamul anbiya wal mursalin (Penutup Para Nabi dan Rasul). [1]

BILAMANA KEBERADAAN BANI ISRAIL DI BUMI PALESTINA?
Masa Nabi Ya’qub Dan Nabi Yusuf ‘Alaihimassalam
Sejarah Yahudi bermula sejak Israil, yaitu Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil, yang tumbuh di daerah Kan’an (Palestina) dengan dikarunia sejumlah 12 anak. Mereka itulah yang disebut asbath (suku) Bani Israil, dan hidup secara badawah (pedesaan) [2].
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan Yusuf sebagai pejabat penting di Mesir, kemudian meminta kedua orang tua dan saudara-saudaranya untuk berpindah ke Mesir. Di Mesir, keluarga ini hidup di tengah masyarakat watsaniyyun (paganisme). Mereka hidup dengan kehidupan yang baik lagi nikmat di masa Yusuf [3]
Setelah Nabi Yusuf wafat, seiring dengan perjalanan waktu dan pergantian penguasa, kondisi Bani Israil berubah total. Yang sebelumnya menyandang kehormatan dan kemuliaan, kemudian menjadi terhina, lantaran Fir’aun melakukan penindasan dan memperbudak mereka dalam jangka waktu yang amat lama, sampai Allah mengutus Nabi Musa Alaihissalam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوَءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءكُمْ وَفِي ذَلِكُم بَلاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya, mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Rabb-mu” [Al-Baqarah : 49]
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعاً يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءهُمْ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka …” [Al-Qashash : 4]
Masa Nabi Musa Alaihissalam
Allah mengutus Nabi Musa dan Harun kepada Fir’aun dan kaumnya, dengan dibekali mukjizat, untuk menyeru mereka agar beriman kepada Allah dan membebaskan Bani Israil dari siksaan. Namun Fir’aun dan kaumnya mendustakan mereka berdua, kufur kepada Allah. Karenanya, Allah menimpakan kepada mereka berbagai bencana, kekeringan, rusaknya pertanian, mengirim angin kencang, belalang dan lain-lain. [4]. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Musa untuk lari bersama Bani Israil pada suatu malam dari negeri Mesir [5]. Fir’aun dan kaumnya pun mengejar. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menenggelamkan Fir’aun beserta kaumnya, dan menyelematkan Musa dan kaumnya ke Negeri Saina, masuk dalam wilayah Palestina sekarang. Peristiwa itu terjadi pada hari Asyura. [6]
Orang-orang Yahudi menyebutkan, lama Bani Israil tinggal di Mesir 430 tahun. Jumlah mereka waktu itu sekitar 600 ribu orang lelaki.
Mengenai besaran jumlah ini. Dr Su’ud bin Abdul Aziz Al-Khalaf berkata : [7]
“Pengakuan ini sangat berlebihan. Karena berarti, bila ditambah dengan jumlah anak-anak dan kaum wanita, maka akan mencapai kisaran 2 juta-an jiwa. Tidak mungkin dapat dipercaya. Itu berarti jumlah mereka mengalami pertumbuhan 30 ribu kali. Sebab sewaktu Bani Israil masuk ke Mesir, berjumlah 70 jiwa. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Asy-Syu’ara : 54.
إِنَّ هَؤُلَاء لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ
“(Fir’aun berkata) ; ‘Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan yang kecil”
Jumlah 2 juta tidak bisa dikatakan kecil. Mustahil dalam satu malam terjadi eksodus dua juta jiwa. Kita tahu di dalamnya terdapat anak-anak dan kaum wanita serta orang-orang tua.
Orang-orang yang bersama Nabi Musa, mereka adalah orang-orang dari Bani Israil yang mengalami penindasan dan kehinaan serta menuhankan manusia dalam jangka waktu yang lama. Aqidah mereka telah rusak, jiwanya membusuk, mentalnya melemah, dan muncul pada mereka tanda-tanda pengingkaran, kemalasan, pesimis, serta bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. [8]
Meski Allah telah menunjukkan banyak mukjizat dan tanda-tanda kekuasaan-Nya melalui Nabi Musa, tetapi mereka tetap ingkar, sombong dan tetap kufur. Mereka justru meminta untuk dibuatkan berhala sebagai tuhan yang disembah. Hingga akhirnya, As-Samiri berhasil menghasut mereka untuk menyembah anak sapi, menolak memerangi kaum yang bengis (Jababirah). Maka, Allah menimpakan hukuman kepada mereka berupa tiih (berjalan berputar-putar tanpa arah karena kebingungan) dalam jangka waktu yang dikehendaki Allah. Pada rentang waktu ini, Musa wafat. Sementara Harun sudah meninggal terlebih dahulu.
Setelah usai ketetapan waktu yang Allah kehendaki untuk menghukum mereka dengan kebingungan tanpa mengetahui arah, Bani Israil berhasil menaklukan bumi yang suci di bawah pimpinan Nabi Yusya bin Nun Alaihissalam. [9]
Para ahli, membagi perjalanan sejarah kota suci Palestina pasca penaklukan tersebut menjadi tiga periode.
Pertama : Masa Qudhah, Yaitu masa penunjukkan hakim bagi setiap suku yang berjumlah dua belas, setelah masing-masing mendapatkan wilayah sesuai pembagian Nabi Yusya bin Nun. Masa ini, kurang lebih berlangsung selama 400 tahun lamanya. [10]
Kedua : Dikenal dengan masa raja-raja. Diawali oleh Raja Thalut. Kondisi masyarakat mengalami masa keemasan saat dipegang oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman.
Ketiga : Periode yang disebut sebagai masa perpecahan internal, yaitu setelah Nabi Sulaiman wafat. Mereka terbelah menjadi dua kutub. Bagian selatan dengan ibukota Baitul Maqdis dan wilayah utara dengan ibukota Nablus.
Dua wilayah ini, akhirnya dikuasai bangsa asing. Wilayah selatan ditaklukan oleh bangsa Assiria dari Irak. Wilayah utara diserbu Mesir. Disusul kedatangan Nebukadnezar, yang mampu mengusir bangsa Mesir dari sana. Pergantian kekuasaan ini, akhirnya dipegang bangsa Romawi yang berhasil mengalahkan bangsa Yunani, penguasa sebelumnya.
Pada masa kekuasaan Romawi inilah, Isa Al-Masih diutus oleh Allah. Pada masa itu pula, musibah dahsyat dialami kaum Yahudi. Bangsa Romawi melakukan genocide (pemusnahan) secara keras etnis mereka, lantaran orang-orang Yahudi melakukan pemberontakan. Baitul Maqdis pun dihancurkan. Bangsa Yahudi tercerai-berai. Sebagian melarikan diri ke seluruh penjuru wilayah bumi. Demikianlah hukuman Allah dengan mendatangkan bangsa yang menindas mereka. Siksaan dan kepedihan ditimpakan kepada mereka, atas kerusakan, tindak aniaya dan akibat akhlak mereka yang buruk. [11]
Bangsa Romawi menguasai tanah Baitul Maqdis hingga beberapa lama, hingga kemudian pada abad pertama hijriyah, pada masa khalifah Umar Ibnu Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, kaum Muslimin berhasil mengambil alih penguasaan tanah penuh berkah ini dari tangan bangsa Romawi yang memeluk agama Nashrani, meliputi Palestina, Syam dan daerah yang ada di dalamnya. Tepatnya pada pemerintahan Khalifah Umar Ibnul Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, pada bulan Rajab tahun 16H, sehingga menjadi Darul Islam. Penyerahan Baitul Maqdis ini terjadi, setelah pasukan Romawi disana dikepung oleh pasukan kaum Muslimin selama empat puluh hari di bawah komando Abu Ubaidah Ibnul Jarrah Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian Khalifah Umar Ibnul Khaththab menetapkan orang-orang Yahudi tidak boleh tinggal di Baitul Maqdis.

KLAIM PALSU YAHUDI ATAS TANAH PALESTINA
Merasa nenek moyangnya pernah berdiam disana, menyebabkan kaum Yahudi membuat klaim jika mereka memiliki hak atas tanah Palestina. Alasan yang dikemukakan, karena mereka telah mendiaminya sejak Nabi Ibrahim dan berakhir ketika orang-orang Yahudi generasi akhir diusir dari Baitul Maqdis pada masa Romawi.
Mereka pun mengklaim hak kepemilikan tersebut juga berdasarkan tinjauan agama. Yaitu mengacu kepada kitab suci mereka, bahwa Allah telah menjanjikan kepemilikan tanah Kan’an (Palestina) dan wilayah sekitarnya, dari sungai Nil di Mesir sampai sungai Eufrat di Irak. Janji tersebut disampaikan Allah kepada Ibrahim. Begitulah bangsa Yahudi yang hidup pada masa sekarang mengklaim sebagai keturunan Ibrahim, bangsa terpilih. Sehingga merasa paling berhak dengan Palestina dan sekitarnya, yang disebut-sebut sebagai ardhul mi’ad (tanah yang dijanjikan).
Karenanya, muncul upaya untuk menghimpun kaum Yahudi yang tersebar di berbagai wilayah, bertujuan mendirikan sebuah negara Israil Raya, Napoleon Bonaparte, seorang raja Perancis telah memfasilitasi tujuan tersebut. Caranya, pada tahun 1799M, dia mengajak Yahudi dari Asia dan Afrika untuk bergabung dengan pasukannya. Namun akibat kekalahan dideritanya, menyebabkan rencana tersebut tidak terwujud.
Wacana ini kembali muncul, dengan terbitnya buku Negara Yahudi, yang ditulis pemimpin mereka, Theodare Heartzel pada tahun 1896M. Orang-orang Yahudi melakukan kajian secara jeli tentang kondisi negara-negara penjajah. Hingga sampai pada kesimpulan, bahwa Inggris merupakan negara yang paling tepat untuk membantu merealisasikan rencana tersebut.
Ringkasnya, setelah melalui lobi-lobi, maka pada tahun 1917M, Inggris yang menjajah kebanyakan negara Arab, memberikan tanah hunian bagi Yahudi di Palestina. Penguasa Inggris melindungi mereka dari kemarahan kaum Muslimin. Di sisi lain, penjajah Inggris bersikap sangat keras terhadap kaum Muslimin di sana.

KEPALSUAN PENGAKUAN YAHUDI
Sebelum Bani Israil masuk ke wilayah tersebut, tanah Palestina telah didiami dan dikuasai suku-suku Arab. Kabilah Finiqiyyin, menempati wilayah utara kurang lebih pada tahun 3000SM. Kabilah Kan’aniyyun, menempati bagian selatan dari tempat yang dihuni orang-orang Finiqiyyin. Mereka menempati wilayah tengah pada tahun 2500SM. Inilah suku-suku bangsa Arab yang berhijrah dari Jazirah Arabiyah. Kemudian datang kelompok lain, kurang lebih pada tahu 1200SM, yang kemudian dikenal dengan Kabilah Falestin. Menempati wilayah antara Ghaza dan Yafa. Hingga akhirnya nama ini menjadi sebutan bagi seluruh wilayah tersebut. dan ketiga suku ini terus mendiaminya.
Secara historis, telah jelas Bani Israil bukanlah bangsa yang pertama menempati Palestina. Daerah itu, sudah dihuni oleh suku-suku Arab sejak beribu-ribu tahun lamanya, sebelum kedatangan Bani Israil. Bahkan keberadaan suku Arab tersebut terus berlangsung sampai sekarang.
Adapun Bani Israil, pertama kalia masuk Palestina, yaitu saat bersama Yusya bin Nun, setelah wafatnya Nabi Musa Alaihissalam. Sebelumnya mereka dalam kebingungan, terusir, tak memiliki tempat tinggal, karena melakukan pembangkangan terhadap perintah Allah
Dikisahkan dalam Al-Qur’an.
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُواْ نِعْمَةَ اللّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنبِيَاء وَجَعَلَكُم مُّلُوكاً وَآتَاكُم مَّا لَمْ يُؤْتِ أَحَداً مِّن الْعَالَمِينَ # يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأَرْضَ المُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya :”Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi” [Al-Maidah : 20-21]
Akan tetapi, mereka adalah bangsa pengecut yang dihinggapi rasa takut Sikap pengecut ini terlihat jelas dari jawaban mereka terhadap ajakan Nabi Musa.
Kelanjutan ayat di atas menyebutkan.
قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْماً جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا حَتَّىَ يَخْرُجُواْ مِنْهَا فَإِن يَخْرُجُواْ مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ
“Mereka berkata :”Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami akan memasukinya”.
قَالَ رَجُلاَنِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُواْ عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللّهِ فَتَوَكَّلُواْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya : “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya, nisacaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
قَالُواْ يَا مُوسَى إِنَّا لَن نَّدْخُلَهَا أَبَداً مَّا دَامُواْ فِيهَا فَاذْهَبْ أَنتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
“Mereka berkata : “Hai Musa, kami sekali-kali tidak akan memasukinyua selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabb-mu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja”.
قَالَ رَبِّ إِنِّي لا أَمْلِكُ إِلاَّ نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
“Berkata Musa : “Ya Rabb-ku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu”.
قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأَرْضِ فَلاَ تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
“Allah berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu” [Al-Maidah : 22-26]
Dengan terusirnya dari tanah yang diberkahi ini, bagaimana mungkin mereka mengaku memiliki hak atas tanah ini? Sementara itu, pengembaraan ke berbagai penjuru bumi, karena terusir di mana-mana menimbulkan konsekwensi bagi mereka berinteraksi, dan beranak-pinak dengan bangsa lainnya. Sehingga terpuituslah nasab mereka dengan nenek moyangnya.
Jelaslah, generasi Yahudi pada masa sekarang ini bukan keturunan Bani Israil sebagaimana yang mereka katakan. Meski demikian, mereka berupaya keras menyebarluaskan klaim palsu ini, bahwa mereka keturunan orang-orang Bani Israil generasi pertama yang menghuni Palestina dahulu. Tujuan propaganda ini, agar kaum Nashara menilai mereka sebagai keturunan Nabi Ya’qub. Sehingga muncul opini, bahwa merekalah yang dimaksud oleh janji sebagaimana tersebut dalam Pejanjian Lama. Dengan ini mereka berharap Nashara merasa memiliki ikatan emosional, dan kemudian membela mereka. Sebab Nashara mengagungkan Taurat (Perjanjian Lama) dan menganggapnya sebagai wahyu dari Allah.
Akan tetapi, fakta menujukkan, jika klaim mereka adalah dusta. Mereka mengaku akar keturunannya masih murni, bersambung sampai ke Israil (Ya’qub). Padahal, mereka sendiri telah mengakui, banyak di antara orang-orang Yahudi yang menikahi wanita Yahudi. Demikian juga, kaum wanitanya pun menikah dengan lelaki non Yahudi.
Sebagai contoh bukti lainnya, sebuah suku yang besar di Rusia , Khazar telah memeluk Yahudi pada abad ke-8 Masehi. Kerajaan ini begitu kuatnya. Kemudian mengalami kehancuran total setelah diserang Rusia. Sejak abad ke -13 Masehi, wilayah ini terhapus dari peta Eropa. Penduduknya bercerai berai di Eropa Barat dan Timur. Ini merupakan salah satu indikasi yang jelas, bahwa mereka tidak mempunyai ikatan dengan Ya’qub dan keturunannya.
Kalaupun mereka tetap bersikeras mengaku sebagai keturunan Ya’qub, akan tetapi sebagai kaum Muslimin, kita tidak merubah sikap, selama mereka memusuhi kaum Muslimin. Sebab, nasab tidak ada artinya, bila masih berkutat dalam kekufuran. [12]

YAHUDI BUKAN KETURUNAN IBRAHIM
Pengakuan mereka sebagai keturunan Ibrahim Alaihissalam, merupakan klaim yang batil, ditinjau dari beberapa aspek berikut.
[1]. Batilnya klaim mereka sebagai keturunan Bani Israil, secara jelas Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan di dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطَ كَانُواْ هُوداً أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن كَتَمَ شَهَادَةً عِندَهُ مِنَ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
“Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nashrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nashrani. Katakanlah : “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya”, Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan” [Al-Baqarah : 140]
[2]. Kitab suci mereka tidak lagi orsinil dan sudah terjadi perubahan. Mereka telah melakukan perbuatan tercela terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi Bani Israil, dengan melakukan tahrif (mengubah), memalsukan dan memanipulasi. Al-Qur’an telah mengabadikan perbuatan mereka tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
فَبِمَا نَقْضِهِم مِّيثَاقَهُمْ لَعنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَن مَّوَاضِعِهِ
“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya. Kami kutuk mereka, dan kami jadikan hati mereka keras membantu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya …..”[Al-Maidah : 13]
[3]. Klaim kepemilikan tanah yang penuh berkah ini oleh Yahudi, berkaitan dengan janji Allah kepada Ibrahim, hakikatnya janji tersebut telah diwujudkan yaitu saat pertama kali Ibrahim Alaihissalam menginjakkan kaki di wilayah suku Kan’an.
Sekilas, mengacu kepada kitab mereka yang kini disebut Kitab Perjanjian Lama, kita akan mengetahui, jika janji Allah tersebut menjadi hak Isma’il, nenek moyang bangsa Arab dan kaum Muslimin. Pada waktu itu Nabi Ibrahim Alaihissalam belum dikaruniai anak (Kejadian : 12/7). Kemudian janji ini terulang kembali saat beliau kembali ke Mesir (Kejadian : 13/15). Janji ini pun terulang kembali bagi Ibrahim, tetapi beliau belum dikaruniai anak (15/18). Berikutnya, janji itu pun terulang lagi, saat Ibrahim dikaruniai anaknya, yaitu Ismail (Kejadian : 17/8). Sedangkan putra kedua Ibrahim Alaihissalam, yaitu Ishaq, pada saat janji itu ditetapkan ia belum dilahirkan.
[4]. Kalaupun mereka menyanggah, bahwa janji Allah tentang kepemilikan tanah Palestina merupakan warisan dan hunian abadi bagi mereka, yang menurut mereka didukung oleh Al-Qur’an –surat Al-Maidah : 21
يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأَرْضَ المُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللّهُ لَكُمْ وَلاَ تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ
“Hai kaumku, masuklah ke tanah suci yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena kamu takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi”.
Maka jawabnya adalah: Ungkapan janji yang ada dalam ayat tersebut tidak berbentuk abadi, tetapi khusus bagi zaman yang mereka dijanjikan mendapatkannya, sebagai balasan atas sambutan mereka kepada perintah-perintah Allah dan kesabaran mereka. Sedangkan orang-orang Yahudi pada masa ini, mereka bukan Bani Israil –sebagaimana sudah dipaparkan-. Dan ayat ini tidak menyangkut yang bukan Bani Israil, meski kaum Yahudi pada saat ini mayoritas. Sungguh, kebenaran dalam masalah ini yang menjadi pegangan jumhur ulama tafsir
Balasan keimanan dan keistimewaan yang mereka raih atas umat zaman mereka ini merupakan ketetapan Allah bagi hamba-hambaNya. Allah berfirman.
وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai oleh hamba-hambaKu yang shalih”. [Al-Anbiya : 105]
Begitu juga setelah mereka menyimpang dari agama Allah dan melakukan kerusakan di bumi, maka Bani Israil tidak lagi memiliki hak dengan janji tersebut. Justru balasan bagi mereka, sebagaimana terkandung dalam ayat, yaitu mereka mendapat laknat, kemurkaan dan hukuman dari Allah. Mereka tercerai berai di bumi, dikuasai oleh orang-orang yang menimpakan siksaan kepada mereka sampai hari Kiamat, dirundung kehinaan dimanapun mereka berada. Ini semua sebagai hukuman atas kekufuran mereka terhadap ayat-ayat Allah.
Sebuah fakta yang ironis. Ketika Allah memerintahkan Bani Israil untuk memasuki tanah yang dijanjikan, ternyata mereka enggan dan membangkang. Maka Allah menghalangi mereka darinya. Tatkala mereka menyambut perintah, maka Allah memberikannya kepada mereka.
Oleh karena itu, Ibnu Katsir rahimahullah berkata : “Yang Allah janjikan kepada kalian melalui lisan ayah kalian, Israil ia mewariskannya kepada orang yang beriman dari kalian” [13]
Berdasarkan ini, tanah tersebut milik mereka ketika mereka beriman. Tetapi, karena mereka kufur kepada Allah dan para Nabi-Nya, dan Allah telah menetapkan murka dan laknatNya kepada mereka, maka mereka sama sekali tidak mempunyai hak atas tanah suci itu.
[5]. Bisa juga bisa dikatakan, janji itu sudah terwujud pada masa Nabi Musa, yaitu tatkala Bani Israil memasuki tanah suci dengan dipimpin oleh Nabi Yusya bin Nun, kemudian menempatinya pada masa Nabi Dawud dan Sulaiman. Sebuah masa ketika Allah menganugerahkan kepada mereka keutamaan atas manusia seluruhnya. Namun, ketika mereka kufur kepada Allah dan melakukan kerusakan di bumi, maka kemurkaan Allah pun berlaku pada mereka, dan terjadilah bencana menimpa mereka.
[6]. Janji Allah memiliki syarat, yaitu iman dan amalan shalih, sebagaimana juga termuat dalam Taurat. Sedangkan mereka telah berbuat kufur dan murtad, beribadah kepada selain Allah. Oleh karena itu, musibah, bencana dan kemurkaan dari Allah ditimpakan kepada mereka. Dan semua ini termuat dalam kitab-kitab suci mereka. Bahkan dalam kitab mereka, terdapat keterangan yang melarang memasuki Baitul Maqdis, lantaran kekufuran, kesesatan dan kemaksiatan mereka.
Dengan pengingkaran ini, maka janji tersebut tidak terwujudkan. Sebaliknya, siksa dan bencanalah yang mereka dapatkan. Bumi ini milik Allah, diwariskan kepada hamba-hambaNya yang menegakkan agama dan mengikuti ajaran-ajaranNya, bukan diwariskan kepada orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi. Allah berfirman.
قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ اسْتَعِينُوا بِاللّهِ وَاصْبِرُواْ إِنَّ الأَرْضَ لِلّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Musa berkata kepada kaumnya : “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah ; dipusakakanNya kepada siapa saja yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” [Al-A’raf : 128]
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” [An-Nur : 55]
Menjelaskan ayat ini Ibnu Katsir berkata.
Ini janji dari Allah bagi RasulNya, akan menjadikan umatnya sebagai pewaris bumi. Maksudnya, tokoh-tokoh panutan dan penguasa mereka. Negeri-negeri menjadi baik dengan mereka, dan orang-orang tunduk kepada mereka… Allah Subhanahu wa Ta’la telah mewujudkannya walillahilhamdu walminnah. Nabi tidaklah wafat, melainkan Allah telah membuka penaklukkan Mekah, Khaibar, seluruh Jazirah Arab, wilayah Yaman seluruhnya. Memberlakukan jizyah kepada Majusi dari daerah Hajr, dan sebagian wilayah Syam
Kemudian, ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar mengirimkan pasukan Islam ke Persia di bawah komando Khalid bin Al-Walid dan berhasil menaklukkan sebagian wilayahnya. Juga mengirim pasukan lain pimpinan Abu Ubaidah menuju Syam.
Allah juga memberikan karunia kepada kaum Muslimin. Yaitu mengilhamkan kepada Abu Bakar untuk memilih Umar Al-Faruq untuk menggantikan kedudukannya. Dan Umar pun melaksanakan amanah ini dengan sebaik-baiknya. Pada masa kekuasannya, seluruh wilayah Syam berhasil dikuasai. [14]
Kaum Muslimin, mereka itulah yang dimaksud dengan ayat-ayat tersebut. Bila membenarkan janji yang mereka ikat dengan Allah, kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, berpegang teguh dengan Islam secara sempurna, baik individu, keluarga, masyarakat atau negara, maka sungguh janji Allah benar adanya. Dan siapakah yang berhak atas tanah yang penuh berkah itu? Tidak lain adaka kaum Muslimin.
Maraji.
- Dirasatun Fil Ad-yan Al-Yahudiyah wan Nashraniyah, Dr Su’ud bin Abdil Aziz Al-Khalaf, Penerbit Adhwa-us Salaf, Cetakan I, Th 1422H/2003M
- Mujaz Tarikhil Yahudi war-Raddi Ala Ba’dhi Maza’imil Bathilah, Dr Mahmud bin Abdir Rahman Qadah, Majalah Jami’ah Islamiyah, Edisi 107, Th 29, 1418-1419H
- Shahih Qashashil Anbiya, karya Ibnu Katsir, Abu Usamah Salim bin Id Al-Hilali, Maktabah Al-Furqan, Cetakan I Th, 1422H
- Tafsir Al-Qur’anil Azhim, Abu Fida Ismail Ibnu Umar Ibnu Katsir, Darul Kutub Al-Ilmiyah, Cetakan II, Th.1422H
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi Khusus 07-08/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Almat Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183. telp. 0271-5891016]
Artikel Almanhaj.Or.Id
_________
Footnotes
[1]. Barakatu Ardhisy-Syam, Dr Abu Anas Muhammad bin Musa Alu Nashr, Majalah Manarusy-Syam, edisi Jumadal Ula 1425H.
[2]. Lihat Surat Yusuf ayat 100
[3]. Kisah tersebut termuat dalam Surat Yusuf.
[4]. Lihat Surat Al-A’raaf ayat 133
[5]. Lihat Surat Asy-Syu’ara ayat 52-66
[6]. Dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, saat kaum Yahudi berpuasa hari Asyura. Beliau bersabda. Hari apakah ini yang kalian berpuasa padanya? Mereka menjawab : Ini hari kemenangan Musa atas Fir’aun. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat : Kalian lebih pantas menghormati Musa daripada mereka, maka berpuasalah” [HR Al-Bukhari dan Muslim. Dinukil dari Shahih Qashashil Anbiyaa, halaman 310]
[7]. Dirasatun Fil Adyan Al-Yahudiyah wa Nashraniyah, halaman 49
[8]. Mujaz Tarikhil Yahudi, Majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyah, halaman 248
[9]. Nabi Yusya bin Nun Alalihissalam dalah salah seorang dari Nabi yang diutus kepada Bani Israil. Dalil yang menunjukkan kenabiannya, yaitu hadits dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi bersabda : “Matahari tidak pernah tertunda perjalanannya karena seseorang, kecuali bagi Yusya bin Nun, (ketika) pada malam hari ia menuju Baitul Maqdis: [HR Ahmad 2/325].
Ibnu Katsir berkata : Sanadnya sesuai dengan syarat Al-Bukhari. Lihat Al-Bidayah, 1/333. Dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Hafizh dalam Al-Fath, 2/221. Di tempat lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : Ada seorang nabi dari kalangan para nabi yang berperang, (ia) berkata kepada kaumnya … kemudian ia berkata kepada matahari, ‘Sesungguhnya engkau diperintah, dan aku pun juga diperintah, Ya Allah, hentikanlah ia, maka matahari itu pun berhenti, sampai akhirnya Allah membuka kota tersebut lantaran mereka” [HR Al-Bukhari, Lihat Al-Fath 6/220]
[10]. Dirasatun Fil Adyan, halaman 53
[11]. Lihat surat Al-A’raaf ayat 167
[12] Dirasatun Fil Ad-yan, halaman 66-67
[13]. Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 3/75
[14]. Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 3/304 secara ringkas