Friday, June 7, 2013

Bahaya Syirik, Dosa yang Paling Besar



Jika kita paham bahwa semua dosa adalah berbahaya, maka ketahuilah bahwa dosa yang paling berbahaya adalah dosa kesyirikan. Sebagaimana jika kita tahu bahwa setiap dosa pasti akan ada balasan siksaNya, maka ketahuilah sesungguhnya siksa yang paling berat dan pedih adalah akibat dosa syirik, baik di dunia maupun di akhirat… Kita semua berlindung darinya.

Akan tetapi anehnya, di zaman kita sekarang amalan kesyirikan makin banyak dan tersebar dengan corak dan macamnya. Baik yang kecil maupun yang besar, berhubungan dengan yang dhahir maupun batin, bahkan dengan cara yang tersembunyi atau terang-terangan.

Banyak orang menyepelekan perkara kesyirikan, mulai dari pribadi, pemimpin, sampai penguasa di belahan dunia Islam, kecuali yang mendapat rahmat dari Allah. Padahal tanggung jawab mereka sangat berat di hadapan Allah kelak.

Seakan-akan syirik adalah dosa biasa dan ringan. Padahal syirik merupakan perkara yang luar biasa. Di antara akibatnya adalah: dosa yang tidak akan diampuni, menjadi murtad, sebab turunnya siksa, kekal di neraka, sebab malapetaka, rasa ketakutan, dicabutnya barakah, sebab bencana yang tidak akan pernah terputus dan lain-lain.

Maka tidakkah kita takut akan semua itu…??!! Lalu sampai kapankah kita akan sadar wahai saudaraku…??!! Belumkah tiba saatnya untuk kembali dan bertaubat….??!!

Logikanya sekarang, kalau perkara yang besar (syirik) saja, mereka abaikan dan dianggap kecil serta tidak diperhatikan, bagaimana dengan perkara yang kecil atau sederhana? Tentu mereka akan lebih meremehkan. Artinya, jika hak-hak Allah (yaitu mentauhidkan dan tidak berbuat syirik-Nya) saja sudah mereka lupakan, tentu hak-hak manusiapun akan biasa bagi mereka. Demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan menjadi sesuatu ringan bagi sesorang tersebut.

Oleh karena itulah, disini penulis hanya akan membawakan dalil dalil yang menunjukkan akan haramnya syirik, baik dari al-qur’an maupun As-sunnah yang sangat banyak. Dengan tujuan agar kita lebih yakin dan mantap, akan terkutuk dan haramnya perbuatan ini, sehingga kita bisa meninggalkannya secara menyeluruh.

Diantara Dalil-dalil Haramnya Kesyirikan

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (٤٨)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (Surat: An-nisa, ayat: 48).

Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, Rosulullah Sallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله، أي الذنب أعظم ؟ قال: أن تجعل لله ندا وهو خلقك. (رواه البخاري ومسلم)
Dari Abdillah bin mas’ud –semoga Allah meridhainya- ia berkata, aku bertanya: “Wahai Rosulullah, dosa apakah yang paling besar? Maka ia menjawab: “yaitu kamu menjadikan tandingan bagi Allah, sedangkan Dialah yang menciptakan kamu”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu Allah berfirman:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (١١٧)
“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (Surat Al-Mukminun, ayat: 117).

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (Surat An-Nisa’, ayat: 36).

“Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (Ar-Ra’d, ayat: 36).

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi, ayat: 110).

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Surat, ayat: 13).

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu tidak dapat memberi pertolongan”. (Surat al-’araf, ayat: 191-192).

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)”. (Surat An-Nahl, ayat: 73).

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Surat Al-an’am, ayat: 88).

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Surat az-Zumar, ayat: 65).

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (surat An-Nisa’: 48).

“Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (Surat: An-Nisa, ayat: 48).

عن أبي ذر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: (عرض لي جبريل فقال: (بشر أمتك أنه من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة فقلت يا جبريل وإن سرق وإن زنى قال: نعم.قال قلت وإن سرق وإن زنى قال نعم وإن شرب الخمر ). رواه البخاري و مسلم
Dari Abi Dzar semoga Allah meridhainya, sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat jibril menampakkan kepadaku dan berkata: berikanlah kabar gembira kepada ummatmu, sesungguhnya barangsiapa yang meninggal dan tidak menyekutukan dengan Allah sedikitpun, maka ia akan masuk surga. aku bertanya: wahai jibril, sekalipun ia mencuri dan berzina? Maka ia menjawab: ya, walaupun ia mencuri dan berzina, aku bertanya lagi: sekalipun ia mencuri dan berzina? maka ia menjawab: ya, walaupun ia minum khamer”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Surat Al-Maidah, ayat: 72).

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار ) رواه البخاري
Dari Abdillah bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya- sesungguhnya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal, sedangkan ia menyeru kepada sekutu dari selain Allah, maka akan masuk neraka”. (H.R. Bukhari).

وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من مات لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن مات يشرك به دخل النار ) رواه مسلم
“Dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Aku mendengar Rosulullah shallahu ‘alaihi wasallab bersabda:”Barangsiapa yang meninggal tanpa menyekutukan dengan Allah sedikitpun akan masuk surga dan barangsiapa meninggal dengan menyekutukan kepada Allah, maka akan masuk neraka”. (H.R, Muslim).

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”. (Surat al-Mudatssir, ayat: 48).

 عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا فرغ الله من القضاء بين العباد وأراد أن يخرج برحمته من أراد من أهل النار أمر الملائكة أن يخرجوا من النار من كان لا يشرك بالله شيئا ممن أراد الله أن يرحمه ممن يشهد أن لا اله إلا الله فيعرفونهم في النار بأثر السجود تأكل النار ابن آدم إلا أثر السجود حرم الله على ا لنار أن تأكل أثر السجود فيخرجونهم من النار ) رواه البخاري.
Dari Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya-, sesungguhnya Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah selesai memutuskan (perkara) diantara hambanya dan ingin mengeluarkan dari neraka orang yang Ia kehendaki, Maka Allah perintah malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang-orang yang tidak menyekutukan dengan Allah sedikitpun dari orang-orang yang ingin dirahmati oleh Allah, yang bersaksi bahwa “tidak ada ilah yang haq melainkan Allah”, maka malaikat mengetahui mereka dari bekas sujud. neraka akan memakan anak Adam kecuali bekas sujud. Allah telah haramkan atas neraka untuk memakan bekas sujud, kemudian malaikat mengeluarkan mereka dari neraka. (H.R. Bukhari )

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لكل نبي دعوة مستجابة فتعجل كل نبي دعوته وإني اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي يوم القيامة فهي نائلة إن شاء الله من مات من أمتي لا يشرك بالله شيئا ) رواه مسلم
Dari Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rosulullah bersabda: setiap Nabi mempuyai doa yang mustajab, maka setiap Nabi menyegerakan doanya. Dan sesungguhnya aku sembunyikan doaku sebagai syafaat untuk ummatku pada hari kiamat. Maka ia akan diperoleh insyaallah oleh orang yang meninggal dari ummatu yang tidak menyekutukan dengan Allah sedikitpun. (H.R. Muslim)

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu.maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS. Al-A’raaf: 138-140)

Sesungguhnya akan dihancurkan kepercayaan yang mereka anut dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat[563]..

 عن أبي واقد الليثي رضي الله عنه قال: (خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حنين و نحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط قال فمررنا بالسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الله أكبر, إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل: (اجعل لنا إلها كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون ) لنركبن سنن من كان قبلكم ” رواه أحمد و الطبراني
Dari Abi Waqid Al-Laitsy -semoga Allah meridhainya-, ia berkata:”kami keluar bersama Rosulullah ke Hunain, sedangkan kami masih dekat dengan masa kekafiran. Dan orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka jadikan ‘itikaf serta menggantung pedang-pedang mereka padanya, mereka namakan “DZATU ANWAT”. Perawi berkata: maka kami melewati pohon, kemudian bertanya wahai Rosulullah, buatkanlah bagi kami dzatu anwat sebagaimana mereka memiliki dzatu anwat, maka Rosulullah menjawab “Allahu akhbar” sesungguhnya itu adalah cara ibadah (orang-orang musyrik), demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah berkata sebagaimana banu israil mengatakan: “jadikanlah bagi kami sesembahan, sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Allah berfirman: “sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh”. Sungguh kalian akan mengikuti ibadah orang-orang sebelum kalian”. (H.R. Ahmad dan At-tabrany).

“padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu”. (Surat al-an’am, ayat: 119).

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia”. (Surat al-an’am, ayat: 151).

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”. (Surat Ali ‘Imran, ayat: 80).

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (Surat Nuh, ayat: 23).

Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah”. (Surat An-najm: ayat: 20).
Al Lata, al Uzza dan Manah adalah nama berhala-berhala yang disembah orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya anak-anak perempuan Tuhan.

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan ?”. (Surat yasin, ayat: 60-62).

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا (١١٧)
Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala[349], dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka. (QS. An-Nisa: 117)

Asal makna Inaatsan ialah wanita-wanita. Patung-patung berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan nama-nama perempuan sebagai Laata, al Uzza dan Manah. Dapat juga berarti di sini orang-orang mati, benda-benda yang tidak berjenis dan benda-benda yang lemah.

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (Surat Al-an’am, ayat: 121).

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. (Surat Al-isra’, ayat: 64).

Jika dengan al-qur’an dan As-sunnah tidak mempan, maka ke mana obat hendak dicari??!! Untuk itu mari kita memohan hanya kepada-Nya, supaya menjauhkan kita, keluarga dan keturunan kita dari penyakit dan virus yang sangat berhaya ini, dalam dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan kita semua.

Ya Robbi sesungguhnya engkau adalah Dzat yang maha kuasa lagi maha mengetahui kelemahan hambaMu ini, maka jauhkanlah kami dari segala bentuk kesyirikan…yang besar maupun kecil yang kami sadari atau tidak dan di manapum kami berada. Amiin…….

Penulis
Al-faqir ila afwi Rabbi
Hamidin As-sidawy Al-atsary, Abu harits
Makkah Al-mukarramah
(25/6/1434H )

http://cahayaummulquro.com/?p=727

Monday, June 3, 2013

Dubes Saudi Dukung Ulama Luruskan Stigma Buruk Terhadap Islam

Hidayatullah.com--Muslim Indonesia acapkali dilabeli sejumlah stigma buruk mulai dari isu terorisme, radikalisme, intoleransi, dan sejumlah tudingan sumir lainnya. Menurut Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa Ibrahim Al-Mubarak,  hal itu merupakan pekerjaan ulama dan pemerintah untuk meluruskannya. 

"(Masalah, red) Ini sebenarnya adalah pekerjaan ulama setempat karena Islam adalah akidah kita bersama. Para ulama setempat memiliki tanggungjawab menyelesaikan masalah-masalah tersebut. Kami hanya bisa mendukung," kata Dubes Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa Ibrahim Al-Mubarak di Jakarta, kepada hidayatullah.com,  belum lama ini.

Kendati demikian, Dubes Mustafa menyampaikan kekagumannya terhadap Indonesia yang dinilainya telah sukses mengelola potensi konflik di tengah kemajemukan dan multikulturalisme yang ada.

"Saya kagum dan menyampaikan apresiasi sangat dalam terhadap Indonesia yang mayoritas Muslim dalam konsistensinya menjaga perdamaian. Ada Bhinneka Tunggal Ika, tidak ada kekerasan. Berbeda dengan negara lain, di mana minoritas mendapat diskriminasi," kata Mustafa.

Faktanya, Indonesia memang oleh dunia internasional dinilai telah sukses menjaga kerukunan dan berhasil mengelola potensi-potensi konflik yang ada.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari Kamis (30/05/2013) malam waktu setempat atau Jumat (31/05/2013) pagi WIB, menerima penghargaan World Statesman Award 2013 dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) di Garden Foyer, Hotel The Pierre, New York, Amerika Serikat.

Dalam sambutannya Presiden SBY mengucapkan terima kasih atas penghargaan tersebut dan
mengatakan, bahwa penghargaan ini pada hakekatnya merupakan penghargaan bagi rakyat Indonesia yang telah bekerja keras untuk mendorong dan menciptakan perdamaian dan kondisi bangsa yang baik.

Ia berharap semoga penghargaan itu menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk melanjutkan upaya kita mempromosikan kemanusiaan dan kebaikan bagi semua pihak.

“Semoga kerja keras dan ketetapan hati bangsa Indonesia semakin memperkuat upaya pencapaian
impian para pendiri bangsa yaitu terciptanya masyarakat yang harmonis disatukan oleh kedamaian dan kesejahteraan," ujar Presiden SBY dikutip laman SetKab.*

Rep: Ainuddin Chalik
Red: Cholis Akbar

Pengkultusan Terhadap Orang Shaleh, Awal Syirik kaum Nabi Nuh 'Alaihi Salam.

kbrDi antara target dari tipu daya setan adalah agar manusia -setelah itu- berselisih dengan tidak lagi mengikuti para nabi dalam masalah tauhid dan agama yang telah diperintahkan kepada mereka, dan sebaliknya mereka terperosok ke dalam jurang kesyirikan karena telah mengkultuskan orang-orang yang sudah mati. Pada saat itulah, mereka akan terpecah menjadi dua bagian: Kelompok yang bertauhid (muwahhidin) dan kelompok yang berbuat syirik (musyrikin).

Begitulah, setan menerobos ke dalam hati mereka dengan memicu perselisihan di antara mereka agar tidak lagi mengikuti petunjuk para nabi. Dan mereka pun mengagungkan orang-orang di antara mereka yang sudah mati hingga mereka pun ber-i’tikaf di kuburan mereka. Juga, mereka mendirikan patung-patung orang-orang tersebut, bahkan sampai menyembah mereka. Maka, orang-orang musyrik yang ada di antara kaum Nabi Nuh ‘alaihi sallam ini, merupakan golongan yang pertama kali melakukan syirik. Adapun jenis kesyirikan mereka yang berupa ‘pengkultusan terhadap orang-orang yang sudah mati,’ merupakan bentuk penyekutuan terhadap Allahta’ala yang muncul pertama kali sepanjang sejarah dunia. Sedangkan Nabi Nuh ‘alaihi sallam, adalah rasul yang pertama kali diutus kepada kaum musyrikin (paganis).

Tidak sedikit di antara ulama salaf -berkaitan dengan firman Allah ta’ala:
وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَتَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَسُوَاعًا وَلاَيَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyem-bahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”, (Nûh: 23)- yang mengatakan, bahwasanya nama-nama tersebut adalah nama-nama orang shalih yang ada di kalangan mereka. 

Ketika orang-orang tersebut meninggal dunia, mereka pun ber-i’tikaf di kuburan mereka, lalu mendirikan patung-patung mereka, dan akhirnya me-nyembah mereka. Hal itu merupakan awal mula penyembahan ter-hadap patung, dan bahwasanya patung-patung ini akhirnya sampai ke negeri Arab. Mereka telah berbid’ah dengan melakukan syirik dan menyembah berhala, sebagai bid’ah yang berasal dari hawa nafsu mereka, yang dipancing oleh berbagai propaganda (syubhat) yang ditimbulkan oleh setan kepada mereka, melalui parameter yang rusak dan filosofi yang menyimpang.

Imam al-Bukhari telah berkata di dalam Shahih-nya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Nama-nama ini adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihi sallam. Maka, ketika mereka telah meninggal dunia, setan pun membisikkan kepada kaum mereka agar membangun patung-patung mereka di atas majlis-majlis yang biasa mereka tempati, dan agar menamakan patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Lalu, mereka pun melakukannya. Namun, patung-patung tersebut belum pernah disembah, hingga akhirnya ketika mereka semua (pembuat patung-patung tersebut) telah tiada, dan pengetahuan tentang asal usul patung-patung tersebut sudah bias (distorsif), patung-patung itu pun disembah.”

Pada saat patung-patung dan taghut-taghut telah disembah, dan orang-orang pun telah melegalisasi kesesatan dan kekufuran, maka Allah ta’ala-sebagai rahmat kepada hamba-hamba-Nya- mengutus seorang rasul pertama kepada penduduk bumi, yaitu Nabi Nuh ‘alaihi sallam. Nama lengkapnya adalah Nuh bin Lamak bin Mutawasylikh bin Ukhnukh -alias Nabi Idris ‘alaihi sallam - bin Yarad bin Mahlayabil Man Qinan bin Anusy bin Nabi Syits ‘alaihi sallam bin Adam ‘alaihi sallam. Antara Nabi Adam ‘alaihi sallam dan Nabi Nuh ‘alaihi sallam yang berjarak sekitar sepuluh abad lamanya ini, semua manusia berlandaskan pada ajaran Islam, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Nabi Nuh ‘alaihi sallam hidup bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun (950 thn), untuk menyerukan kepada mereka agar menyembah Allah ta’alasemata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mencegah mereka menyembah selain Dia. Ketika Allah ta’ala menginformasikan kepada beliau bahwa di antara kaumnya tidak akan beriman kecuali orang-orang yang sudah beriman, maka Allah pun menghancurkan mereka dengan banjir bandang dikarenakan do`a beliau, lalu secara berturut-turut datanglah para rasul setelah-nya. Di antara mereka ada yang disebutkan namanya oleh Allah ta’ala di dalam al-Qur’an al-‘Azhim, adalah:

Nabi Hud ‘alaihi sallam, nama lengkapnya adalah Hud bin Syalikh bin Arfakhasyadz bin Sam bin Nuh ‘alaihi sallam. Beliau adalah nabi pertama dari keturunan Arab yang diutus oleh Allah ta’ala di tengah-tengah bukit pasir (al-Ahqaf) di Hadhramaut, sedangkan kaumnya merupakan suku ‘Ad yang pertama, yaitu kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah terjadinya angin topan, sebagaimana Allah ta’ala telah menjelaskan hal itu secara terperinci di dalam beberapa surat dalam al-Qur’an al-Karim, di antaranya:
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?.” Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” Hud berkata, “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami, maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Ia berkata, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu.” Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu.” Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (al-A’raf: 65-72).

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahui-nya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. kamu hanya-lah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah men-ciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Kaum ‘Ad berkata, “Hai Hud, kamu tidak menda-tangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguh-nya Rabbku di atas jalan yang lurus.” Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Rabbku Maha Pemelihara segala sesuatu. Dan tatkala datang ‘adzab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari ‘adzab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Hud itu.” (Hud: 50-60).

“Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain. Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata), “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya). Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia, “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.” Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu), jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.” Rasul itu berdo’a: “Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” Allah berfirman, “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zhalim itu.”
 (al-Mukminun: 31-41).

“Dan sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Kaum Aad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguh-nya aku adalah seorang rasul kepercayan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia). Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah meng-anugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, anak-anak, kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa adzab yang besar.” Mereka menjawab, “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diadzab.” Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabb-mu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’ara: 123-140).

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami.” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka. Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat: 15-16).

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab hari yang besar.” Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) ilah-ilah kami? Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Ia berkata, “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.” Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan)! bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (al-Ahqaf: 21-25).

Kemudian, Nabi Shalih ‘alaihi sallam, nama lengkapnya adalah Shalih bin ‘Ubaid bin Masih bin ‘Ubaid bin Hadir bin Tsamud bin ‘Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh ‘alaihi sallam. Beliau adalah nabi kedua dari keturunan Arab yang diutus oleh Allah ta’ala kepada kaum Tsamud, setelah Nabi Hud ‘alaihi sallam di tengah-tengah kaum ‘Aad. Sungguh Allah ta’ala telah menyebutkan kisah mereka bersama Nabi Shalih ‘alaihi sallam, juga kisah unta dan ketetapan hati mereka untuk terus menyembah berhala di dalam beberapa surat al-Qur’an, tepatnya di dalam surat-surat yang telah tersebut di atas, surat al-Hijr, dan surat-surat lainnya.

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]

http://www.alsofwa.com/23090/awal-terjadinya-syirik-di-tengah-kaum-nabi-nuh-shallallahu-alaihi-wasallam-adalah-dalam-bentuk-pengkultusan-kepada-orang-orang-shalih-yang-telah-mati.html

Buka Bersama di Masjidilharam Capai Rp 1,22 Miliar/Hari

BANDUNG, (PRLM).- Saat bulan Ramadan suasana lapangan luar maupun lorong-lorong di dalam Masjidilharam penuh dengan lautan manusia. Selama bulan Ramadan seluruh areal Masjidilharam menjadi tempat berbuka puasa terbesar di dunia.

"Lebih dari 12 ribu meter plastik laksana taplak meja panjang dibentangkan setiap hari di areal masjid tersebut untuk mereka yang ingin berbuka puasa saat Magrib tiba. Orang-orang yang bertugas menyediakan makanan berbuka di Masjidilharam mengatakan biaya setiap hari mencapai sekitar 50.000 Rriyal Arab Saudi atau sekitar Rp 1,22 miliar," kata pembimbing haji plus dan umrah Qiblat Tour, H. Sodik Mudjahid, di kantornya Jln. Taman Cibeunying Selatan 15 Bandung, Minggu (2/6).

Sebagian besar makanan yang disajikan dalam buka puasa berasal dari masyarakat maupun pengusaha Arab Saudi. Masyarakat biasanya membawa anak dan istrinya dengan membawa makanan dan minuman yang nantinya dibagikan kepada jemaah masjid maupun jemaah umrah dari seluruh dunia. Sedangkan pengusaha Arab Saudi bisa menyewa kontainer khusus yang membawa makanan di areal parkir dekat Masjidilharam.
Waktu untuk berbuka puasa tak lebih dari 15 menit, mulai dari petugas menggelar taplak sampai pembersihan sisa makanan. "Daerah tempat orang berbuka puasa dibersihkan secepat mungkin agar tersedia ruang untuk melaksanakan Salat Maghrib," ujarnya.

Santapan berbuka yang diberikan oleh para dermawan tersebut terdiri atas kurma, jus, susu dan kue maupun roti. Kurma dan Air Zam Zam dibagikan lebih dulu sebelum saat berbuka. "Jumlah kurma yang dikonsumsi setiap hari oleh orang yang berbuka puasa di Masjidil Haram diperkirakan berjumlah lebih dari lima juta buah. Dengan sebanyak 1,2 juta orang Muslim yang mengerjakan salat di Masjidilharam, jumlah itu berarti sama dengan tiga kurma untuk setiap orang," tambahnya.

Selain itu, lebih dari dua juta botol Air Zam Zam dikonsumsi oleh Muslim saat berbuka puasa. Kecepatan dalam menggelar plastik taplak, makanan, maupun cara membersihkannya perlu ditiru masjid-masjid di Indonesia. "Tak perlu waktu lama hanya 15 menit dalam menyajikan lalu membersihkan sampah bekas makanan maupun minuman. Lalu, kaum Muslimin bersiap melaksanakan salat Magrib," tuturnya.(A-71/A-147)***

Kunjungi Maroko, Raja Arab Tepis Berita Kematiannya

Raja Arab Saudi Abdullah (Foto: Reuters)RIYADH - Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz melakukan kunjungan ke Maroko sebagai bagian kunjungan kenegaraannya. Ini menepis klaim bahwa Raja Abdullah dalam kondisi sakit keras bahkan dikabarkan telah wafat secara klinis.

Menurut Saudi Press Agency (SPA), Raja Abdullah meninggalkan Jeddah menuju Maroko pada Jumat 31 Mei. SPA bahkan mempublikasikan foto yang menunjukkan pangeran-pangeran dan pejabat Arab Saudi yang mengantarnya berangkat ke Maroko.

Raja Abdullah dan beberapa anggota Kerajaan Arab Saudi lainnya memiliki istana di Maroko. Mereka pun kerap melakukan perjalanan ke Negara Afrika Utara itu.

Pemimpin Monarki Arab Saudi itu jarang sekali tampil di publik dalam beberapa waktu terakhir. Putera Mahkota Arab Saudi pun ditugaskan untuk mewakilinya dalam pertemuan-pertemuan penting.

Sebelumnya, Raja Abdullah dikabarkan wafat secara klinis oleh sebuah media yang berbasis di London, Inggris. Media Asharq Alwsat dengan jelas mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan sumber dari dalam istana yang memastikan Raja Abdullah dalam kondisi wafat secara klinis.

Ini merupakan kali kedua Asharq Alawsat menyatakan, Raja Abdullah sudah wafat. Sebelumnya pada November 2012 lalu, suratkabar ini memberitakan bahwa Raja Abdullah mengalami koma dan dinyatakan wafat secara klinis setelah sepekan sebelumnya menjalani operasi punggung di Riyadh.
(faj)

Pelabuhan Saudi Tingkatkan Investasi Mencapai US$ 7 Miliar

Pelabuhan Saudi Tingkatkan Investasi Mencapai  US$ 7 MiliarWartaNews, Jeddah - Sektor swasta telah memompa investasi tambahan di pelabuhan Saudi yang diperkirakan mencapai SR 28 miliar dan membantu Kerajaan menghasilkan pendapatan diperkirakan mencapai SR 4 miliar per tahun sejak awal kebijakan privatisasi oleh Otoritas Pelabuhan Saudi (SPA) lebih dari 17 tahun yang lalu (di 1417 H), kata Kapten Mahmoud Hussain Al-Harbi, direktur Duba Port.

SPA telah menandatangani 28 kontrak dengan perusahaan Saudi dan perusahaan asing Saudi campuran lainnya untuk bekerja di pelabuhan atas dasar bagi-hasil, Al-Harbi mengatakan saat berbicara pada sebuah pameran internasional pada port di Jeddah.

Dia menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan telah memberi kontribusi pada pengembangan mekanisme aksi, perbaikan metode manajemen, pelatihan warga Saudi dan lokalisasi keahlian global di bidang pengoperasian pelabuhan.

Mereka juga membantu dalam pembangunan pelabuhan dan stasiun penanganan dan penyediaan pelabuhan modern menyerahkan peralatan dengan dana penuh dari sektor swasta.

Privatisasi telah membantu dalam mencapai pengurangan yang signifikan dalam biaya operasional pelabuhan dan penyediaan kesempatan kerja untuk warga Saudi, katanya.

Privatisasi juga telah membantu dalam melaksanakan program pelatihan khusus dan kemajuan serta mencapai pergeseran kualitas dalam metode pengelolaan pelabuhan, tingkat produktivitas yang tinggi sesuai dengan tingkat internasional dan menjaga posisi istimewa pelabuhan Saudi dan meningkatkan posisi kompetitif mereka dengan dunia pelabuhan, katanya.

Kapten GAID Al-Itaibi dari Saudi Aramco menyajikan kertas kerja pada sistem pengelolaan pelabuhan perusahaan yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja operasi mereka dan menghubungkan mereka dengan sistem lain dalam perusahaan.

Menguraikan pada sistem, ia mengatakan bahwa itu mencakup empat program utama - yang pertama berkaitan dengan menerima kapal di pelabuhan Saudi Aramco, yang kedua adalah bank data yang berisi informasi tentang semua operator di dunia dan catatan kunjungan ke pelabuhan perusahaan, yang ketiga adalah sistem pemantauan kinerja untuk operasi kapal tanker, dan keempat adalah sistem pengukuran kepuasan pelanggan terhadap layanan yang diberikan kepada mereka oleh perusahaan. (*/dok)

JENIS-JENIS TAUHID DAN FAIDAHNYA

Gambar
Pertanyaan :
Apa tujuan Allah mengutus para Rasul?
Jawaban :
Allah mengutus para Rasul untuk beribadah kepada peribadatan kepada Allah dan meniadakan sekutu dari-Nya.

Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap kaum seorang Rasul (agar) mereka (menyeru); beribadahlah kalian kepada Allah dan tinggalkanlah thaghut (An-Nahl : 36 ).
Thaghut yaitu semua yang diibadahi manusia dan mereka berdo’a kepadanya selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala- dan dia ridha dengan hal tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Para Nabi adalah berasal dari seorang bapak dan ibu-ibu mereka berbeda-beda dan agama mereka adalah satu.” Muttafaqun’alaihhi.
Maknanya adalah : Dasar keimanan mereka adalah satu, syari’at mereka berbeda-beda, maka mereka semua pada dasar-dasar tauhid dan adapun cabang-cabang syari’at terjadi perbedaan diantara mereka.

Pertanyaan :
Apa pengertian tauhid Rububiyyah?
Jawaban :
Tauhid Rububiyyah yaitu mengesakan Allah dalam perbuatan-perbuatan-Nya seperti penciptaan, pengaturan dan selainnya.

Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”. (Q.S. Al-Fatihah: 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah bagimulah segala pujian, engkau adalah Rabb langit dan bumi.” Muttaqun’alaihi.

Pertanyaan :
Apa pengertian tauhid Uluhiyyah?
Jawaban :
Tauhid Uluhiyyah yaitu mengesakan Allah dalam peribadahan seperti doa, menyembelih, bernadzar, shalat, berharap, rasa takut, minta pertolongan, tawakkal dan lain sebagainya.

Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “Dan sesembahanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Sesembahan (yang berhak untuk diibadahi dengan benar) melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Q.S Al-Baqarah : 163).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz ketika beliau mengutusnya ke negeri Yaman : Hendaknya yang pertama kali engkau dakwahkan kepada mereka adalah persaksian Laa Ilaaha Illallaah. Muttafaqun’alaihi. Dan di dalam riwayat Al-Bukhary (sampai mereka mentauhidkan Allah).

Pertanyaan :
Apa makna Laa Ilaaha Illalaah?
Jawaban :
Maknanya adalah tidak ada sesuatu pun yang di ibadahi dengan benar kecuali Allah. Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha tinggi lagi Maha besar.” (Q.S Al-Hajj: 62).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang mengatakan Laa Ilaaha Illallaah dan mengkufuri segala yang di ibadahi selain Allah maka darah dan hartanya haram).”

Pertanyaan :
Apa pengertian tauhid asma was shifat?
Jawaban :
Tauhid al-Asma wa ash-Shifaat yaitu penetapan segala apa yang Allah sifatkan diri-Nya pada kitab-Nya atau apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatkan pada hadits-hadits yang shahih sesuai hakekatnya tanpa menakwilkan, menyerupakan, mempermisalkan dan tanpa meniadakan dan membagaimanakan. Seperti istiwa`, turun, tangan, dan lainnya dari apa-apa yang sesuai dengan kesempurnaan Allah. Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.” (Asy Syuura : 11).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Allah turun ke langit dunia setiap malam.” Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad. Yaitu Allah turun dengan sebenarnya sesuai dengan ketinggian Allah dan tidak ada satu makhluk-pun yang serupa dengan Allah.

Pertanyaan :
Dimana Allah?
Jawaban :
Allah ber-istiwa di atas ‘Arsy di atas langit. Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “(Yaitu Rabb) Yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Q.S Thaaha: 5).
Yaitu tinggi dan naik, sebaimana datang dalam riwayat Al-Bukhary dari para Taabi’in.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah menulis sebuah kitab sebelum menciptakan makhluk… dan dia tertulis di sisi Allah dia atas ‘Arsy.” Riwayat Bukhary.

Pertanyaan :
Apakah Allah bersama kita?
Jawaban :
Allah ‘Azza wa Jalla bersama kita, Dia mendengar, melihat kita, dan mengetahui keadaan kita. Allah Ta’ala berfirman:
Artinya : “Allah berfirman: “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Q.S : Taaha : 46).

Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “… Sesungguhnya kalian berdoa kepada Dzat yang Maha mendengar lagi dekat dan Allah bersama kalian.” Riwayat Muslim.
Yaitu Allah bersama kalian dengan ilmu-Nya, mendengar dan melihat kalian.

Pertanyaan :
Apa faidah tauhid?
Jawaban :
Faidah tauhid yaitu keamanan di akhirat dari adzab yang kekal, hidayah di dunia dan  penghapusan dosa. Allah Ta’ala berfirman :
Artinya : “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S Al-An . 82).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan mengadzab orang yang tidak berbuat kesyirikan.” Muttafaqun’alaihi.

Bersambung Insyallah…
ABU QATADAH RIDWAN 
http://rumahbelajarimamsyafii.wordpress.com/2013/05/30/jenis-jenis-tauhid-dan-faidahnya/

Lebih 10 Juta Penduduk Saudi, Tak Semua Muslim

Hidayatullah.com--Santernya tudingan Islam agama anti dialog, penganjur kekerasan, serta sejumlah stereotip buruk lainnya melatari digelarnya dialog internasional agama yang diinisiasi oleh Khodimul Haramain (Pelayan Dua Tanah Suci), Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Arab Saudi sebagai representasi agama Islam telah menunjukkan diri sebagai negara yang sangat dialogis. Bahkan, lebih dari 10 juta penduduk Arab Saudi baik imigran dan wisatawan tidak semua beragama Islam. Mereka semua diayomi.

Demikian dikatakan Duta Besar Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia, Mustafa Ibrahim Al-Mubarak, dalam jumpa pers di Kantor Dubes Arab Saudi, Jln MT Haryono Kap. 27, Cawang, Jakarta Timur, Jum'at.

"Islam telah membuktikan diri sebagai agama yang mengutamakan dialog dan sangat cinta damai," kata Mustafa Ibrahim Al-Mubarak, dalam jumpa pers pra-seminar internasional UII-UIM dihadiri hidayatullah.com di Jakarta, Jum'at (31/05/2013).

Sejak sekian abad lalu, lanjut Mustafa, Islam telah mengejawantah nilai-nilai universalitas kehidupan di mana penganut agama lain di wilayah-wilayah kekuasaan Islam sangat diayomi dan mendapatkan perlindungan.
Tertutup

Mustafa juga menampik jika Saudi dianggap tertutup terhadap agama lain. Menurutnya, belum pernah  didengar negerinya melakukan tindakan diskriminasi terhadap kelompok minoritas.
"Arab Saudi tidak ekslusif dan tidak anti dialog. Kami tidak antagonis. Anda perlu tahu, lebih dari 10 juta penduduk di Saudi tidak semua bergama Islam. Mereka semua diayomi. Apakah dengan begitu kami tertutup dan anti dialog," tanya Mustafa seraya tersenyum.

Justru ia mengaku, pihaknya mengadakan acara dialog internasional yang digelar di Jakarta itu menunjukkan, "Bahwa kami tidak tertutup," tukas Mustafa. Ia menyebutkan, Arab Saudi rutin memberi beasiswa kepada ribuan pelajar, mengirimkan dosen-dosen ke luar negeri.

"Bahkan dari Indonesia, kami mengurus lebih 4000 visa perhari, penerbangan dari Indonesia ke Saudi puluhan perhari. Kami berkomunikasi dengan semua negara. Lebih 150 negara belajar di universitas Saudi. Apakah dengan begitu, kami dikatakan tertutup dan anti dialog," lanjut dia.

Ia menerangkan, semenjak dahulu sebagaimana tercatat dalam sejarah perkembangannya, Islam tidak mengganggu Sinagog, dan tempat ibadah penganut agama lain.
"Sejak berabad abad lalu Islam telah membuktikan diri sebagai agama rahmat," ujarnya.
Dikatakan Mustafa, di dalam Islam telah ada batasan pola interaksi sosial dan agama yang sangat terang lagi menjunjung tinggi asas kemaslahatan dan toleransi, yakni prinsip Lakum diinukum waliyadin. Bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Lebih dari itu, tak ada ayat dalam kitab-kita rujukan utama umat Islam, lanjut dia, yang menganjurkan penganut Islam untuk melakukan kekerasan tanpa dasar-dasar yang dibenarkan.

"Sejarah islam membuktikan, tidak pernah di mana umat Islam mayoritas melakulkan aksi-aksi secara frontal terhadap terhadap agama lain yang minoritas," ujar sarjana lulusan Kanada ini.
Justru sebaliknya, tegas dia, umat Islam-lah yang kerap menerima perlakukan diskriminatif dikala berada di tengah penganut agama yang mayoritas.

"Seperti yang terjadi di Myanmar sekarang," ujar Mustafa yang didampingi seorang interpreter.
Ia menjelaskan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi nilai nilai universal. Ditegaskan Dubes Mustafa, tidak ada dalam ajaran Islam mengajarkan umatnya yang mengharuskan memaksa orang lain untuk memeluk agama Islam.

Siang tadi, Kedutaan Saudi Arabia untuk Indonesia menggelar jumpa pers menyongsong digelarnya seminar internasional dialog agama pada Selasa, 4 Juni mendatang.

Seminar itu diselenggarakan atas kerjasama Universitas Islam Madinah (UIM) Saudi Arabia dengan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Seminar ilmiah internasional yang digelar selama sehari di Jakarta itu diinisiatori "Khodimul Haramain" atau Pelayan Dua Tanah Suci, Raja Abdullah bin Abdul Aziz.*


Mustafa menjelaskan, dialog internasional yang akan digelar di Jakarta, Selasa, 4 Juni itu merupakan dialog antar agama dan kebudayaan untuk kemanusiaan dan perdamaian dunia. Ia juga menegaskan, bahwa acara itu tidak untuk menyamakan agama-agama sebagaimana dalam kerangka pluralisme.

"Acara ini bukan untuk mempersamakan agama, tapi dalam rangka menemukan kesamaan sosial untuk membangun tata hidup yang damai yang dilandasi atas nilai-nilai pluralitas, toleransi dan kemanusiaan," tegas Mustafa.

Dialog bertaraf dunia ini, lanjut dia, ingin memberikan penegasan kepada dunia bahwa Islam adalah agama keselamatan dan agama dialog yang menutup semua agama langit (samawi) dengan membawa prinsip prinsip agung untuk kebaikan manusia.*