Thursday, January 16, 2014

Tauhid dan Pembatal-pembatalnya

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Segala pujian Hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan Salam senantiasa tercurahkan atas Nabi kita, Muhammad yang tidak ada lagi Nabi setelahnya.

Ini adalah kalimat-kalimat yang sangat mudah yang berkenaan dengan Aqidah Tauhid yang ia merupakan hal  terpokok dalam kehidupan seorang muslim.

Tauhid dan pembagiannya:
Definisi Tauhid yang mencakup semua pembagiannya adalah:  Pengetahuan seorang hamba dan keyakinannya serta pengakuannya dan keimanannya terhadap keMaha Esaan Allah  dengan segala sifat  kesempurnaan-Nya, dan ke Maha Esaan-Nya dalam hal itu. Dan keyakinan seorang hamba bahwa Allah tidak memiliki sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang menyamai-Nya dalam kesempurnaan-Nya, Dialah yang  memiliki sifat uluhiyyah dan ubudiyah atas semua makhluq-Nya. Kemudian  mengesakan-Nya dalam segala Macam-macam Ibadah.  Di dalam definisi ini masuklah 3 pembagian Tauhid:

1.       Tauhid Rububiyyah, adalah mengakui kesendirian Allah di dalam penciptaan, pemberian rizki, pengaturan dan pendidikan.

2.       Tauhid Asma wa shifat, adalah menetapkan semua apa yang Allah tetapkan untuk diri-Nya, atau apa yang telah ditetapkan oleh Rasul-Nya, Muhammad Shallallaahu’alaihi wa sallam untuk-Nya berupa nama-nama yang baik dan apa yang ditunjukan oleh sifat-sifat tersebut tanpa menyerupakan, menyamakan serta tanpa perubahan dan meniadakan.

3.       Tauhid Ibadah (Uluhiyyah), adalah meng Esakan Allah saja dalam semua jenis-jenis ibadah, dan memurnikannya hanya untuk Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun di dalamnya[2].

IMAN DAN ISLAM
Iman adalah pembenaran yang mutlak terhadap apa-apa yang Allah perintahkan dan juga Rasul-Nya dengan pembenaran yang disertai dengan amal perbuatan yaitu berupa islam. Islam sendiri artinya adalah menyerahkan (segala urusan) hanya kepada Allah saja dan melaksanakan hanya keta’atan kepada-Nya.

RUKUN IMAN
Iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhirat dan taqdir (baik dan buruknya).

RUKUN ISLAM
Mengucapkan dua kalimat syahadat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu.

POKOK-POKOK AGAMA DAN KAIDAHNYA
Ada dua, yaitu:
1.       Perintah untuk beribadah hanya kepada Allah saja tanpa mempersekutukan-Nya, dan mendorong orang untuk melakukan hal itu, saling mencintai di dalamnya dan mengkafirkan orang yang meninggalkannya.
2.       Peringatan terhadap syirik di dalam Ibadah kepada Allah, dan menjadikan hal tersebut sesuatu yang amat keras, melakukan permusuhan di dalamnya dan mengkafirkan orang yang melakukannya[3].

SYARAT-SYARAT LAA ILAAHA ILLALLAAH
[1]      Mengilmui (ilmu) yang meniadakan kejahilan (kebodohan)
[2]      Yakin yang meniadakan keragu-raguan
[3]      Menerima yang meniadakan sikap menentang
[4]      Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan
[5]      Jujur yang meniadakan dusta
[6]      Ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’
[7]      Cinta yang meniadakan benci

Kesyirikan ada dua: yaitu syirik besar dan syirik kecil
Syirik besar : menyebabkan gugurnya amal dan kekal dineraka apabila pelakunya telah meninggal sedangkan ia belum bertaubat. Kesyirikan adalah memalingkan bentuk dari bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti doa kepada selain Allah, pendekatan dengan penyembelihan, bernadzar untuk selain Allah, seperti kuburan, jin dan syetan. Demikian pula takut dengan orang yang mati atau jin atau syetan yang memadzaratkan atau menyebabkan sakit, serta mengharap kepada selain Allah dalam hal yang tidak dimampui  melainkan hanya Allah baik dalam memenuhi kebutuhan maupun menepis bahaya.

Syirik kecil : yaitu apa yang telah tetap dalam al-qur’an dan as-sunnah penamaanya sebagai syirik, akan tetapi bukan merupakan jenis syirik besar, seperti riya dalam sebagian amal, bersumpa dengan selain Allah, ucapan Allah dan fulan berkehendak dan yang lain-lainya.

Jenis ini tidak menyebabkan murtad dan tidak pula kekal dineraka. Hanya saja ia meniadakan kesempurnaan yang wajib. Syirik kecil dapat mengurangi tauhid dan merupakan wasilah kepada syirik besar[4].

KUFUR DAN MACAM-MACAMNYA
Kufur yaitu tidak beriman kepada Allah dan para rosul-Nya, sama saja apakah disertai dengan mendustakan atau tidak, adapaun jika disertai dengan mendustakan maka akan menjadi kekufuran yang lebih besar.

Kufur ada dua macam:
Pertama :Kufur akbar  (kufur besar) dapat mengeluarkan seseorang dari agama dan menggugurkan amal serta mengekalkan pelakunya dineraka. Demikian pula m enghalalkan darah dan harta seseorang. Dan ini ada lima macam:
1.       Kufur ta’dzib (kufur mendustakan).
2.       Kufur penolakan dan kesombongan yang disertai dengan pembenaran.
3.       Kufur keraguan.
4.       Kufur perpalingan.
5.       Kufur nifaq (kufur kemunafikan).
Kedua : kufur asghar (kufur kecil), tidak mengeluarkan seseorang dari agama dan tidak pula menghapus amalan, akan tetapi menguranginya dan menampakkan pelakunya ke dalam siksa tanpa kekal dineraka. Dan tidak pula menghalalkan darah dan harta pelakunya. Ini merupakan jenis kufur amal, yaitu dosa-dosa yang datang penyebutannya dalam al-kitab dan as-sunnah. Dan ini tidak sampai kepada batas kufur besar, seperti kufur nikmat, seorang muslim membunuh saudaranya yang muslim dan lain-lain[5].

KEMUNAFIKAN DAN MACAM-MACAMNYA
Kemunafikan ada dua macam, yaitu I’tiqadzy dan amaly:
Nifaq ‘itiqodi (keyakinan) contohnya adalah kufur akhbar (besar), maksudanya adalah menyembunyikan  kekufuran dan menampakkan keislaman. Dan ini dapat mengekuarkan seseorang dari keislaman dan menghapus amal sedangkan pelakunya berada didasar neraka. Dan ini ini jenisnya ada enam.
1.       Mendustakan Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam.
2.       Mendustakan sebagaian apa yang dibawah oleh Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam.
3.       Membenci Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam.
4.       Membenci sebagian apa yang dibawah oleh Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam.
5.       Merasa senang dengan kemunduran agama Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam.
6.       Benci  dengan kemenangan agama Rosulullah shallahu ‘alaihi wa shallam[6].

Adapun nifaq amaly : yaitu mengamalkan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq dengan tetap adanya keimanan dalam hati. Pelakunya tidaklah keluar dari agama., akan ia merupakan sarana kepada kufur akhbar (besar), sedangkan pelakunya berada dalam keimanan dan kemunafikan. Dan inilah yang maksud dengan nifaq amaly.

Diantara contohnya adalah : apabila berbicara berdusta, atau apabila dipercaya ia kiamat atau apabila berjanji ia menyelisihi. Maka barang siapa yang terdapat dalam dirinya perangai ini berarti ia telah mempunyai sifat kemufikan[7].

KEFASIKAN DAN MACAM-MACAM
Fasik adalah keluar dari ketaatan kepada Allah. Dan ia mencakup keluar secara keseluruan , maka seorang kafir juga dimanakan fasik. Demikian pula mempunyai arti sebagaian. Maka seorang mukmin yang melakukan dosa besar dinamakan fasik.
Kefasikan ada dua macam:

Jenis pertama : kefasikan yang dapat mengeluarkan seseorang dari agama, seperti perbuatan kufur.
Jenis kedua    : kefasikan yang tidak dapat mengeluarkan seseorang dari agama, seperti maksiat[8].

HAL-HAL YANG MENBATALKAN KEIMANAN
1.       Syirik kepada Allah;
2.       Orang yang menjadikan antara dia dan Allah perantara-perantara,
3.     Orang yang tidak mau mengkafirkan orang musyrik dan orang yang masih ragu terhadap kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, dia itu kafir
4.      Orang yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam lebih sempurna dari petunjuk beliau.
5.   Siapa yang membenci sesuatu dari ajaran yang dibawa oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam  sekalipun ia juga mengamalkannya, maka ia kafir
6.      Siapa yang menghina sesuatu dari agama Rosul shallallaahu ‘alaihi wasallam atau pahala maupun siksanya, maka ia kafir.
7.       sihir.
8.       Mendukung kaum musyrikin dan menolong mereka dalam memusuhi umat Islam.
9.     Siapa yang meyakini bahwa sebagian manusia ada yang boleh keluar dari syari’at Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam  seperti halnya Nabi Khidir boleh keluar dari syariat Nabi Musa maka ia kafir. Sebagaimana diyakini oleh ghulat sufiyah (sufi yang berlebihan / melampaui batas) bahwa mereka dapat mencapai suatu derajatatau tingkatan yang tidak membutuhkan untuk mengikuti ajaran Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam .
10.   Berpaling dari agama Allah, tidak mempelajarinya dan tidak pula mengamalkannya[9].
Washallallaahu ‘Alaa Nabiyyinaa Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Wa shahbihi ‘Ajma’in

Al-faqiir ila afwi robbih
Hamidin As-sidawy al-maky, Abu fayha
Makkah Al-mukarramah
(29/2/1435 H)

[1] . Diterjemahkan dari buletin yang berjudul at-tauhid wa nawaqidzuhu, karya para imam, yaitu Muhammad bin sulaiman at-timmy, Abdurrahman as-sa’dy, Abdul Aziz bin baz, dan shalih al-fauzan.
[2] . Kitab Aham al muhimmaat, karya syeikh Abdurrahman bin Nashir as-sa’dy.
[3] . At Tabyiin fii Talqiini Mabaadi-I ad diin.
[4] . Kitab ad-durus al-muhimmah, karya syeikh Ibnu baz dan kitan at-tauhid, karya syeikh al-fauzan.
[5] . kitab tauhid, karya syeikh shalih al-fauzan.
[6] . al-wajibaat al-mutahatimat al-ma’rifah, karya syeikh Abdul aziz bin baz.
[7] . kitab tauhid, karya Syeikh shalih al-fauzan dan al-wajibaat al-mutahatimat al-ma’rifah, karya syeikh Abdil aziz bin baz.
[8] . kitab tauhid, karya syeikh shalih bin Abdullah bin al-fauzan.
[9] . al-wajibaat al-mutahatimat al-ma’rifah, karya syeikh Abdil aziz bin baz.

sumber : http://cahayaummulquro.com

Kaedah Memahami Syirik 4

Kaedah Memahami Syirik (4): 

Syirik Saat Ini Sangat Parah


Syirik saat ini sangat parah. Kesyirikan di masa silam masih lebih mending daripada kesyirikan di masa kini. Hal inilah yang dibuktikan oleh Syaikh Muhammad At Tamimi dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’ pada kaedah keempat (terakhir).   
القَاعِدَةُ الرَّابِعَةُ: أَنَّ مُشْرِكِيْ زَمَانِنَا أًغْلَظُ شِرْكـًا مِنَ الأَوَّلِيْنَ، لأَنَّ الأَوَّلِيْنَ يُشْرِكُوْنَ في الرَّخَاءِ وَيُخْلِصُوْنَ في الشِّدَّةِ، وَمُشْرِكُوْا زَمَانِنَا شِرْكُهُمْ دَائِمٌُ؛ في الرَّخَاءِ وَالشِّدَّةِ. وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾[العنكبوت:65].
Kesyirikan di zaman kita betul-betul lebih parah daripada kesyirikan pada zaman dulu. Karena orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik di saat lapang, sedangkan mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam kondisi sempit. Namun, orang-orang musyrik saat ini berbuat syirik di sepanjang waktu, baik ketika lapang maupun sempit. Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala  (yang artinya), “Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] :65)

[KAEDAH KEEMPAT – KAEDAH TERAKHIR]
Sesungguhnya kesyirikan yang diperbuat oleh orang musyrik di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu yang hidup tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus.

Alasan dari perkataan penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) mengenai hal ini sudah begitu jelas. Karena Allah telah mengabarkan kepada kita bahwa orang musyrik pada zaman dahulu, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika dalam keadaan sulit. Mereka tidaklah berdo’a kepada selain Allah (ketika keadaan sempit tersebut) karena mereka telah mengetahui bahwa tidak ada yang menghilangkan kesulitan kecuali Allah, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَنْ تَدْعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ الْإِنْسَانُ كَفُورًا
“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.” (QS. Al Isro’ [17] : 67).

Allah Ta’ala juga berfirman dalam ayat lainnya,
وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ
“Dan apabila mereka diterpa ombak besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (yaitu mengikhlaskan do’a kepada Allah). Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus.” (QS. Luqman [31] : 32 ).
Allah Ta’ala juga berfirman,
فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65 ). Ini berarti orang-orang musyrik dahulu berbuat syirik ketika dalam keadaan lapang. Pada saat lapang seperti itu mereka berdo’a kepada berhala, bebatuan dan pepohonan.

Adapun jika dalam keadaan sempit dan hendak binasa, mereka (orang-orang musyrik) tidaklah berdo’a kepada berhala, pohon, batu atau kepada satu makhluk pun. Pada saat itu mereka hanya berdo’a kepada Allah Ta’ala semata. Jika memang tidak ada yang menghilangkan kesempitan (kesulitan) kecuali Allah jalla wa ‘ala, bagaimana mungkin selain Allah diminta ketika dalam keadaan lapang.

Adapun kaum musyrikin –yang mengaku umat Muhammad saat ini-, mereka terus menerus berbuat syirik baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Mereka tidaklah mau mengikhlaskan ibadah kepada Allah meskipun dalam keadaan sulit. Bahkan ketika dalam keadaan sulit sekali pun, mereka tetap melakukan kesyirikan bahkan semakin bertambah parah. Dalam keadaan sulit, mereka malah menyeru (meminta-minta) kepada Hasan dan Husain, kepada Syaikh Abdul Qodir, kepada Ar Rifa’i dan selainnya. Ini adalah sesuatu yang sudah diketahui dari mereka. Disebut pula dari mereka mengenai keajaiban di lautan. Jika mereka mengalami suatu perkara yang menyulitkan, mereka menyeru nama para wali dan orang-orang-orang sholih. Mereka beristighostah (meminta dihilangkan kesulitan yang telah menimpa, pen) kepada selain Allah Ta’ala. Mereka melakukan semacam ini karena para da’i kebatilan dan kesesatan berkata kepada mereka, “Kami akan menyelamatkan kalian ketika di lautan. Jika kalian tertimpa kesulitan, serulah nama kami, lalu kami akan menyelamatkan kalian.”

Inilah yang terjadi sebagaimana yang diceritakan dari beberapa Syaikh Thoriqot Sufiyah. Jika engkau mau, silakan baca kitab mereka “Thobaqot Sya’roni“. Pada kitab tersebut engkau akan dapati beberapa hal yang membuat kulit merinding. Mereka menyebut berbagai kejadian aneh dan menganggap hal itu sebagai karomah para wali. Mereka anggap bahwa wali mereka tersebutlah yang telah menyelamatkan mereka dari berbagai kesulitan ketika berada di tengah laut. Wali tersebut akan membentangkan tangan mereka di lautan. Lalu dia membawa kapal mereka ke daratan sehingga mereka selamat. Masih banyak lagi kebohongan-kebohongan dan tahayul lainnya. Inilah kesyirikan yang terjadi. Ketika lapang atau pun sempit, mereka terus menerus berbuat syirik. Jelaslah bahwa kesyirikan di zaman kita ini lebih parah dari kesyirikan di zaman dahulu.

Begitu pula sebagaimana yang disebutkan Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahab) dalam kitab beliau Kasyfu Syubhat[1], “Orang-orang dahulu, mereka beribadah kepada orang-orang sholih dari para malaikat, para Nabi dan para wali. Namun saat ini, orang-orang musyrik malah beribadah kepada orang-orang yang paling fajir (gemar bermaksiat) padahal mereka mengetahui hal itu. Orang-orang yang  mereka sebut sebagai pemimpin mereka (Al Aqthob) dan penolong mereka (Al Agwats), bukanlah orang yang mengerjakan shalat, puasa, atau menjauhkan diri dari zina, homoseksual, dan perbuatan keji. Karena mereka beranggapan bahwa orang-orang tersebut tidaklah terkena pembebanan syari’at. Mereka tidaklah terkena hukum halal dan haram karena pembebanan syari’at seperti ini hanyalah bagi orang awam saja.

Mereka mengetahui pula bahwa orang yang mereka seru itu tidaklah shalat, puasa, dan tidak menjaga diri dari perbuatan keji. Namun anehnya, sebagian orang saat ini tetap beribadah kepada mereka, padahal mereka adalah orang-orang yang paling fajir (gemar berbuat maksiat) semacam Al Hallaj, Ibnu ‘Arobi, Ar Rifai, Al Badawi dan selainnya.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menunjukkan dalil bahwa kesyirikan orang-orang musyrik saat ini lebih parah dari kesyirikan orang-orang musyrik di zaman dahulu. Karena orang musyrik zaman dahulu mengikhlaskan ibadah kepada Allah ketika mereka dalam keadaan sempit. Namun, orang musyrik saat ini berbuat syirik dalam keadaan lapang. Penulis berdalil dengan firman Allah Ta’ala,
﴿فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوْا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ﴾.
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al ‘Ankabut [29] : 65)
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.
Selesai sudah pembahasan empat kaedah dalam memahami syirik, alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.
—
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom
—
Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.


[1] Lihat Kasyfu Syubhat (hal. 169-170 ) atau di dalam tulisan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam bidang aqidah.

Kaedah Memahami Syirik 3

Kaedah Memahami Syirik (3): 

Sesembahan Orang Musyrik Bermacam-Macam


Beraneka ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau Al Qowa’idul Arba’. Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut musyrik.
القَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ   ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ  وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ،
[KAEDAH KETIGA]
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.

[KAEDAH KETIGA]
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula yang menyembah para wali dan orang-orang sholih.

Inilah di antara keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca : ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا
“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40).

Di antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan  mengikuti hawa nafsu mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan semakin terpecah sebagaimana firman Allah Ta’ala,
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ).

Orang yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya. Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu sesuai keinginannya. Oleh karena itu,  Allah Ta’ala berfirman,
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda halnya dengan budak yang satu ini),
وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ
“Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid.

(Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau shallallahu  juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka.

Perkataan penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati. Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang menyembah patung.

Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi.

Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda).

Namanya syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum[1]. Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul, orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan.
****
وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193]
Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39)
?

Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39)
Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah Ta’ala,
 ﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾
“Dan perangilah mereka.”
Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,
 ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.”
Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘sampai tidak ada lagi kesyirikan’. Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan.
Lalu firman Allah selanjutnya,
﴿ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾
“dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.”
Maksudnya adalah bahwa setiap ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah, tidak boleh Allah disekutukan dengan sesembahan apapun. Maka tidak ada bedanya syirik dalam penyembahan terhadap para wali, orang sholih, bebatuan, pepohonan, para setan dan selainnya.

]. وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37]
Dalil bahwa yang menjadi sesembahan orang musyrik adalah matahari dan bulan yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat [41] : 37)

Ayat di atas menunjukkan bahwa ada yang menyembah (bersujud) pada matahari dan bulan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat pada waktu matahari terbit dan ketika matahari tenggelam.[2] Hal ini sebagai sadaan lidz-dzari’ah (untuk menutup jalan ke arah sana yaitu menyembah matahari). Karena memang ada orang yang menyembah matahari ketika terbit dan tenggelam. Oleh karena itu, kita dilarang mengerjakan shalat pada dua waktu terlarang ini, walaupun shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah. Shalat di kedua waktu ini termasuk tasyabuh (menyerupai) orang musyrik. Oleh karena itu, kita dilarang melakukan hal ini untuk menutup jalan (wasilah) menuju kesyirikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melarang kesyirikan dan menutup berbagai wasilah menuju kesyirikan tersebut.
وَدَلِيْلُ الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80].
Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80)
?

Syaikh rahimahullah mengatakan, ‘Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat’. Ini menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi. Ini juga termasuk kesyirikan.
Akan tetapi para penyembah kubur pada saat ini mengatakan bahwa orang yang menyembah malaikat, para nabi dan orang sholih tidaklah kafir.
****
وَدَلِيْلُ الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116].
Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam. Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua ilah (sesembahan) selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah [5] : 116)

Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi’. Ini adalah dalil bahwa ibadah kepada para Nabi termasuk kesyirikan sebagaimana ibadah kepada patung.
Perkataan penulis ini merupakan sanggahan kepada para penyembah kubur yang membeda-bedakan dalam hal ini.
Perkataan beliau rahimahullah juga adalah bantahan kepada orang mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang yang menyembah patung, para wali atau orang sholih. Mereka mengingkari penyamaan dalam kedua hal ini dan beranggapan bahwa syirik hanya terbatas pada penyembahan kepada patung-patung saja. Ini adalah kekeliruan yang sangat jelas ditinjau dari dua sisi :

[Sisi Pertama] Allah jalla wa ‘ala di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan (kepada selain Allah) dan memerintahkan untuk memerangi semua yang melakukan peribadah semacam itu.

[Sisi Kedua] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala, malaikat atau pun orang sholih.

وَدَلِيْلُ الصَّالِحِيْنَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57].
Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’ [17] :57)
Syaikh rahimahullah mengatakan ‘Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih’ Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa ada manusia yang menyembah orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ﴾
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Ada dua pendapat mengenai tafsiran ayat ini.

[Pendapat pertama] Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang menyembah Al Masih (Isa bin Maryam), ibunya (Maryam) dan ‘Uzair. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya Al Masih (Isa bin Maryam), Maryam dan Uzair hanyalah hamba yang menghambakan diri pada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, selalu mengharap rahmat dan takut pada adzab-Nya. Mereka semua hanya hamba Allah yang sangat butuh dan bergantung kepada-Nya. Mereka juga berdo’a kepada Allah dan mencari wasilah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Allah Ta’ala berfirman,
﴿يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ ﴾
“Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isro’ [17] : 57). Maksudnya untuk mencari kedekatan kepada Allah Ta’ala dengan melakukan ketaatan dan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah tidaklah layak ditujukan kepada mereka. Alasannya karena mereka juga manusia yang sangat butuh (bergantung) pada Allah, mereka berdo’a (memohon) kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Kalau memang keadaan mereka seperti ini, maka tidaklah pantas mereka disembah bersama Allah ‘azza wa jalla.

[Pendapat kedua] Sesungguhnya ayat ini turun kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada sekelompok jin. Kemudian sekelompok jin tersebut masuk islam, namun orang-orang musyrik tidak mengetahui keislaman para jin ini[3]. (Ketika masuk Islam) jadilah para jin ini mendekatkan diri kepada Allah dengan dengan melakukan keta’atan dan ketundukan kepada-Nya. Mereka juga senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Jadi, para jin adalah hamba yang sangat butuh pada Allah. Kalau demikian, tidaklah pantas menujukan ibadah kepada mereka.
Apapun maksud (tafsiran) ayat yang mulia ini, intinya ingin menunjukkan bahwa kita tidaklah boleh beribadah kepada orang-orang sholih baik mereka adalah para Nabi, para shidiqin atau para wali Allah dan orang sholih. Tidak boleh satu ibadah pun ditujukan pada mereka. Karena namanya hamba Allah pasti sangat butuh (bergantung) kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka bisa dijadikan sesembahan bersama Allah jalla wa ‘ala?
Maksud dari wasilah dalam ayat di atas adalah keta’atan dan segala bentuk pendekatan diri kepada Allah. Adapun secara bahasa, wasilah adalah sesuatu yang bisa mengantarkan pada tujuan. Segala sesuatu yang mengantarkan pada ridho dan surga Allah, maka itulah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang disyari’atkan sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta’ala,
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 35).
Adapun orang-orang yang menyimpang dan ahlu khurofat, mereka mengatakan bahwa wasilah adalah menjadikan para wali, orang sholih, dan orang yang sudah mati sebagai perantara antara engkau dan Allah untuk mendekatkan dirimu pada-Nya. Mereka mengatakan,
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az Zumar [39] : 3). Jadi, makna wasilah menurut ahli khurofat adalah engkau menjadikan perantara antara dirimu dan Allah. Perantara ini akan menyampaikan hajatmu pada Allah dan memberitahukan pada Allah bahwa ini adalah hajatmu. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan Allah jalla wa ‘ala itu tidak mengetahui (urusan hamba-Nya). Atau seakan-akan Allah itu bakhil (pelit), tidak mau memberi kecuali setelah didesak melalui perantara. Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini.
Dari kerancuan inilah, mereka menebar keraguan di tengah-tengah manusia sambil memplintir firman Allah,
 ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾.
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dari ayat ini, mereka memplintir bahwa sesungguhnya mengambil wasilah (perantara) dari mahluk adalah suatu perkara yang disyariatkan. Allah juga telah memuji orang seperti ini sebagaimana dalam firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5] : 35).
(Berdasarkan ayat di atas), mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kita agar menjadikan wasilah kepada-Nya dan makna wasilah adalah perantara. Inilah tingkah laku mereka, telah menyelewengkan maksud firman Allah dari maksud yang semestinya.

(Yang lebih tepat) wasilah yang disyari’atkan yang terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah adalah dengan melakukan keta’atan yang mendekatkan kita kepada Allah, bertawassul (mengambil wasilah) kepada-Nya dengan nama dan sifat-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Inilah wasilah yang disyari’atkan.
Adapun bertawassul kepada Allah melalui makhluk-makhluk-Nya, ini adalah wasilah yang terlarang dan termasuk wasilah yang mengandung kesyirikan. Seperti inilah yang dilakukan oleh orang musyrik yang terdahulu sebagaimana terdapat pada firman Allah ‘azza wa jalla,
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. (QS. Yunus [10] : 18 ). Juga terdapat pada firman Allah,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az Zumar [39] : 3 ).

Inilah kesamaan kesyirikan zaman dahulu dan sekarang ini. Walaupun mereka menyebut perbuatan semacam ini[4] sebagai wasilah, akan tetapi kenyataan ini adalah kesyirikan dan bukanlah wasilah yang Allah syari’atkan. Allah tidaklah mungkin menjadikan kesyrikan sebagai perantara kepada-Nya selama-lamanya. Bahkan melalui wasilah yang syirik ini akan semakin membuat seseorang menjauh dari Allah. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
 “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah [5] : 72 ).

Bagaimana mungkin kesyirikan dapat dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah? Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini.
Adapun yang menjadi sisi pendalilan dari ayat ini (surat Al Isro’ ayat 57) adalah bahwa orang-orang yang beribadah kepada orang sholih juga termasuk orang yang berbuat syirik. Karena Allah telah menjelaskan hal ini dan menjelaskan bahwa orang-orang sholih yang mereka sembah itu sangat butuh kepada Allah sebagaimana pada firman Allah,
﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾.
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Yakni orang-orang sholih tersebut juga mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan, manakah di antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya). Mereka (orang-orang sholih) berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah karena mereka sangat butuh kepada-Nya sebagaimana terdapat dalam firman-Nya,
﴿ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾.
“Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” (QS. Al Isro’ [17] : 57 ).
Dan siapa saja yang keadaannya seperti ini tidaklah layak dijadikan sebagai sesembahan yang ditujukan do’a dan disembah bersama Allah Ta’ala.
****
ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20].
Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza, Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?”[5] (QS. An Najm [53] :19-20)
Syaikh rahimahullah berkata, “Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu … ”.
Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada orang musyrik yang menyembah pepohonan dan bebatuan.

Firman Allah ( أَفَرَأَيْتُمْ ) : “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)”, ini adalah istifham inkari. Maksudnya adalah ‘beritahukan padaku’ menunjukkan kalimat tanya untuk mengingkari dan sebagai celaan.

Yang dimaksud dengan Laata (اللَّتَ) -dengan huruf ta’ tanpa ditasydid- merupakan salah satu nama berhala di Tho’if. Bentuk berhala ini berupa batu besar yang diukir. Di atas batu ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai seperti ka’bah. Di sekeliling batu ini adalah tanah lapang. Batu ini memiliki juru kunci. Orang-orang musyrik dahulu menyembah Laata ini dan menjadikannya sebagai sesembahan selain Allah. Beberapa qobilah sangat bangga sekali dengan berhala ini.

Laata juga bisa dibaca dengan (أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَّ) -dengan ta’ yang ditasydid/ Kalau laatta adalah isim fail (kata yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari kata latta – yaluttu (yang artinya ‘mencampur dengan samin’). Laatta adalah seorang laki-laki sholih yang mencampurkan samin dan memberikannya kepada para jama’ah haji. Lalu pria ini meninggal dan orang-orang membangun bangunan pada kuburnya dan dipasangkan tirai. Kemudian mereka menjadikan kuburan ini sebagai sesembahan selain Allah. Inilah yang disebut Laatta.

Yang dimaksud dengan ‘uzza ﴿ وَالْعُزَّى ﴾ adalah pepohonan salam (jenis pohon yang bisa dipakai menyamak, pen) yang berada di lembah kurma yang berada di antara Mekkah dan Tho’if. Sekeliling pohon terdapat bangunan dan diberi tirai. ‘Uzza ini juga memiliki juru kunci. Di sana terdapat setan yang dapat berdialog dengan manusia. Namun sayangnya orang-orang bodoh menyangka bahwa yang berbicara adalah pepohonan itu sendiri atau bangunan yang ada di sekitarnya tadi. Padahal yang berbicara dengan mereka sebenarnya adalah setan yang ingin menyesatkan mereka dari jalan Allah. Inilah berhala orang Quraisy dan penduduk Mekkah serta orang-orang di sekitarnya.

Yang dimaksud Manaah ﴿وَمَنَاةَ ﴾ adalah batu besar yang diukir, berada di Pegunungan Qudaid yang berada di antara Mekkah dan Madinah. Berhala inilah yang dimiliki oleh penduduk Khuza’ah, Aus dan Khozroj. Mereka dahulu sering mendatanginya untuk berhaji. Mereka menjadikan Manaah ini sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah.
Inilah tiga berhala terbesar yang dimiliki orang Arab dahulu. Allah Ta’ala berfirman mengenai tiga berhala ini,
﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ ﴾
” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Maksudnya adalah apakah mereka dapat mencukupkan (kebutuhan) kalian? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat pada kalian? Apakah mereka dapat menolong kalian? Apakah mereka yang dapat mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan? Apa manfaat yang ada pada mereka? Penjelasan inilah yang bertujuan untuk mengingkari dan memperingatkan akal untuk kembali petunjuk yang benar. Sesungguhnya tiga berhala ini hanyalah bebatuan, pepohonan yang tidak dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, mereka hanyalah makhluk biasa.

Tatkala Islam datang dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah –sebagai tempat yang mulia-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mengutus Al Mughiroh bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk pergi ke Laata (yang sebenarnya hanya batu atau kuburan, pen) yang berada di Tho’if. Kedua orang ini –akhirnya- menghancurkan berhala tersebut atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pula Kholid bin Walid untuk pergi ke ‘Uzza. Lalu dia menghancurkannya, memotong pepohonan yang ada dan membunuh jin yang dapat berdialog dengan manusia. Jin yang hanya ingin menyesatkan manusia ini, akhirnya hilang tanpa bekas –alhamdulillah (segala pujian hanyalah milik Allah)-. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus ‘Ali bin Abi Tholib untuk pergi ke Manaah. Lalu ‘Ali menghancurkan berhala ini tanpa ada bekas.[6] Lihatlah berhala ini tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾
” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”. (QS. An Najm [53] : 19-20 ). Adakah mereka bisa menghindarkan diri (ketika ingin dihancurkan)? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat? Apakah mereka dapat mencegah dirinya sendiri dari para tentara Allah dan ahlu tauhid (yang ingin menghancurkan mereka)?

Inilah dalil yang menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang menyembah pepohonan dan bebatuan. Bahkan ketiga berhala tadi adalah berhala terbesar yang mereka miliki. Namun, Allah telah melenyapkan berhala-berhala ini tanpa bekas. Berhala-berhala ini tidak dapat mencegah kehancuran mereka. Mereka juga tidak dapat mendatangkan pada orang yang menyembahnya. Lihatlah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerangi orang yang menyembah berhala-berhala ini. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membunuh mereka, namun –lihatlah- berhala-berhala tadi tidak dapat berbuat apa-apa. Inilah yang dalil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan.

Ya Allah Dzat Yang Maha Suci, manusia yang berakal mengapa bisa-bisanya menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang hanyalah benda mati, yang  tidak memiliki akal, yang tidak dapat bergerak dan tidak hidup. Di manakah akal manusia? Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan.
****
وَحَدِيْثُ أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ t قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍِ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍِ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌُ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ يُقَالُ لهَاَ: ذَاتُ أَنْوَاطٍِ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍِ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍِ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍِ… الْحَدِيْثُ.
Juga hal ini terdapat pada hadist Abu Waqid Al Laitsi , beliau berkata, “Kami keluar bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain dan kami baru saja kembali dari masa-masa kekufuran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang digunakan untuk beri’tikaf di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath. Kemudian kami melewati sebuah pohon kemudian kami berkata, “Wahai Rosulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.” (Al Hadits)[7]
Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang masuk Islam pada tahun Fathul Makkah –menurut pendapat yang terkenal- yaitu sekitar tahun 8 Hijriyah.

Apa yang dimaksud Dzatu Anwath?
Anwath adalah bentuk jama’ dari nauth. Kata kerjanya bermakna menggantung, sehinga nauth adalah sesuatu yang digantung. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut agar memperoleh berkah.

Sebagian sahabat yang baru saja masuk islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna, mereka mengatakan, “Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.”. Inilah bencana taqlid (mengekor tanpa tahu dalil) dan bahaya tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Kedua hal ini adalah bencana terbesar. Inilah hal yang membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi takjub (heran). Sehinga keluarkanlah perkataan dari lisan beliau, “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Itulah yang biasa dilakukan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika merasa keheranan atau ingin mengingkari sesuatu, keluarlah ucapan takbir (Allahu Akbar) dari lisan beliau. Atau biasa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan (dalam kondisi demikian) ucapan ‘Subhanallah’ sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi bacaan dzikir ini.

(Dalam lanjutan hadits Abu Waqid ini) : إِنَّهَا لَسُنَنٌ . Yang dimaksud dengan kalimat ini yaitu ini adalah cara yang dijalani manusia dan sebagian mereka mengikuti yang lainnya (ringkasnya ini adalah tradisi, pen). Sebab yang bisa mengantarkan mereka melakukan seperti ini (yaitu mengambil berkah dari pohon) adalah karena mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik.

(Dalam lanjutan hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Perkataan kalian ini seperti halnya perkataan Bani Israel kepada Musa,
( اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ )
“Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138).

(Kisah mengenai ayat ini) : Dulu tatkala Nabi Musa ‘alaihis salam bersama dengan Bani Israel telah mencapai lautan dan Allah menenggelamkan musuh-Nya di laut tersebut sedangkan mereka memperhatikan hal ini, lalu Musa dan kaumnya melewati kaum musyrikin yang beri’tikaf pada berhala-berhala yang mereka miliki. Lalu kaumnya tersebut berkata kepada beliau ‘alaihis salam (yang artinya), “Jadikanlah untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138).
Namun, Nabi Musa ‘alaihis salam menolak permintaan ini dan berkata :
( إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ )
“Sesungguhnya kepercayaan yang dianut mereka (yang penuh dengan kebatilan) itu akan dihancurkan dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al A’rof [7] : 139  ). Mengapa menjadi batal apa yang selalu mereka kerjakan? Karena yang mereka lakukan adalah kesyirikan.
Dalam ayat selajutnya, Allah Ta’ala berfirman,
قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Musa menjawab: “Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat”. (QS. Al A’rof [7] : 140 ).

Lihatlah sikap Nabi Musa ‘alaihis salam. Beliau ‘alaihis salam mengingkari kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengingkari para sahabat. Akan tetapi, kaumnya Musa dan sahabat Nabi tidaklah berbuat syirik. Bani Israel tatkala mengatakan perkataan semacam ini, mereka tidak berbuat syirik karena belum melakukkannya, begitu pula dengan para sahabat Nabi. Seandainya para sahabat mengambil berkah dari Dzatu Anwath pasti mereka sudah dinyatakan berbuat syirik. Akan tetapi, Allah Ta’ala telah melindungi mereka. Tatkala Nabi mereka melarang untuk berbuat demikian, mereka pun enggan melakukannya. Mereka bisa mengatakan seperti ini juga karena kebodohan. Mereka tidaklah mengucapkan seperti ini dengan sengaja. Setelah mereka mengetahui bahwa mengambil berkah dari Dzatu Anwath adalah kesyirikan, mereka pun enggan melakukan hal itu. Seandainya mereka melakukan hal ini, tentu mereka telah berbuat syirik kepada Allah.

Inti penjelasan dari ayat tadi (Al A’rof : 138-140) adalah bahwasanya orang-orang musyrik juga ada yang menyembah pepohonan. Orang-orang musyrik ini menjadikan Dzatu Anwath (untuk diambil berkahnya). Para sahabat -yang belum kokoh ilmu dalam hatinya itu- berusaha untuk menyerupai orang-orang musyrik tersebut. Kalau bukan karena perlindungan Allah dan Rasul-Nya, tentu mereka (para sahabat) akan terperosok dalam jurang kebinasaan (yaitu kesyirikan).

Inti penjelasan dari hadits Abu Waqid Al Laitsi ini adalah ingin menjelaskan bahwa ada orang-orang yang mencari berkah dari pohon dan ber’itikaf di sekelilingnya. Makna beri’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat pada waktu tertentu dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Atau ringkasnya, i’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat.

Dalam hadits Abu Waqid ini terdapat berbagai faedah penting, di antaranya:

[Pertama] Hadits ini menerangkan mengenai bahaya bodoh terhadap tauhid.  Barangsiapa yang bodoh dalam masalah tauhid sangat mungkin dia terjatuh dalam kesyirikan sedangkan ia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, wajib bagi kita mempelajari tauhid dan juga kebalikannya yaitu syirik. Hendaklah kita mempelajari hal ini sampai kita berada di atas bashiroh (ilmu) bukan berada dalam kebodohan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika seseorang tidak mengetahui tauhid dan syirik dengan benar. Boleh jadi dia melakukan suatu perbuatan (padahal itu syirik) namun dia menyangka itu benar karena sebab kebodohannya. Inilah yang menunjukkan bahaya kebodohan, lebih-lebih lagi jika bodoh dalam masalah aqidah.

[Kedua] Dalam hadits ini juga menunjukkan bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang musyrik. Sesungguhnya menyerupai mereka (dalam perkataan atau perbuatan) dalam mengantarkan seseorang dalam kesyirikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”[8]
Hendaklah kita tidak menyerupai orang musyrik (baik dalam perkataan maupun perbuatan)
[Ketiga] Sesungguhnya mengambil berkah dari bebatuan, pepohonan, atau dari bangunan adalah suatu kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. Karena (ingatlah bahwa) mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan, pepohonan ataupun kuburan, ini semua adalah kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik.
—
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom
—
Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.

[1] Nakiroh adalah istilah dalam ilmu nahwu yaitu kata yang belum jelas penunjukkannya. Dan menurut kaedah ushul fiqih bahwa nakiroh yang berada dalam konteks larangan atau peniadaan menunjukkan keumuman. [pen]
[2] Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ فَيُصَلِّى عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا
“Janganlah seseorang di antara kalian bersengaja shalat pada saat matahari terbit dan tenggelam.” (HR. Bukhari no. 585 dalam Al Mawaqit Bab Janganlah bersengaja shalat pada saat tenggelamnya matahari. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 828 dalam Al Masajid Bab waktu-waktu terlarang shalat)
[3] HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits ini shohih sesuai syarat  Muslim” dan perkataan beliau ini  disetujui oleh Adz Dzahabi. Lihat Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i rahimahullah, hal. 178, Darul Haromain-Kairo. [pen]
[4] Mengambil wasilah melalui para wali yang telah mati. [pen]
[5] Hakekat lata adalah kuburan, ‘uzza adalah pohon sedangkan manat adalah batu. Lihat Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/156-157, ta’liq Dr. Nashr bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql. Dan perhatikanlah penjelasan Syaikh Fauzan hafizhohullah selanjutnya. [pen]
[6] Lihat Zaadul Ma’ad, 4/ 413-415
[7] HR. Tirmidzi no. 2180 dalam ‘Al Fitan’, Bab ‘Sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian’. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Juga diriwayatkan dari Ahmad (5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 76, Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya (no. 6702 – Al Ihsan). Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini sebagaimana dalam Al Ishobah, 4/216.
[Tambahan pen] : Untuk membantu penjelasan Syaikh Fauzan selanjutnya, kami bawakan hadits ini secara lengkap,
عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ »
Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam) mengatakan (kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Sedangkan dalam riwayat Ahmad disebutkan,
إِنَّهَا لَسُنَنٌ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً
“Sungguh ini adalah tradisi (kebiasaan umat terdahulu). Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat sebelum kalian perhalan demi perhalan.” (HR. Ahmad. Syaikh Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
[8] HR. Abu Dawud no. 4031 dalam Al Libas (pakaian), Bab ‘Pakaian syuhroh (ketenaran). Juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/50) dari hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkatab bahwa hadits ini sanadnya jayyid/bagus. (Iqtidho’ Ash Shirothol Mustaqim, hal. 236-239 ). Al Hafidz Al ‘Iroqi berkata dalam Takhrij Al Ihya’ (2/65) bahwa sanad hadit ini shohih. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (6/98) bahwa sanad hadits ini hasan.

Kaedah Memahami Syirik 2

Kaedah Memahami Syirik (2): 

Tawasul dan Meminta Syafa’at

Satu lagi kesyirikan yang dapat terjadi yaitu dalam masalah tawasul (mengambil perantara) dalam do’a kepada orang yang sudah mati dan meminta syafa’at pada selain Allah padahal sepenuhnya syafa’at diminta dari Allah.

Syaikh Muhammad At Tamimi melanjutkan kaedah kedua dalam kitab beliau Al Qowa’idul Arba’.
القَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ، فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3].
[KAEDAH KEDUA]
Mereka (orang-orang musyrik) mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka dan menghadapkan wajah kami kepada mereka (selain Allah) kecuali untuk mendekatkan diri pada Allah dan untuk memperoleh syafa’at mereka.”

Dalil yang menunjukkan bahwa argumen orang musyrik adalah dalam rangka mendekatkan diri pada Allah (qurbah) yaitu firman Allah  Ta‘ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya“. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az Zumar [39] : 3)

[KAEDAH KEDUA]
Sesungguhnya orang-orang musyrik yang Allah menyeru mereka dengan sebutan musyrik dan menghukumi mereka dengan kekal dalam neraka, mereka tidaklah melakukan perbuatan syirik dalam hal rububiyah, akan tetapi yang mereka lakukan adalah berbuat syirik dalam perkara uluhiyah. Mereka tidaklah mengatakan bahwa sesembahan mereka itu dapat mencipta dan memberi rizki di samping Allah. Mereka juga tidak menganggap bahwa sesembahan-sesembahan mereka dapat memberikan manfaat, mendatangkan bahaya dan dapat mengatur alam semesta di samping Allah. Orang-orang musyrik menyembah sesembahan tersebut hanya karena mereka anggap bahwa sesembahan mereka tersebut dapat memberikan mereka syafa’at[1] kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu hanyalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah“. (QS. Yunus [10] : 18 ). Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman,
مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ
“Tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan”. Mereka (orang-orang musyrik) mengetahui semua ini yaitu sesembahan selain Allah tidaklah dapat memberikan manfaat dan mendatangkan bahaya kepada mereka. Sebenarnya orang-orang musyrik hanya  menjadikan  sesembahan mereka tersebut sebagai pemberi syafa’at bagi mereka di sisi Allah, yaitu sebagai perantara antara mereka dengan Allah dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Mereka (orang-orang musyrik) menyerahkan hasil sembelihan kepada sesembahan mereka. Mereka juga melakukan nadzar yang ditujukan kepada sesembahan-sesembahan tersebut. Namun, mereka semua melakukan perbuatan seperti ini bukanlah karena mereka meyakini bahwa sesembahan mereka tersebut adalah pencipta, pemberi rizki, atau yang mendatangkan manfa’at atau menolak bahaya. Mereka melakukan hal ini hanya sebagai perantara antara mereka dengan Allah, yaitu sebagai pemberi syafa’at bagi mereka. Inilah aqidah orang-orang musyrik (yang sebenarnya).

Sekiranya saat ini, engkau berbincang-bincang dengan para penyembah kubur, mereka tentu akan mengatakan perkataan yang serupa dengan orang-orang musyrik dahulu. Boleh jadi mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami mengetahui bahwa wali ini atau orang sholih ini tidak dapat menolak bahaya dan mendatangkan manfaat. Akan tetapi, dia adalah orang sholih dan kami hanya  menginginkan agar dia dapat memberikan syafa’at pada kami di sisi Allah.”

Namun ketahuilah bahwa syafa’at itu ada yang benar dan ada yang bathil (salah). Syafa’at yang benar dan bisa diterima harus memiliki dua syarat berikut.

[Syarat Pertama] Orang yang akan memberi syafa’at telah mendapat izin dari Allah.

[Syarat Kedua] Orang yang diberi syafa’at adalah orang yang diridhoi, yaitu orang yang bertauhid yang mendapatkan kesulitan (ahli maksiat).

Jika salah satu dari syarat di atas tidak ada, maka syafa’at tersebut termasuk syafa’at yang bathil (keliru). Allah  Ta’ala mengatakan mengenai syarat syafa’at di atas,
مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ
“Tidak ada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al Baqarah [2] : 255 ).
وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى
 “Dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 28 ). Orang-orang yang diberi syafa’at adalah dari ahli maksiat di kalangan orang yang bertauhid. Adapun orang kafir dan orang musyrik, tidak bermanfaat bagi mereka syafa’at dari orang yang hendak memberi syafa’at. Allah Ta’ala berfirman,
مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Orang-orang yang zholim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya”. (QS. Al Mu’min [40] : 18 )[2].

Orang-orang yang mendengar kata syafa’at sebenarnya mereka tidak mengetahui makna syafa’at yang sebenarnya. Mereka malah pergi mencarinya kepada selain Allah tanpa izin dari-Nya. Bahkan orang-orang semacam ini meminta syafa’at kepada orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah, padahal orang semacam ini tidaklah bermanfaat sama sekali syafa’at bagi orang yang berbuat syirik. Mereka inilah yang tidak mengetahui hakekat syafa’at yang sebenarnya padahal syafa’at ada yang diterima dan ada pula yang ditolak.
****
وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18]، وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌُ مَنْفِيَّةٌُ وَشَفَاعَةٌُ مُثْبَتَةٌُ: فَالشَّفَاعَةُ الْمَنْفِيَّةُ مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لا يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ، وَالدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].
Dalil bahwa argumen mereka adalah untuk memperoleh syafa’at yaitu firman Allah  ta‘ala (yang artinya), “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada Kami di sisi Allah”.” (QS. Yunus [10] : 18)

(Ketahuilah) bahwa syafa’at itu ada dua macam yaitu [1] syafa’at manfiyah (yang tertolak) dan [2] syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan).

Syafa’at manfiyah (yang tertolak) adalah syafa’at yang diminta dari selain Allah, padahal tidak ada yang mampu memberikan syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Dalilnya hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Baqarah [2] : 254)

Syafa’at itu memiliki syarat-syarat sehingga tidak berlaku secara mutlak[3].

Syafa’at itu ada dua macam. Pertama adalah syafa’at yang dinafikan (ditiadakan) oleh Allah jalla wa ‘ala yaitu syafa’at yang diminta tanpa izin Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafa’at kecuali dengan izin-Nya. Perhatikanlah makhluk yang paling utama dan penutup para Nabi -yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam-, jika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin memberi syafa’at kepada orang-orang yang mengalami kesulitan di padang mahsyar pada hari kiamat, beliau tersungkur dan bersujud di hadapan Allah, beliau memohon kepada-Nya dan menyanjung-Nya. Beliau tidaklah berhenti bersujud sampai dikatakan padanya,
ارْفَعْ رَأْسَكَ قُلْ تُسْمَعْ اشْفَعْ تُشَفَّعْ
 “Angkatlah kepalamu. Mintalah pasti engkau akan didengar. Berilah syafa’at pasti akan dikabulkan“.[4]

Perhatikanlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri baru bisa memberi syafa’at setelah diizinkan oleh Allah.
****
]. وَالشَّفَاعَةُ الْمُثْبَتَةُ هِيَ: الَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ، وَالشَّافِعُ مُكْرَمٌ بِالشَّفَاعَةِ، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الإذْنِ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255].
Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta dari Allah. Pemberi syafa’at adalah orang yang dimuliakan dengan syafa’atnya. Sedangkan orang yang disyafa’ati adalah orang yang Allah ridhoi perkataan dan amalannya, syafa’at tersebut diberikan setelah mendapatan izin dari Allah. Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS Al Baqarah [2] : 255)

Syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diberikan kepada orang yang bertauhid. Syafa’at tidaklah bermanfaat bagi orang-orang musyrik dan orang-orang yang bertaqarub (mendekatkan diri) dan bernadzar kepada kubur. Perbuatan semacam ini adalah kesyirikan, syafa’atnya tidak bermanfaat sama sekali.

KESIMPULAN :
Sesungguhnya syafa’at manfiyah (yang ditolak) adalah syafa’at yang diminta tanpa izin Allah atau yang diminta oleh orang musyrik. Sedangkan syafa’at mutsbatah (yang ditetapkan) adalah syafa’at yang diminta setelah izin Allah dan akan diberikan pada ahli tauhid.
—
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom
—
Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.

[1] Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan, “Syafa’at secara bahasa diambil dari kata (الشَفْعُ) yang merupakan lawan kata dari (الوِتْرُ). Sedangkan (الوِتْرُ) adalah ganjil atau tunggal. Kata (الشَفْعُ) berarti lebih dari satu yaitu dua, empat, atau enam. Dan (الشَفْعُ) dikenal dengan istilah bilangan ‘genap’.
Secara istilah, syafa’at adalah menjadi perantara (penghubung) dalam menyelesaikan hajat yaitu perantara antara orang yang memiliki hajat dan yang bisa menyelesaikan hajat.” (At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘alal Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 95, Darul ‘Ashomah)
Agar lebih memahami syafa’at dapat kami contohkan sebagai berikut:
Si A memiliki hajat untuk membangun rumah. Dia tidak memiliki dana yang cukup. Oleh karena itu, agar bisa mencukupi kebutuhannya dia ingin meminjam uang pada si B yang terkenal kaya di daerahnya. Namun, si A ini tidak begitu akrab dengan si B sehingga dia meminta si C untuk jadi perantara. Akhirnya, si C mengantarkan si A pada si B sehingga keperluan si A terpenuhi.
Si C yang berlaku sebagai perantara di sini disebut dengan syafi’ yaitu pemberi syafa’at. [pent]
[2] Yang dimaksud dengan orang zholim di sini adalah orang kafir berdasarkan hadits mutawatir mengenai adanya syafa’at bagi pelaku dosa besar.
Al Hafizh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab 1/205 mengatakan, “Orang zholim dalam ayat ini adalah orang-orang kafir. Yang menguatkan hal ini adalah konteks ayat sebelumnya yang membicarakan tentang orang kafir.”
Al Hafizh Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengatakan, “Orang yang menzholimi dirinya dengan berbuat syirik kepada Allah tidak akan mendapatkan manfaat (pertolongan) dari kerabat dekatnya dan juga mendapatkan syafa’at dari syafi’ (orang yang memberi syafa’at).” [pent]
[3] Maksudnya tidak semua syafa’at bisa diterima. [pent]
[4] Hadits ini adalah potongan dari hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 7510 dalam At Tauhid, Bab ‘Perkataan Allah pada hari kiamat kepada para Nabi dan selainnya’. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 193 dalam Al Iman, Bab ‘Kedudukan penduduk surga yang paling rendah’ dari Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Kaedah Memahami Syirik 1

Kaedah Memahami Syirik (1): 

Syirik Versi Ahli Kalam dan Ahli Tauhid

Ada empat kaedah yang dapat membantu memahami syirik. Sedikit dari kita yang mengaku muslim memahami syirik karena kejahilan jadinya budaya syirik masih terus laris manis.

Nah, Rumaysho.Com kesempatan kali ini akan mengangkat pembahasan empat kaedah memahami syirik dari kitab karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab “Al Qowa’idul Arba’” (kitab yang ringkas namun syarat makna), dengan mengambil penjelasan dari guru penulis Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhahullah.
Semoga dengan memahami empat kaedah ini semakin memantapkan tauhid dan iman kita.
القَاعِدَةُ الأُوْلَى: أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ الْكُفَّارَ الَّذِيْنَ قَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ يُقِرُّوْنَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى هُوَ الخَالِقُ المُدَبِّرُ، وَأَنَّ ذٰلِكَ لَمْ يُدْخِلْهُمْ في الإسْلامِ، والدَّلِيْلُ: قَوْلُهُ تَعَالَى﴿قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ﴾[يونس:31
 [KAEDAH PERTAMA]
Hendaknya engkau mengetahui bahwa orang-orang kafir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui bahwa Allah Ta’ala adalah Pencipta dan Pengatur Alam Semesta. Namun, pengakuan mereka ini tidaklah dapat memasukkan mereka ke dalam Islam. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa  (kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10] : 31 )

[KAEDAH PERTAMA]
Ketahuilah bahwasanya orang-orang kafir yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi, mereka semua mengakui tauhid rububiyah (mengakui Allah sebagai pencipta dan pemberi rezeki) [1]. Namun pengakuan mereka ini tidaklah memasukkan mereka ke dalam islam, tidaklah diharamkan darah dan harta mereka.

Hal ini menunjukkan bahwa  tauhid bukanlah pengakuan dalam perkara rububiyah saja dan syirik bukanlah syirik dalam perkara rububiyah saja. Bahkan tak ada seorangpun yang mengingkari tauhid rububiyah kecuali makhluk yang penuh dengan keragu-raguan. Setiap orang pasti mengakui tauhid yang satu ini.

Tauhid rububiyah adalah mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, Pengatur (Alam Semesta). Defenisi lainnya, tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya.

Tidaklah seorang makhluk pun yang mengakui bahwa ada pencipta selain Allah,  Pemberi rizki selain Allah, atau Yang menghidupkan dan mematikan selain-Nya. Bahkan orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan, dan Pengatur (Alam Semesta ). Perhatikanlah firman Allah Ta’ala,
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
”Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?” tentu mereka akan menjawab: “Allah“.(QS. Luqman [31] : 25 ).
Allah Ta’ala juga berfirman,
قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (86) سَيَقُولُونَ لِلَّهِ
“Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?”. Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. (QS. Al Mu’minun [23] : 86-87 ). Bacalah akhir surat Al Mu’minun, niscaya engkau akan dapati bahwa orang-orang musyrik mengakui tauhid rububiyah. Demikian juga halnya dalam surat Yunus, Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنْ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنْ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنْ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
“Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mengapa kamu tidak bertakwa  (kepada-Nya)?” (QS. Yunus [10] : 31 ). Mereka (orang-orang musyrik) telah mengakui sifat-sifat rububiyah ini.

Ingatlah, tauhid bukanlah hanya tauhid rububiyah saja, sebagaimana yang diyakini oleh ahli kalam dan ahli logika yang mereka nyatakan sebagai aqidah mereka. Orang-orang semacam ini hanya mengakui tauhid adalah pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan. Di antara perkataan mereka adalah “Allah itu Esa dalam Dzat-Nya dan tidak terbagi. Allah itu Esa dalam sifat-Nya dan tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah itu Esa dalam perbuatan-Nya[2] dan tidak ada sekutu bagi-Nya”. Semua ini yang disebutkan oleh mereka (ahli kalam) adalah sebatas pada tauhid rububiyah saja. Kalian silakan merujuk pada kitab-kitab mereka. Kalian akan mendapati bahwa definisi mereka terhadap tauhid tidaklah lepas dari tauhid rububiyah saja.

(Perlu diketahui bahwa) tauhid rububiyah bukanlah tauhid yang Allah minta untuk disampaikan melaui pengutusan Rasul. (Juga perlu diketahui bahwa) pengakuan terhadap tauhid ini semata tidak akan bermanfaat bagi pelakunya. Karena pengakuan semacam ini juga diakui oleh orang musyrik dan orang kafir. Dan hal ini tidak mengeluarkan mereka (orang-orang musyrik) dari kekafiran lalu memasukkan mereka dalam Islam. Mengenai tauhid ini saja termasuk kesalahan yang besar.

Barangsiapa yang hanya meyakini tauhid rububiyah semata, maka itu tidak lebih dari aqidah Abu Jahal dan Abu Lahab. Namun sayang, inilah yang diyakini oleh para intelektual muslim saat ini, mereka hanya mengakui tauhid rububiyah saja dan tidak sampai beranjak kepada tauhid uluhiyah. Ini adalah kekeliruan yang sangat besar dalam pendefenisian tauhid.

Adapun syirik, mereka (ahli kalam) mengatakan, “Syirik adalah meyakini adanya pencipta dan pemberi rizki selain Allah“. Maka kita katakan , “Ini adalah perkataan Abu Jahal dan Abu Lahab.” Pembesar musyrik Quraisy ini tidaklah mengatakan, ”Sesungguhnya ada pencipta dan pemberi rizki selain Allah.” Bahkan yang mereka akui yaitu : Allah adalah Pencipta, Pemberi rizki, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan.
-bersambung insya Allah-
—
Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Rumaysho.Com
Ikuti status kami dengan memfollow FB Muhammad Abduh Tuasikal, Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter @RumayshoCom
—
Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga: Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk transfer.


[1] Tauhid rububiyah adalah mengakui Allah sebagai Rabb yang memiliki 3 sifat yaitu mencipta, menguasai dan mengatur. Sehingga apabila seseorang mengakui tauhid rububiyah, berarti dia telah mengakui bahwa Allah adalah pencipta, penguasa dan pengatur alam semesta. Definisi tauhid rububiyah akan beliau hafizhohullah jelaskan selanjutnya.[pent]
[2] Yaitu dalam mencipta, menguasai dan mengatur alam semesta. [pent]