Wednesday, May 29, 2013

Puji Raja Berlebihan. Dikritik Ulama

Puji Raja Abdullah Berlebihan, Koran Terbitan Saudi Dikecam
RIYADH, KOMPAS.com — Sebuah harian terbitan Arab Saudi mendapat kritik keras dari para ulama negeri itu terkait judul berita utamanya.

Dalam edisi Senin (20/5/2013), harian Al Jazeera menulis judul yang berisi pujian untuk Raja Abdullah.

"Raja Abdullah, yang memiliki visi mendalam, sikap terpuji, dan bisa melihat masa lampau, kini serta masa datang," demikian harian Al Jazeera.

Namun, puja-puji harian ini untuk Raja Abdullah justru mendulang kritik ulama setempat.

"Ini penghujatan," kata Syaikh Saud Al Shareem, Imam Masjid Besar Mekah.

Syaikh Saud mengatakan, dalam Al Quran, hanya Allah yang memiliki kemampuan melihat masa depan.

"Anda tak bisa memberikan desrkripsi itu untuk manusia mana pun. Pujian berlebihan bisa mengakibatkan kesombongan, kemunafikan, dan membutakan diri dari kebenaran," ujar Syaikh Saud.

Ulama lain bahkan bereaksi lebih keras dan menuntut hukuman untuk harian tersebut dan menyerukan warga untuk memboikot Al Jazeera.

Sementara ulama lain mengusulkan agar wartawan yang menulis puja-puji untuk Raja Abdullah itu tidak diizinkan lagi menulis.

"Setiap hari, media semacam ini menunjukkan arogansi para penulis saat berkaitan dengan Islam dan semangat agama ini," kata Syaikh Riad Al Masimeri, pakar studi Islam di Universitas Islam Mohammed bin Saud.

"Jika pemimpin kami tidak menghukum penulis seperti ini, masyarakat tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan dilakukan para pemuda dalam mempertahankan agama dari penghinaan semacam ini," kata Ibrahim Bukhari, anggota Masyarakat Islam Saudi.

Sementara Syaikh Saleh al Fauzan, anggota Majelis Ulama Tinggi yang ditunjuk Raja Abdullah, berkomentar lebih lunak.

"Apa yang ditulis koran itu adalah sebuah pujian berlebihan. Raja sendiri tidak setuju dengan pujian itu karena beliau tidak bisa melihat masa depan. Hanya Tuhan yang bisa melihat masa depan," ujar Syaikh Saleh.

Hidup di Saudi : kok ada bau kemenyan?

Oleh: Umm Mariam 

Dupa oud,pict arabnews.com

Tinggal di Saudi memang penuh warna warni, dari tradisi adat istiadat sampai kebiasaan. Salah satu kebiasaan yang membuat saya heran dan bertanya tanya adalah bau kemenyan yang kadang tercium saat saya main ke pusat perbelanjaan atau berkunjung ke rumah rekan yang asli Saudi,bau menyengat ini kadang cukup menganggu juga membuat saya bertanya tanya “ihhh ada bau kemenyan…apakah ada aroma magis ditempat yang saya kunjungi ini atau dunia lain barangkali? tapi kok rasanya tidak mungkin ya “

Jadi apakah aroma wangi  kemenyan yang saya cium tersebut? dan apa tujuannya? benarkah ada aroma magis dan “dunia lain disana? ternyata aroma yang cium adalah aroma  oud dan aroma ini adalah aroma yang normal dan biasa tercium di Saudi. Oud memiliki aroma yang unik dan khas,di Saudi jika oud ini dibakar pada alat berupa dupa maka akan terbentuk asap yang biasanya disebut Bakhoor. Saat saya mengunjungi teman wanita saya yang asli Saudi  bakhoor biasa dibuat untuk menghormati para tamu yang kebetulan berkunjung biasanya dupa berasap itu akan diedarkan dari satu tamu ke tamu yang lain sehingga aroma bakhoor tadi bisa tercium,karena aromanya yang kuat banyak juga para wanita Saudi yang menggunakan oud pada pakaian mereka atau ,mengusapkannya pada telapak tangan.pembakaran oud sampai menimbulkan asap bakhoor tidak ada kaitannya dengan aroma magis dan dunia yang lain di Saudi jadi hanya kebiasaan setempat saja. Oud biasanya dijual dalam bentuk kulit kayu karena berasal dari pohon agaarwood yang bisa ditemui di India,Yaman,Thailand sampai Indonesia tetapi ada juga yang dijual dalam bentuk minyak.

Di Saudi oud yang terkenal adalah Arabian oud dan wangi aromanyapun tidak hanya kemenyan saja tapi sudah ada aroma musk,buah buahan,sampai wangi bunga melati, oud juga ada yang dikemas dalam bentuk minyak dan semakin baik kualitasnya biasanya harganya semakin mahal, sekitar 100 sr sampai 6.000 sr.Biasanya menjelang lebaran dan saat seserahan lamaran oud ini banyak dicari untuk diberikan sebagai hadiah yang dianggap mewah di Saudi.

Dirumah kami di Saudi kami memiliki oud berbentuk minyak dengan aroma white musk dan pengharum ruangan dengan aroma bakhoor yang seperti aroma  kemenyan,biasanya saya semprotkan pengharum ruangan ini saat saya menerima tamu entah asli Saudi ataupn non Saudi untuk menghormati mereka,sedangkan oud dalam bentuk minyak sering suami saya bawa ke masjid untuk dioleskann pada jamaah yang kebetulan menginginkannya. Kami tidak pernah membakar oud dalam bentuk kayu karena selain tidak punya dupa-nya,asap bakhoor tadi bisa membangunkan detektor asap dirumah kami,dan jika detektor asap itu berbunyi duhhh repot tetangga bisa berdatangan….ada apa ???? dan ternyata tidak ada yang perlu dikawatirkan ohhh cuma false alarm…wah tidak lucu khan…

salam hangat selalu,
Umm mariam,KSA

Monday, May 27, 2013

Tauhid Bermanfaat Bagi Orang Kafir

Manfaat tauhid bagi orang kafir dan beriman1. Tauhid Sebagai Tempat Berlindung

Tauhid bisa menjadi tempat berlindung bagi musuh-musuh Allah sekaligus menjadi tempat berlindung bagi para pembela-Nya. Adapun tempat berlindung bagi musuh-musuh-Nya, yakni tauhid dapat menyelamatkan orang-orang musyrik dari segala kesulitan dan malapetaka dunia [saja]. Di dalam satu ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ
“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (QS al-Ankabuut: 65)

Adapun perlindungan bagi para pembela-Nya, yakni tauhid bisa menyelamatkan orang yang beriman dari segala kesulitan dan malapetaka dunia dan akhirat.

Oleh karena itu Nabi Yunus berlindung dengan tauhid hingga akhirnya Allah menyelamatkan dirinya ‘alaihi salam dari kegelapan (perut ikan) yang meliputinya. [1] Demikian pula yang dilakukan oleh kaum beriman pengikut para Rasul. Mereka diselamatkan dari kekejaman orang-orang musyrik di dunia dan dari adzab yang disiapkan untuk kaum musyrik tersebut di akhirat. Akan tetapi tatkala Fir’aun mencoba berlindung kepada tauhid ketika ia sudah melihat kebinasaan (akhir hidup)nya dan yakin akan tenggelam, tauhid itu tidak memberikan manfaat baginya.[2] Sebab iman yang baru muncul pada saat adzab (ajal) sudah diperlihatkan tidak akan diterima.

2. Tauhid Adalah Jalan Keselamatan

Demikianlah sunnatullah yang ditetapkan bagi para hamba-Nya. Tidak ada senjata yang lebih ampuh untuk menolak kesulitan-kesulitan di dunia selain tauhid. Oleh karena itulah, doa ketika dilanda kesedihan mengandung tauhid. Salah satunya ialah doa yang dimohonkan oleh Nabi Yunus (Dzun Nuun). Apabila doa tersebut dibaca oleh orang yang sedang kesulitan niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan kesulitan itu dikarenakan tauhidullah yang terkandung di dalamnya.

Jadi tidak ada sesuatu yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesulitan besar selain kemusyrikan. Sebaliknya, tidak ada sesuatu yang dapat menyelamatkan seseorang dari kesulitan besar melainkan tauhid saja. Tauhid adalah tempat berlindung bagi semua makhluk sekaligus benteng dan penolong mereka.
***
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Fawaidul Fawaid Bab Manfaat Tauhid di Dunia dan di Akhirat, Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2012

[1] Dalam Surat al-Anbiya ayat 87 Nabi Yunus berdoa dengan menyebutkan tauhid, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”

[2] Riwayat ini mengacu pada firman Allah: “Dan Kami memungkinkan Bani Israel melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.  Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

http://alhilyahblog.wordpress.com/2013/05/18/tauhid-bermanfaat-bagi-orang-kafir/

Arab Saudi Kirim 515 Ton Kurma untuk Anak-anak Bangladesh

Dhaka, Seruu.com - Kerajaan Arab Saudi telah mengirim 515 ton kurma ke Program Pangan Dunia PBB (WFP) guna mendukung upaya terbesar badan kemanusiaan itu untuk memberi makan jutaan anak sekolah di Bangladesh, kata satu pernyataan, Ahad.

Menurut pernyataan tersebut, sumbangan kurma Arab Saudi --yang diserahkan kepada WFP pekan lalu di Dhaka-- dibagikan kepada 88.000 anak di permukiman yang berpenghasilan rendah di Ibu Kota Bangladesh tersebut dan daerah paling miskin, Kabupaten Satkhir, sekitar 240 kilometer di barat-daya Dhaka.

Di dalam pernyataan tersebut, WFP mengatakan kurma itu akan melengkapi biskuit untuk memberi dukungan gizi tambahan buat anak-anak tersebut dan keluarga mereka melalui pembagian yang dibawa pulang.

WFP mengatakan Program Pemberian Makan Sekolah menjangkau sebanyak 2,5 juta anak pra-sekolah dan sekolah dasar di negeri itu, demikian laporan Xinhua. Semua murid tersebut menerima satu paket biskuit yang kaya akan gizi setiap hari, yang mendorong orang tua miskin untuk membuat anak mereka tetap bersekolah, membantu meringankan kelaparan jangka pendek dan memungkinkan anak-anak bisa lebih baik memusatkan perhatian pada pelajaran, katanya.

Secara keseluruhan, menurut pernyataan itu, Arab Saudi telah memberi sumbangan lebih dari 4.000 ton meter kurma kepada WFP serta menanggapi permintaan dana bagi daerah yang dilanda bencana di seluruh dunia.

WFP telah menerima lebih dari satu miliar dolar AS dari Arab Saudi guna memerangi kelaparan sejak organisasi tersebut berdiri pada 1961, katanya. [ant]

Memahami Tauhid Asma wa Shifat

Oleh Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.

Segala puji bagi Alloh, Tuhan alam semesta. Sholawat dan salam untuk nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia. Semoga sholawat dan salam juga terlimpahkan untuk keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk mereka sampai dengan hari kiamat.

Para pembaca yang dirahmati Alloh, pembahasan kita pada kesempatan ini ialah seputar kaidah memahami tauhid asma’ wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat Alloh).

Salah satu tujuan diutusnya para rosul dan nabi adalah untuk mengenalkan manusia kepada Alloh melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sebab itu, tidak sedikit ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nama-nama Alloh yang indah dan sifat-sifat Alloh yang mulia.

Memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh sangat penting untuk meningkatkan keimanan kepada Alloh agar mencapai tingkat ihsan dalam beribadah kepada Alloh.

Nama-nama dan sif at-sifat Alloh harus dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah yang dijelaskan para ulama Ahlus Sunnah yang berdasarkan al-Qur’an dan hadits-hadits shohih serta selamat dari dua bahaya: ta’thil (mengingkari sifat-sifat Alloh) dan tasybih (menyerupakan Alloh dengan makhluk).

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Maka tidak diragukan lagi bahwa berilmu tentang nama dan sifat-sifat Alloh serta perbuatan-Nya adalah ilmu yang seagung-agung-nya dan semulia-mulianya. Perbandingannya dengan ilmu-ilmu lain sebagaimana perbandingan antara Alloh itu sendiri dengan yang lain-Nya.”[1]
Berikut ini akan kami jelaskan tentang kaidah-kaidah umum dalam memahami tauhid asma’ wa shifat sebagaimana yang disebutkan para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka[2]:

KAIDAH   PERTAMA:
Beriman (mempercayai) segala nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al-Qur’an maupun dalam sunnah (hadits-hadits shohih).
Banyak sekali ayat maupun hadits Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kita beriman secara mutlak dengan segala isi al-Qur’an baik yang berbentuk hukum-hukum maupun kabar tentang hal yang telah berlalu dan yang akan datang serta berita tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh. Alloh menegaskan hal ini dalam firman-Nya:2_85
…. Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidnpan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Alloh tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. al-Baqoroh [2]: 85)

Kita tidak boleh memilah-milah dalam beriman kepada isi al-Qur’an. Beriman dengan ayat-ayat menerangkan hukum saja, tidak mengimani ayat-ayat yang menerangkan nama dan sifat-sifat Alloh, atau mengubah dan menakwilkan maksud ayat-ayat tersebut. Semua isi al-Qur’an wajib kita imani dan kita yakini secara utuh, tanpa memperbedakannya sedikit pun. Tidak boleh membeda-bedakan isi al-Qur’an antara ayat-ayat hukum dengan ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Alloh. Jika hal itu kita lakukan maka kita telah terjerumus ke dalam ancaman kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat akan dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

Demikian pula halnya, kita wajib beriman dengan segala apa yang disampaikan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau baik yang berbentuk hukum-hukum maupun kabar (berita) tentang hal yang telah berlalu dan yang akan datang serta berita tentang nama dan sifat-sifat Alloh. Alloh berfirman:4_150-152
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Alloh dan rosul-rosul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Alloh dan rosul-rosul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang ypng kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan mtuk orang-orang ycmg kafir itu siksaan ycmg menghinakan (QS. an-Nisa’ [4]: 150-151)

Dilarang memperbedakan al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al-Qur’an saja tetapi tidak mempercayai yang terdapat dalam hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya, al-Qur’an dan hadits, adalah wahyu yang diturunkan Alloh kepada Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Alloh tegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm [53]: 3-4)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ

…. Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya. (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Demikian pula Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam sabda beliau:
Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan yang seumpama dengannya, jangan sampai salah seorang kalian berkata sambil duduk di atas sofanya dalam keadaan kenyang: ‘Cukup kalian berpegang dengan d-Qur’an ini saja.’” (HR. Abu Dawud dan dishohihkan Syaikh al-Albani)

Dari Abu Rofi’, bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidak ingin mendapati salah seorang kalian duduk bersandar di atas sofanya lalu disampaikan kepadanya tentang sebuah urusan dariku baik sesuatu yang aku perintahkan atau sesuatu yang aku larang maka ia berkata: “Kami tidak tahu, kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dalam kitab Alloh. ” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dishohihkan Syaikh al-Albani)

Begitu pula, tidak boleh membeda-bedakan hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh menerima hadits-hadits yang mutawatir[3] saja tetapi.tidak menerima hadits-hadits ahad[4] atau menerima hadits ahad dalam persoalan hukum saja tidak dalam masalah aqidah. Cara-cara seperti ini tidak pernah dilakukan generasi teladan umat ini: para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in serta para ulama terkemuka setelah mereka.[5]

Membeda-bedakan dalam menerima hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mutawatir dan ahad sama dengan tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh dan sempurna. Para ulama ahli hadits terkemuka tidak pernah membedakan antara hadits ahad dan hadits mutawati dalam segi penerimaan dan pengamalan. Mereka hanya membedakan dalam hal pengkajian dari segi kekuatan sanad. Tatkala terdapat dua hadits yang kontradiktif dalam konteksnya maka hadits mutawatir lebih valid (sah) daripada hadits ahad jika kandungan kedua hadits tersebut tidak bisa dicari titik temunya. Namun, perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menerangkan sifat-sifat Alloh hampir tidak termasuk dalam kategori tersebut. Kesimpulannya, hadits-hadits sifat tidak ada yang kotradiktif jika dalam memahaminya merujuk kepada pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Termasuk dari penjabaran kaidah di atas, penegasan tentang sumber yang menjadi pegangan kita dalam memahami dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Alloh hanyalah perkataan Alloh (al-Qur’an) dan perkataan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits-hadits yang shohih). Yang lebih mengetahui tentang Alloh adalah Alloh sendiri. Karenanya, segala nama dan sifat yang ditetapkan Alloh untuk diri-Nya wajib kita percayai dan tidak boleh kita selewengkan pengertiannya. Orang yang mengingkari atau menyelewengkan pengertian dari sifat-sif at Alloh seolah-olah telah mengaku lebih tahu daripada Alloh. Oleh sebab itu, Alloh sebutkan dalam firman-Nya:

قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ

…. Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Alloh...?” (QS. al-Baqoroh [2]: 140)
Kemudian, di kalangan manusia, yang lebih mengetahui tentang Alloh adalah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau sebutkan:
“Sesungguhnya yang paling bertakwa di antara kalian dan paling mengetahui tentang Alloh adalah aku.” (HR. al-Bukhori)

Karena itu, tidak boleh berpegang pada akal semata dalam menetapkan dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh apalagi kalau menolak dengan akal nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah. Akal manusia memiliki kemampuan yang terbatas sebagaimana panca indra yang lainnya. Betapa banyak dalam kehidupan kita sehari-hari yang tidak terjangkau oleh akal manusia, seperti hakikat roh (nyawa) manusia itu sendiri padahal ia adalah bagian yang terdekat dengan manusia.

Sebagian ulama memberikan perumpamaan akal dengan wahyu bagaikan mata dengan cahaya. Sebagaimana mata tidak dapat melihat sesuatu kecuali ketika ada cahaya baik cahaya matahari pada siang hari atau cahaya lampu pada malam hari, akal tidak akan bisa menentukan sesuatu terutama dalam hal yang ghaib kecuali jika ada penjelasan dari wahyu.

Oleh karenanya, akal kita wajib tunduk dan menerima terhadap segala apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah baik berupa hukum-hukum maupun tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh sebagaimana diwajibkannya hati dan anggota badan kita untuk tunduk kepada segala hukum al-Qur’an dan sunnah. Demikian pula, tidak boleh menjadikan teori-teori filsafat sebagai dasar dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat al-Qur’an dan sunnah. Rujukan kita adalah pemahaman sahabat dan para ulama salaf dalam memahami al-Qur’an dan sunnah secara umum dan dalam memahami nama-nama dan sifat-sif at Alloh secara khusus.

KAIDAH KEDUA:
Menyucikan Alloh dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya
Dalam memahami nama dan sifat-sifat Alloh kita tidak boleh menyerupakan sifat Alloh dengan sifat para makhluk. Sifat Alloh adalah sifat yang mahasempurna sedangkan sifat makhluk adalah sifat yang memiliki kekurangan.

Orang yang menyerupakan sifat Alloh dengan sifat makhluk berarti telah menyerupakan Alloh dengan makhluk. Barang siapa yang menyerupakan Alloh dengan makhluk berarti telah kafir kepada Alloh. Mana mungkin Alloh bisa disamakan dengan makhluk. Sifat-sifat makhluk memiliki cacat dan kekurangan dalam berbagai segi sedangkan Alloh Mahasuci dari segala kekurangan. Alloh telah menegaskan dalam firman-Nya bahwa tiada suatu makhluk pun yang menyerupai-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

…. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. asy-Syuro [42]: 11)

فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh. Sesungguhnya Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl [16]: 74)

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Alloh). (QS. al-Ikhlas [112]: 4)
Dalam ayat-ayat di atas ditegaskan bahwa Alloh tidak serupa dengan makhluk-Nya. Sebaliknya, tidak satu makhluk pun yang mirip atau menyerupai Alloh baik dari segi zat dan nama maupun dari segi sifat dan perbuatan.

Sebagaimana zat Alloh tidak sama dengan zat makhluk, sifat Alloh tidak sama dengan sifat makhluk karena setiap sifat keadaannya sesuai dengan zat masing-masing. Kesamaan dalam penyebutan (penamaan) sifat tidaklah mesti sama pula dalam bentuk makna dan hakikat sifat tersebut.

Dalam kehidupan kita banyak sekali sifat yang sama namanya tetapi berbeda hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing. Sebagai contoh, manusia memiliki sifat melihat, kucing juga. Akan tetapi, penglihatan manusia tidak sama dengan kucing. Manusia tidak bisa melihat pada waktu malam tanpa bantuan alat penerang (misalnya senter) sedangkan kucing bisa berjalan pada malam hari meskipun tanpa alat penerang.

Jika sifat sesama makhluk saja tidak sama dalam hakikat kualitasnya meski sama namanya— yaitu penglihatan— terlebih lagi perbedaan antara sifat Alloh Yang Mahasempurna dengan sifat makhluk yang serba kurang. Amat besar perbedaan antara sif at-Nya dengan sifat makhluk walau penamaannya sama.

Sebab itu, ketika sifat Alloh disebut jangan dipahami dengan menggambarkannya seperti sifat makhluk. Alloh memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagvmgan dan kebesaran Alloh, tidak seperti sifat-sifat makhluk.

Alloh bersifat hidup (al-Hayyu) makhluk juga bersifat hidup, tetapi hidup Alloh tidak sama dengan hidup makhluk. Hidup Alloh tidak butuh makan dan minum sedang hidup rnakhluk butuh makan dan minum serta memiliki berbagai kekurangan seperti sakit, capek, letih, haus, lapar, dan seterusnya. Hidup Alloh tidak diawali dengan ketiadaan (‘adam) dan tidak pula diakhiri dengan kematian (al-fana’) sedang hidup makhluk diawali dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kematian. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Aku berlindnng dengan keperkasaan Engkau yang tiada berhak disembah kecuali Engkau, Zat yang tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati. ” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau katakan:
“Ya Alloh Engkaulah yang pertama tiada sesuatu pun sebelum Engkau dan Engkaulah yang terakhir tiada sesuatu pun setelah Engkau.” (HR. Muslim)

Hidup Alloh sangat sempurna dari segala segi sedang hidup makhluk penuh dengan berbagai kekurangan. Alloh adalah Zat Yang Mahahidup Sempurna sebagaimana Alloh katakan:
Alloh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak pernah ditimpa rasa kantuk dan tidak pula tidur…. (QS. al-Baqoroh [2]: 255)

Begitulah kita mengimani semua sifat Alloh. Tidak boleh menyerupakan Alloh dengan makhluk. Juga, tidak boleh mengingkari nama-nama dan sifat-sif at Alloh yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya atau Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan dalam hadits-hadits beliau. Landasannya ialah perkataan Alloh:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

…. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Dalam ayat di atas ditegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Alloh. Sebagian orang memahami ayat tersebut bahwa Alloh tidak memiliki sifat-sifat karena ada kesamaan dalam penamaan dengan sifat-sifat makhluk. Anggapan tersebut bertentangan dengan penggalan akhir ayat tersebut, Alloh menyatakan: “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Memang, manusia juga mendengar dan melihat sebagaimana Alloh katakan:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur ycmg Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. al-Insan [76]: 2)

Akan tetapi, penglihatan manusia amat terbatas, tidak sebanding dengan kemahasempurnaan penglihatan Alloh.

Dari sini dapat kita pahami bahwa Alloh memiliki sifat-sifat sempurna. Sifat-sifat tersebut terdapat pada sebagian makhluk namun tidak sama kualitasnya dengan sifat-sifat Alloh. Seandainya yang dimaksud dalam ayat yang lalu (QS. asy-Syuro [42]: 11) menafikan sifat tentu konteks kalimatnya tidak sebagaimana tersebut di atas, niscaya Alloh langsung nafikan bahwa Dia tidak memiliki sifat. Jadi, yang dinafikan bukan sifat-Nya melainkan kesamaan hakikat sifat meskipun penamaan sifat itu sama dengan sifat makhluk.

KAIDAH KETIGA:
Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Alloh tersebut
Alloh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat yang bermacam-macam. Itulah yang Alloh sebutkan dalam kitab-Nya yang mulia. Namun, Alloh tidak menyebutkan bentuk hakikat dari sifat-Nya. Sebab itu, harus kita yakini bahwa Alloh memiliki sifat-sifat walaupun kita tidak mengetahui bentuk hakikat sifat Alloh karena meyakini keberadaan sesuatu meskipun tidak mengetahui bentuk hakikatnya tidak mengurangi nilai keyakinan kita, sebagaimana kita meyakini adanya roh (nyawa) tetapi tidak mengetahui tentang hakikat roh tersebut.

Kita tidak pernah ragu tentang adanya roh meskipun tidak mengetahui hakikatnya. Demikian pula, kita yakin akan adanya surga serta segala bentuk nikmat yang terdapat di dalamnya sekalipun kita belum pernah melihatnya. Begitu pula, kita meyakini Alloh memiliki zat dan sifat tetapi kita tidak mengetahui bentuk zat dan sifat-Nya itu. Alloh pun tidak mewajibkan atas kita untuk mengetahui bentuk hakikat dari sifat-Nya tersebut.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh berambisi untuk mengetahui hakikat dari sifat-sifat Alloh tersebut. Bila hal itu kita lakukan berarti kita melampaui batas dan ketentuan yang Alloh wajibkan atas kita. Rosul ‘alaihish sholaatu was salaam tidak pernah menyuruh kita untuk mengetahui hakikat sifat-sifat Alloh. Selain itu, akal manusia tidak akan bisa mengetahui hakikat dari sifat Alloh. Jangankan hakikat sifat Alloh, sesuatu yang amat dekat dengan manusia itu sendiri —yaitu roh—, akal tidak mampu mengetahui hakikatnya. Adapun untuk mengetahui bentuk hakikat sebuah sifat dapat dilakukan dengan tiga hal:
1.  Melihat zatnya
Alloh tidak dapat kita lihat di dunia ini. Karena itu, sifat Alloh tidak dapat kita ketahui bentuknya. Dengan kata lain, Alloh itu ghaib dan demikian pulalah sifat-Nya.
2.  Ada sesuatu yang mirip dengannya
Tidak ada sesuatu pun yang mirip dengan Alloh sehingga tidak mungkin Alloh (beserta segenap sifat-Nya) kita qiyas-kan (bandingkan) dengan sifat makhluk.
3.  Ada khobar shodiq (berita yang akurat)
Wahyu dari Alloh yaitu al-Qur’an maupun hadits-hadits hanya menyebutkan bahwa Alloh memiliki sifat tetapi tidak menerangkan hakikat bentuk sifat Alloh tersebut.
Alloh mengharamkan atas kita mengatakan sesuatu yang ilmunya tidak kita miliki. Firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Isro’ [17]: 36)

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembu-nyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (menghammkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’rof [7]: 33)

Haram menggambarkan bentuk hakikat sifat-sifat Alloh dalam bentuk tulisan dan lisan atau mengkhayalkannya dalam hati kita. Bagaimana pun rupa dan bentuk yang tergambar dalam benak kita tentang bentuk hakikat sifat Alloh, sesungguhnya Alloh jauh lebih indah, lebih besar, dan lebih sempurna dari gambaran tersebut. Sesungguhnya kesempurnaan Alloh dan kesempurnaan sifat-Nya sama sekali tidak akan tergambarkan rupanya dengan pemikiran kita.

Apakah ini berarti sifat-sifat Alloh itu tidak memiliki kaifiat (bentuk)? Bukan begitu, sifat-sifat Alloh itu ada kaifiat (bentuk)nya tetapi yang mengetahuinya hanyalah Alloh semata sedangkan makhluk tidak. Jadi, bukan kaifiatnya yang dinafikan melainkan ilmu makhluk tentang kaifiat tersebut.

Ketidaktahuan makhluk tentang bentuk hakikat sifat Alloh bukan merupakan sebuah kekurangan dalam meyakini atau mempercayai sifat Alloh karena banyak di antara makhluk yang hakikatnya tidak diketahui manusia namun diyakini keberadaannya. Misalnya, keberadaan roh, malaikat, jin, lauh mahfuzh, surga dan neraka, dan lain-lain.

Demikian bahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta segenap kaum muslimin. Wallohu A’lam.[]
Sumber: majalah al Furqon, no. 89, hal.25-29, 55 rubrik Aqidah

[1] Miftah Darus Sa’adah: 1/86
[2] Pembahasan ini bisa disimak dalam kitab at-Tadmuriyyah dan Fatawa td-Hamawiyyah kar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Manhaj wa Dirosat li Ayat Asma’ wa Shifat kar. Syaikh Muhammad Amin Syanqithi, Mu’taqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah Fi Tauhid Asma’ wa Shifat kar. Prof. Dr. Muhammad bin Kholifah at-Tamimi.
[3] Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh para rowi hadits yang amat banyak dan tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan.
[4] Hadits ahad adalah hadits yang tidak sampai jumlah rowinya pada tingkat mutawatir. Menurut kesepakatan para ulama ahli hadits, hadits ahad yang memenuhi kriteria (syarat-syarat) hadits shohih wajib diterima meskipun diriwayatkan melalui jalan satu orang rowi saja.
[5] Pembahasan ini telah dikupas secara panjang lebar oleh Imam asy-Syafi’i dalam kitab beliau, ar-Risalah.

http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2013/05/19/memahami-tauhid-asma-wa-shifat/

Monday, May 13, 2013

Sudah 45 Tahun Rohingya Hidup Damai di Arab Saudi

Rohingya hidup tenang di Arab Saudi

Di negara ini, Rohingya dimuliakan dan dilindungi negara


VIVAnews - Tidak diakui Bangladesh dan Myanmar, orang-orang Rohingya juga tidak diterima di beberapa negara. Mereka terpaksa hidup sebagai imigran gelap, dipenjara dan dihinakan. Ini memang lebih baik ketimbang tetap di Myanmar, jadi sasaran kekerasan dan perkosaan.

Namun hal berbeda dialami oleh para pengungsi Rohingya di Arab Saudi. Etnis Rohingya sudah mengungsi ke negara ini sejak 45 tahun lalu, kebanyakan di kota Mekkah. Raja Abdul Aziz saat itu justru menawari etnis Rohingya untuk berlindung di negaranya.

Sejak itulah mereka mendapatkan kewarganegaraan sementara. Kegembiraan ratusan ribu orang Rohingya di Saudi semakin lengkap saat pada Maret lalu Saudi memberikan status kewarganegaraan gratis pada 250.000 orang Rohingya.
Berarti, kini mereka berhak atas fasilitas kesehatan, pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan warga setempat.
"Dunia baru menyadari penderitaan Rohingya di Burma kurang dari setahun lalu. Tapi Arab Saudi adalah negara satu-satunya yang peduli penderitaan mereka sejak lama," kata Abdullah Marouf, sekretaris jenderal komunitas BUrma dan kepala Global Rohingya Center di Jeddah, dilansir Arab News.

"Arab Saudi telah mendukung kami Rohingya tahun 1968, saat Raja Abdul Aziz menerima imigran pertama imigran Burma. Izin tinggal tetap telah dikeluarkan untuk Rohingya tahun 1980 saat pemerintah Raja Saud," lanjut Marouf lagi saat berbicara pada forum Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Jeddah.

Selain itu, Rohingya juga telah melebur bersama warga Saudi. Ibrahim adalah salah satu orang Rohingya yang berhasil menyatu di Mekkah. "Alhamdulillah kami belajar bahasa Arab di sini, tumbuh di sini. Namun kami tidak melupakan bahasa asli kami, termasuk bahasa Rohingya," kata Ibrahim, dilansir Al Arabiya, Rabu 8 Mei 2013.

"Adik perempuanku menikah dengan orang Saudi. Dan saya, Alhamdulillah, telah tunangan dengan wanita Saudi," ujar pemuda ini lagi.

Pemerintah Saudi telah memasukkan komunitas Rohingya sebagai pendatang yang harus dilindungi negara. Artinya, Rohingya kebal beberapa hukum dan peraturan kependudukan dan tidak ada yang boleh menyakitinya.

Tidak hanya melindungi Rohingya di negaranya, pemerintah Saudi memberikan bantuan kepada etnis Muslim Rohingya di Myanmar. Agustus tahun lalu, atas perintah Raja Abdullah, Saudi menggelontorkan bantuan sebesar US$50 juta (Rp486 miliar) kepada Rohingya yang terkena konflik di Rakhine.

© VIVA.co.id 

Wednesday, May 8, 2013

Renungan Surat Al Kahfi: Memurnikan Akidah, Menebarkan Sunnah

Kalau kita membaca surat al Kahfi, kita akan menemukan di akhir surat tersebut, Allah menutup dengan sebuah ayat yang sangat penting, sebuah perintah kepada Rasulullah untuk mendakwahkan dan menyerukan ayat ini kepada manusia. 

Sebuah ayat yang intisarinya adalah seruan untuk memurnikan akidah dan menebarkan sunnah, Allah berfirman,
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Sesembahan kamu itu adalah Sesembahan yang satu”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya“. (QS. Al Kahfi: 110)

Kalau kita jabarkan satu-persatu sebagai berikut:
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini (Rasulullah) manusia biasa seperti kamu”
karena beliau manusia biasa, maka beliau tidak boleh disembah dan diibadahi, ini memurnikan akidah.

يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وٰحِدٌ
“diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Sesembahan kamu itu adalah Sesembahan yang satu”

karena beliau diberi wahyu, maka kita tidak boleh mendustakannya dan wajib menerima semua yang datang dari beliau, serta mengamalkannya. Ini menebarkan sunnah.

فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢ
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya”

Siapa yang ingin berjumpa dengan Rabbnya dalam keadaan diridhai, maka hendaknya dia memurnikan akidah (dengan tidak berbuat syirik) dan menebarkan sunnah (dengan beramal shalih yang sesuai tuntunan Sunnah).

Syaikh As Sa’di mengatakan dalam tafsirnya mengenai ayat ini:
“Maksud ayat ini adalah, katakan wahai Muhammad kepada orang-orang kafir dan selain mereka, bahwa aku adalah manusia seperti kalian, aku bukan sesembahan, aku bukan sekutu dalam kerajaan Allah, aku tidak tahu ilmu gaib, aku pun tidak memiliki kekuasaan seperti Allah. Sesungguhnya aku manusia seperti kalian, aku hanyalah salah satu hamba Rabbku.

“Diwahyukan kepadaku bahwa sesembahan kalian hanyalah sesembahan yang satu”, hanya saja aku diberi kelebihan dibanding kalian, aku diberikan wahyu yang Allah berikan kepadaku. Wahyu yang membawa berita yang paling agung yaitu bahwa sesembahan kalian hanyalah sesembahan yang satu, tiada sekutu bagiNya, tidak ada satupun selain Dia yang berhak diibadahi walau seberat biji sawi. Aku menyeru kalian untuk beramal dengan sesuatu yang bisa mendekatkan diri kalian kepadaNya sehingga kalian medapatkan pahala dariNya dan terhindar dari azabNya.

Oleh karena itu Allah kemudian berfirman: ”Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh” yaitu amalan yang sesuai dengan syariat Allah. “dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya” yaitu, janganlah dia merasa riya dalam amalannya, bahkan hendaknya dia beramal ikhlas mengharapkan wajah Allah semata.

Maka ayat ini menggabungkan keterangan tentang amalan yang ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi. Amalan seperti itulah yang kan diterima dan pelakunya kan mendapatkan ganjaran. Adapun amalan yang tidak ikhlas atau tidak sesuai sunnah, maka itu hanyalah kerugian di dunia dan akhirat bagi pelakunya. Dia tidaklah mendapatkan kedekatan dari Sang Maula dan dia juga tiada mendapat keridhaanNya” (lihat Taisir Karimirrahman).
—
Penulis: Amrullah Akadhinta, ST.
Artikel Muslim.Or.Id

Dakwah Anti Syirik

Dakwah anti syirik seharusnya menjadi prioritas utama daripada pengingkaran maksiat lainnya seperti korupsi, berzina dan pembunuhan. Karena syirik berkaitan dengan hak Allah, juga merupakan larangan dan tindak kezholiman yang paling besar. Sedangkan dosa korupsi masih menempati urutan di bawahnya.

Kita dapat mengambil pelajaran bahwa mendakwahi masyarakat untuk menjauhi syirik lebih diutamakan daripada perkara lainnya dari hadits berikut berikut ini. Dari Ibnu ‘Abbas ia berkata,

لَمَّا بَعَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُعَاذًا نَحْوَ الْيَمَنِ قَالَ لَهُ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللَّهَ تَعَالَى فَإِذَا عَرَفُوا ذَلِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ ، فَإِذَا صَلُّوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً فِى أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ غَنِيِّهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فَقِيرِهِمْ ، فَإِذَا أَقَرُّوا بِذَلِكَ فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِ النَّاسِ »
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman, ia pun berkata padanya, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah dakwah engkau pertama kali pada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah Ta’ala. Jika mereka telah memahami hal tersebut, maka kabari mereka bahwa Allah telah mewajibkan pada mereka shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka telah shalat, maka kabari mereka, bahwa Allah juga telah mewajibkan bagi mereka zakat dari harta mereka, yaitu diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan disalurkan untuk orang-orang fakir di tengah-tengah mereka. Jika mereka menyetujui hal itu, maka ambillah dari harta mereka, namun hati-hati dari harta berharga yang mereka miliki.” (HR. Bukhari no. 7372 dan Muslim no. 19).

Beberapa faedah dalam hadits di atas:

  1. Disyari’atkan mengutus da’i untuk mendakwahkan tauhid.
  2. Yang dijadikan prioritas wajib dan utama dalam dakwah adalah mendakwahkan kalimat laa ilaha illallah yang konsekuensinya beribadah pada Allah saja dan menjauhi kesyirikan.
  3. Makna syahadat laa ilaha illallah adalah mentauhidkan (mengesakan) Allah dalam ibadah dan meninggalkan peribadahan pada selain Allah.
  4. Islamnya orang kafir barulah terbukti dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
  5. Sebagaimana ahli kitab, maka seseorang bisa saja membaca dan mengetahui namun tidak paham akan makna laa ilaha illallah, atau tahu tetapi tidak mau mengamalkannya.
  6. Mendakwahi orang yang berilmu seperti ahli kitab berbeda dengan mendakwahi orang jahil.
  7. Seseorang yang berdakwah hendaklah membekali diri dengan ilmu agar selamat dari pemikiran menyimpang.
  8. Shalat merupakan amalan yang utama setelah dua kalimat syahadat.
  9. Zakat merupakan amalan yang utama setelah shalat.
  10. Di antara penerima zakat adalah orang fakir. Dan hadits di atas menjadi dalil bolehnya mencukupkan penyaluran zakat pada orang fakir saja.
  11. Tidak boleh mengambil zakat dari harta yang berharga -yang dituntut adalah yang pertengahan- kecuali dengan ridho pemiliknya.
Alhamdulillah, moga Allah beri hidayah.

Referensi:
Al Mulakhosh fii Syarh Kitabit Tauhid, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, terbitan Darul ‘Ashimah, cetakan pertama, tahun 1422 H, hal. 56.
—
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 3 Jumadal Akhiroh 1434 H
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id