Beraneka
ragamnya sesembahan orang musyrik, itu realitanya. Ini dibuktikan dalam
perkataan Syaikh Muhammad At Tamimi berikutnya dalam risalah beliau
Al Qowa’idul Arba’.
Jadi jangan kira bahwa sesembahan orang musyrik hanyalah patung berhala
saja. Orang-orang sholeh pun jadi sesembahan mereka, mereka pun disebut
musyrik.
القَاعِدَةُ
الثَّالِثَةُ: أَنَّ النَّبِيَّ ظَهَرَ عَلَى أُنَاسٍ مُتَفَرِّقِيْنَ
في عِبَادَاتِهِمْ مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ
يَعْبُدُ الأَنْبِيَاءَ وَالصَّالِحِيْنَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ
الأَحْجَارَ وَالأَشْجَارَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الشَّمْسَ
وَالقَمَرَ، وَقَاتَلَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ،
[KAEDAH KETIGA]
Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui bahwa manusia berbeda-beda di dalam ibadah mereka. Sebagian mereka beribadah kepada para nabi dan orang sholih. Sebagian lagi beribadah kepada pohon dan batu. Sebagian lainnya beribadah kepada matahari dan bulan. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka semuanya dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya.
[KAEDAH KETIGA]
Sesungguhnya Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam
diutus kepada orang-orang musyrik, di antara mereka ada yang menyembah
malaikat. Yang lainnya lagi menyembah matahari dan bulan. Di antara
mereka lagi ada yang menyembah patung, batu, dan pohon. Dan ada pula
yang menyembah para wali dan orang-orang sholih.
Inilah di antara
keburukan syirik. Pelaku kesyirikan tidaklah bersatu dalam hal
sesembahan. Berbeda dengan orang yang betul-betul mengesakan Allah (baca
: ahlu tauhid). Sesembahan ahlu tauhid hanyalah satu yaitu Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Allah
Ta’ala berfirman,
أَأَرْبَابٌ
مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ (39) مَا
تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا
“
Manakah
yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha
Esa lagi Maha Perkasa?” Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali
hanya (menyembah) nama-nama yang kamu membuat-buatnya”. (QS. Yusuf [12] : 39-40).
Di
antara kejelekan dan kebatilan syirik adalah : pelaku syirik
berbeda-beda dalam perihal ibadah. Mereka tidak bersatu dalam kaedah
ibadah yang sama karena mereka tidak berjalan dalam landasan ibadah yang
satu (yaitu tauhid). Sebenarnya mereka berjalan mengikuti hawa nafsu
mereka dan asal mengikuti seruan yang menyesatkan. Mereka ini akan
semakin terpecah sebagaimana firman Allah
Ta’ala,
ضَرَبَ
اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا
سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ
أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“
Allah membuat perumpamaan
(yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang
berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik
penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama
halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. (QS. Az Zumar [39] : 29 ).
Orang
yang hanya menyembah Allah semata diumpamakan dengan seorang budak yang
diperbudak oleh satu tuan. Tuannya ini selalu merasa puas dengannya.
Tuannya ini memiliki tuntutan tersendiri dari budak tersebut sehingga
selalu merasa puas dengannya. Sedangkan orang musyrik diumpamakan dengan
budak yang memiliki beberapa tuan. Budak ini tidak mengetahui siapa
yang ridho terhadap dirinya dari tuan-tuannya itu. Masing-masing dari
tuannya memiliki keinginan tersendiri. Setiap mereka memiliki tuntutan
dan keinginan masing-masing. Setiap dari tuan tadi menghendaki sesuatu
sesuai keinginannya. Oleh karena itu, Allah
Ta’ala berfirman,
ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ
“
Allah
membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki
oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan.” (QS.
Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh beberapa tuan. Tidak
diketahui siapa di antara mereka yang ridho pada budak ini. (Berbeda
halnya dengan budak yang satu ini),
وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ
“
Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)”.
(QS. Az Zumar [39] : 29 ). Budak ini dimiliki oleh satu tuan saja
sehingga tuannya ini meresa puas dengannya. Inilah permisalan yang Allah
buat antara orang musyrik dan orang yang bertauhid.
(Lihatlah) orang-orang musyrik pasti bepecah belah dalam peribadatan mereka. Lalu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan satu dan lainnya. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi para penyembah patung. Begitu pula beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi orang Yahudi, Nashrani dan Majusi. Beliau
shallallahu juga memerangi seluruh kaum musyrikin. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam memerangi pula para penyembah malaikat, wali dan orang sholih. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan-bedakan di antara mereka.
Perkataan
penulis di sini adalah bantahan kepada orang-orang yang mengatakan
bahwa orang yang menyembah patung tidaklah sama dengan orang yang
menyembah orang sholih atau salah satu malaikat. Kelompok pertama ini
menyembah bebatuan dan pepohonan. Yang mereka sembah adalah benda mati.
Sedangkan kelompok kedua adalah yang menyembah orang sholih dan salah
satu wali Allah. Kelompok kedua ini berbeda dengan orang-orang yang
menyembah patung.
Sebenarnya maksud orang-orang yang mengutarakan
ucapan ini adalah : hukum orang yang menyembah kubur saat ini tidaklah
sama dengan dengan para penyembah patung. Maka orang yang menyembah
kubur belum tentu kafir. Amalan para penyembah kubur ini belum tentu
syirik. Sehingga mereka tidaklah pantas untuk diperangi.
Sebagai sanggahan kepada ucapan semacam ini, kami katakan : Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan di antara mereka. Bahkan beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap bahwa mereka semua adalah orang musyrik sehingga halallah darah dan harta mereka. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
tidaklah membedakan satu dan lainnya. Kaum Nashrani yang menyembah Al
Masih (Isa bin Maryam) –padahal Isa hanyalah utusan Allah- tetap beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
perangi. Begitu pula kaum Yahudi yang menyembah ‘Uzair –padahal ‘Uzair
adalah Nabi atau orang sholih di antara mereka- tetap pula beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam perangi. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah membedakan orang-orang ini (walaupun sesembahan mereka berbeda-beda).
Namanya
syirik tidaklah dibedakan antara yang menyembah orang sholih, yang
menyembah patung, batu dan pohon. Karena yang namanya syirik adalah
peribadahan kepada selain Allah apapun yang disembah. Oleh karena itu,
Allah
Ta’ala berfirman,
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’ [4] : 36 ). Kata (
شَيْئًا artinya sesuatu) adalah kata nakiroh yang berada dalam konteks larangan sehingga mengandung makna umum
[1].
Sehingga yang dimaksud ‘sesuatu’ di sini mencakup seluruh jenis
sesembahan yang diserikatkan dengan Allah baik itu malaikat, rasul,
orang- orang sholih, para wali, bebatuan dan pepohonan.
****
وَالدَّلِيْلُ قَوُلُهُ تَعَالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾[البقرة:193]
Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39)
?
Syaikh rahimahullah berkata, “
Dalil hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al Anfal [8] : 39)
Maksudnya, ini adalah dalil dari perkataan Syaikh
rahimahullah sebelumnya mengenai diperanginya orang-orang musyrik tanpa membeda-bedakan sesembahan mereka. Firman Allah
Ta’ala,
﴿وَقَاتِلُوهُمْ ﴾
“Dan perangilah mereka.”
Ayat ini bersifat umum, mencakup seluruh orang musyrik tanpa ada pengecualian. Lalu firman Allah selanjutnya,
﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ ﴾
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah.”
Fitnah yang dimaksud di sini adalah kesyirikan. Sehingga maksud ayat ini adalah ‘
sampai tidak ada lagi kesyirikan’.
Ini juga bersifat umum baik syirik dalam peribadahan kepada para wali,
orang sholih, bebatuan, pepohonan, matahari atau bulan.
Lalu firman Allah selanjutnya,
﴿ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ ﴾
“
dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.”
Maksudnya
adalah bahwa setiap ibadah hanya berhak ditujukan kepada Allah, tidak
boleh Allah disekutukan dengan sesembahan apapun. Maka tidak ada bedanya
syirik dalam penyembahan terhadap para wali, orang sholih, bebatuan,
pepohonan, para setan dan selainnya.
].
وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ
اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ
وَلَا لِلْقَمَرِ﴾[فصلت:37]
Dalil bahwa yang menjadi sesembahan orang musyrik adalah matahari dan bulan yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah menyembah matahari maupun bulan, tapi sembahlah Allah yang menciptakannya, jika ialah yang kamu hendak sembah.” (QS. Fushilat [41] : 37)
Ayat di atas menunjukkan bahwa ada yang menyembah (bersujud) pada matahari dan bulan. Oleh karena itu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang shalat pada waktu matahari terbit dan ketika matahari tenggelam.
[2] Hal ini sebagai
sadaan lidz-dzari’ah
(untuk menutup jalan ke arah sana yaitu menyembah matahari). Karena
memang ada orang yang menyembah matahari ketika terbit dan tenggelam.
Oleh karena itu, kita dilarang mengerjakan shalat pada dua waktu
terlarang ini, walaupun shalat tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah.
Shalat di kedua waktu ini termasuk
tasyabuh (menyerupai) orang
musyrik. Oleh karena itu, kita dilarang melakukan hal ini untuk menutup
jalan (wasilah) menuju kesyirikan. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk melarang kesyirikan dan menutup berbagai wasilah menuju kesyirikan tersebut.
وَدَلِيْلُ
الْمَلائِكَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا
الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾ [آل عمران:80].
Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan Malaikat dan Para Nabi sebagai Tuhan.” (QS. Ali Imran [3] : 80)
?
Syaikh rahimahullah mengatakan, ‘
Dalil bahwa yang disembah adalah malaikat’. Ini menunjukkan bahwa ada yang menyembah malaikat dan para Nabi. Ini juga termasuk kesyirikan.
Akan
tetapi para penyembah kubur pada saat ini mengatakan bahwa orang yang
menyembah malaikat, para nabi dan orang sholih tidaklah kafir.
****
وَدَلِيْلُ
الأَنْبِيَاءِ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ
مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ
مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا
لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا
فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ
الْغُيُوبِ﴾[المائدة:116].
Dalil bahwa yang
disembah adalah para nabi yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan
(ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putera Maryam.
Adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua
ilah (sesembahan) selain Allah?”. Isa menjawab: “Maha suci Engkau,
tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya).
Jika aku pernah mengatakan, maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada
pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.
Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”. (QS. Al Maidah [5] : 116)
Syaikh rahimahullah mengatakan ‘
Dalil bahwa yang disembah adalah para nabi’. Ini adalah dalil bahwa ibadah kepada para Nabi termasuk kesyirikan sebagaimana ibadah kepada patung.
Perkataan penulis ini merupakan sanggahan kepada para penyembah kubur yang membeda-bedakan dalam hal ini.
Perkataan beliau
rahimahullah juga
adalah bantahan kepada orang mengatakan bahwa syirik itu hanya dalam
peribadahan kepada berhala. Menurut mereka tidaklah sama antara orang
yang menyembah patung, para wali atau orang sholih. Mereka mengingkari
penyamaan dalam kedua hal ini dan beranggapan bahwa syirik hanya
terbatas pada penyembahan kepada patung-patung saja. Ini adalah
kekeliruan yang sangat jelas ditinjau dari dua sisi :
[Sisi Pertama] Allah
jalla wa ‘ala
di dalam Al Qur’an mengingkari semua peribadahan (kepada selain Allah)
dan memerintahkan untuk memerangi semua yang melakukan peribadah semacam
itu.
[Sisi Kedua] Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membedakan antara penyembah berhala, malaikat atau pun orang sholih.
وَدَلِيْلُ
الصَّالِحِيْنَ قَوْلُهُ تَعَالَى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ
يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ
رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ… ﴾الآية[الإسراء:57].
Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka,
siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan
rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah
suatu yang (harus) ditakuti.” (QS. Al Isra’ [17] :57)
Syaikh rahimahullah mengatakan ‘
Dalil bahwa yang disembah adalah orang-orang sholih’ Perkataan beliau ini menunjukkan bahwa ada manusia yang menyembah orang-orang sholih. Sebagaimana firman Allah
Ta’ala,
﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ﴾
“
Orang-orang
yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka,
siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah)”. (QS. Al Isro’ [17] : 57). Ada dua pendapat mengenai tafsiran ayat ini.
[Pendapat pertama]
Ada yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang
menyembah Al Masih (Isa bin Maryam), ibunya (Maryam) dan ‘Uzair. Lalu
Allah
Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa sesungguhnya Al Masih
(Isa bin Maryam), Maryam dan Uzair hanyalah hamba yang menghambakan
diri pada Allah, mendekatkan diri pada-Nya, selalu mengharap rahmat dan
takut pada adzab-Nya. Mereka semua hanya hamba Allah yang sangat butuh
dan bergantung kepada-Nya. Mereka juga berdo’a kepada Allah dan mencari
wasilah kepada-Nya dengan melakukan ketaatan. Allah
Ta’ala berfirman,
﴿يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ ﴾
“
Mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka.” (QS. Al Isro’ [17] : 57). Maksudnya untuk mencari kedekatan kepada Allah
Ta’ala
dengan melakukan ketaatan dan ibadah. Hal ini menunjukkan bahwa ibadah
tidaklah layak ditujukan kepada mereka. Alasannya karena mereka juga
manusia yang sangat butuh (bergantung) pada Allah, mereka berdo’a
(memohon) kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya dan takut pada
adzab-Nya. Kalau memang keadaan mereka seperti ini, maka tidaklah pantas
mereka disembah bersama Allah
‘azza wa jalla.
[Pendapat kedua] Sesungguhnya
ayat ini turun kepada kaum musyrikin yang beribadah kepada sekelompok
jin. Kemudian sekelompok jin tersebut masuk islam, namun orang-orang
musyrik tidak mengetahui keislaman para jin ini
[3].
(Ketika masuk Islam) jadilah para jin ini mendekatkan diri kepada Allah
dengan dengan melakukan keta’atan dan ketundukan kepada-Nya. Mereka
juga senantiasa mengharap rahmat-Nya dan takut pada adzab-Nya. Jadi,
para jin adalah hamba yang sangat butuh pada Allah. Kalau demikian,
tidaklah pantas menujukan ibadah kepada mereka.
Apapun maksud
(tafsiran) ayat yang mulia ini, intinya ingin menunjukkan bahwa kita
tidaklah boleh beribadah kepada orang-orang sholih baik mereka adalah
para Nabi, para shidiqin atau para wali Allah dan orang sholih. Tidak
boleh satu ibadah pun ditujukan pada mereka. Karena namanya hamba Allah
pasti sangat butuh (bergantung) kepada-Nya. Bagaimana mungkin mereka
bisa dijadikan sesembahan bersama Allah
jalla wa ‘ala?
Maksud dari
wasilah
dalam ayat di atas adalah keta’atan dan segala bentuk pendekatan diri
kepada Allah. Adapun secara bahasa, wasilah adalah sesuatu yang bisa
mengantarkan pada tujuan. Segala sesuatu yang mengantarkan pada ridho
dan surga Allah, maka itulah wasilah kepada Allah. Inilah wasilah yang
disyari’atkan sebagaimana terdapat dalam firman Allah
Ta’ala,
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“
Dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya.” (QS. Al Maidah [5] : 35).
Adapun
orang-orang yang menyimpang dan ahlu khurofat, mereka mengatakan bahwa
wasilah adalah menjadikan para wali, orang sholih, dan orang yang sudah
mati sebagai perantara antara engkau dan Allah untuk mendekatkan dirimu
pada-Nya. Mereka mengatakan,
مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“
Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”.
(QS. Az Zumar [39] : 3). Jadi, makna wasilah menurut ahli khurofat
adalah engkau menjadikan perantara antara dirimu dan Allah. Perantara
ini akan menyampaikan hajatmu pada Allah dan memberitahukan pada Allah
bahwa ini adalah hajatmu. Hal ini menunjukkan bahwa seakan-akan Allah
jalla wa ‘ala
itu tidak mengetahui (urusan hamba-Nya). Atau seakan-akan Allah itu
bakhil (pelit), tidak mau memberi kecuali setelah didesak melalui
perantara.
Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini.
Dari kerancuan inilah, mereka menebar keraguan di tengah-tengah manusia sambil memplintir firman Allah,
﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾.
“
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”.
(QS. Al Isro’ [17] : 57 ). Dari ayat ini, mereka memplintir bahwa
sesungguhnya mengambil wasilah (perantara) dari mahluk adalah suatu
perkara yang disyariatkan. Allah juga telah memuji orang seperti ini
sebagaimana dalam firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ
“
Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan
yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya
kamu mendapat keberuntungan”. (QS. Al Maidah [5] : 35).
(Berdasarkan
ayat di atas), mereka mengatakan bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan
kita agar menjadikan wasilah kepada-Nya dan
makna wasilah adalah perantara. Inilah tingkah laku mereka, telah menyelewengkan maksud firman Allah dari maksud yang semestinya.
(Yang
lebih tepat) wasilah yang disyari’atkan yang terdapat dalam Al Qur’an
dan As Sunnah adalah dengan melakukan keta’atan yang mendekatkan kita
kepada Allah, bertawassul (mengambil wasilah) kepada-Nya dengan nama dan
sifat-Nya
Subhanahu wa Ta’ala. Inilah wasilah yang disyari’atkan.
Adapun
bertawassul kepada Allah melalui makhluk-makhluk-Nya, ini adalah
wasilah yang terlarang dan termasuk wasilah yang mengandung kesyirikan.
Seperti inilah yang dilakukan oleh orang musyrik yang terdahulu
sebagaimana terdapat pada firman Allah ‘
azza wa jalla,
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ
“
Dan
mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat
mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan,
dan mereka berkata: “mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di
sisi Allah”. (QS. Yunus [10] : 18 ). Juga terdapat pada firman Allah,
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى
“
Dan
orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat- dekatnya“. (QS. Az Zumar [39] : 3 ).
Inilah kesamaan kesyirikan zaman dahulu dan sekarang ini. Walaupun mereka menyebut perbuatan semacam ini
[4]
sebagai wasilah, akan tetapi kenyataan ini adalah kesyirikan dan
bukanlah wasilah yang Allah syari’atkan. Allah tidaklah mungkin
menjadikan kesyrikan sebagai perantara kepada-Nya selama-lamanya. Bahkan
melalui wasilah yang syirik ini akan semakin membuat seseorang menjauh
dari Allah. Perhatikanlah firman Allah
Ta’ala,
إِنَّهُ
ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“
Sesungguhnya
orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah
mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada
bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”.(QS. Al Maidah [5] : 72 ).
Bagaimana mungkin kesyirikan dapat dijadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri pada Allah?
Maha Suci Allah dari perkataan mereka ini.
Adapun
yang menjadi sisi pendalilan dari ayat ini (surat Al Isro’ ayat 57)
adalah bahwa orang-orang yang beribadah kepada orang sholih juga
termasuk orang yang berbuat syirik. Karena Allah telah menjelaskan hal
ini dan menjelaskan bahwa orang-orang sholih yang mereka sembah itu
sangat butuh kepada Allah sebagaimana pada firman Allah,
﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ﴾.
“
Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka”.
(QS. Al Isro’ [17] : 57). Yakni orang-orang sholih tersebut juga
mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan ketaatan, manakah di
antara mereka yang lebih dekat (kepada-Nya). Mereka (orang-orang sholih)
berlomba-lomba dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah karena
mereka sangat butuh kepada-Nya sebagaimana terdapat dalam firman-Nya,
﴿ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾.
“
Dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab-Nya.” (QS. Al Isro’ [17] : 57 ).
Dan
siapa saja yang keadaannya seperti ini tidaklah layak dijadikan sebagai
sesembahan yang ditujukan do’a dan disembah bersama Allah
Ta’ala.
****
ودليل الأحجار والأشجار قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾[النجم:19-20].
Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu yaitu firman Allah ta’ala (yang artinya), “Maka
Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al
Uzza, Dan Manat yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak
perempuan Allah)?”[5] (QS. An Najm [53] :19-20)
Syaikh rahimahullah berkata,
“Dalil bahwa yang disembah adalah pohon dan batu … ”.
Pada ayat ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ada orang musyrik yang menyembah pepohonan dan bebatuan.
Firman Allah (
أَفَرَأَيْتُمْ ) : “
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik)”, ini adalah
istifham inkari. Maksudnya adalah ‘beritahukan padaku’ menunjukkan kalimat tanya untuk mengingkari dan sebagai celaan.
Yang dimaksud dengan Laata (
اللَّتَ)
-dengan huruf ta’ tanpa ditasydid- merupakan salah satu nama berhala di
Tho’if. Bentuk berhala ini berupa batu besar yang diukir. Di atas batu
ini terdapat bangunan yang ditutupi tirai seperti ka’bah. Di sekeliling
batu ini adalah tanah lapang. Batu ini memiliki juru kunci. Orang-orang
musyrik dahulu menyembah Laata ini dan menjadikannya sebagai sesembahan
selain Allah. Beberapa qobilah sangat bangga sekali dengan berhala ini.
Laata juga bisa dibaca dengan (
أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَّ) -dengan ta’ yang ditasydid/ Kalau laatta adalah
isim fail (kata yang menunjukkan pelaku) yang berasal dari kata
latta – yaluttu (yang artinya ‘mencampur dengan samin’).
Laatta
adalah seorang laki-laki sholih yang mencampurkan samin dan
memberikannya kepada para jama’ah haji. Lalu pria ini meninggal dan
orang-orang membangun bangunan pada kuburnya dan dipasangkan tirai.
Kemudian mereka menjadikan kuburan ini sebagai sesembahan selain Allah.
Inilah yang disebut
Laatta.
Yang dimaksud dengan ‘uzza
﴿ وَالْعُزَّى ﴾ adalah pepohonan
salam (jenis pohon yang bisa dipakai menyamak,
pen)
yang berada di lembah kurma yang berada di antara Mekkah dan Tho’if.
Sekeliling pohon terdapat bangunan dan diberi tirai. ‘Uzza ini juga
memiliki juru kunci. Di sana terdapat setan yang dapat berdialog dengan
manusia. Namun sayangnya orang-orang bodoh menyangka bahwa yang
berbicara adalah pepohonan itu sendiri atau bangunan yang ada di
sekitarnya tadi. Padahal yang berbicara dengan mereka sebenarnya adalah
setan yang ingin menyesatkan mereka dari jalan Allah. Inilah berhala
orang Quraisy dan penduduk Mekkah serta orang-orang di sekitarnya.
Yang dimaksud Manaah
﴿وَمَنَاةَ ﴾
adalah batu besar yang diukir, berada di Pegunungan Qudaid yang berada
di antara Mekkah dan Madinah. Berhala inilah yang dimiliki oleh penduduk
Khuza’ah, Aus dan Khozroj. Mereka dahulu sering mendatanginya untuk
berhaji. Mereka menjadikan Manaah ini sebagai sesembahan-sesembahan
selain Allah.
Inilah tiga berhala terbesar yang dimiliki orang Arab dahulu. Allah
Ta’ala berfirman mengenai tiga berhala ini,
﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ ﴾
”
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah”.
(QS. An Najm [53] : 19-20 ). Maksudnya adalah apakah mereka dapat
mencukupkan (kebutuhan) kalian? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat
pada kalian? Apakah mereka dapat menolong kalian? Apakah mereka yang
dapat mencipta, memberi rezki, menghidupkan, dan mematikan? Apa manfaat
yang ada pada mereka? Penjelasan inilah yang bertujuan untuk mengingkari
dan memperingatkan akal untuk kembali petunjuk yang benar. Sesungguhnya
tiga berhala ini hanyalah bebatuan, pepohonan yang tidak dapat
mendatangkan manfaat atau menolak bahaya, mereka hanyalah makhluk biasa.
Tatkala Islam datang dan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan Mekkah –sebagai tempat yang mulia-, beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mengutus Al Mughiroh bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk pergi ke
Laata (yang sebenarnya hanya batu atau kuburan,
pen) yang berada di Tho’if. Kedua orang ini –akhirnya- menghancurkan berhala tersebut atas perintah Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengutus pula Kholid bin Walid untuk pergi ke ‘Uzza. Lalu dia
menghancurkannya, memotong pepohonan yang ada dan membunuh jin yang
dapat berdialog dengan manusia. Jin yang hanya ingin menyesatkan manusia
ini, akhirnya hilang tanpa bekas –alhamdulillah (segala pujian hanyalah
milik Allah)-. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengutus ‘Ali bin Abi Tholib untuk pergi ke Manaah. Lalu ‘Ali menghancurkan berhala ini tanpa ada bekas.
[6] Lihatlah berhala ini tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.
﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى.وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾
” Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)”.
(QS. An Najm [53] : 19-20 ). Adakah mereka bisa menghindarkan diri
(ketika ingin dihancurkan)? Apakah mereka dapat mendatangkan manfaat?
Apakah mereka dapat mencegah dirinya sendiri dari para tentara Allah dan
ahlu tauhid (yang ingin menghancurkan mereka)?
Inilah dalil yang
menunjukkan bahwa di sana ada orang-orang menyembah pepohonan dan
bebatuan. Bahkan ketiga berhala tadi adalah berhala terbesar yang mereka
miliki. Namun, Allah telah melenyapkan berhala-berhala ini tanpa bekas.
Berhala-berhala ini tidak dapat mencegah kehancuran mereka. Mereka juga
tidak dapat mendatangkan pada orang yang menyembahnya. Lihatlah
Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam memerangi orang yang menyembah berhala-berhala ini. Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
membunuh mereka, namun –lihatlah- berhala-berhala tadi tidak dapat
berbuat apa-apa. Inilah yang dalil oleh penulis (Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahab) bahwa ada orang yang menyembah bebatuan dan pepohonan.
Ya
Allah Dzat Yang Maha Suci, manusia yang berakal mengapa bisa-bisanya
menyembah pohon-pohon dan batu-batu yang hanyalah benda mati, yang
tidak memiliki akal, yang tidak dapat bergerak dan tidak hidup. Di
manakah akal manusia? Maha Suci Allah atas apa yang mereka katakan.
****
وَحَدِيْثُ
أَبِيْ وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ t قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى
حُنَيْنٍِ وَنَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدٍ بِكُفْرٍِ، وَلِلْمُشْرِكِيْنَ
سِدْرَةٌُ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ
يُقَالُ لهَاَ: ذَاتُ أَنْوَاطٍِ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍِ فَقُلْنَا: يَا
رَسُوْلَ اللهِ إِجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍِ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ
أَنْوَاطٍِ… الْحَدِيْثُ.
Juga hal ini terdapat pada hadist Abu Waqid Al Laitsi , beliau berkata, “Kami keluar bersama Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain dan kami baru saja kembali dari masa-masa kekufuran. Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang digunakan untuk beri’tikaf di sekelilingnya dan menggantungkan senjata-senjata mereka, pohon tersebut dinamakan Dzatu Anwath.
Kemudian kami melewati sebuah pohon kemudian kami berkata, “Wahai
Rosulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka
(orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.” (Al Hadits)[7]
Abu Waqid Al Laitsi
radhiyallahu ‘anhu termasuk sahabat yang masuk Islam pada tahun Fathul Makkah –menurut pendapat yang terkenal- yaitu sekitar tahun 8 Hijriyah.
Apa yang dimaksud
Dzatu Anwath?
Anwath adalah bentuk jama’ dari
nauth. Kata kerjanya bermakna menggantung, sehinga
nauth adalah sesuatu yang digantung. Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata pada pohon tersebut agar memperoleh berkah.
Sebagian sahabat yang baru saja masuk islam dan belum mengenal tauhid secara sempurna, mereka mengatakan, “
Wahai Rasulullah, buatkan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (orang-orang musyrik) memiliki Dzatu anwath.”. Inilah bencana
taqlid (mengekor tanpa tahu dalil) dan bahaya
tasyabbuh (menyerupai orang kafir). Kedua hal ini adalah bencana terbesar. Inilah hal yang membuat Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi takjub (heran). Sehinga keluarkanlah perkataan dari lisan beliau, “
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Itulah yang biasa dilakukan oleh beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ketika merasa keheranan atau ingin mengingkari sesuatu, keluarlah
ucapan takbir (Allahu Akbar) dari lisan beliau. Atau biasa beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan (dalam kondisi demikian) ucapan ‘
Subhanallah’ sambil beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi bacaan dzikir ini.
(Dalam lanjutan hadits Abu Waqid ini) :
إِنَّهَا لَسُنَنٌ
. Yang dimaksud dengan kalimat ini yaitu ini adalah cara yang dijalani
manusia dan sebagian mereka mengikuti yang lainnya (ringkasnya ini
adalah tradisi,
pen). Sebab yang bisa mengantarkan mereka
melakukan seperti ini (yaitu mengambil berkah dari pohon) adalah karena
mengikuti jejak orang-orang terdahulu dan tasyabbuh (menyerupai)
orang-orang musyrik.
(Dalam lanjutan hadits ini, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda), “Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Perkataan kalian ini seperti halnya perkataan Bani Israel kepada Musa,
( اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةً قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ )
“
Jadikanlah
untuk kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata
sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138).
(Kisah mengenai ayat ini) : Dulu tatkala Nabi Musa
‘alaihis salam
bersama dengan Bani Israel telah mencapai lautan dan Allah
menenggelamkan musuh-Nya di laut tersebut sedangkan mereka memperhatikan
hal ini, lalu Musa dan kaumnya melewati kaum musyrikin yang beri’tikaf
pada berhala-berhala yang mereka miliki. Lalu kaumnya tersebut berkata
kepada beliau
‘alaihis salam (yang artinya), “
Jadikanlah untuk
kami sesembahan seperti sesembahan mereka. Kemudian Musa berkata
sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil (bodoh)”.(QS. Al A’rof [7] : 138).
Namun, Nabi Musa
‘alaihis salam menolak permintaan ini dan berkata :
( إِنَّ هَؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ )
“
Sesungguhnya
kepercayaan yang dianut mereka (yang penuh dengan kebatilan) itu akan
dihancurkan dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS. Al
A’rof [7] : 139 ). Mengapa menjadi batal apa yang selalu mereka
kerjakan? Karena yang mereka lakukan adalah kesyirikan.
Dalam ayat selajutnya, Allah
Ta’ala berfirman,
قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“
Musa
menjawab: “Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain daripada
Allah? Padahal Dialah yang telah melebihkan kalian atas segala umat”. (QS. Al A’rof [7] : 140 ).
Lihatlah sikap Nabi Musa
‘alaihis salam. Beliau
‘alaihis salam mengingkari kaumnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi kita Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam yang
mengingkari para sahabat. Akan tetapi, kaumnya Musa dan sahabat Nabi
tidaklah berbuat syirik. Bani Israel tatkala mengatakan perkataan
semacam ini, mereka tidak berbuat syirik karena belum melakukkannya,
begitu pula dengan para sahabat Nabi. Seandainya para sahabat mengambil
berkah dari Dzatu Anwath pasti mereka sudah dinyatakan berbuat syirik.
Akan tetapi, Allah
Ta’ala telah melindungi mereka. Tatkala Nabi
mereka melarang untuk berbuat demikian, mereka pun enggan melakukannya.
Mereka bisa mengatakan seperti ini juga karena kebodohan. Mereka
tidaklah mengucapkan seperti ini dengan sengaja. Setelah mereka
mengetahui bahwa mengambil berkah dari Dzatu Anwath adalah kesyirikan,
mereka pun enggan melakukan hal itu. Seandainya mereka melakukan hal
ini, tentu mereka telah berbuat syirik kepada Allah.
Inti
penjelasan dari ayat tadi (Al A’rof : 138-140) adalah bahwasanya
orang-orang musyrik juga ada yang menyembah pepohonan. Orang-orang
musyrik ini menjadikan
Dzatu Anwath (untuk diambil berkahnya).
Para sahabat -yang belum kokoh ilmu dalam hatinya itu- berusaha untuk
menyerupai orang-orang musyrik tersebut. Kalau bukan karena perlindungan
Allah dan Rasul-Nya, tentu mereka (para sahabat) akan terperosok dalam
jurang kebinasaan (yaitu kesyirikan).
Inti penjelasan dari hadits
Abu Waqid Al Laitsi ini adalah ingin menjelaskan bahwa ada orang-orang
yang mencari berkah dari pohon dan ber’itikaf di sekelilingnya. Makna
beri’tikaf adalah berdiam diri di suatu tempat pada waktu tertentu dalam
rangka mendekatkan diri pada Allah. Atau ringkasnya, i’tikaf adalah
berdiam diri di suatu tempat.
Dalam hadits Abu Waqid ini terdapat berbagai faedah penting, di antaranya:
[Pertama] Hadits
ini
menerangkan mengenai bahaya bodoh terhadap tauhid. Barangsiapa yang
bodoh dalam masalah tauhid sangat mungkin dia terjatuh dalam kesyirikan
sedangkan ia tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, wajib bagi kita
mempelajari tauhid dan juga kebalikannya yaitu syirik. Hendaklah kita
mempelajari hal ini sampai kita berada di atas bashiroh (ilmu) bukan
berada dalam kebodohan. Lebih-lebih berbahaya lagi jika seseorang tidak
mengetahui tauhid dan syirik dengan benar. Boleh jadi dia melakukan
suatu perbuatan (padahal itu syirik) namun dia menyangka itu benar
karena sebab kebodohannya. Inilah yang menunjukkan bahaya kebodohan,
lebih-lebih lagi jika bodoh dalam masalah aqidah.
[Kedua] Dalam
hadits ini juga menunjukkan bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang-orang
musyrik. Sesungguhnya menyerupai mereka (dalam perkataan atau perbuatan)
dalam mengantarkan seseorang dalam kesyirikan. Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“
Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka.”
[8]
Hendaklah kita tidak menyerupai orang musyrik (baik dalam perkataan maupun perbuatan)
[Ketiga] Sesungguhnya
mengambil berkah dari bebatuan, pepohonan, atau dari bangunan adalah
suatu kesyirikan walaupun dinamai dengan nama selain syirik. Karena
(ingatlah bahwa) mencari berkah dari selain Allah dari bebatuan,
pepohonan ataupun kuburan, ini semua adalah kesyirikan walaupun dinamai
dengan nama selain syirik.
—
Oleh:
Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel
Rumaysho.Com
Ikuti status kami dengan memfollow
FB Muhammad Abduh Tuasikal,
Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat, Twitter
@RumayshoCom
—
Telah hadir buku terbaru: Buku Mengenal Bid’ah Lebih Dekat (harga:
Rp.13.000,-), karya Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Kirimkan format
pemesanan via sms ke no 0852 0017 1222 atau via PIN BB 2AF1727A: Buku
Bid’ah#Nama#Alamat#no HP. Nanti akan diberitahu biaya dan rekening untuk
transfer.
[1]
Nakiroh adalah istilah dalam ilmu nahwu yaitu kata yang belum jelas
penunjukkannya. Dan menurut kaedah ushul fiqih bahwa nakiroh yang berada
dalam konteks larangan atau peniadaan menunjukkan keumuman. [pen]
[2] Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits Abdullah bin Umar
radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَتَحَرَّى أَحَدُكُمْ فَيُصَلِّى عِنْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَلاَ عِنْدَ غُرُوبِهَا
“
Janganlah seseorang di antara kalian bersengaja shalat pada saat matahari terbit dan tenggelam.”
(HR. Bukhari no. 585 dalam Al Mawaqit Bab Janganlah bersengaja shalat
pada saat tenggelamnya matahari. Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 828
dalam Al Masajid Bab waktu-waktu terlarang shalat)
[3]
HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Jarir dan Al Hakim. Al Hakim berkata, “Hadits
ini shohih sesuai syarat Muslim” dan perkataan beliau ini disetujui
oleh Adz Dzahabi. Lihat
Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadi’i
rahimahullah, hal. 178, Darul Haromain-Kairo. [pen]
[4] Mengambil wasilah melalui para wali yang telah mati. [pen]
[5] Hakekat
lata adalah kuburan, ‘
uzza adalah pohon sedangkan
manat adalah batu. Lihat
Iqtidho’ Shirothil Mustaqim 2/156-157, ta’liq Dr. Nashr bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql. Dan perhatikanlah penjelasan Syaikh Fauzan
hafizhohullah selanjutnya. [pen]
[6] Lihat
Zaadul Ma’ad, 4/ 413-415
[7]
HR. Tirmidzi no. 2180 dalam ‘Al Fitan’, Bab ‘Sungguh kalian akan
mengikuti jejak (kebiasaan) umat-umat sebelum kalian’. Tirmidzi
mengatakan bahwa hadits ini hasan shohih. Juga diriwayatkan dari Ahmad
(5/218), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah no. 76, Ibnu Hibban dalam kitab
shohihnya (no. 6702 – Al Ihsan). Ibnu Hajar menshohihkan hadits ini
sebagaimana dalam
Al Ishobah, 4/216.
[Tambahan pen] : Untuk membantu penjelasan Syaikh Fauzan selanjutnya, kami bawakan hadits ini secara lengkap,
عَنْ
أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ
لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا
يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ
أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ
هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ
آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ
قَبْلَكُمْ »
Dari Abu Waqid Al Laitsi mengatakan bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala pergi ke Khoibar, beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam
melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin yang dinamakan Dzatu Anwath.
Orang-orang musyrik biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di
pohon tersebut. Lalu (di antara sahabat yang baru masuk Islam)
mengatakan (kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam), “
Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana milik orang-orang musyrik.” Lalu Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “
Subhanallah
(Maha Suci Allah dari tingkah kalian yang semacam ini). Ini sama halnya
dengan perkataan kaum Musa kepada beliau, ‘Buatkanlah untuk kami
sesembahan sebagaimana yang ada pada mereka’. Demi jiwaku yang berada
dalam genggaman-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak (kebiasaan)
umat-umat sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi no. 2180. Syaikh Al Albani dalam
Shohih wa Dho’if Sunan Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini
shohih)
Sedangkan dalam riwayat Ahmad disebutkan,
إِنَّهَا لَسُنَنٌ لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ سُنَّةً سُنَّةً
“
Sungguh
ini adalah tradisi (kebiasaan umat terdahulu). Sungguh kalian akan
mengikuti jejak umat sebelum kalian perhalan demi perhalan.” (HR. Ahmad. Syaikh Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini
shohih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
[8]
HR. Abu Dawud no. 4031 dalam Al Libas (pakaian), Bab ‘Pakaian syuhroh
(ketenaran). Juga diriwayatkan oleh Ahmad (2/50) dari hadits Abdullah
bin Umar
radhiyallahu ‘anhu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
berkatab bahwa hadits ini sanadnya jayyid/bagus. (Iqtidho’ Ash Shirothol
Mustaqim, hal. 236-239 ). Al Hafidz Al ‘Iroqi berkata dalam
Takhrij Al Ihya’ (2/65) bahwa sanad hadit ini shohih. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam
Fathul Bari (6/98) bahwa sanad hadits ini hasan.