Showing posts with label Teroris. Show all posts
Showing posts with label Teroris. Show all posts

Wednesday, May 8, 2013

Saudi Bebaskan 166 Anggota Al-Qaeda Dan Militan Yang Sudah Bertobat

saudiRIYADH-Arab Saudi pada Ahad kemarin (5/5/13) membebaskan 166 anggota Al-Qaeda dan mantan militan yang sudah bertobat setelah mereka menjalani program konseling  jangka panjang (Munasaha) yang bertujuan menyatukan kembali mereka ke dalam masyarakat, kata Jenderal Mansour Al-Turki, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Saudi.

Program rehabilitasi dan pembebasan ini dirancang untuk mendorong mereka supaya bisa mengambil jalan moderat Islam.

Sebanyak 104 mantan militan dibebaskan di Riyadh, kata Al-Turki.

"62 anggota kelompok penentang dibebaskan di Jeddah setelah mereka menyelesaikan program konseling di Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Mohammed Bin Naif," kata Al-Turki.

Kementerian itu tidak memberikan rincian afiliasi masa lalu mereka dengan kelompok-kelompok teroris mana.

Al-Turki, yang dihubungi oleh Arab News, mengatakan tidak ada wanita dalam kelompok yang dibebaskan itu.

Para tahanan yang dibebaskan akan berpartisipasi dalam program tindak lanjut untuk rehabilitasi emosional dan reintegrasi ke dalam masyarakat, kata sebuah pernyataan.

Dikatakan, 31 diantara mereka mendapatkan pelatihan dari program konseling yang dijalankan oleh Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Mohammed Bin Naif.

Semua anggota yang dibebaskan akan dipantau oleh instansi pemerintah dan anggota komite konseling dari pusat.

Mereka semua akan membantu mantan gerilyawan kembali ke masyarakat, mendapatkan pekerjaan aslinya atau pekerjaan baru yang aman dan mencari peluang bisnis.

Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Mohammed Bin Naif memiliki beberapa program reformasi yang buat oleh akademik Syariah, sosiologi, psikologi, sejarah dan olahraga. (arn)CYBER SABILI

Thursday, April 11, 2013

Membajak Salafi

Oleh Muhamad Karyono

Lebih satu dekade terakhir ini dakwah salafiyah berkembang pesat di tanah air. Esensi dari dakwah tersebut adalah sebuah seruan kepada segenap kaum muslimin untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah berdasarkan pemahaman generasi awal umat (salafus saleh). Ditinjau dari sisi historis, gerakan salafiyah bukan hal baru dalam dinamika dakwah di tanah air. Awal abad XIX, di tanah Minang berkembang gerakan pemurnian Islam oleh kaum Paderi sebagai pengaruh langsung dari dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Tamimi rahimahullâh di Semenanjung Arabia. 

Gerakan Paderi sebagai perlawanan militer memang berhasil dipatahkan oleh pemerintah colonial Belanda. Namun gerakan Paderi sebagai satu upaya pembaharuan Islam justru makin berkembang ke seantero negeri. Sepeninggal Tuanku Imam Bonjol, gerakan pembaharuan Islam dilanjutkan oleh satu kelompok yang disebut sebagai Sumatera Thawalib. Salah satu tokoh terkenal dari Sumatera Thawalib adalah Haji Abdul Karim yang merupakan ayahanda Prof. Dr. HAMKA.

Awal abad XX, bebarengan dengan lahirnya kebangkitan nasional, gerakan pembaharuan Islam turut pula bertransformasi ke dalam berbagai wadah organisasi modern seperti Muhammadiyah, Persis, dan Al-Irsyad. Dengan memanfaatkan satu pola pengorganisasian modern, dakwah pemurnian Islam pun meluas hingga skala nasional. Akan tetapi dalam perjalanannya sebagian dari organisasi-organisasi Islam tersebut justru melupakan khittahnya sebagai gerakan dakwah yang memprioritaskan penegakan tauhid. Muhammadiyah misalnya. Bila di masa KH. Ahmad Dahlan organisasi tersebut sangat identik dengan slogan ‘pemberantasan TBC (takhayul, Bid’ah, dan Khurafat)’ maka saat ini sebagian tokoh Muhammadiyah telah terhinggapi penyakit ‘sepilis’ (sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme). Amien Rais, mantan ketua umum Muhammadiyah pernah mengatakan bahwa ‘baju Islam terlalu sempit baginya’. Sedangkan tokoh-tokoh Muhammadiyah lain semacam Dawam Raharjo dan Moeslim Abdurrachman malah terang-terangan mendukuang Islam liberal. Jika kita cermati, gejala demikian muncul sebagai akibat beralihnya kendali nakhoda organisasi dari golongan ulama ke golongan cendekiawan. Maka tak mengherankan, makna pembaharuan yang semula ditafsirkan sebagai upaya mengembalikan Islam kepada pemahaman Al-Qur’an dan Al-Sunnah yang murni, dibelokkan oleh para cendekiawan tersebut menjadi upaya ‘rekonstruksi ajaran Islam untuk disesuaikan dengan tuntutan zaman’. Celakanya, ‘mazhab’ Islam liberal buah dari rekonstruksi para cendekiawan itu tak jua mampu menjawab tantangan zaman sebagaimana yang mereka cita-citakan. Umat Islam tetap saja tertinggal dalam segala bidang.

Sementara itu, sejumlah organisasi Islam lainnya yang semula berorientasi dakwah justru berubah haluan menjadi gerakan politik. Dakwah tauhid pun pelan-pelan ditinggalkan dan diganti dengan dakwah politik. Kajian tafsir Al-Quran semisal tafsir Ibnu Katsir diganti dengan kajian kitab-kita karangan Sayid Qutub dan Hasan al-Bana yang membahas tentang fiqhul waqi’. Alhasil, para aktivis dakwah lebih disibukkan dengan persoalan ‘konspirasi Yahudi’ ketimbang persoalan ‘kemusyrikan umat’. Bila di kalangan liberal, pembaharuan Islam dimaknai sebagai ‘rekonstruksi Islam sesuai tuntutan zaman’ maka di kalangan aktivis pergerakan (harakah), pembaharuan Islam dimaknai sebagai upaya mengembalikan kekuasaan ke tangan umat Islam.

Pada saat pergulatan pemikiran antargolongan dalam Islam mencapai puncaknya, dakwah salafiyah tampil sebagai pelurus makna pembaharuan. Dalam kaca mata salafi, kejayaan umat Islam hanya dapat diraih bilamana kaum muslimin kembali pada pemahaman generasi awal umat ini yang merupakan generasi terbaik. Hal itu sebagaimana bunyi sebuah ungkapan, ‘tidaklah umat ini menggapai kejayaan, melainkan dengan apa-apa yang membuat pendahulu mereka meraih kejayaan’. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah memulai dakwahnya dengan memurnikan tauhid, bukan dengan merebut kekuasaan dari tangan Abu Jahal dan Abu Lahab. Buah dari dakwah tauhid tersebut adalah tegaknya pemerintahan Islam yang wilayahnya terbentang dari Jazirah Arab hingga Andalusia dalam rentang kurang dari satu abad. Terkait persoalan kemunduran umat Islam dalam berbagai bidang dewasa ini, kaum salafi berpandangan bahwa untuk mengobati ‘penyakit umat’ yang sudah sedemikian kronis tersebut hendaklah dimulai dari akidahnya. Bila dengan kekuatan tauhid bangsa Arab sukses bertransformasi dari bangsa yang terlupakan menjadi pusat peradaban dunia, maka hanya dengan resep yang sama pula umat Islam di era modern ini bakal bangkit dari ketertinggalan mereka.

Konsep dakwah salafi yang begitu simpel tersebut telah menyadarkan kesadaran keberagamaan kaum muda secara kolektif untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Dalam waktu yang relatif singkat, dakwah salafiyah mendapat sambutan luas dari segenap lapisan masyarakat. Di kampus-kampus hingga instansi pemerintah dan swasta, kajian salafi marak digalakkan. Hasilnya, kita melihat banyak saudara-saudara kita dari kalangan mahasiswa, PNS, pegawai swasta, pedagang dan kalangan lainnya yang dengan bangga menampakkan syiar keislamannya, seperti berjenggot dan bercelana ngatung bagi kaum pria atau berjilbab besar bagi kaum Hawa.

Berjenggot dan Bercelana Ngatung Belum Tentu Salafi
Pesatnya perkembangan dakwah salafiyah di Indonesia membuka mata para aktivis pergerakan Islam soal pentingnya sepirit ‘kembali kepada sunnah’. Dengan kata lain, dakwah salafiyah sudah dianggap sebagai satu tren yang terus mendapatkan tempat di hati masyarakat. Alhasil, banyak ormas-ormas Islam yang menyadari pentingnya ‘corak salafi’ dalam warna dakwah mereka untuk menarik simpati kalangan luas. Akibatnya, muncullah sejumlah ormas yang sebetulnya metode dan visi dakwah mereka bertentangan dengan manhaj salaf,  akan tetapi dalam ranah akidah mereka mengklaim menerapkan pemahaman salafus saleh. Contohnya, saat ini terdapat organisasi pergerakan Islam yang menyerukan pemberantasan kemusyrikan, takhayul, bid’ah, dan khurafat serta berpenampilan fisik sebagaimana ikhwan salafi (berjenggot, bercelana ngatung, dsb) tetapi di sisi lain mereka membolehkan demonstrasi, anarkistis, dan tindakan provokatif menebar kebencian terhadap pemerintah. Padahal, manhaj salaf sendiri mengajarkan bahwa ketaatan terhadap waliyul amri (pemerintah) adalah termasuk bagian dari akidah. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh para ulama salaf seperti Imam mazhab yang empat. Imam Ahmad misalnya, pernah diburu oleh pasukan khalifah Al-Makmun yang bepaham Muktazilah lantaran beliau sangat gigih membela akidah Ahli Sunnah yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk (sebaliknya paham Muktazilah yang dianut Khalifah Al-Makmun mengatakan bahwa Al-Qur’an itu makhluk). Meski Imam Ahmad meyakini tentang kebenaran pendiriannya, serta memiliki banyak pengikut tapi beliau tidak menghasut rakyat untuk melawan penguasa yang sesat. Beliau tetap berpegang teguh pada akidah Ahli Sunnah tentang wajibnya taat kepada penguasa muslim, demi kemaslahatan yang jauh lebih besar. Nah, bila Imam Ahmad saja tidak memberontak dan tidak menghasut rakyat untuk melawan penguasa yang jelas-jelas menyimpang akidahnya, adakah layak mereka yang mengklaim sebagai aktivis dakwah menebarkan kebencian terhadap pemerintah yang sangat mungkin bertindak menyimpang semata-mata karena jahil atau bodoh? Adakah maslahat yang dipetik oleh umat Islam ketika sebagian ‘aktivis dakwah’ berteriak-teriak di jalanan, bertindak anarkis dengan melempari bar dengan batu dan merazia diskotik dengan gaya preman? Sama sekali tidak ada. Yang ada justru timbul kesalahpahaman dari orang-orang nonmuslim, seakan-akan Islam identik dengan anarkis, Islam lebih mengutamakan dakwah dengan otot ketimbang dengan kelembutan, dan sederet stigma negatif lain yang timbul lantaran salah persepsi gara-gara ulah segelintir oknum. Parahnya lagi, seringkali muncul kesan dari orang-orang di luar kelompok tersebut (baik muslim atau nonmuslim) bahwa mereka yang tergabung dalam organisasi anarkis berkedok Islam tersebut hanyalah gerombolan para penganggur yang frustasi, yang menumpahkan kefrustasiannya lewat anarkisme berkedok agama.

Mungkin, banyak dari saudara-saudara kita yang tergabung dalam ‘organisasi preman berkedok agama’ tersebut beranggapan bila apa yang mereka lakukan (berupa razia diskotik, tempat hiburan, dsb) merupakan aplikasi dari hadis Nabi SAW yang memerintahkan umat Islam untuk memberantas kemungkaran dengan tangan, bila tidak mampu hendaklah dengan lisan, dan bila tidak mampu juga hendaklah dengan mengingkarinya dalam hati. Benarkah demikian? Sekali-kali tidak. Maksud dari mengubah kemungkaran dengan tangan adalah memberantas segala bentuk kemaksiatan dan penyimpangan dengan power (kekuasaan). Yang punya kekuasaan hanyalah pemerintah, bukan ormas tertentu. Sebagai perbandingan, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW tidak memarahi seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid karena kebodohannya. Rasulullah SAW hanya memerintahkan para sahabatnya untuk menyiram bekas kencing itu dengan air. Bila Nabi SAW lebih mengutamakan dakwah dengan kelembutan, adakah layak kita sebagai umatnya lebih mengutamakan dakwah dengan cara-cara kasar?

Kemudian terkait dengan demonstrasi yang oleh sebagian ‘aktivis dakwah’ sering dimaknai sebagai bagian dari ‘mengubah kemungkaran dengan lisan’, maka sungguh, apa yang mereka lakukan adalah justru salah satu bentuk kemungkaran. Dan tidak syak lagi, kelompok yang pertama kali melakukan demonstrasi dalam Islam adalah kaum khawarij (sekte sesat dalam Islam yang gemar mengkafirkan kelompok di luar mereka). Dalam sejarah, kelompok khawarij ini melakukan demonstrasi dengan mengepung rumah Khalifah Usman bin Affan yang berujung pada pembunuhan amirul mukiminin. Dengan demikian, para ‘aktivis dakwah’ yang hobi demonstrasi di jalanan, hakikatnya mereka itu melestarikan sunnah kaum khawarij yang sesat.

Oleh karena itulah, kita harus membedakan aktivis ormas yang penampilan fisiknya menunjukkan kesalehan (bergamis, berjenggot, bercelana ngatung, dsb) namun perilakunya barbar dengan mereka yang memang benar-benar salafi. Seorang yang benar-benar salafi, tak hanya meneladani Nabi SAW dan sahabatnya dalam hal berpakaian belaka. Terpenting, mereka juga meneladani Rasulullah SAW dalam hal akidahnya, akhlaknya, dan metode dakwahnya. Munculnya fenomena kelompok-kelompok tertentu yang secara penampilan fisik sama persis dengan ikhwan salafi namun akhlak dan metode dakwahnya bertentangan dengan manhaj salafus salih, justru membuka pintu lebar-lebar bagi mereka yang alergi dengan dakwah sunnah tersebut (terutama kaum liberal dan para ‘kyai’ yang hobi menyiarkan bid’ah bahkan kemusyrikan dan gemar dikultuskan, karena ‘sang kyai’ khawatir kedudukan serta posisinya yang ‘terhormat’ bakal jatuh manakala umat benar-benar menjalankan sunnah Nabi SAW secara benar) untuk melempar opini publik yang mendiskreditkan dakwah tauhid. Mereka bakal santer berkoar-koar dengan berteriak, “lihatlah! Mereka yang mengklaim diri sebagai pendakwah sunnah ternyata gemar berbuat anarkis. Sedangkan kami, yang menjunjung tinggi Islam multikultural selalu tampil adhem ayem!” Teriakan semacam itu muncul akibat adanya kelompok-keompok yang ‘membajak salafi’. Mereka berpenampilan fisik seperti salafi, tapi kelakuannya dan metode dakwahnya bertentangan 1800 dengan manhaj salaf. Dengan demikian dapat disimpulkan:

· Bila ada kelompok yang meskipun bergamis, berjenggot, dan bercelana ngatung tetapi mendukung terorisme maka mereka bukan salafi kerena salafus saleh (Sahabat Nabi tabi’in, dan tabiut tabi’in) tidak pernah melakukan terror di tengah-tengah masyarakat.

· Bila ada kelompok yang meskipun bergamis, berjenggot, dan bercelana ngatung tetapi melakukan perusakan gereja dan menghalalkan darah orang-orang kafir di Indonesia maka mereka bukan salafi karena Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah menyakiti orang-orang kafir dzimmi (orang nonmuslim minoritas yang hidup dalam perlindungan pemerintah Islam). Rasulullah dan para sahabatnya juga melarang pasukan Islam merusak gereja, membunuh pendeta dan rahib, serta merusak lahan pertanian ketika menyerang tentara kafir di wilayah mereka. Nah, bila dalam kondisi perang dan di negara kafir saja Nabi SAW melarang menhancurkan gereja serta melarang membunuh rahib dan pendeta, apalagi di Indonesia yang negara muslim dan dalam kondisi damai pula.

· Bila ada kelompok yang meskipun bergamis, berjenggot, dan bercelana ngatung tetapi hobi berdemonstrasi, hobi merazia diskotik dan tempat hiburan dengan kekerasan maka mereka bukan salafi karena Rasulullah dan sahabatnya tidak pernah menyampaikan dakwah dengan jalan demonstrasi. Di samping itu manhaj salaf senantiasa memegang prinsip menghindari mudharat yang lebih besar. Terkait soal diskotik dan tempat hiburan, ketika para ‘aktivis dakwah’ tersebut melakukan razia dengan gaya preman maka kita lihat, setelah itu tempat hiburan hanya tutup sebentar dan buka lagi. Sebaliknya aksi razia mereka yang penuh nuansa kekerasan diliput media sehingga tersebar secara luas. Dengan begitu, aksi para ‘aktivis dakwah’ itu  justru tidak bisa menghentikan kemungkaran. Sebaliknya, metode razia mereka yang mirip preman itulah yang malah tersebar luas lewat layar kaca dan ditonton banyak orang sehingga menimbulkan kesan negatif terhadap Islam. Jadi, dakwah gituan bukanlah metode salaf karena menimbulkan mudarat yang jauh lebih besar dari maslahatnya.

Salafiyah Adalah Islam yang Diamalkan Rasulullah SAW dan Sahabatnya
Lantas siapa sih salafi itu? Salafi sendiri berasal dari kata ‘salaf’ yang artinya adalah pendahulu (maksudnya pendahulu umat Islam, yakni golongan Sahabat Nabi, tabi’in, dan tabiut tabi’in). Dengan demikian, salafi adalah orang-orang yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana pemahaman salafus saleh. Kenapa mengikuti salafus saleh? Karena mereka adalah generasi terbaik sebagaimana sabda Nabi SAW, “Generasi terbaik adalah mereka yang hidup di zamanku, kemudian sesudahnya lagi, kemudian sesudahnya lagi.”  Jadi, gampangnya salafi adalah mereka yang memahami Islam sebagaimana pemahaman generasi awal umat ini. Aplikasinya, dalam hal akidah dan ibadah mereka senantiasa berpatokan pada apa yang diyakini dan diamalkan oleh salafus saleh. Contoh, jika para Sahabat Nabi dulu tidak melakukan perayaan kematian 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan 1000 hari, maka kaum salafi sekarang pun tidak melakukannya. Bila para Sahabat Nabi dulu tidak melakukan ruwatan maka kaum salafi sekarang pun tidak menjalankannya. Bila para sahabat Nabi dulu waktu melakukan pernikahan tidak melakukan perhitungan njlimet demi mencari hari baik, maka kaum salafi sekarang pun tidak melakukan yang demikian. Bila para Sahabat Nabi dulu tidak melakukan salawatan dengan berteriak-teriak keras di antara waktu azan dan iqamah, maka kaum salafi sekarang pun tidak melakukannya. Tapi dalam masalah keduniaan (muamalah), kaum salafi boleh-boleh saja mengikuti perkembangan zaman sebagaimana sabda Nabi SAW bahwa kita (umat Nabi SAW) lebih memahami masalah-masalah keduniaan kita. Contohnya, bila para Sahabat Nabi dulu pergi haji dengan naik unta, maka tidak masalah bila kaum salafi sekarang pergi haji naik pesawat. Bila dulu para Sahabat Nabi berdakwah dengan lisan tanpa bantuan pengeras suara, maka tidak masalah bila kaum salafi sekarang berdakwah dengan pengeras suara atau laptop.

Lantas apa bedanya salafi dengan ahli sunah wal jama’ah? Sebetulnya, salafiyah adalah nama lain dari ahli sunah wal jamaah. Bila istilah ahli sunnah wal jamaah merujuk pada hadis Nabi SAW yang menyebutkan tentang golongan yang selamat di antara 73 golongan, maka istilah salafi merujuk pada para pendahulu umat ini yang senantiasa menjaga akidah dan ibadahnya sebagaimana diajarkan Nabi SAW. Bila kita runut ke belakang, pemunculan istilah ahli sunnah (orangnya disebut sunni) sendiri terjadi setelah di dunia Islam muncul berbagai macam sekte menyimpang semisal Khawarij, Muktazilah, Qadariyah, Syi’ah, Murjiah, dan lain sebagainya. Nah, istilah Ahli sunnah dimunculkan untuk membedakan kaum muslimin yang tetap berpegang teguh dengan Al-Quran dan Al-Sunnah dengan kelompok-kelompok sempalan tersebut. Namun seiring waktu, ternyata mereka yang mengklaim sebagai Ahli sunnah wal jamaah tersebut banyak pula yang gemar menyebarkan beraneka bid’ah. Oleh karena itu, buat membedakan antara golongan Ahli sunnah yang tetap berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagaimana pemahaman salafus saleh dengan mereka yang hanya mengklaim diri sebagai Ahli Sunnah tapi nyatanya justru ahli bid’ah, maka muncullah istilah salafi. Seorang salafi sejatinya adalah seorang Ahli sunnah wal jamaah yang istiqomah. Sebaliknya mereka yang mengaku Ahli Sunnah (bahkan mencantumkannya dalam AD/ART organisasi) tapi hobi berziarah ke makan wali untuk minta berkah serta gemar melakukan bid’ah, maka ketahuilah bahwa mereka sama sekali bukan  Ahli Sunnah. Jadi, sejatinya salafi adalah Ahli Sunnah, atau golongan yang selamat. Jadi, orang yang menisbatkan diri sebagai salafi maka maksudnya ia telah mengikrarkan diri untuk mengamalkan ajaran Islam berdasarkan manhaj salaf. Sama halnya ketika kita dengan bangga mengatakan,”saya seorang Muslim”, maka hakikatnya adalah kita berikrar bahwa kita akan berusaha menjalankan ajaran Islam dengan sebaiknya-baiknya. Dengan demikian, siapapun yang berusaha untuk menjalankan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Sunnah sebagaimana pemahaman salafus saleh dalam segenap lini kehidupan, sesungguhnya ia adalah seorang salafi.

Lantas kenapa kok saat ini salafi seperti sebuah kelompok yang berbeda dengan kaum muslimin kebanyakan? Ya, karena kaum muslimin kebanyakan di era sekarang ini tak lagi mengamalkan ajaran Islam yang benar. Contohnya, ketika saat ini sebagian besar kaum muslimah di tanah air tidak berjilbab (kalaupun berjilbab biasanya hanya berupa jilbab gaul yang melilit di leher dan dipadukan dengan kaos dan celana jeans ketat), maka tatkala ada segelintir kaum Hawa yang berjilbab gedhe, hal itu dirasa aneh. Ketika mayoritas kaum muslimin menjalankan shalat fardhu di rumah dan tidak tepat waktu, manakala ada segelintir orang yang menjalankan shalat wajib dengan berjamaah dan on time di masjid, itu pun dianggap aneh. Ketika mayoritas pemuda dan pemudi Islam hobi pacaran, maka tatkala adalah pemuda dan pemudi yang tidak pacaran, tahu-tahu lamaran dan menikah, itu juga dianggap aneh. Dan lain sebagainya. Fenomena tersebut telah jauh-jauh diungkap dalam sabda Nabi SAW,”Islam itu pertama kali dianggap asing dan suatu saat pun akan kembali dianggap asing. Maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing itu.” Begitu saja kok!!!

Sunday, March 3, 2013

Saudi Berhasil Luruskan Pemahaman 3.000 Ektremis

Pemberantasan terorisme tidak melulu mengandalkan senapan dan pembunuhan para pelaku teror. Pendekatan yang lebih humanis dan ilmiah diperlukan untuk meluruskan ideologi menyimpang dari para korban "cuci otak" kelompok ektremis.

Inilah yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi di Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Mohamed bin Naif di pinggiran kota Riyadh.

Diberitakan al-Arabiya, Minggu 24 Februari 2013, fasilitas ini telah berhasil meluruskan lebih dari 3.000 orang yang berpaham ekstremis. Sebanyak 92 persen dari peserta deradikalisasi berhasil lulus.
Menurut al-Arabiya, ini adalah bukti suksesnya pemerintah Arab dalam mengatasi terorisme hingga ke akar permasalahannya. Di fasilitas ini, mereka diberikan pendidikan oleh para pembimbing bahwa pemahaman mereka sebenarnya menyimpang dari syariah Islam.

Salah seorang mantan ekstremis, Abdul Rahman Al Houaity, mengatakan bahwa program deradikalisasi tersebut telah membuka matanya pada pemahaman lain yang berbeda dari pemahaman yang selama ini diyakininya. Dia juga mengatakan, kini dia bisa berpikir dengan jernih.

Tidak hanya berfokus pada pelurusan pemahaman Islam, kata Houaity, program ini juga memberikan pandangan baru bagi mereka soal dampak politik, sosial dan ekonomi dari ideologi yang mereka anut.

Selain itu, program ini juga kerap melakukan diskusi antara para ekstremis dengan ulama dan mantan ekstremis. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan rasa percaya diri dan memudahkan mereka kembali ke masyarakat. (umi- viva.co.id )

Lewat Rehabilitasi Saudi Perangi Ekstrimisme Hidayatullah.com—Lebih dari 3.000 orang Saudi dilaporkan telah mengikuti program rehabilitasi untuk menghilangkan ideologi ekstrim yang mereka yakini.

Sebanyak 92 persen peserta program rehabilitasi di Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Muhammad bin Nayif, telah menyelesaikan program tersebut, lapor Al-Arabiya (24/2/2013).

Dalam program intensif tersebut, peserta diberikan pencerahan berbagai peristiwa historis dan politis dan kaitannya dengan hukum syariah. Peserta juga melakukan pertemuan dengan orang-orang yang sudah melepaskan paham ekstrimnya, dan dipertemukan dengan para ulama guna mempersiapkan diri kembali ke masyarakat.

Kepada Al-Arabiya salah seorang peserta bernama Abdulrahman al-Huwaity mengatakan, program itu telah membuka mata dan pikirannya untuk mau melihat pandangan dan pemikirian berbeda dari apa yang diyakininya.

Program itu telah membantunya memandang berbagai masalah dari aspek politik, sosial dan ekonomi, dan tidak semata-mata lewat sudut pandangan hukum syariah, imbuh Al-Huwaity.

Menurut Badr al-Anzy yang pernah terlibat dalam penganggulangan ekstrimisme, kelompok-kelompok ekstrim kerap mencuci otak para pengikut pemulanya, sehingga mereka keliru dalam memahami hukum syariah.

Melalui seminar dan kuliah umum, lembaga konseling itu telah mendekati lebih dari 8.000 orang yang diyakini memiliki pemikiran radikal.*

Saturday, January 19, 2013

BENARKAH KHAWARIJ MUNCUL DARI NAJD ARAB SAUDI??

Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 7

Idahram membawakan beberapa hadits yang –menurut persangkaannya- menunjukkan bahwa khawarij munculnya dari Najd yang ada di timur kota Madinah, yaitu daerah tempat munculnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, yang ini menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan kaum khawarij adalah kaum Salafi Wahabi.

Diantara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Najd adalah tempat munculnya fitnah adalah:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami” . Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan ” . (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1037. Diriwayatkan juga pada no. 7094 dan Muslim no. 2095)

Dalam riwayat yang lain dari Ibnu 'Umar :

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ مُسْتَقْبِلَ الْمَشْرِقِ يَقُوْلُ "أَلآ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَهُنَا. أَلآ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَهُنَا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ".

Bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam - dimana beliau waktu itu menghadap ke timur -, beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah datang dari sini, ketahuilah sesungguhnya fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” (HR Muslim no 2095)
 
Dalam lafadh lain:
فَقَالَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ "الْفِتْنَةُ هَهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ" قالها مرتين أو ثلاثا.
"Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dengan berisyarat dengan tangannya ke arah timur : “Fitnah itu dari sini, dari arah munculnya tanduk setan”. Beliau mengatakannya dua atau tiga kali" (HR Muslim 2905)

Dalam riwayat yang lain : يُشِيرُ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ "Beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur" (HR Muslim 2905)
 
Dalam hadits yang lain menunjukkan bahwa kau khawarij munculnya dari arah timur.
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ، هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ، فَقَالَ: سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
 
Dari Yusair bin 'Amr berkata, "Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu), Apakah engkau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang khawarij?". Maka Sahl berkata, "Aku mendengarnya –dan Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur- beliau bersabda, "Suatu kaum yang membaca Al-Qur'an dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari badan hewan buruannya" (HR Muslim no 1068)
 
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa akan muncul banyak fitnah dari arah timur kota Madinah, yaitu dari Najd , yaitu tempat munculnya tanduk syaitan. Dan diantara fitnah-fitnah tersebut yang datang dari timur adalah munculnya kaum khawarij.
 
Idahram berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Najd dalam hadits di atas adalah Najd yang ada di Arab Saudi yaitu daerah sekitar kota Riyadh, tempat kelahirannya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Dengan demikian berarti pantaslah jika Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab adalah tokoh khawarij yang muncul dari arah timur kota Madinah.
Idahram berkata,
"Nabi saw. telah memberitahukan kepada umatnya bahwa kemunculan fitnah-fitnah yang menerpa umatnya berasal dari arah timur (baca : timur Madinah, yakni Najd di Saudi Arabia). Fitnah ini bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Sebab, kata fitnah dalam hadits di atas menggunakan bentuk plural, yaitu fitan (fitnah-fitnah). Sejarah mencatat bahwa Musailamah ibnu Habib al-Kadzdzab, Sajah binti Al-Harits ibnu Suwaid at-Tamimah, Thalhah ibnu Khuwailid al-Asadi, dan orang-orang semisal mereka, semuanya berasal dari Najd, tanah kelahiran Muhammad ibnu Abdil Wahhab si pendiri sekte Salafy Wahabi. Bahkan para pembuat fitnah itu berasal dari kaum/kabilah yang sama dengan kabilahnya pendiri Wahabi, yaitu Bani Tamim" (Sejarah Berdarah… hal 150).
Idahram juga berkata,
"Mereka yang mengatakan bahwa Najd adalah "dataran tinggi"di Iraq, salah besar. Karena selain Iraq bukan dataran tinggi, juga karena Iraq berada di sebelah utara kota Madinah, dan tidak pernah ada nama daerah Najd di Iraq" (Sejarah Berdarah… hal 152)

SANGAAHAN

Pernyataan-pernyataan Idahram di atas adalah salah, bisa dilihat dari banyak sisi :

Pertama : Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Najd dalam hadits di atas maka metode yang terbaik adalah dengan melihat riwayat-riwayat hadits-hadits yang lain. Karena metode menafsirkan hadits yang terbaik adalah menafsirkan hadits dengan hadits-hadits yang lain.

Jika kita kembali memperhatikan hadits di atas :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami” . Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan ”

Lantas kita bandingkan dengan riwayat yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraani dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhu:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلم قال : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا، فَقَالَهَا مِرَاراً، فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَفِي عِرَاقِنَا؟ قَالَ: إِنّ بِهَا الزَّلاَزِلَ وَالْفِتَنَ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami” . Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, juga pada ' Iraq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sanalah muncul tanduk setan” [Al-Mu'jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].
 
Hadits ini telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau telah mentakhrij hadits ini dengan menyebutkan seluruh jalan-jalan hadits ini. (Lihat Silsilah Al-Ahaadiits As-Shahihah 5/302-306, takhriij hadits no 2246)

Kedua : Dalam hadits juga disebutkan bahwa kaum khawarij keluar dari arah timur kota Madinah.
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ، هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ، فَقَالَ: سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
Dari Yusair bin 'Amr berkata, "Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu), Apakah engkau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang khawarij?". Maka Sahl berkata, "Aku mendengarnya –dan Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur- beliau bersabda, "Suatu kaum yang membaca Al-Qur'an dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah tembus keluar dari badan hewan buruannya" (HR Muslim no 1068)

Rasulullah juga bersada

يَتِيهُ قَوْمٌ قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُحَلَّقَةٌ رُءُوسُهُمْ
"Tersesat suatu kaum di arah timur, kepala-kepala mereka gundul" (HR Muslim no 1068)

Rasulullah juga bersabda,

«يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ، وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ»، قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: " سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ
"Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati batas kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka tidak pernah kembali sampai anak panah bisa kembali ke busurnya. Ciri-ciri mereka adalah mencukur habis rambutnya atau gundul" (HR Al-Bukhari no 7562)

Lebih jelas dalam riwayat berikut
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلْتُ عَلَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ فَقُلْتُ حَدِّثْنِي مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْحَرُورِيَّةِ قَالَ أُحَدِّثُكَ مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ هَاهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْعِرَاقِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قُلْتُ هَلْ ذَكَرَ لَهُمْ عَلَامَةً قَالَ هَذَا مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ
Dari Yusair bin 'Amr berkata, "Aku menemui Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu) lalu aku berkata, "Sampaikanlah kepadaku hadits yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Haruriyah ". Sahl berkata, Aku akan menyampaikan kepada engkau hadits yang aku dengar dan aku tidak akan menambah-nambahi. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut suatu kaum yang keluar dari arah sini -dan Nabi mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq- mereka membaca Al-Qur'an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah tembus keluar dari badan hewan buruannya".

Aku (yaitu Yusair bin 'Amr) berkata, "Apakah Nabi menyebutkan suatu tanda tentang mereka?", Sahl berkata, "Ini yang aku dengar, aku tidak menambah-nambahinya" (HR Ahmad no 15977)

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini, ternyata sejarah menyatakan bahwa kaum Khawarij keluar dan muncul di Iraq.

Ketiga : Kaedah menunjukkan bahwasanya perawi hadits lebih paham dengan apa yang dia riwayatkan, terlebih lagi jika perawi hadits tersebut sahabat atau tabi'in.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibnu Fudhail, ia berkata :

سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، يَقُولُ: يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنِ الصَّغِيرَةِ، وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيءُ مِنْ هَاهُنَا» وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ» وَأَنْتُمْ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ، وَإِنَّمَا قَتَلَ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ، مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ، خَطَأً فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ: {وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا} [طه: 40]

Aku mendengar Salim bin 'Abdillah bin 'Umar berkata : “Wahai penduduk 'Iraq , aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin 'Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa salam bersabda : ' Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini - ia menunjukkan tangannya ke arah timur - dari arah munculya dua tanduk setan' . Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir'aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah 'azza wa jalla berfirman padanya : 'Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan." (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905].

Salim bin 'Abdillah bin 'Umar mengecam penduduk 'Iraaq karena fitnah yang mereka timbulkan dengan menyebut hadits kemunculan tanduk setan dari arah mereka. Ini menunjukkan bahwa Salim bin 'Abdillah bin 'Umar memahami arah timur yaitu arah Iraq.

Keempat : Para ulama juga memahami bahwa Iraq adalah sebelah timurnya Mekah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkali-kali menekankan makna "masyriq" (timur) dalam kitabnya "Fathul Bari", beliau berkata :

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Puncak kekufuran di arah timur)), …. Ini menunjukkan akan parahnya kekafiran kaum majusi, karena kerajaan Persia dan orang-orang Arab yang tunduk kepada mereka berada di arah timur kota Madinah. Mereka berada di puncak kekerasan hati, kesombongan dan keangkuhan, hingga raja mereka merobek surat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam –sebagaimana akan datang penjelasannya pada tempatnya- dan fitnah-fitnahpun berkesinambungan dari arah timur" (Fathul Baari 6/352)

Ibnu Hajar juga berkata tatkala menjelaskan tentang hadits yang diriwayatkan oleh Usamah radhiallahu 'anhu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ»

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dari salah bangunan yang tinggi (benteng) di kota Madinah, lalu beliau berkata, "Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?, Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah diantara rumah-rumah kalian, sebagaimana tempat-tempat turunnya hujan" (HR Al-Bukhari no 1878 dan Muslim no 2885)

"Hanyalah dikhususkan kota Madinah dengan hal itu (*munculnya fitnah-fintah) karena pembunuhan Utsman terjadi di Madinah, kemudian tersebarlah fitnah di negeri-negeri setelah itu. Perang Jamal, perang shiffin semuanya karena peristiwa pembunuhan Utsman. Perang di Nahrawaan disebabkan karena permasalahn tahkiim yang dilakukan di siffin. Seluruh peperangan yang terjadi di masa itu hanyalah buah dari pembunuhan Utsman atau karena sesuatu yang timbul akibat pembunuhan Utsman. Kemudian sebab utama terjadi pembunuhan Utsman adalah pencelaan terhadap para gubernur dan juga pencelaan terhadap Utsman yang telah mengangkat para gubernur tersebut. Dan yang pertama kali timbul hal itu dari Iraq, dan ia dari arah timur. " (Fathul Baari 13/13)

Ibnu Hajar juga berkata

"Selain Al-Khtthoobi berkata bahwasanya penduduk daerah timur tatkala itu orang-orang kafir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa fitnah akan datang dari arah timur, dan terjadilah sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi. Fitnah yang pertama kali terjadi dari arah timur dan hal itu terjadi karena perpecahan diantara kaum muslimin, dan hal ini merupakan perkara yang disukai dan digembirai syaitan. Demikian juga bid'ah tersebar dari arah tersebut.

Al-Khottoobi berkata, "Najd dari sisi timur, barang siapa yang di kota Madinah maka Najd nya adalah padang Iraq dan sekitarnya, dan itu adalah bagian timur penduduk Madinah. Dan Najd asalnya (*dalam bahasa) adalah setiap dataran yang tinggi, hal ini berbeda dengan "ghour" karena ghour adalah dataran rendah. Dan Tihamah seluruhnya dari ghour, dan kota Mekah termasuk Tihamah" demikian perkataan Al-Khotthoobi.

Dengan demikian diketahuilah kelemahan pendapat Ad-Dawudi yang menyatakan bahwa Najd (suatu tempat) di arah Iraq, karena ia menyangka bahwa Najd adalah suatu tempat khusus tertentu, padahal bukan demikian, seluruh tempat yang tinggi ditinjau dari daerah yang setelahnya dikatakan dataran tinggi tersebut Najd dan dataran rendah ghour" (Fathul Baari 13/47)

Ibnu Hajar juga berkata,

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Keluar sekelompok manusia dari arah timur)), sebagaimana telah lalu… mereka adalah khawarij…dan awal kemunculan mereka di Iraq, dan Iraq berada di arah timur jika ditinjau dari kota Mekah Al-Musyarrofah" (Fathul Baari 13/536)

Kesimpulan dari penjelasan Ibnu Hajar diatas diantaranya :
  • Iraq merupakan timur kota Madinah
  • Fitnah khawarij munculnya di Iraq, tatkala terpecah kaum muslimin
  • Najd artinya adalah dataran tinggi, dan ini adalah makna Najd menurut asli bahasanya.
  • Najd bukanlah nama suatu tempat khusus yang ada di Iraq, karenanya Ibnu Hajar membantah Ad-Dawudi yang menyangka ada suatu daerah yang Namanya Najd di Iraq
  • Jadi memang tidak ada nama daerah Najd di Iraq

Kelima : Dari penjelasan lalu maka kita pahami bahwasanya kata "masyriq" tidak berarti harus persis ke arah timur, akan tetapi kata "masyriq" juga mencakup arah timur laut. Karena posisi Iraq berada di arah timur laut kota Madinah.

Sebagai bukti bahwasanya kata "masyriq" mencakup arah timur laut, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam telah mengabarkan bahwa akan muncul Dajjaal dari arah timur. Rasulullah bersabda:

أَلَا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّأْمِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ، لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، مَا هُوَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ

"Ketahuilah, bahwasannya ia (Dajjaal) keluar dari laut Syaam atau laut Yaman. Tidak, bahkan ia keluar dari arah Timur. Ia dari arah Timur !, ia dari arah Timur !!” . Dan beliau mengarahkan tangannya ke Timur " (HR Muslim no. 2942).

Rasulullah juga bersabda dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh :

" يَأْتِي الْمَسِيحُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ هِمَّتُهُ الْمَدِينَةُ حَتَّى يَنْزِلَ دُبُرَ أُحُدٍ، ثُمَّ تَصْرِفُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ قِبَلَ الشَّامِ، وَهُنَالِكَ يَهْلِكُ "

“Al-Masiih (Ad-Dajjaal) datang dari arah Timur menuju kota Madinah dan berhenti di belakang bukit Uhud. Kemudian malaikat memalingkan mukanya ke arah Syaam dan ia binasa di sana” (HR Muslim no. 1380).

Ternyata yang dimaksud dengan arah timur tempat kemunculan dajjal adalah di daerah Khuraasaan, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ، يُقَالُ لَهَا: خُرَاسَانُ، يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ "

dari Abu Bakr Ash-Shiddiiq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dajjaal akan keluar dari bumi Timur, yang bernama : Khuraasaan . Ia akan diikuti oleh beberapa kaum, dimana wajah mereka itu seperti perisai yang ditambal” (HR At-Timidzi no. 2237, Ibnu Majah no 4072, Ahmad no 12, dan Al-Hakim no 8608, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, silahkan lihat takhrij hadits ini secara luas di Silasilah Al-Ahaadiits As-Shahihah 4/165 no 1591).

Khuraasaan adalah negeri yang letaknya tidak pas di arah timur mata angin kota Madiinah, namun ia terletak di arah timur laut kota Madinah sebagaimana 'Iraq.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Dajjal muncul dari Asbahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلُ فِي نَاحِيَتِهَا

"Dan sesungguhnya Dajjal akan keluar di Yahudi Asbahan hingga ia mendatangi kota Madinah, lalu iapun berhenti di pinggiran Madinah" (HR Ahmad no 24467, Ibnu Hibban no 1905 dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid 7/651)

Dan semisal hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafal

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

"Dajjal diikuti oleh 70 ribu Yahudi Asbahan, mereka memakai thoyalisah (semacam pakaian yang diletakan di bahu)" (HR Muslim no 2944)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata :

وَأَمَّا مِنْ أَيْنَ يَخْرُجُ؟ فَمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ جَزْمًا، ثُمَّ جَاءِ فِي رِوَايَةٍ أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خُرَاسَان، أَخْرَجَ ذَلِكَ أَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي بَكْرٍ وَفِي أُخْرَى أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ أَصْبَهَان أَخْرَجَهَا مُسْلِمٌ

"Adapun dari mana keluarnya Dajjal?, maka keluarnya pasti dari arah timur, kemudian dalam sebuah riwayat bahwasanya Dajjal keluar dari Khurosan, sebagaimana riwayatnya dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadits Abu Bakr As-Shiddiq, dan dalam riwayat yang lain bahwasanya Dajjaal keluar dari Ashbahaan, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim" (Fathul Baari 13/91)

Padahal Asbahan terletak di timur laut kota madinah, dan tidak persis ke arah timur, sebagaimana juga Iraq (tempat munculnya Khawarij), ternyata juga di timur laut Madinah dan tidak persis di arah timur, akan tetapi Nabi menyatakan dua tempat ini (Iraq dan Asbahan) adalah di masyriq (timur) kota Madinah. Perhatikan peta di bawah ini (sumber : http://maps.google.co.id/, kata kunci kufah)



Keenam : Para ahli bahasa Arab juga menyatakan bahwa Najd dalam bahasa Arab artinya dataran tinggi.

Al-Azhari (wafat 370 H) berkata

قال ابن شميل: النَّجْدُ: قفاف الأرض وصلابتها، وما غلظ منها وأشرف، والجماعة: النَّجَادُ، ولا يكون إلا قفاًّ أو صلابة من الأرض في ارتفاع مثل الجبل مُعترضاً بين يديك، يردُّ طرفك عمَّا وراءه

"Ibnu Syumail berkata, "An-Najd : Tanah kering dan keras, tanah yang keras dan tinggi. Pluralnya An-Najaad, dan tidak dikatakn An-Najd kecuali dataran kering dan keras serta tinggi, seperti gunung yang membentang dihadapanmu, ia menghalangi pandanganmu dari apa yang ada di belakangnya" (Tahdziib Al-Lughoh 10/662)

Ibnu Faaris (wafat 395 H) berkata :

وَالنَّجْدُ مُرْتَفَعٌ مِنَ الأَرْضِ

(Mu'jam Maqooyiis Al-Lughoh 4/401)

Ibnul Atsiir (wafat 606 H) berkata :

والنَّجْد : ما ارْتَفع من الأرض وهو اسمٌ خاصٌّ لما دون الحجاز ممَّا يَلي العِراق

"Dan An-Najd adalah dataran tinggi, dan ia adalah nama khusus untuk daerah setelah Hijaz (*Mekah-Madinah) ke arah Iraq" (An-Nihaayah fi Ghoriib Al-Hadiits 5/19)

Al-Fairuz Aabadi (wafat 817 H) berkata:

النَّجْدُ : ما أشْرَفَ من الأرضِ

"An-Najd adalah dataran tinggi' (Qoomuus Al-Muhiith 1/337)

Dari perkataan para Ahli bahasa Arab ini kita mengetahui dengan pasti bahwa An-Najd secara bahasa adalah dataran tinggi.

Karenanya terdapat banyak Najd di dunia ini, yang berarti dataran tinggi, sebagaimana disebutkan oleh Yaquut bin Abdillah Al-Hamawi Ar-Rumi Al-Baghdadi dalam kitabnya Mu'jam Al-Buldaan, bahwasanya ada Najd Barq, Najd Khool, Najd 'Ufr, Najd 'Uqoob, Najd Kabkab, Najd Yaman, dll (Lihat Mu'jam Al-Buldaan 5/265)

Ketujuh : Terbukti kalau Iraq memang tempat munculnya fitnah-fitnah, diantara fitnah-fitnah tersebut:
  • Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thoolib di Karbala

Tatkala ada penduduk Iraq yang bertanya kepada Ibnu Umar radhiallahu 'anhu tentang hukum membunuh seekor lalat tatkala sedang ihrom, maka Ibnu Umar berkata

أَهْلُ العِرَاقِ يَسْأَلُونَ عَنِ الذُّبَابِ، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ ابْنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Penduduk Iraq mereka bertanya tentang (hukum membunuh) lalat, sementara mereka telah membunuh putra dari putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam !!" (HR Al-Bukhari no 3753)
  • Munculnya Khawarij juga di Iraq, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ هَاهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْعِرَاقِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قُلْتُ هَلْ ذَكَرَ لَهُمْ عَلَامَةً قَالَ هَذَا مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ

"Suatu kaum yang keluar dari arah sini -dan Nabi mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq - mereka membaca Al-Qur'an akan teapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari badan hewan buruannya".(HR Ahmad no 15977)
  • Munculnya Mukhtaar bin Abi 'Ubaid Ats-Tsaqofi yang mengaku sebagai nabi
  • Fitnahnya Al-Hajjaaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi yang banyak menumpahkan darah kum muslimin.
  • Di Baghdad mulai munculnya fitnah Kholq Al-Qur'an, yaitu di masa Imam Ahmad, sehingga Imam Ahmad dipenjara dan disiksa. Para ulama telah sepakat bahwa aqidah Al-Qur'an adalah makhluk merupakan aqidah kufur.
  • Iraq dahulu merupakan sarangnya Syi'ah Rofidoh, bahkan hingga saat ini
  • Yang pertama kali mengingkari taqdir adalah Ma'bad Al-Juhani di Bashroh di Iraq

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، قَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ

Dari Yahya bin Ya'mar berkata, "Pertama kali yang menolak taqdir dalah Ma'bad Al-Juhani di Bahsroh (*salah satu kota di Iraq)" (HR Muslim no 1)

  • Fitnah Mu'tazilah
  • Fitnah Murji'ah juga pertama kali muncul di Iraq
  • Dan di Iraqlah mengalir darah-darah kaum muslimin yang terbunuh oleh bala tentara kaum Tatar

Mahmuud Syukriy Al-Aaluusiy Al-'Iraaqiy rahimahullah berkata :

“Bukan perkara yang mengherankan bahwa negeri 'Iraq sumber setiap fitnah dan bencana. Kaum muslimin di sana senantiasa ditimpa musibah demi musibah. Orang-orang Haruuraa' (Khawaarij) dan apa yang mereka lakukan terhadap Islam tidaklah samar lagi (akan kerusakannya). Begitu juga dengan fitnah Jahmiyyah yang telah dikafirkan mayoritas ulama salaf, hanya keluar dan lahir dari bumi 'Iraq . Mu'tazillah dan apa yang mereka katakan kepada Al-Hasan Al-Bashriy serta lima pokok keyakinan mereka yang masyhur yang menyelisihi Ahlus-Sunnah, dan ahlul-bid'ah dari kalangan Shufiyyah yang berpendapat akan adanya fanaa' dalam tauhid ar-rububiyyah yang bermaksud menggugurkan beban perintah dan larangan; juga muncul di Bashrah ( 'Iraq ). Lalu Raafidlah dan Syi'ah serta apa yang terdapat pada mereka dari sikap ghulluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlul-bait, perkataan buruk mereka terhadap Al-Imaam 'Aliy dan seluruh imam-imam, serta caci-maki mereka terhadap para pembesar shahabat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam; maka semuanya ini ma'ruuf lagi tersiar” (Ghayaatul-Amaaniy, 2/180).

Kedelapan : Jika kita membaca tentang sejarah Islam tentang fitnah-fitnah yang terjadi di dunia Islam, kita akan dapati daerah Najd Arab Saudi jauh dari tempat-tempat munculnya fitnah. Di zaman para sahabat –terutama zaman dua khalifah, Utsman dan Ali bin Abi Tholib-, muncul banyak fitnah, dan semua fitnah muncul di Iraq, Syam, dan Mesir. Tidak ada fitnah yang lebih besar dari terbunuhnya Umar bin Al-Khotthob, Utsman bin'Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Termasuk fitnah yang besar adalah peperangan yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah, demikian juga perang jamal, juga perang antara Ali dan Khawarij. Dan jika kita mengecek sejarah Islam dari zaman para sahabat hingga saat ini maka kita akan dapati kebanyak fitnah besar yang timbul adalah di daerah Iraq, Mesir dan Syam, tidak kita dapatkan hal tersebut terjadi di Najd Arab Saudi.

Kesembilan : Kalaupun seandainya dakwah salafiyah (dakwah salafi wahabi) yang ada sekarang adalah dakwah yang sesat, maka apakah fitnahnya lebih besar dibandingkan dengan fitnah ilhad, kristenisasi, kefasikan, dan kefujuran yang muncul sekarang di negeri-negeri yang lain selain di Najd Arab Saudi??. Apakah pantas kita memvonis bahwa hadits-hadits tentang munculnya fitnah-fitnah itu adalah di Najd Arab Saudi??, sementara negeri-negeri lain tenggelam dalam tersebarnya kekufuran, liberalisme, kefasikan, kristenisasi, dll??!!

Jika memang dakwah Salafy Wahabi dianggap sesat, maka tidak bisa dipungkiri, bahwasanya aqidah-aqidah yang rusak dari firqoh-firqoh yang sesat banyak muncul di negeri-negeri Islam, tidak sebanding dengan dakwah Salaf Wahabi

Terlebih lagi suku kata "fitnah" seringnya digunakan untuk mengungkapkan terjadinya pertumpahan darah dan peperangan, maka apakah telah terjadi perang besar-besaran dan pertumpahan darah besar-besaran di Najd Arab Saudi bila dibandingkan pertumpahan darah dan peperangan yang sering terjadi di Iraq??!!. Kita tidak mengingkari adanya peperangan kecil-kecilan yang terjadi di Najd Arab Saudi terutama di zaman Raja Abdul Aziz, akan tetapi itu merupakan hal yang wajar, dan semua negara mengalami hal seperti ini.

Tatkala mengomentari hadits tentang munculnya tanduk syaitan dari arah timur, maka Ibnu Abdil Barr berkata :

"Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang datangnya fitnah-fitnah dari arah timur, dan demikianlah kebanyakan fitnah muculnya dari timur dan terjadi di timur, seperti perang jamal, perang sifin, terbunuhnya Al-Husai, dan fitnah-fitnah yang lainnya yang panjang jika diceritakan, yaitu fitnah-fitnah yang terjadi setelah itu di Iraq dan Khurosan hingga hari ini. Memang terjadi fitnah-fitnah di negeri-negeri Islam, akan tetapi fitnah yang terjadi di timur selalu lebih banyak" (At-Tamhiid 17/12)

Kesepuluh : Munculnya fitnah di suatu tempat, tidaklah melazimkan rusaknya aqidah di tempat tersebut.

Dari Usamah radhiallahu 'anhu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ»

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dari salah satu bangunan yang tinggi (benteng) di kota Madinah , lalu beliau berkata, "Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?, Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah diantara rumah-rumah kalian, sebagaimana tempat-tempat turunnya hujan" (HR Al-Bukhari no 1878 dan Muslim no 2885)

Bahkan dalam hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyamakan fitnah yang terjadi di kota Madinah ibarat tempat-tempat jatuhnya air hujan. Kesamaannya dari sisi banyaknya fitnah tersebut dan juga tersebarnya fitnah tersebut (lihat penjelasan Imam An-Nawawi di Syarh Shahih Muslim 18/7-8).

Lantas apakah terjadinya fitnah-fitnah di kota Madinah menunjukkan akan rusaknya aqidah penduduk kota Madinah??!!

Kesebelas : Kalaupun hadits-hadits tentang fitnah menunjukkan akan rusaknya aqidah secara umum maka hal ini tidaklah menunjukkan bahwa rusaknya aqidah tersebut akan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Penduduk Najd Arab Saudi sebelum datangnya Nabi adalah kaum musyrikin sebagaimana penduduk daerah-daerah yang lain, dan setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam sebagian penduduk Najd Arab Saudi menjadi kafir dan mengikuti Musailamah Al-Kadzdzab. Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab baru berumur kurang lebih dua abad, lantas bukankah sebelum munculnya dakwah wahabi di Najd maka penduduk Najd sama seperti penduduk daerah-daerah yang lainnya. Dan menurut para penentang dakwah wahabi bahwasanya penduduk Najd -dari zaman tewasnya Musailamah hingga munculnya dakwah wahabi- semuanya dalam keadaan di atas petunjuk dan terbebaskan dari fitnah. Jika perkaranya demikian, maka apakah mereka tetap nekat memvonis hadits-hadits fitnah kepada kota Najd Arab Saudi??!!
bersambung... 

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

tentang Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram selengkapnya silahkan kunjungi www.firanda.com

Tuesday, January 8, 2013

Arab Saudi bantah terlibat dalam serangan udara ke Yaman

Drone AS
Drone AS
Sindonews.com – Arab Saudi membantah bahwa mereka terlibat dalam aksi serangan udara ke Yaman, seperti yang dilaporkan oleh sebuah surat kabar Inggris, The Times.

Pada Jumat 4 Januari, Times mengutip sumber di intelijen Amerika Serikat (AS) yang tak disebutkan namanya, menyatakan bahwa beberapa drone AS yang dilaporkan menyerang Yaman, sebenarnya adalah misi Angkatan Udara Arab Saudi.

“Ini tidak benar. Jet tempur Arab Saudi tidak pernah menyerang sasaran al-Qaeda di Yaman,” kata Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud al-Faisal, Sabtu (5/1/2013).

Pemaparan bukti keterlibatan Arab Saudi dalam serangan udara di Yaman, bisa merusak dan membuat rumit hubungan Riyadh dengan Pemerintahan Yaman di Sanaa. Selain itu juga bisa merusak hubungan dengan para Pemimpin suku di Yaman.

AS dan Arab Saudi khawatir, kemiskinan di Yaman bisa membuat al-Qaeda berkembang di negara itu dan pada akhirnya membuka kemungkinan untuk melakukan serangan ke sumber-sumber energi Arab Saudi di Laut Merah.

(esn)

Wednesday, November 14, 2012

Dewan Syura Arab Saudi Terima Pemeriksaan Burka

Dewan Syura Arab Saudi Terima Pemeriksaan Burka
Muslimah dengan burka
REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH  --  Komite Keamanan Arab Saudi tidak mau mengambil risiko membiarkan kelompok terorisme memanfaatkan longgarnya pemeriksaan terhadap perempuan. Untuk itu, Komite meminta pertimbangan kepada Dewan Syura terkait kemungkinan prosedur melepas burka dalam pemeriksaan.

Akan tetapi dalam amar putusannya, Ahad (4/11) lalu, Dewan Syura menerima usulan pemerintah dari komite keamanan. Alasannya, tradisi burka harus dijaga kendati demi alasan keamanan.

"Ini rekomendasi dari komite keamanan. Pada dasarnya tidak ada yang memaksa perempuan Saudi mengungkapkan wajahnya atas dasar aturan yang berlaku," komentar Anggota komite Pendidikan dan Penelitian, Abdul Rahman Al-Anad, seperti dikutip Arabnews, Selasa (6/11).

Meskipun demikian, Dewan Syuro menerima usulan lain seperti penggunaan teknologi sidik jari sebagai pengganti petugas keamanan perempuan. Dewan juga menyetujui alternatif lain penggunaan identitas khusus. 

Komite Keamanan dalam klausul amandemen ke-67 dari peraturan Status Sipil  (Aturan Kerajaan No.7/M 22/12/1986), mewajibkan warga negara Saudi yang berusia 15 tahun ke atas untuk memiliki kartu identitas nasional yang terpisah. Amandemen lain, perempuan Saudi wajib memiliki kartu identitas secara bertahap dengan kurun waktu tak lebih dari 7 tahun.

Selanjutnya, Menteri Dalam Negeri akan diberi wewenang untuk mengesahkan KTP khusus perempuan Saudi. KTP tersebut akan dipergunakan untuk penerimaan mahasiswa, perekrutan pekerjaan, asuransi dan paspor.

Monday, November 5, 2012

2 Penjaga Perbatasan Saudi Tewas dalam Serangan di Wilayah Selatan

Dua penjaga perbatasan Arab Saudi tewas Senin hari ini Senin (5/11) dalam serangan di Sharurah di ujung selatan negara itu, dekat perbatasan dengan Yaman, televisi Al Arabiya melaporkan.

Seorang koresponden Al Arabiya mengatakan bahwa 10 dari para penyerang sebelumnya pernah dipenjara atas tuduhan terorisme.

Penjaga perbatasan Saudi di masa lalu juga bentrok dengan penyelundup di sepanjang perbatasan.

Sepuluh militan Saudi yang baru saja dibebaskan dari penjara, di sisi Yaman, semuanya ditangkap setelah mereka menyerang satu patroli penjaga perbatasan dan menewaskan dua tentara.

“Pasukan keamanan mengejar para penyerang ketika mereka mencoba untuk menyeberangi perbatasan Saudi ke wilayah Yaman,” kata kementerian dalam negeri dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita negara SPA, menambahkan bahwa empat orang bersenjata terluka dalam baku tembak tersebut.

Kementerian mengatakan orang-orang bersenjata menyerang patroli saat fajar.
“Semua orang yang ditangkap di antaranya warga Saudi yang telah ditangkap di masa lalu terkait atas link dengan kelompok yang menyimpang,” kata kementerian.(fq/aby)eramuslim

Monday, September 17, 2012

Imam Besar Saudi: Kecam Filmnya, Bukan Serang yang Tak Bersalah!

Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al ash-Sheikh
Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al ash-Sheikh
"Serangan terhadap sejumlah warga dan diplomat AS yang tidak bersalah itu adalah penyimpangan dari ajaran agama Islam.”
RIYADH, - Imam Besar Arab Saudi, Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al ash-Sheikh, mengecam sejumlah serangan terhadap diplomat dan kedutaan besar asing terkait beredarnya film kontroversi berjudul Innocence of Muslims. Kata dia, serangan tersebut tidak Islami, sekalipun dengan alasan pembelaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang dihina lewat film tersebut.

Sheikh Abdulaziz, pemimpin agama tertinggi di negara kelahiran Islam ini, mengungkapkan yang perlu dikecam adalah filmnya, bukan malah menyerang para diplomat AS di seluruh penjuru dunia. Ia juga meminta kepada semua pemerintah negara dan lembaga internasional agar mengecam film yang menghina kesucian agama Islam dan Nabi Muhammad SAW.

"Jangan menghukum orang yang tak bersalah atas kejahatan yang dilakukan orang lain, atau menyerang mereka, atau membakar atau merusak bangunan umum," kata Al ash-Sheikh di dalam ceramahnya, Sabtu (15/9), seperti dilaporkan kantor berita resmi Arab Saudi, SPA. Pernyataan Sheikh Abdulaziz ini sekaligus menunjukkan sikap resmi Arab Saudi terhadap isu ini, bahwa negara itu mengecam keduanya, baik filmnya dan serangan yang menewaskan sejumlah orang tak bersalah.

“Memang tidak dipungkiri film tersebut telah menghina Islam dan bisa dibilang sebagai kejahatan penistaan agama. Namun, serangan terhadap sejumlah warga dan diplomat AS yang tidak bersalah itu adalah penyimpangan dari ajaran agama Islam,” tambahnya, yang dikutip dari Reuters, Minggu (16/9).

Film Innoncence of Muslims yang dirilis bertepatan dengan peringatan 11 tahun tragedi  11/9, Selasa (11/9) itu telah menyulut gelombang protes hampir di seluruh negara mayoritas muslim. Sedikitnya sembilan orang tewas setelah sholat Jumat, Jumat (13/9), dalam demonstrasi di seluruh Timur Tengah. Kerusuhan menyebar ke Mesir, Lebanon, Tunisia, Sudan, Yaman dan tempat lain.

AS telah mengirim tentara tambahan guna menjaga kedutaan besarnya setelah duta besar AS dan tiga staf berkebangsaan Amerika tewas di Libya pada Selasa (11/9).

Sejauh ini belum ada laporan mengenai demonstrasi anti-Amerika di negara dengan 1,6 miliar penduduknya beragama Islam itu.

Namun, di negara tetangganya, kelompok Al Qaeda yang berpusat di Yaman, Sabtu (15/9), menyerukan kepada semua umat muslim untuk membunuh diplomat AS di negara Islam dan meningkatkan protes terhadap film itu.(Jaringnews.com).

Menyikapi Film yang Menghina Nabi

Ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus anggota Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan mendapatkan pertanyaan dalam kajian harian beliau di daerah Malaz Riyadh, “Fadhilatusy Syaikh –waffaqakumullaah-. Pertanyaan yang masuk saat ini banyak sekali. Di antaranya, ada yang bertanya tentang bagaimana nasehat Anda bagi para penuntut ilmu dan juga selain mereka tentang apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan film yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa wejangan Anda dalam hal ini?”

Beliau hafizhohullah menjawab,
Nasehat kami dalam hal ini adalah hendaknya kita tetap tenang dan tidak mengingkari hal ini dengan cara-cara (yang keliru) seperti dengan melakukan demonstrasi, menzholimi orang-orang yang tidak memiliki keterkaitan dengan hal ini, atau sampai merusak harta benda (orang lain). Ini adalah cara-cara yang tidak diperbolehkan. Yang wajib untuk membantah mereka sebenarnya adalah para ulama, bukan orang awam. Para ulamalah yang berhak membantah dalam perkara-perkara ini. Hendaknya kita senantiasa tenang.

Orang-orang kafir sebenarnya ingin mengganggu kita serta memancing amarah kita. Ini yang mereka inginkan. Mereka juga ingin agar kita saling membunuh. Aparat keamanan berusaha menghalang-halangi, sedangkan yang lain (para demonstran muslim) berusaha menyerang, sehingga terjadilah pemukulan, pembunuhan, dan banyak yang terluka. Mereka menginginkan hal ini. Hendaknya kita senantiasa tenang dan bersikaplah tenang. Yang berhak untuk membantah mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan bashirah, atau hendaknya mereka tidak perlu dibantah. Orang-orang yang membantah mereka juga tidak boleh disamaratakan.

Ingatlah, dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penyihir, dukun, pendusta” dan perkataan hinaan lainnya. Namun, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar. Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi di Mekkah, tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum musyrikin, juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenanglah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan keluar bagi kaum muslimin.

Yang wajib dilakukan adalah tenang, khususnya saat ini, di saat munculnya banyak teror dan kejelekan di negeri-negeri kaum muslimin. Wajib untuk tenang dan tidak tergesa-gesa dalam masalah-masalah semacam ini. Orang-orang awam tidaklah pantas untuk menghadapinya. Mereka bodoh, tidak memahami hakikat masalah. Tidak boleh menghadapi masalah ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan bashirah. Na’am.

[Fatwa Syaikhuna -Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan- dalam sesi tanya jawab kajian Al Muntaqo (karya Jadd Ibnu Taimiyah) di Masjid Jaami' Mut'ib bin ‘Abdul ‘Aziz, Malaz, Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia pada hari Sabtu, 28 Syawal 1433 H. Soal ini dibacakan setelah adzan ‘Isya dari kajian tersebut[1]]
Wallahu waliyyut taufiq.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, KSA, 1 Dzulqo’dah 1433 H
Artikel Muslim.Or.Id
 


Tuesday, September 4, 2012

Nasehat HABIB-HABIB WAHABI kepada HABIB-HABIB SUFI+ SYI'AH

Sungguh merupakan suatu kemuliaan tatkala seseorang ternyata termasuk Ahlul Bait, tatkala seseorang merupakan cucu dan keturunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, menjadi keturunan orang yang paling mulia yang pernah ada di atas muka bumi.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kita untuk memperhatikan para Ahlul Bait. Kita sebagai seorang ahlus sunnah, bahkan sebagai seorang muslim harus menghormati keturunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam jika keturunan Nabi tersebut adalah orang yang bertakwa.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

وأهلُ بَيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي، أُذكِّرُكم اللهَ في أهل بيتِي

"Dan keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti (keluargaku), aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang keluargaku, aku mengingatkan kalian kepada Allah tentang ahlu baiti keluargaku"
(HR Muslim no 2408)

Yaitu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk bertakwa kepada Allah dalam memperhatikan hak-hak Ahlul Bait, dan memerintahkan kita untuk menghormati mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Ahlul Bait memiliki manzilah dalam Islam.

Abu Bakar radhiallahu 'anhu pernah berkata kepada Ali bin Abi Thholib :

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَرَابَةُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أحبُّ إليَّ أنْ أَصِلَ من قرابَتِي

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh kerabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lebih aku sukai untuk aku sambung (silaturahmi) daripada kerabatku sendiri"
(HR Al-Bukhari no 3711)


Sungguh begitu bahagianya tatkala saya bertemu dengan cucu-cucu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Kota Nabi shallallahu yang tegar dan menyerukan sunnah Nabi dan memerangi kesyirikan dan kebid'ahan. Begitu bahagianya saya tatkala sempat kuliah di Unversitas Islam Madinah program jenjang Strata 1 selama 4 tahun (tahun 2002 - 2006) di fakultas Hadits yang pada waktu itu dekan kuliah hadits adalah Doktor Husain Syariif al-'Abdali yang merupakan Ahlul Bait…yang menegakkan sunnah-sunnah leluhurnya dan memberantas bid'ah yang tidak pernah diserukan oleh leluhurnya. Alhamdulillah hingga saat artikel in ditulis beliau masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Hadits

Akan tetapi merupakan perkara yang sangat menyedihkan tatkala saya mendapati sebagian ahlul bait yang menjadi pendukung bid'ah…pendukung aqidah dan amalan yang tidak pernah diserukan oleh Leluhur mereka habibuna Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan betapa banyak orang syi'ah Rofidoh yang mengaku-ngaku sebagai cucu-cucu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bahkan mereka mengkafirkan ahlul bait yang sangat dicintai oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu istri beliau 'Aisyah radhiallahu 'anhaa. Demikian juga mereka mengkafirkan lelaki yang paling dicintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu Abu Bakar radhiallahu 'anhu. Wallahul Musta'aan…


Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jamaa'ah terhadap Ahlul Bait adalah sikap tengah antara sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dan sikap kurang/keras kepada Ahlul Bait.

Ahlus Sunnah wal Jama'ah mengenal keutamaan orang yang menggabungkan antara keutamaan takwa dan kemuliaan nasab.

-         Maka barangsiapa diantara Ahlul Bait yang merupakan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka Ahlus Sunnah mencintainya karena tiga perkara, karena sebagai sahabat Nabi, karena ketakwaannya dan karena kekerabatannya dengan Nabi.

-         Barangsiapa diantara Ahlul Bait yang bukan merupakan sahabat akan tetapi bertakwa maka Ahlus Sunnah mencintainya karena dua perkara, karena ketakwaannya dan karena kekerabatannya.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa kemuliaan nasab mengikuti kemuliaan takwa dan iman.

Adapun barangsiapa diantara Ahlul Bait yang tidak bertakwa maka kemuliaan nasabnya tidak akan memberi manfaat baginya. Allah telah berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu (QS Al-Hujuroot : 13).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

"Barang siapa yang amalannya memperlambatnya maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya" (HR Muslim no 2699)

Al-Imam An-Nawawi mengomentari hadits ini :

مَعْنَاهُ مَنْ كَانَ عَمَلُهُ نَاقِصًا لَمْ يُلْحِقْهُ بِمَرْتَبَةِ أَصْحَابِ الأَعْمَالِ فَيَنْبَغِى أَنْ لاَ يَتَّكِلَ عَلَى شَرَفِ النَّسَبِ وَفَضِيْلَةِ الآبَاءِ وَيُقَصِّرُ فِى الْعَمَلِ

"Makna hadits ini yaitu barang siapa yang amalnya kurang maka nasabnya tidak akan membuatnya sampai pada kedudukan orang-orang yang beramal, maka seyogyanya agar ia tidak bersandar kepada kemuliaan nasabnya dan keutamaan leluhurnya lalu kurang dalam beramal" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 17/22-23)

Ibnu Rojab Al-Hanbali berkata :

فَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ أَنْ يَبْلُغَ بِهِ الْمَنَازِلَ الْعَالِيَةَ عِنْدَ اللهِ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ فَيُبَلِّغُهُ تِلْكَ الدَّرَجَاتِ، فَإِنَّ الله تَعَالَى رَتَّبَ الْجَزَاءَ عَلَى الأَعْمَالِ لاَ عَلَى الأَنْسَابِ كَمَا قَالَ تَعَالَى فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّوْرِ فَلاَ أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَتَسَاءَلُوْنَ

"Barangsiapa yang amalnya lambat dalam mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah maka nasabnya tidak akan mempercepat dia untuk mencapai derajat yang tinggi tersebut. Karena Allah memberi ganjaran/balasan atas amalan dan bukan atas nasab sebagaimana firman Allah

فَإِذَا نُفِخَ فِي الصُّورِ فَلا أَنْسَابَ بَيْنَهُمْ يَوْمَئِذٍ وَلا يَتَسَاءَلُونَ (١٠١)

"Apabila sangkakala ditiup Maka tidaklah ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya" (QS Al-Mukminun : 101)" (Jaami al-'Uluum wa al-Hikam hal 652)

Ibnu Rojab berkata selanjutnya:

"Dan dalam Musnad (*Ahmad) dari Mu'adz bin Jabal bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mengutus beliau ke negeri Yaman maka Nabi keluar bersama beliau sambil memberi wasiat kepada beliau, lalu Nabi berpaling dan menghadap ke kota Madinah dengan wajahnya dan berkata :

إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُوْنَ، مَنْ كَانُوْا حَيْثُ كَانُوْا

"Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat dengan aku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa saja mereka dan di mana saja mereka" (*HR Ahmad no 22052)

Dan At-Thobroni mengeluarkan hadits ini dengan tambahan :

إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاَءِ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي وَلَيْسَ كَذَلِكَ، إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ الْمُتَّقُوْنَ مَنْ كَانُوْا وَحَيْثُ كَانُوْا

"Sesungguhnya Ahlul Bait mereka memandang bahwasanya mereka adalah orang yang paling dekat denganku, dan perkaranya tidak demikian, sesungguhnya para wali-waliku dari kalian adalah orang-orang yang bertakwa, siapapun mereka dan di manapun mereka"
(*HR At-Thobroni 20/120 dan Ibnu Hibbaan dalam shahihnya no 647. Al-Haitsaimy dalam Majma' Az-Zawaid (10/400) berkata : Isnadnya jayyid (baik), demikian juga Syu'aib Al-Arnauuth berkata : Isnadnya kuat)

Dan semua ini didukung oleh sebuah hadits yang terdapat di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari 'Amr bin Al-'Aash bahwasanya beliau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ آلَ أَبِي فُلاَنٍ لَيْسُوْا لِي بِأَوْلِيَاءِ وَإِنَّمَا وَلِيِّي اللهُ وَصَالِحُو الْمُؤْمِنِيْنَ

"Sesungguhnya keluarga ayahku –yaitu si fulan- bukanlah para waliku, dan hanyalah para waliku adalah Allah, dan orang-orang mukmin yang sholih" (*HR Al-Bukhari no 5990 dan Muslim no 215)

Rasulullah memberi isyarat bahwa walaa' kepada beliau tidak diperoleh dengan nasab meskipun dekat nasabnya, akan tetapi diperoleh dengan keimanan dan amalan sholeh. Maka barangsiapa yang imannya dan amalannya semakin sempurna maka walaa'nya semakin besar kepada Nabi, sama saja apakah ia memiliki nasab yang dekat dengan Nabi ataukah tidak. Dan dalam penjelasan ini seorang (penyair) berkata :

لعمرُك ما الإنسانُ إلَّا بِدِيْنِهِ              فَلاَ تَتْرُكِ التَّقْوَى اتِّكالاً عَلَى النَّسَبِ

لَقَدْ رَفَعَ الإِسْلاَمُ سَلْمَانَ فَارِسٍ            وَقَدْ وَضَعَ الشِّرْكُ النَّسِيبَ أبا لَهَبِ

"Tidaklah seseorang (bernilai) kecuali dengan agamanya

Maka janganlah engkau meninggalkan ketakwaan dan bersandar kepada nasab

Sungguh Islam telah mengangkat Salman Al-Farisi (*yang bukan orang arab)

Dan kesyirikan telah merendahkan orang yang bernasab tinggi si Abu Lahab".


(Demikian perkataan ibnu Rojab, Jaami' al-'Uluum wa al-Hikam, hal 653-654, Syarah hadits ke 36)

Al-Imam An-Nawawi mengomentari hadits di atas:

ومعناه إِنما وليي من كان صالحا وإِن بَعُدَ نَسَبُه مِنِّي وليس وليي من كان غير صالح وان كان نسبه قريبا

"Dan maknanya adalah : Yang menjadi Waliku hanyalah orang yang sholeh meskipun nasabnya jauh dariku, dan tidaklah termasuk waliku orang yang tidak sholih meskipun nasabnya dekat" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 3/87)



Sungguh sangat menyedihkan ternyata di tanah air Indonesia ada sebagian Ahlul Bait yang menjadi pendukung bid'ah dan aqidah yang menyimpang. Sehingga sebagian masyarakat muslim Indonesia langsung tertarik dengan dakwah yang diserukannya. Bahkan sebagian masyarakat Indonesia menyangka bahwa apa saja yang dibawa dan didakwahkan olehnya itulah kebenaran.

Padahal di sana masih banyak Ahlul Bait (para Habib) yang menyeru kepada sunnah Nabi dan memerangi bid'ah.

Oleh karenanya pada artikel ini saya ingin menjelaskan kepada para pembaca bahwasanya para habib bukan hanya mereka-mereka yang menyeru pada acara bid'ah (habib-habib sufi) atau mereka-mereka yang menyeru kepada kekufuran (seperti habib-habib syi'ah rofidhoh) akan tetapi masih banyak habib-habib yang menyeru kepada tauhid dan sunnah serta memerangi kesyirikan dan bid'ah.



HABIB-HABIB MENOLAK MAULID

Berikut ini nasehat yang datang dari lubuk hati yang paling dalam yang ditulis oleh para habib wahabi kepada para habib yang gemar melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:



"Segala puji bagi Allah penguasa alam semesta, Yang Maha pemberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hambaNya kepada jalan yang lurus. Sholawat dan salam tercurahkan kepada manusia tersuci yang telah diutus sebagai rahmat untuk alam dan juga tercurahkan kepada keluarganya  serta seluruh para sahabatnya.

Kemudian daripada itu, di antara Prinsip-prinsip yang agung yang berpadu di atasnya hati-hati para ulama dan kaum Mukminin adalah meyakini (mengimani) bahwa petunjuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah petunjuk yang paling sempurna, dan syari’at yang beliau bawa adalah syari’at yang paling sempurna, Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا (٣)

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu. (QS. Al maidah:3)

Dan meyakini (mengimani) bahwa mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan agama yang dipanuti oleh seorang muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dia cintai dari ayahnya, anaknya, dan semua manusia. (HR. al-Bukhari & Muslim)

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah penutup para nabi, Imam orang-orang yang bertaqwa, Pemimpin anak-cucu Adam, Imam Para Nabi jika mereka dikumpulkan, dan Khatib mereka jika mereka diutus, si Pemilik al-Maqoom al-Mahmuud dan Telaga yang akan dihampiri, Pemilik bendera pujian, pemberi syafa’at manusia pada hari kiamat, Pemilik al-Washiilah dan al-Fadhiilah. Allah telah mengutusnya dengan membawa kitab suci yang terbaik, dan Allah telah memberikan kepadanya syari'at yang terbaik, dan Allah menjadikan umatnya sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (٢١)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzab: 21)

Dan di antara kecintaan kepada beliau adalah mencintai keluarga beliau (Ahlul Bait), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Aku mengingatkan kalian kepada Allah pada Ahlu Bait (keluarga)ku. (HR. Muslim).

Maka wajib bagi keluarga Rasulullah (Ahlul Bait) untuk menjadi orang yang paling yang mulia dalam mengikuti Sunnah Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, paling meneladani petunjuknya, dan wajib atas mereka untuk merealisasikan cinta yang sebenarnya (terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, red.), serta menjadi manusia yang paling menjauhi hawa nafsu. Karena Syari’at datang untuk menyelisihi penyeru hawa nafsu, Allah Ta’ala berfirman:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (٦٥)

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An-Nisa’: 65)

Kecintaan yang hakiki pastilah akan malazimkan Ittiba’ yang benar. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (٣١)

Katakanlah:”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali ‘Imran: 31)

Seseorang bukan hanya sekedar berafiliasi kepada beliau secara nasab sudah cukup untuk menjadikannya sesuai dengan kebenaran dalam segala perkara yang tidak mungkin untuk disalahkan atau berpaling darinya.

Dan di antara fenomena yang menyakitkan hati seseorang yang diterangi oleh Allah Ta’ala pandangannya dengan cahaya ilmu, dan mengisi hatinya dengan cinta dan kasih sayang kepada keluarga NabiNya (ahlul bait), khususya jika dia termasuk Ahlul Bait, dari keturunan beliau yang mulia : Adalah terlibatnya sebagian anak-cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia (Ahlul Bait/Habaib) dalam berbagai macam penyimpangan syari’at, dan pengagungan mereka terhadap syi’ar-syi’ar yang tidak pernah dibawa oleh al-Habib al-Mushtafa Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan di antara syi’ar-syi’ar yang diagungkan yang tidak berdasarkan petunjuk moyang kami Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut adalah bid’ah peringatan Maulid Nabi dengan dalih cinta. Dan ini merupakan sebuah penyimpangan terhadap prinsip yang agung ini (*yaitu sempurnanya syari'at dan petunjuk Nabi), dan tidak sesuai dengan Maqasidu asy-Syari'at yang suci yang telah menjadikan ittiba’ (mengikuti) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai standar utama yang dijadikan rujukan oleh seluruh manusia dalam segala sikap dan perbuatan (ibadah) mereka.

Karena kecintaan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengharuskan ittiba’ (mengikuti) beliau Shallalllahu ‘alaihi wasallam secara lahir dan batin. Dan tidak ada pertentangan antara mencintai beliau dengan mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan ittiba’ (mengikuti) beliau merupakan landasan kecintaan kepadanya. Dan orang-orang yang mengikuti beliau secara benar (Ahlul ittiba’) adalah mereka yang meneladani sunnahnya, menapak tilas petunjuknya, membaca sirah (perjalanan hidup)nya, mengharumi majelis-majelis mereka dengan pujian-pujian terhadapnya tanpa membatasi pada hari tertentu, dan tanpa sikap berlebihan dalam menyifatinya serta menentukan tata cara yang tidak berdasar dalam syari’at Islam.

Dan di antara yang membuat perayaan tersebut sangat jauh dari petunjuk Nabi adalah sikap berlebih-lebihan (pengkultusan) kepada beliau dengan perkara-perkara yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri tidak mengizinkannya dan tidak meridho dengan hal itu. Sebagian sikap berlebih-lebihan tersebut dibangun di atas Hadits-hadits yang bathil dan aqidah-aqidah yang rusak. Telah valid dari Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam pengingkaran terhadap sikap-sikap yang berlebihan seperti ini, dengan sabdanya:

Janganlah kalian berlebih-lebihan kepadaku seperti orang-orang nasrani yang berlebih-lebihan terhadap putra maryam. (HR. al-Bukhari)

Maka bagaimana dengan faktanya, sebagian majelis dan puji-pujian dipenuhi dengan lafazh-lafazh bid’ah, dan istighatsah-istighatsah syirik.

Dan perayaan Maulid Nabi merupakan amalan/perbuatan yang tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan tidak pernah pula dilakukan oleh seorangpun dari kalangan Ahlul Bait yang mulia, seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Ja’far ash-Shadiq, serta tidak pernah pula diamalkan oleh para Sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam –Radhiyallahu ‘anhum ajma’in—begitu pula tidak pernah diamalkan oleh seorang pun dari para tabi’in dan para pengikut tabi'in, dan tidak pula Imam Madzhab yang empat, serta tidak seorangpun dari kaum muslimin pada periode-periode pertama yang dimuliakan.

Jika ini tidak dikatakan bid’ah, lalu apa bid’ah itu sebenarnya? Dan Bagaimana pula apabila mereka bersenandung dengan memainkan rebana?, dan terkadang dilakukan di dalam masjid-masjid? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan -tentang acara seperti ini dan yang semisalnya-  suatu perkataan sebagai pemutus yang tidak ada pengecualian di dalamnya: "Semua bid’ah itu sesat". (HR. Muslim).

Wahai Tuan-tuan Yang terhormat! Wahai sebaik-baiknya keturunan di muka bumi, sesungguhnya kemulian Asal usul dan nasab merupakan kemulian yang diikuti dengan taklif (pembebanan), yakni melaksanakan sunnah Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berusaha untuk menyempurnakan amanahnya setelah sepeninggalnya, dengan menjaga agama, menyebarkan dakwah yang dibawanya.

Dan sikap seseorang yang mengikuti apa yang tidak dibolehkan oleh syari’at tidak mendatangkan kebenaran sedikitpun, dan merupakan amalan yang ditolak oleh Allah Ta’ala, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

Barangsiapa mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan (agama) kami ini yang bukan termasuk di dalamnya, maka ia tertolak. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Waspadalah dan bertakwalah kalian kepada Allah, wahai para Ahlu bait Nabi!, Jangan kalian diperdayakan oleh kesalahan orang yang melakukan kesalahan, dan kesesatan orang yang sesat, sehingga kalian menjadi para pemimpin di luar garis petunjuk! Demi Allah, tidak seorangpun di muka bumi ini lebih kami inginkan untuk mendapatkan hidayah daripada kalian, karena kedekatan kekerabatan kalian dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ini merupakan seruan dari hati-hati yang mencintai dan menginginkan kebaikan bagi kalian, dan menyeru kalian untuk selalu mengikuti sunnah leluhur kalian (*Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam) dengan meninggalkan bid’ah maulid ini dan seluruh amalan yang tidak diketahui oleh seseorang dengan yakin bahwa itu merupakan sunnah dan agama yang dibawanya, maka bersegeralah dan bersegeralah, Karena : Barang siapa yang lambat dalam amalnya, niscaya nasabnya tidak akan mempercepat amalnya tersebut. (HR. Muslim).

Yang menanda tangani risalah di atas yaitu:

1. Habib Syaikh Abu Bakar bin Haddar al-Haddar (Ketua Yayasan Sosial Adhdhamir al-Khairiyah di Tariim)

2. Habib Syaikh Aiman bin Salim al-'Aththos (Guru Ilmu Syari’ah di SMP dan Khatib di Abu ‘Uraisy)

3. Habib Syaikh Hasan bin Ali al-Bar (Dosen Kebudayaan Islam Fakultas Teknologi di Damam dan Imam serta khatib di Zhahran.

4. Habib Syaikh Husain bin Alawi al-Habsyi (Bendahara Umum ‘Muntada al-Ghail ats-Tsaqafi al-Ijtima’I di Ghail Bawazir)

5. Habib Syaikh Shalih bin Bukhait Maula ad-Duwailah (Pembimbing al-Maktab at-Ta’awuni Li ad-Da’wah wal Irsyad wa Taujih al-Jaliyat, dan Imam serta Khatib di Kharj).

6. Habib Syaikh Abdullah bin Faishal al-Ahdal (Ketua Yayasan ar-Rahmah al-Khairiyah, dan Imam serta Khatib Jami’ ar-Rahmah di Syahr).

7. Habib Syaikh DR. ‘Ishom bin Hasyim al-Jufri (Ustadz Musaa'id Fakultas Syari’ah Jurusan Ekonomi Islam di Universitas Ummu al-Qurra’, Imam dan Khotib di Mekkah).

8. Habib Syaikh ‘Alawi bin Abdul Qadir as-Segaf (Pembina Umum Mauqi’ ad-Durar )

9. Habib Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Maqdi (Pembina Umum Mauqi’ ash-Shufiyah, Imam dan Khotib di Damam).

10. Habib Syaikh Muhammad bin Muhsi al-Baiti (Ketua Yayasan al-Fajri al-Khoiriyah, Imam dan Khotib Jami’ ar-Rahman di al-Mukala).

11. Habib Syaikh Muhammad Sami bin Abdullah Syihab (Dosen di LIPIA Jakarta)

12. Habib Syaikh DR. Hasyim bin ‘Ali al-Ahdal (Prof di Universitas Ummul Qurra’ di Mekkah al-Mukarramah Pondok Ta’limu al-Lughah al-‘Arabiyah Li Ghairi an-Nathiqin Biha)

Sumber: (http://www.islammemo.cc/akhbar/arab/2009/03/08/78397.html), atau di (http://www.islamfeqh.com/News/NewsItem.aspx?NewsItemID=1002), atau di (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=164925), atau di



Sepak Terjang Para Habib Memberantas Syirik dan Bid'ah        

Untuk lebih mengenal sepak terjang para Habib wahabi yang getol membela sunnah leluhur mereka dan memerangi bid'ah yang tidak pernah diajarkan oleh leluhur mereka, maka kami sangat berharap kepada para pembaca sekalian untuk mengunjungi website-website berikut ini:

Pertama : www.dorar.net , sebuah website yang dimiliki dan dikelola oleh Habib 'Alawi bin 'Abdil Qoodir As-Saqqoof. Dalam web ini para pembaca bisa melihat sepak terjang beliau dalam berdakwah di atas manhaj salaf dan memberantas bid'ah.

Bahkan dalam website beliau ada penjelasan tentang bahwa nasab As-Syaikh Abdul Qoodir Al-Jailaani dan juga As-Syaikh Ahmad Ar-Rifaa'i bukanlah termasuk Ahlul Bait. Karena dalam rangka melariskan pemahaman yang sesat maka kaum sufi menisbahkan kedua Syaikh ini kepada Ahlul Bait. (silahkan lihat : http://www.dorar.net/enc/firq/2400)

Kedua : www.alsoufia.com, website ini dimiliki dan dikelola Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdiy. Dalam web ini sangat nampak bagaimana usaha Habib Muhammad Al-Maqdy untuk membantah bid'ah sufi.

Ketiga : alalbayt.com, dalam web ini juga para pembaca yang budiman bisa melihat betapa banyak Ahlul Bait yang berjuang membela sunnah leluhur mereka dan memberantas ajaran baru (bid'ah) yang tidak pernah dilakukan oleh leluhur mereka. Bahkan para pembaca akan dapati bagaimana Ahlul Bait wahabi membantah Ahlul Bait Sufi dan Ahlul Bait Syi'ah



Demikian juga kami sangat berharap para pembaca untuk menelaah kitab-kitab berikut yang ditulis oleh para habib wahabi untuk membantah para habib sufi.

Pertama : kitab  نسيم حاجر في تأكيد قولي عن مذهب المهاجر, karya Mufti Hadromaut Habib Al-'Allaamah Abdurrohman bin Abdillah As-Saqqoof (wafat tahun 1375 H), yang kitab ini sungguh menggoncang para sufi di kita Hadromaut di Yaman. Silahkan mendownloadnya di (http://www.soufia-h.com/soufia-h/book/naseem-hajer.rar). Adapun resensi buku ini bisa dilihat di (http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=171629)

Kedua : Kitab  التصوف بين التمكين والمواجهة, karya Habib Muhammad bin Abdillah Al-Maqdi. Silahkan mendownload kitab tersebut di (http://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single3/ar_altasouf_bain_altamkeen.pdf),

Ketiga : Kitab   إلى أين أيها الحبيب الجفري؟, ini adalah kitab karya Habib Doktor Kholduun Makkiy Al-Hasaniy yang disusun untuk membantah Habib Ali Al-Jufri. Kitab ini sangat penting dan memiliki keterkaitan dengan Habib Munzir. Karena Habib Ali Al-Jufri dan Habib Munzir sama-sama berguru kepada guru yang sama yaitu Habib Umar bin Hafiizh, yang Habib Umar bin Hafiiz inilah yang pernah dihadirkan oleh Habib Munzir di Jakarta dan digelari sebagai Al-Musnid.

Habib Umar bin Hafiz inilah yang memberi kata pengantar bagi kitab Muridnya Habib Al-Jufri yang berjudul معالم السلوك للمرأة المسلمة yang telah dibantah oleh Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy.

Habib Doktor Kholduun Makky Al-Hasaniy berkata di pengantar kitabnya tersebut :

"Dan gurunya Habib Umar bin Hafiizh telah memberikan kata pengantar terhadap buku ini, ia telah memuji kitab dan penulisnya (Habib Ali Al-Jufri) dengan pujian yang sangat tinggi. Bahkan sang guru telah menyifati buku tersebut dengan menyatakan bahwa buku tersebut adalah nafas-nafas (tulisan-tulisan) yang penuh keberkahan dan peringatan-peringatan yang mulia… telah dialirkan oleh Allah pada lisan Habib Al-Jufriy. Dan sang guru telah memuji Allah atas dimudahkannya dicetaknya kitab ini.

Jadi kitab ini adalah karya As-Syaikh Habib Al-Jufry dan telah diberkahi dan diberi pengantar oleh gurunya Habib Umar bin Hafiizh. Dengan demikian maka Habib Al-Jufry bertanggung jawab atas perkara-perkara yang ia tuliskan dalam buku ini" (lihat kitab Ila aina Ayyuhal Habiib Al-Jufriy hal 17).

Silahkan mendownload kitab ini di (http://www.4shared.com/document/bw_ToTWs/____.html) 

Habib Al-Jufri ini memiliki kesalahan-kesalahan fatal dalam masalah aqidah, bukan di sini perinciannya. Akan tetapi sekedar untuk wawasan maka silahkan lihat (http://www.youtube.com/watch?v=wPSbtto9wmM&feature=related).

Dan lihat cara ibadahnya (http://www.youtube.com/watch?v=EhO2OfBFZns&feature=related)

Dan Al-Jufriy ini juga suka mencela para ulama wahabi dan merendahkan mereka, sama seperti teman sejawatnya Habib Munzir. Silahkan lihat (http://www.youtube.com/watch?v=WBLWOOCJRrg).



Penutup : Mendoakan para habib :

Harapan besar senantiasa kita gantungkan kepada Allah agar para habib syi'ah atau sufi mau menerima nasehat yang disampaikan oleh para habib Wahabi. Sungguh betapa bahagia tatkala kita mendapati para habib mendakwahkan warisan leluhur mereka yaitu sunnah-sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan meninggalkan peribadatan bid'ah yang tidak pernah dikerjakan oleh leluhur mereka…

Dengan nama-nama Allah yang Husna dan sifat-sifat-Nya yang ‘Ulya, semoga Allah mewafatkan kita dan seluruh kaum Muslim di dalam agama Islam yang di bawa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Semoga Allah Ta’ala selalu memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada kita dan kaum muslim serta  terkhusus kepada para Habib sehingga menjadi panutan yang menuntun umat kepada jalan Allah yang lurus dan bukan menuntun kepada jalan kesesatan dan kekafiran. Allahumma aamiin…

Sungguh indah untaian do'a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala beliau membuka sholat malam beliau

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِى لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ أَنْتَ تَهْدِى مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

"Yaa Allah, Robny malaikat Jibri', Mikail, dan Isroofiil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha mengetahui yang gaib maupun yang nampak…sesungguhnya Engkau yang menjadi Hakim diantara hamba-hambaMu pada perkara yang mereka perselisihkan…berilah aku petunjuk dengan idzinMu kepada kebenaran dari apa yang diperselisihkan…Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk bagi siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus"

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 27-12-1432 H / 23 November2011 M
Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
www.firanda.com