Monday, January 21, 2013

“Selamat Datang Duta Palestina!”

oleh : Muhammad Dinul Haq

MAKAN malam kali ini terasa lebih hangat dan sarat akan ukhuwah. Bukan karena menu yang beraneka cita dan rasa khas Timur Tengah, atau hangatnya teh daun mint dan secangkir kopi, tapi karena kami duduk satu meja dengan seorang pemuda Gaza, Palestina. Bersama dua sahabat saya, Lukman Hakim dan Abdil Munzir merasa istimewa bisa duduk bersamanya di antara ratusan mahasiswa lainnya malam, hari Sabtu (15/12/2012)  di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM).

Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh , 19 tahun 6 bulan. Itulah namanya yang saya lihat di situs resmi Islamic University of Madinah. Penampilan santun dengan wajah khas bangsa Palestina yang sering terlihat di layar kaca dan surat kabar di Madinah. Pertemuan kami berempat malam itu menyisakan cerita panjang perjalanan anak Jalur Gaza ini menuju Kota Nabi, Madinah al-Munawwarah, Saudi Arabia. 

“Saya sudah sepekan di Madinah ini, tapi saya masih susah meyakinkan diri saya bahwa saya disini,” kata Abd el-Qadir membuka pembicaraannya dengan logat Arab khas Palestina. 

“Masya Allah... Benarkah?” sambut saya.

“Ya, keluar dari Jalur Gaza seperti mimpi indah dan Anda memiliki nyawa baru,” katanya meyakinkan sambil menghirup udara panjang.

“Apakah ini kunjungan pertamamu ke Arab Saudi?” Abd Munzir mencoba menyusuri lebih jauh.

“Bahkan ini untuk pertama kalinya Ana keluar dari Gaza, Penjara Raksasa itu,” jawabnya, 
dengan mata terbuka meyakinkan, lalu memuji Allah Subhanahu Wata'ala.

Saya teringat laporan khusus “Penjara Raksasa Bernama Gaza” di salah satu rubrik majalah Suara Hidayatullah beberapa bulan lalu di Tanah Air. Pikiran saya langsung terbang ke Indonesia, negeri yang sangat peduli dengan kondisi saudaranya di Bumi Para Nabi itu.
Terbayang pula ramainya suasana demontrasi pro Palestina dengan spanduk-spanduk besar bertuliskan “Save Palestine!”, “Bebaskan Al-Quds!”, “SBY, Kirim TNI ke Gaza!!!” dan kalimat-kalimat serupa, diiringi nasyid-nasyid heroik perjuangan, lalu ditutup dengan pelelangan dana sosial peduli Palestina.

Saat di Tanah Air, saya dan teman-teman selalu ingin mendengar langsung warga Palestina tentang banyak hal. Saya sering melihat dan membaca kabar-kabar al-Quds, mendengarkan laporan perjalanan para relawan yang dimudahkan Allah menuju Kiblat pertama umat Islam itu. Dan kini, cerita itu hanya berjarak 30 cm dari telinga saya, langsung dari lisan pemuda Syam.

“Anda sering ke Masjid Al-Aqsha?” tanya Lukman sambil menikmati ayam panggangnya.

“Demi Allah, bahkan saya belum pernah melihat Al-Quds, kecuali di televisi Gaza. Yahudi membuat penjara raksasa bernama Gaza, kami dikepung dari darat, laut dan udara. Tank-tank bergerak di samping rumah-rumah kami seperti hewan ternak. Ke mana mata memandang hanya terlihat moncong senjata yang masih panas setelah memuntahkan pelurunya....” tutur Abd el Qadir dengan gaya bicara yang cepat.

“Kami mengambil keringanan shalat di dalam rumah dengan keluarga kami, darurat. Anda tidak akan pernah bisa membayangkan tank-tank itu mendobrak pintu rumah kami dan masuk menabrak panci-panci yang bergelantungan di dapur kami. Anda tidak bisa membayangkan moncong senjata itu berada tepat di kepala seorang bapak, dan istrinya menahan jari telunjuk (tentara) Yahudi agar tidak menembak suaminya. Dan bapak itu mati di depan istrinya, lalu datang giliran sang istri dan anak untuk ditembak juga...”

Dibiarkan Membangun, lalu Dibom
Mendengar langsung cerita el-Qadr, seolah kantin malam itu hanya milik kami berempat. Sangat dramatis. Sambil menyebut asma Allah dan bertakbir, kami mengikuti “siaran langsung” kabar Palestina ini. Tentunya sudah sering kami dengar cerita serupa, tapi kali ini beda getarannya.

“Alhamdulillah ya akhi, antum (kamu) sekarang bersama kami di sini (Madinah, red). Di Indonesia sana, Anda memiliki banyak saudara yang peduli dengan kondisi Palestina,” sahut saya, lalu menceritakan pada Abd el Qadir betapa semangatnya teman-teman di Tanah Air mendukung pembebasan Palestina.

“Alhamdulillah! Semoga Allah membalas kebaikan teman-teman di sana. Ini makan malam pertama saya di kampus (UIM), dan saya duduk dengan Antum; saudara-saudara saya dari Indonesia. Di Gaza saya melihat banyak orang Indonesia yang membantu kami, mereka membangun Rumah Sakit dan Madrasah, juga markas logistik untuk kami,” katanya sambil tersenyum penuh rasa syukur.

“Tapi dasar Yahudi, sepekan kami dibiarkan membangun, lalu mereka datang pekan berikutnya dengan pesawat-pesawat besar membawa bom dan rudal menghancurkan bangunan kami,” lanjutnya lagi, sambil menggelengkan kepala keheranan. 
Makanan kami masih banyak tersisa, terlalu larut dalam cerita haru kondisi saudara-saudara seiman di Palestina. Saya lihat raut wajah Mundzir menyisakan air muka sedih dan prihatin. Sedangkan Lukman masih memegang gelas teh yang dari tadi jarang diminumnya. Kami pun mencoba mengorek perjalanan dia menuju Kota Nabi, dan bagaimana dia bisa diterima di kampus UIM ini (cerita perjalanannya akan saya tuliskan di bagian kedua dari tulisan ini).
30 menit berlalu, azan Isya’ memanggil kami. Setelah mencuci tangan, kami berempat bergerak menuju masjid Fakultas Bahasa Arab di dekat Mat’am (tempat makan) ini. Sejak itu pula, sepertinya kami diresmikan sebagai teman dekat baru Abdul Qadir Umar. Kami menjelaskan seluk beluk kampus dan aturannya, seolah kami mahasiswa senior yang sudah lama berada di Madinah ini.

“Alhamdulillah... Saya bisa menyembah Allah dengan tenang di sini, tanpa bisingan peluru, dan tanpa suara menggigit dari rantai tank dan mesin pesawat tempur,” ucapnya sambil berjalan di tengah kami, mengangkat tangannya dengan telapak terbuka.

Merajut Mimpi di Kota Nabi 
MENINGGALKAN sanak keluarga dan tanah air tercinta untuk menuntut ilmu adalah salah satu hal paling dramatis dalam perjalanan hidup seorang penuntut ilmu. Apalagi tanah air itu sedang dalam kondisi sulit dan membutuhkannya secara fisik dan moril.
Itulah bagian menarik dari cerita Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh, 19 tahun, seorang anak kelahiran Gaza pada makan malam kami, Sabtu (15/12/2012)  itu di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM). Saat itu saya ditemani dua kawan saya, Lukman Hakim dan Abdil Munzir. Bagian kedua dari tulisan ini mengajak Anda membuka mata melihat semangat Bangsa Palestina dalam menuntut ilmu di tengah kepungan maut Bangsa Yahudi yang hina.

“Anda datang sendiri atau bersama rombongan Mahasiswa Palestina?” tanya saya membuka hiwar (percakapan) perjalanan Abd el-Qadir menuju Madinah.

“Saya hanya sendiri ke sini. Sebenarnya jumlah mahasiswa Palestina yang diterima tahun ini di Madinah ada 13 orang, namun hanya ana (saya) yang berangkat,” jawab Abd el-Qadir sambil menikmati makroni kukusnya.

Masya Allah! Saya langsung membandingkan jumlah teman-teman Indonesia seangkatan saya yang diterima tahun ini, ada 112 orang. Palestina yang negara Arab dan dekat Arab Saudi hanya bisa mengutus 13 orang, itupun hanya Abd el-Qadir yang bisa tembus ke jantung Kota Nabi seorang diri.

“Ikhwah (saudara) yang lain?” Mundzir mencoba memastikan.

“Wallahu a’lam. Saya tidak bertemu mereka di Mesir kemarin, semoga mereka menyusul,” terangnya.

“Mesir? Anda pernah kesana?” tanya saya keheranan, karena dia katakan sebelumnya bahwa ia baru pertama keluar dari Jalur Gaza.

“Ya, Mesir. Ana sempat tinggal dua bulan setengah di sana. Dan di sanalah saya mengurus administrasi dan imigrasi untuk masuk ke Arab Saudi,” jawabnya meyakinkan.

“Lho, kok di Mesir, bukannya di Palestina sana mengurusnya?” tanya Lukman dengan nada heran mewakili keheranan kami.

“Wallahi, ya Akhi (Demi Allah, wahai saudaraku)! Kami tidak mempunyai bangunan kantor yang memadai dan mampu mengurus administrasi. Semuanya lumpuh, sibuk dengan kekhawatiran. Bahkan negara kami tidak mempunyai pesawat untuk perjalanan luar negeri. Alhamdulillah, Mesir adalah saudara negeri kami, ia banyak membantu kami,” jelas Abd el-Qadir.

Penjelasan teman baru kami ini mengingatkan saya akan Indonesia tercinta, negara kaya yang diliputi banyaknya fasilitas umum, baik berstandar nasional maupun internasional. Mulai dari masjid jami, bandara internasional, pelabuhan megah yang diisi kapal-kapal dagang negara asing, mall, apartemen, kampus dan taman kota. Belum lagi fasilitas-fasilitas olahraga dari stadion-stadion megah dan venue-venue pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional. Sangat kontras dengan Palestina, yang menurut cerita Abd el-Qadir, jangankan mall, gedung untuk mengurus administrasi keimigrasian saja lumpuh. Pesawat banyak, tapi pesawat tempur milik Yahudi yang bandaranya ada di Kapal Induk Amerika, di lautan luas sana.

“Lalu, dari Gaza ke Mesir naik apa? Mobil?” tanya saya.

“Ya, naik mobil menempuh kurang lebih 7 jam perjalanan, melewati pos-pos keamanan Israel. 

Bisa lolos satu pos saja Anda harus sujud syukur memuji Allah. Itu ajaib, karena setiap pos menyediakan peluru hangat untuk Anda. Ana juga melewati Terusan Suez, yang sebelumnya melewati ‘pulau’ Sina (Sinai) yang ada Bukit Tur Sina di dalamnya, bukit bersejarah yang Allah bercakap dengan Nabi Musa As disana,” cerita Abd el-Qadir.

“Kemudian kami berempat (tanpa ada komando) membaca bersama bagian terakhir ayat ke 164 dari surat An-Nisa: “وَكَلَّمَ اللهُ مُوْسَى تَكْلِيْمًا” sambil kami mengangkat jari telunjuk kami dengan senyuman, bak isyarat mengingatkan satu sama lain tentang ayat mulia ini,” tambahnya.

Pergi untuk Kembali
Abd el-Qadir melanjutkan ceritanya. Selama 2,5 bulan di Mesir, dia sibuk mengurus administrasi. Dia tinggal bersama kerabatnya di sana. Petugas administrasi di Mesir sempat heran, mengapa Abd el-Qadir bisa keluar dari Gaza untuk keperluan menuntut ilmu?

“Bahkan mereka sempat mengatakan bahwa ‘Tidak ada belajar di luar, tidak ada Arab Saudi, tidak ada Jami’ah Islamiyah Madinah, lebih baik Anda pulang ke Gaza!’” tutur Abd el-Qadir dengan mimik memperagakan nada bicara petugas keimigrasian Mesir.

“Ana juga sempat berkeliling Mesir, mengunjungi Universitas Al-Azhar. Sempat ada keinginan untuk membatalkan perjalanan ke Madinah dan belajar di Al-Azhar saja, berhubung pihak imigrasi tidak memberikan lampu hijau selama dua bulan itu. Tapi alhamdulillah, Allah menguatkan hati saya. Seberat apapun perjalanan menuju Kota Nabi, harus saya tempuh. 

Bukankah perjalanan menuju Masjid Nabawi itu disyari’atkan walaupun dengan susah payah?!” lanjutnya dengan bahasa meyakinkan.
Langsung terbersit oleh penulis akan Hadits Rasulullah SAW:
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ؛ المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِي هَذَا، وَالمَسْجِدِ الأَقْصَى
“Tidaklah pelana unta itu dikencangkan (janganlah bersusah payah melakukan perjalanan dengan sengaja) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsho.”

Kemudian Abd el-Qadir Umar menggambarkan bahwa Palestina pasti membutuhkan dirinya sekarang sebagai bahan bakar perjuangan melawan Yahudi Israel. Di usia 7 tahun masa kecilnya saja, tuturnya, dia sudah keluar bersama teman-temannya dalam ‘proyek’ Intifadhah. Mengumpulkan batu-batu dan kerikil-kerikil tajam untuk orang dewasa. Tapi menuntut ilmu itu juga disyari’atkan walaupun dalam kondisi perang. Niat Abd el-Qadir keluar dari Gaza adalah menuntut ilmu, pengamalan dari firman Allah SWT:
وَمَا كَانَ المُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوْا كَافَّةً فَلَوْ لَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوْا فِي الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُم إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
“Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS At-Taubah: 122), ayat ini sempat dibaca oleh Munzir sebelum dibaca oleh Abd el-Qadir. 

“Ana meminta pada Allah agar ana menjadi golongan dalam ayat ini. Menuntut ilmu di Kota Nabi adalah impian indah anak-anak kecil Palestina, mereka selalu menyebut-nyebut dalam permainan mereka; ‘Belajar... belajar... berangkat ke Makkah, belajar... belajar... berangkat ke Madinah...’ Tapi itu semua hanyalah mimpi bagi mereka. Semuanya lumpuh, semuanya sibuk membebaskan Palestina,” ujar Abd el-Qadir setelah membaca ayat tadi.

“Demi Allah ikhwah, kalau bukan karena menuntut ilmu, ana lebih memilih tinggal di Gaza. Mati di tanah kami adalah kemuliaan bagi kami, tapi cinta ana pada ilmu menahan itu. Ana melihat potensi besar dalam diri ana untuk mendalami ilmu agama, agar ana kembali nanti 
membimbing teman-teman di sana. Mereka juga membutuhkan ilmu-ilmu syari'at untuk mereka beribadah dengan benar. Mereka juga harus belajar, karena tidak ada manusia yang dilahirkan berilmu,” lanjutnya.

Kalungan Bunga untuk Abd el-Qadir
“DEMI ALLAH ikhwah (saudara, red), kalau bukan karena menuntut ilmu, Ana lebih memilih tinggal di Gaza. Mati di tanah kami adalah kemuliaan bagi kami, tapi cinta ana (saya) pada ilmu menahan itu,” demikian aku Abd el-Qadir Umar Abd el-Qadir Fayyadh, Sabtu (15/12/2012) malam itu di kantin kampus Universitas Islam Madinah (UIM).

Hati saya bergetar luar biasa mendengar penjelasan anak Jalur Gaza ini. Seperti mendapat suntikan motivasi tersendiri bagi saya untuk belajar lebih giat. Kondisi keamanan Indonesia tidak sepanas kondisi Palestina. Bahkan negara saya, Indonesia sangat jauh lebih baik kondisinya.

Perjalanan saya menuju Kota Nabi pun tidak seberat perjalanan pemuda satu ini; tidak ada pos-pos keamanan Israel yang harus dilewati, naik pesawat megah dan besar milik Kerajaan Arab Saudi, dijemput panitia Indonesia di Madinah, alhamdulillah. Terus terang saya merasa bersalah dengan Abd el-Qadir kalau tidak bersemangat sepertinya.

Ada juga rasa gregetan kalau mengingat sebagian teman-teman dan pemuda di Tanah Air yang bermalas-malasan dalam belajar. Atau dengan mudah “membeli” ijazah tanpa ada standarisasi keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya jadi teringat bait-bait puisi sastrawan Taufiq Ismail berjudul “Palsu”. Puisi ini menceritakan perjalanan hidup seorang pelajar yang dari kecil sampai sarjananya dipenuhi dengan nilai dan ijazah palsu. Sampai akhirnya pelajar itu mencetak generasi palsu untuk tanah air. Lucu, tapi menikam.

Pikiran saya kembali lagi ke rangkaian cerita anak negeri Palestina tadi. Dalam perjalanan pulang dari Kampus UIM ke apartemen dengan bus seusai makan malam itu, saya kembali berbincang dengan el-Abd el-Qadir.

Awalnya dia lebih banyak menikmati suasana indah Kota Madinah al-Munawwarah dengan lampu-lampu yang terang dan taman-taman kota yang dilengkapi dengan air mancur bercahaya. Lebih setengah perjalanan menuju apartemen, saya membiarkannya akrab dengan dinding kaca bus kami. Setengah perjalanan berikutnya, baru saya kembali mengajaknya bicara. 

“Anta naim (kamu tidur)?” sapa saya bercanda.

“Laa, Wallahi (Tidak, Demi Allah)! Ana hanya teringat Palestina. Alangkah indahnya kalau bangunan-bangunan di sana seperti bangunan-bangunan yang tegak di sini. Pohon-pohon kurma kami sekarang tidak seindah pohon kurma Madinah. Padahal Anda tahukan, kualitas buah kurma Negeri Syam (istilah untuk negara-negara bagian utara Jazirah Arab seperti Palestina, Yordania, dll. Pen)  dan buah Zaitunnya tidak kalah bagusnya...?!” tutur bocah berusia 19 tahun itu, lalu teringat rumah di kampung halamannya yang hancur dihantam bom 15 tahun lalu.

“Alhamdulillah, kami sekeluarga utuh. Dan ini untuk kali pertama ana meninggalkan mereka,” lanjutnya.
Percakapan kami di bis banyak membahas tentang perkenalan kondisi Indonesia-Palestina. Saya juga tahu dari ta’aruf (perkenalan) kami kalau dia anak ke 11 dari 12 bersaudara. Kakak terbesarnya laki-laki berusia 42 tahun.

“Alhamdulillah, banyak pasangan muda yang menikah di sana, nikah perjuangan. Bagaimanapun juga Palestina membutuhkan stok Mujahid lebih banyak untuk berjihad membebaskan Palestina. Dan Masya Allah, tabarakallah, jumlah anak laki-laki lebih banyak dari perempuan. Mati satu, tumbuh seribu,” terang Abd el-Qadir tersenyum.

“Masya Allah, Allahu Akbar! Lalu ana dengar kalian memiliki program Tahfidzul Qur’an (menghafal al-Qur’an), benarkah?” tanya saya simpatik.

“Ya! Itulah modal terbesar kami, al-Qur’an. Lebih dari seribu penghafal diwisuda setiap tahunnya di Palestina. Dan di setiap rumah harus ada minimal satu orang hafidz (penghafal) Al-Qur’an, walaupun rumah itu sudah roboh dihantam rudal dan diinjak tank,” jawabnya bangga.
Haru dan bangga mendengarnya. Spirit al-Qur’an betul-betul dimaksimalkan saudara-saudara di Palestina sana. Saya jadi enggan melontarkan pertanyaan terakhir ana, “Apakah Anda hafidz al-Qur’an?”. Keterangannya tadi sudah menjawab pertanyaan itu.

Bus kami berhenti tepat di jalan samping apartemen. Saya menemani Abd el-Qadir ke kamarnya di lantai 8, lalu saya turun menuju kamar di lantai 4. Malam ini ada doa khusus buat teman baru kami itu, buat bangsa Palestina, negeri para Anbiya. Tempat di sana ada mi’roj Nabi Muhammad SAW menuju langit yang tujuh, kiblat pertama umat Islam, tanah warisan Khalifah Umar bin Khattab, Kholid bin Walid dan Sholahuddin Al-Ayyubi. 

Rasanya saya pengen mimpi bertemu Abd el-Qadir Umar malam ini, menyambutnya dengan kalungan bunga di Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah bersama Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdulaziz As-Saud, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi dan Wali Kota Madinah beserta staf masing-masing seraya berkata, "Selamat Datang Duta Palestina di Kota Nabi!".*

Muhammad Dinul Haq/Kontributor Hidayatullah.com di Madinah

Note : Kisah ini dimuat di Hidayatullah.com secara bersambung
Sumber  Hidayatullah.com

Sumbang $1,88 Juta Saudi Bangun Rumah untuk Rohingya

Hidayatullah.com—Arab Saudi hari Ahad (20/1/2013) mengumumkan tentang pemberian sumbangan kepada pengungsi Rohingya melalui lembaga pengungsi PBB UNHCR sebesar US$1,88 juta (sekitar 1,8 trilyun rupiah), lansir Arab News.

Nota kesepahaman mengenai bantuan itu ditandatangani oleh Yusuf al-Bassam dari Yayasan Saudi untuk Pembangunan dan Imran Riza dari kantor perwakilan regional UNHCR di Riyadh.
Bantuan itu ditujukan untuk pembangunan tempat tinggal sementara dan permanen bagi sekitar 75.000 orang Muslim Myanmar yang kehilangan rumahnya akibat kerusuhan beberapa waktu lalu di negara bagian Arakan (Rakhine), Myanmar.

Usai menandatangani nota tersebut, dalam pidatonya Riza menggarisbawahi tentang arti pentingnya bantuan Saudi tersebut, yang dinilai datang tepat pada waktunya.
Atas nama Komisaris Tinggi UNHCR Antonio Guterres, Imran Riza mengyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Penjaga Dua Masjid Suci Raja Abdullah, atas kemurahan hatinya dan kepemimpinan Saudi dalam menanggapi krisis-krisis kemanusiaan.
Dalam proyek pembangunan perumahan untuk warga Rohingya di Arakan itu Saudi juga melibatkan negara Pakistan.*

Rep: Ama Farah
Red: Dija

Saturday, January 19, 2013

BENARKAH KHAWARIJ MUNCUL DARI NAJD ARAB SAUDI??

Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram 7

Idahram membawakan beberapa hadits yang –menurut persangkaannya- menunjukkan bahwa khawarij munculnya dari Najd yang ada di timur kota Madinah, yaitu daerah tempat munculnya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, yang ini menunjukkan bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan kaum khawarij adalah kaum Salafi Wahabi.

Diantara hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Najd adalah tempat munculnya fitnah adalah:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami” . Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan ” . (Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 1037. Diriwayatkan juga pada no. 7094 dan Muslim no. 2095)

Dalam riwayat yang lain dari Ibnu 'Umar :

أَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ مُسْتَقْبِلَ الْمَشْرِقِ يَقُوْلُ "أَلآ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَهُنَا. أَلآ إِنَّ الْفِتْنَةَ هَهُنَا، مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ".

Bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam - dimana beliau waktu itu menghadap ke timur -, beliau bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya fitnah datang dari sini, ketahuilah sesungguhnya fitnah datang dari sini, dari arah munculnya tanduk setan” (HR Muslim no 2095)
 
Dalam lafadh lain:
فَقَالَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ "الْفِتْنَةُ هَهُنَا مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ" قالها مرتين أو ثلاثا.
"Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda dengan berisyarat dengan tangannya ke arah timur : “Fitnah itu dari sini, dari arah munculnya tanduk setan”. Beliau mengatakannya dua atau tiga kali" (HR Muslim 2905)

Dalam riwayat yang lain : يُشِيرُ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ "Beliau memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur" (HR Muslim 2905)
 
Dalam hadits yang lain menunjukkan bahwa kau khawarij munculnya dari arah timur.
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ، هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ، فَقَالَ: سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
 
Dari Yusair bin 'Amr berkata, "Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu), Apakah engkau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang khawarij?". Maka Sahl berkata, "Aku mendengarnya –dan Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur- beliau bersabda, "Suatu kaum yang membaca Al-Qur'an dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari badan hewan buruannya" (HR Muslim no 1068)
 
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa akan muncul banyak fitnah dari arah timur kota Madinah, yaitu dari Najd , yaitu tempat munculnya tanduk syaitan. Dan diantara fitnah-fitnah tersebut yang datang dari timur adalah munculnya kaum khawarij.
 
Idahram berkesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Najd dalam hadits di atas adalah Najd yang ada di Arab Saudi yaitu daerah sekitar kota Riyadh, tempat kelahirannya Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab. Dengan demikian berarti pantaslah jika Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab adalah tokoh khawarij yang muncul dari arah timur kota Madinah.
Idahram berkata,
"Nabi saw. telah memberitahukan kepada umatnya bahwa kemunculan fitnah-fitnah yang menerpa umatnya berasal dari arah timur (baca : timur Madinah, yakni Najd di Saudi Arabia). Fitnah ini bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Sebab, kata fitnah dalam hadits di atas menggunakan bentuk plural, yaitu fitan (fitnah-fitnah). Sejarah mencatat bahwa Musailamah ibnu Habib al-Kadzdzab, Sajah binti Al-Harits ibnu Suwaid at-Tamimah, Thalhah ibnu Khuwailid al-Asadi, dan orang-orang semisal mereka, semuanya berasal dari Najd, tanah kelahiran Muhammad ibnu Abdil Wahhab si pendiri sekte Salafy Wahabi. Bahkan para pembuat fitnah itu berasal dari kaum/kabilah yang sama dengan kabilahnya pendiri Wahabi, yaitu Bani Tamim" (Sejarah Berdarah… hal 150).
Idahram juga berkata,
"Mereka yang mengatakan bahwa Najd adalah "dataran tinggi"di Iraq, salah besar. Karena selain Iraq bukan dataran tinggi, juga karena Iraq berada di sebelah utara kota Madinah, dan tidak pernah ada nama daerah Najd di Iraq" (Sejarah Berdarah… hal 152)

SANGAAHAN

Pernyataan-pernyataan Idahram di atas adalah salah, bisa dilihat dari banyak sisi :

Pertama : Untuk mengetahui yang dimaksud dengan Najd dalam hadits di atas maka metode yang terbaik adalah dengan melihat riwayat-riwayat hadits-hadits yang lain. Karena metode menafsirkan hadits yang terbaik adalah menafsirkan hadits dengan hadits-hadits yang lain.

Jika kita kembali memperhatikan hadits di atas :

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا وَفِي يَمَنِنَا قَالَ قَالُوا وَفِي نَجْدِنَا قَالَ قَالَ هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ

Dari Ibnu 'Umar, ia berkata : Nabi pernah bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami” . Para shahabat : “Dan juga Najd kami ?”. Beliau bersabda : “Di sana muncul bencana dan fitnah. Dan di sanalah akan muncul tanduk setan ”

Lantas kita bandingkan dengan riwayat yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ath-Thabaraani dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhu:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلم قال : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا، اللَّهُمَّ بَارِكْ فِي يَمَنِنَا، فَقَالَهَا مِرَاراً، فَلَمَّا كَانَ فِي الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، قَالُوا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَفِي عِرَاقِنَا؟ قَالَ: إِنّ بِهَا الزَّلاَزِلَ وَالْفِتَنَ، وَبِهَا يَطْلُعُ قَرْنُ الشَّيْطَانِ
Bahwasannya Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami” . Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, juga pada ' Iraq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sanalah muncul tanduk setan” [Al-Mu'jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422].
 
Hadits ini telah dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah, beliau telah mentakhrij hadits ini dengan menyebutkan seluruh jalan-jalan hadits ini. (Lihat Silsilah Al-Ahaadiits As-Shahihah 5/302-306, takhriij hadits no 2246)

Kedua : Dalam hadits juga disebutkan bahwa kaum khawarij keluar dari arah timur kota Madinah.
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: سَأَلْتُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ، هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْخَوَارِجَ، فَقَالَ: سَمِعْتُهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ بِأَلْسِنَتِهِمْ لَا يَعْدُو تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ، كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ»
Dari Yusair bin 'Amr berkata, "Aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu), Apakah engkau mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan tentang khawarij?". Maka Sahl berkata, "Aku mendengarnya –dan Nabi sambil mengisyaratkan tangannya ke arah timur- beliau bersabda, "Suatu kaum yang membaca Al-Qur'an dengan lisan-lisan mereka akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah tembus keluar dari badan hewan buruannya" (HR Muslim no 1068)

Rasulullah juga bersada

يَتِيهُ قَوْمٌ قِبَلَ الْمَشْرِقِ مُحَلَّقَةٌ رُءُوسُهُمْ
"Tersesat suatu kaum di arah timur, kepala-kepala mereka gundul" (HR Muslim no 1068)

Rasulullah juga bersabda,

«يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ المَشْرِقِ، وَيَقْرَءُونَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لاَ يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ»، قِيلَ مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: " سِيمَاهُمْ التَّحْلِيقُ
"Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati batas kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka tidak pernah kembali sampai anak panah bisa kembali ke busurnya. Ciri-ciri mereka adalah mencukur habis rambutnya atau gundul" (HR Al-Bukhari no 7562)

Lebih jelas dalam riwayat berikut
عَنْ يُسَيْرِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ دَخَلْتُ عَلَى سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ فَقُلْتُ حَدِّثْنِي مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي الْحَرُورِيَّةِ قَالَ أُحَدِّثُكَ مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ هَاهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْعِرَاقِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قُلْتُ هَلْ ذَكَرَ لَهُمْ عَلَامَةً قَالَ هَذَا مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ
Dari Yusair bin 'Amr berkata, "Aku menemui Sahl bin Hunaif (radhiallahu 'anhu) lalu aku berkata, "Sampaikanlah kepadaku hadits yang engkau dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Haruriyah ". Sahl berkata, Aku akan menyampaikan kepada engkau hadits yang aku dengar dan aku tidak akan menambah-nambahi. Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebut suatu kaum yang keluar dari arah sini -dan Nabi mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq- mereka membaca Al-Qur'an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah tembus keluar dari badan hewan buruannya".

Aku (yaitu Yusair bin 'Amr) berkata, "Apakah Nabi menyebutkan suatu tanda tentang mereka?", Sahl berkata, "Ini yang aku dengar, aku tidak menambah-nambahinya" (HR Ahmad no 15977)

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ini, ternyata sejarah menyatakan bahwa kaum Khawarij keluar dan muncul di Iraq.

Ketiga : Kaedah menunjukkan bahwasanya perawi hadits lebih paham dengan apa yang dia riwayatkan, terlebih lagi jika perawi hadits tersebut sahabat atau tabi'in.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibnu Fudhail, ia berkata :

سَمِعْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، يَقُولُ: يَا أَهْلَ الْعِرَاقِ مَا أَسْأَلَكُمْ عَنِ الصَّغِيرَةِ، وَأَرْكَبَكُمْ لِلْكَبِيرَةِ سَمِعْتُ أَبِي عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ الْفِتْنَةَ تَجِيءُ مِنْ هَاهُنَا» وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْمَشْرِقِ «مِنْ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ» وَأَنْتُمْ يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ، وَإِنَّمَا قَتَلَ مُوسَى الَّذِي قَتَلَ، مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ، خَطَأً فَقَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ: {وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا} [طه: 40]

Aku mendengar Salim bin 'Abdillah bin 'Umar berkata : “Wahai penduduk 'Iraq , aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin 'Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa salam bersabda : ' Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini - ia menunjukkan tangannya ke arah timur - dari arah munculya dua tanduk setan' . Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir'aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah 'azza wa jalla berfirman padanya : 'Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan." (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905].

Salim bin 'Abdillah bin 'Umar mengecam penduduk 'Iraaq karena fitnah yang mereka timbulkan dengan menyebut hadits kemunculan tanduk setan dari arah mereka. Ini menunjukkan bahwa Salim bin 'Abdillah bin 'Umar memahami arah timur yaitu arah Iraq.

Keempat : Para ulama juga memahami bahwa Iraq adalah sebelah timurnya Mekah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkali-kali menekankan makna "masyriq" (timur) dalam kitabnya "Fathul Bari", beliau berkata :

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Puncak kekufuran di arah timur)), …. Ini menunjukkan akan parahnya kekafiran kaum majusi, karena kerajaan Persia dan orang-orang Arab yang tunduk kepada mereka berada di arah timur kota Madinah. Mereka berada di puncak kekerasan hati, kesombongan dan keangkuhan, hingga raja mereka merobek surat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam –sebagaimana akan datang penjelasannya pada tempatnya- dan fitnah-fitnahpun berkesinambungan dari arah timur" (Fathul Baari 6/352)

Ibnu Hajar juga berkata tatkala menjelaskan tentang hadits yang diriwayatkan oleh Usamah radhiallahu 'anhu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ»

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dari salah bangunan yang tinggi (benteng) di kota Madinah, lalu beliau berkata, "Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?, Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah diantara rumah-rumah kalian, sebagaimana tempat-tempat turunnya hujan" (HR Al-Bukhari no 1878 dan Muslim no 2885)

"Hanyalah dikhususkan kota Madinah dengan hal itu (*munculnya fitnah-fintah) karena pembunuhan Utsman terjadi di Madinah, kemudian tersebarlah fitnah di negeri-negeri setelah itu. Perang Jamal, perang shiffin semuanya karena peristiwa pembunuhan Utsman. Perang di Nahrawaan disebabkan karena permasalahn tahkiim yang dilakukan di siffin. Seluruh peperangan yang terjadi di masa itu hanyalah buah dari pembunuhan Utsman atau karena sesuatu yang timbul akibat pembunuhan Utsman. Kemudian sebab utama terjadi pembunuhan Utsman adalah pencelaan terhadap para gubernur dan juga pencelaan terhadap Utsman yang telah mengangkat para gubernur tersebut. Dan yang pertama kali timbul hal itu dari Iraq, dan ia dari arah timur. " (Fathul Baari 13/13)

Ibnu Hajar juga berkata

"Selain Al-Khtthoobi berkata bahwasanya penduduk daerah timur tatkala itu orang-orang kafir, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa fitnah akan datang dari arah timur, dan terjadilah sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi. Fitnah yang pertama kali terjadi dari arah timur dan hal itu terjadi karena perpecahan diantara kaum muslimin, dan hal ini merupakan perkara yang disukai dan digembirai syaitan. Demikian juga bid'ah tersebar dari arah tersebut.

Al-Khottoobi berkata, "Najd dari sisi timur, barang siapa yang di kota Madinah maka Najd nya adalah padang Iraq dan sekitarnya, dan itu adalah bagian timur penduduk Madinah. Dan Najd asalnya (*dalam bahasa) adalah setiap dataran yang tinggi, hal ini berbeda dengan "ghour" karena ghour adalah dataran rendah. Dan Tihamah seluruhnya dari ghour, dan kota Mekah termasuk Tihamah" demikian perkataan Al-Khotthoobi.

Dengan demikian diketahuilah kelemahan pendapat Ad-Dawudi yang menyatakan bahwa Najd (suatu tempat) di arah Iraq, karena ia menyangka bahwa Najd adalah suatu tempat khusus tertentu, padahal bukan demikian, seluruh tempat yang tinggi ditinjau dari daerah yang setelahnya dikatakan dataran tinggi tersebut Najd dan dataran rendah ghour" (Fathul Baari 13/47)

Ibnu Hajar juga berkata,

"Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ((Keluar sekelompok manusia dari arah timur)), sebagaimana telah lalu… mereka adalah khawarij…dan awal kemunculan mereka di Iraq, dan Iraq berada di arah timur jika ditinjau dari kota Mekah Al-Musyarrofah" (Fathul Baari 13/536)

Kesimpulan dari penjelasan Ibnu Hajar diatas diantaranya :
  • Iraq merupakan timur kota Madinah
  • Fitnah khawarij munculnya di Iraq, tatkala terpecah kaum muslimin
  • Najd artinya adalah dataran tinggi, dan ini adalah makna Najd menurut asli bahasanya.
  • Najd bukanlah nama suatu tempat khusus yang ada di Iraq, karenanya Ibnu Hajar membantah Ad-Dawudi yang menyangka ada suatu daerah yang Namanya Najd di Iraq
  • Jadi memang tidak ada nama daerah Najd di Iraq

Kelima : Dari penjelasan lalu maka kita pahami bahwasanya kata "masyriq" tidak berarti harus persis ke arah timur, akan tetapi kata "masyriq" juga mencakup arah timur laut. Karena posisi Iraq berada di arah timur laut kota Madinah.

Sebagai bukti bahwasanya kata "masyriq" mencakup arah timur laut, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wa salam telah mengabarkan bahwa akan muncul Dajjaal dari arah timur. Rasulullah bersabda:

أَلَا إِنَّهُ فِي بَحْرِ الشَّأْمِ أَوْ بَحْرِ الْيَمَنِ، لَا بَلْ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، مَا هُوَ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، مَا هُوَ وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْمَشْرِقِ

"Ketahuilah, bahwasannya ia (Dajjaal) keluar dari laut Syaam atau laut Yaman. Tidak, bahkan ia keluar dari arah Timur. Ia dari arah Timur !, ia dari arah Timur !!” . Dan beliau mengarahkan tangannya ke Timur " (HR Muslim no. 2942).

Rasulullah juga bersabda dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh :

" يَأْتِي الْمَسِيحُ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ هِمَّتُهُ الْمَدِينَةُ حَتَّى يَنْزِلَ دُبُرَ أُحُدٍ، ثُمَّ تَصْرِفُ الْمَلَائِكَةُ وَجْهَهُ قِبَلَ الشَّامِ، وَهُنَالِكَ يَهْلِكُ "

“Al-Masiih (Ad-Dajjaal) datang dari arah Timur menuju kota Madinah dan berhenti di belakang bukit Uhud. Kemudian malaikat memalingkan mukanya ke arah Syaam dan ia binasa di sana” (HR Muslim no. 1380).

Ternyata yang dimaksud dengan arah timur tempat kemunculan dajjal adalah di daerah Khuraasaan, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat berikut :

عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ، قَالَ: حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الدَّجَّالُ يَخْرُجُ مِنْ أَرْضٍ بِالْمَشْرِقِ، يُقَالُ لَهَا: خُرَاسَانُ، يَتْبَعُهُ أَقْوَامٌ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ "

dari Abu Bakr Ash-Shiddiiq, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Dajjaal akan keluar dari bumi Timur, yang bernama : Khuraasaan . Ia akan diikuti oleh beberapa kaum, dimana wajah mereka itu seperti perisai yang ditambal” (HR At-Timidzi no. 2237, Ibnu Majah no 4072, Ahmad no 12, dan Al-Hakim no 8608, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi, silahkan lihat takhrij hadits ini secara luas di Silasilah Al-Ahaadiits As-Shahihah 4/165 no 1591).

Khuraasaan adalah negeri yang letaknya tidak pas di arah timur mata angin kota Madiinah, namun ia terletak di arah timur laut kota Madinah sebagaimana 'Iraq.

Dalam hadits yang lain disebutkan bahwa Dajjal muncul dari Asbahan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda

وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُودِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِينَةَ فَيَنْزِلُ فِي نَاحِيَتِهَا

"Dan sesungguhnya Dajjal akan keluar di Yahudi Asbahan hingga ia mendatangi kota Madinah, lalu iapun berhenti di pinggiran Madinah" (HR Ahmad no 24467, Ibnu Hibban no 1905 dan dishahihkan oleh Al-Haitsami dalam Majma' Az-Zawaid 7/651)

Dan semisal hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan lafal

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ، سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

"Dajjal diikuti oleh 70 ribu Yahudi Asbahan, mereka memakai thoyalisah (semacam pakaian yang diletakan di bahu)" (HR Muslim no 2944)

Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata :

وَأَمَّا مِنْ أَيْنَ يَخْرُجُ؟ فَمِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ جَزْمًا، ثُمَّ جَاءِ فِي رِوَايَةٍ أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خُرَاسَان، أَخْرَجَ ذَلِكَ أَحْمَدُ وَالْحَاكِمُ مِنْ حَدِيْثِ أَبِي بَكْرٍ وَفِي أُخْرَى أَنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ أَصْبَهَان أَخْرَجَهَا مُسْلِمٌ

"Adapun dari mana keluarnya Dajjal?, maka keluarnya pasti dari arah timur, kemudian dalam sebuah riwayat bahwasanya Dajjal keluar dari Khurosan, sebagaimana riwayatnya dikeluarkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dari hadits Abu Bakr As-Shiddiq, dan dalam riwayat yang lain bahwasanya Dajjaal keluar dari Ashbahaan, riwayatnya dikeluarkan oleh Muslim" (Fathul Baari 13/91)

Padahal Asbahan terletak di timur laut kota madinah, dan tidak persis ke arah timur, sebagaimana juga Iraq (tempat munculnya Khawarij), ternyata juga di timur laut Madinah dan tidak persis di arah timur, akan tetapi Nabi menyatakan dua tempat ini (Iraq dan Asbahan) adalah di masyriq (timur) kota Madinah. Perhatikan peta di bawah ini (sumber : http://maps.google.co.id/, kata kunci kufah)



Keenam : Para ahli bahasa Arab juga menyatakan bahwa Najd dalam bahasa Arab artinya dataran tinggi.

Al-Azhari (wafat 370 H) berkata

قال ابن شميل: النَّجْدُ: قفاف الأرض وصلابتها، وما غلظ منها وأشرف، والجماعة: النَّجَادُ، ولا يكون إلا قفاًّ أو صلابة من الأرض في ارتفاع مثل الجبل مُعترضاً بين يديك، يردُّ طرفك عمَّا وراءه

"Ibnu Syumail berkata, "An-Najd : Tanah kering dan keras, tanah yang keras dan tinggi. Pluralnya An-Najaad, dan tidak dikatakn An-Najd kecuali dataran kering dan keras serta tinggi, seperti gunung yang membentang dihadapanmu, ia menghalangi pandanganmu dari apa yang ada di belakangnya" (Tahdziib Al-Lughoh 10/662)

Ibnu Faaris (wafat 395 H) berkata :

وَالنَّجْدُ مُرْتَفَعٌ مِنَ الأَرْضِ

(Mu'jam Maqooyiis Al-Lughoh 4/401)

Ibnul Atsiir (wafat 606 H) berkata :

والنَّجْد : ما ارْتَفع من الأرض وهو اسمٌ خاصٌّ لما دون الحجاز ممَّا يَلي العِراق

"Dan An-Najd adalah dataran tinggi, dan ia adalah nama khusus untuk daerah setelah Hijaz (*Mekah-Madinah) ke arah Iraq" (An-Nihaayah fi Ghoriib Al-Hadiits 5/19)

Al-Fairuz Aabadi (wafat 817 H) berkata:

النَّجْدُ : ما أشْرَفَ من الأرضِ

"An-Najd adalah dataran tinggi' (Qoomuus Al-Muhiith 1/337)

Dari perkataan para Ahli bahasa Arab ini kita mengetahui dengan pasti bahwa An-Najd secara bahasa adalah dataran tinggi.

Karenanya terdapat banyak Najd di dunia ini, yang berarti dataran tinggi, sebagaimana disebutkan oleh Yaquut bin Abdillah Al-Hamawi Ar-Rumi Al-Baghdadi dalam kitabnya Mu'jam Al-Buldaan, bahwasanya ada Najd Barq, Najd Khool, Najd 'Ufr, Najd 'Uqoob, Najd Kabkab, Najd Yaman, dll (Lihat Mu'jam Al-Buldaan 5/265)

Ketujuh : Terbukti kalau Iraq memang tempat munculnya fitnah-fitnah, diantara fitnah-fitnah tersebut:
  • Terbunuhnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thoolib di Karbala

Tatkala ada penduduk Iraq yang bertanya kepada Ibnu Umar radhiallahu 'anhu tentang hukum membunuh seekor lalat tatkala sedang ihrom, maka Ibnu Umar berkata

أَهْلُ العِرَاقِ يَسْأَلُونَ عَنِ الذُّبَابِ، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ ابْنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Penduduk Iraq mereka bertanya tentang (hukum membunuh) lalat, sementara mereka telah membunuh putra dari putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam !!" (HR Al-Bukhari no 3753)
  • Munculnya Khawarij juga di Iraq, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

قَوْمًا يَخْرُجُونَ مِنْ هَاهُنَا وَأَشَارَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْعِرَاقِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ قُلْتُ هَلْ ذَكَرَ لَهُمْ عَلَامَةً قَالَ هَذَا مَا سَمِعْتُ لَا أَزِيدُكَ عَلَيْهِ

"Suatu kaum yang keluar dari arah sini -dan Nabi mengisyaratkan tangannya ke arah Iraq - mereka membaca Al-Qur'an akan teapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari badan hewan buruannya".(HR Ahmad no 15977)
  • Munculnya Mukhtaar bin Abi 'Ubaid Ats-Tsaqofi yang mengaku sebagai nabi
  • Fitnahnya Al-Hajjaaj bin Yusuf Ats-Tsaqofi yang banyak menumpahkan darah kum muslimin.
  • Di Baghdad mulai munculnya fitnah Kholq Al-Qur'an, yaitu di masa Imam Ahmad, sehingga Imam Ahmad dipenjara dan disiksa. Para ulama telah sepakat bahwa aqidah Al-Qur'an adalah makhluk merupakan aqidah kufur.
  • Iraq dahulu merupakan sarangnya Syi'ah Rofidoh, bahkan hingga saat ini
  • Yang pertama kali mengingkari taqdir adalah Ma'bad Al-Juhani di Bashroh di Iraq

عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، قَالَ: كَانَ أَوَّلَ مَنْ قَالَ فِي الْقَدَرِ بِالْبَصْرَةِ مَعْبَدٌ الْجُهَنِيُّ

Dari Yahya bin Ya'mar berkata, "Pertama kali yang menolak taqdir dalah Ma'bad Al-Juhani di Bahsroh (*salah satu kota di Iraq)" (HR Muslim no 1)

  • Fitnah Mu'tazilah
  • Fitnah Murji'ah juga pertama kali muncul di Iraq
  • Dan di Iraqlah mengalir darah-darah kaum muslimin yang terbunuh oleh bala tentara kaum Tatar

Mahmuud Syukriy Al-Aaluusiy Al-'Iraaqiy rahimahullah berkata :

“Bukan perkara yang mengherankan bahwa negeri 'Iraq sumber setiap fitnah dan bencana. Kaum muslimin di sana senantiasa ditimpa musibah demi musibah. Orang-orang Haruuraa' (Khawaarij) dan apa yang mereka lakukan terhadap Islam tidaklah samar lagi (akan kerusakannya). Begitu juga dengan fitnah Jahmiyyah yang telah dikafirkan mayoritas ulama salaf, hanya keluar dan lahir dari bumi 'Iraq . Mu'tazillah dan apa yang mereka katakan kepada Al-Hasan Al-Bashriy serta lima pokok keyakinan mereka yang masyhur yang menyelisihi Ahlus-Sunnah, dan ahlul-bid'ah dari kalangan Shufiyyah yang berpendapat akan adanya fanaa' dalam tauhid ar-rububiyyah yang bermaksud menggugurkan beban perintah dan larangan; juga muncul di Bashrah ( 'Iraq ). Lalu Raafidlah dan Syi'ah serta apa yang terdapat pada mereka dari sikap ghulluw (berlebih-lebihan) terhadap ahlul-bait, perkataan buruk mereka terhadap Al-Imaam 'Aliy dan seluruh imam-imam, serta caci-maki mereka terhadap para pembesar shahabat Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam; maka semuanya ini ma'ruuf lagi tersiar” (Ghayaatul-Amaaniy, 2/180).

Kedelapan : Jika kita membaca tentang sejarah Islam tentang fitnah-fitnah yang terjadi di dunia Islam, kita akan dapati daerah Najd Arab Saudi jauh dari tempat-tempat munculnya fitnah. Di zaman para sahabat –terutama zaman dua khalifah, Utsman dan Ali bin Abi Tholib-, muncul banyak fitnah, dan semua fitnah muncul di Iraq, Syam, dan Mesir. Tidak ada fitnah yang lebih besar dari terbunuhnya Umar bin Al-Khotthob, Utsman bin'Affan, dan Ali bin Abi Tholib. Termasuk fitnah yang besar adalah peperangan yang terjadi antara Ali dan Mu'awiyah, demikian juga perang jamal, juga perang antara Ali dan Khawarij. Dan jika kita mengecek sejarah Islam dari zaman para sahabat hingga saat ini maka kita akan dapati kebanyak fitnah besar yang timbul adalah di daerah Iraq, Mesir dan Syam, tidak kita dapatkan hal tersebut terjadi di Najd Arab Saudi.

Kesembilan : Kalaupun seandainya dakwah salafiyah (dakwah salafi wahabi) yang ada sekarang adalah dakwah yang sesat, maka apakah fitnahnya lebih besar dibandingkan dengan fitnah ilhad, kristenisasi, kefasikan, dan kefujuran yang muncul sekarang di negeri-negeri yang lain selain di Najd Arab Saudi??. Apakah pantas kita memvonis bahwa hadits-hadits tentang munculnya fitnah-fitnah itu adalah di Najd Arab Saudi??, sementara negeri-negeri lain tenggelam dalam tersebarnya kekufuran, liberalisme, kefasikan, kristenisasi, dll??!!

Jika memang dakwah Salafy Wahabi dianggap sesat, maka tidak bisa dipungkiri, bahwasanya aqidah-aqidah yang rusak dari firqoh-firqoh yang sesat banyak muncul di negeri-negeri Islam, tidak sebanding dengan dakwah Salaf Wahabi

Terlebih lagi suku kata "fitnah" seringnya digunakan untuk mengungkapkan terjadinya pertumpahan darah dan peperangan, maka apakah telah terjadi perang besar-besaran dan pertumpahan darah besar-besaran di Najd Arab Saudi bila dibandingkan pertumpahan darah dan peperangan yang sering terjadi di Iraq??!!. Kita tidak mengingkari adanya peperangan kecil-kecilan yang terjadi di Najd Arab Saudi terutama di zaman Raja Abdul Aziz, akan tetapi itu merupakan hal yang wajar, dan semua negara mengalami hal seperti ini.

Tatkala mengomentari hadits tentang munculnya tanduk syaitan dari arah timur, maka Ibnu Abdil Barr berkata :

"Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan tentang datangnya fitnah-fitnah dari arah timur, dan demikianlah kebanyakan fitnah muculnya dari timur dan terjadi di timur, seperti perang jamal, perang sifin, terbunuhnya Al-Husai, dan fitnah-fitnah yang lainnya yang panjang jika diceritakan, yaitu fitnah-fitnah yang terjadi setelah itu di Iraq dan Khurosan hingga hari ini. Memang terjadi fitnah-fitnah di negeri-negeri Islam, akan tetapi fitnah yang terjadi di timur selalu lebih banyak" (At-Tamhiid 17/12)

Kesepuluh : Munculnya fitnah di suatu tempat, tidaklah melazimkan rusaknya aqidah di tempat tersebut.

Dari Usamah radhiallahu 'anhu

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ عَلَى أُطُمٍ مِنْ آطَامِ الْمَدِينَةِ، ثُمَّ قَالَ: «هَلْ تَرَوْنَ مَا أَرَى؟ إِنِّي لَأَرَى مَوَاقِعَ الْفِتَنِ خِلَالَ بُيُوتِكُمْ، كَمَوَاقِعِ الْقَطْرِ»

"Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat dari salah satu bangunan yang tinggi (benteng) di kota Madinah , lalu beliau berkata, "Apakah kalian melihat apa yang aku lihat?, Sesungguhnya aku benar-benar melihat tempat-tempat fitnah diantara rumah-rumah kalian, sebagaimana tempat-tempat turunnya hujan" (HR Al-Bukhari no 1878 dan Muslim no 2885)

Bahkan dalam hadits ini Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyamakan fitnah yang terjadi di kota Madinah ibarat tempat-tempat jatuhnya air hujan. Kesamaannya dari sisi banyaknya fitnah tersebut dan juga tersebarnya fitnah tersebut (lihat penjelasan Imam An-Nawawi di Syarh Shahih Muslim 18/7-8).

Lantas apakah terjadinya fitnah-fitnah di kota Madinah menunjukkan akan rusaknya aqidah penduduk kota Madinah??!!

Kesebelas : Kalaupun hadits-hadits tentang fitnah menunjukkan akan rusaknya aqidah secara umum maka hal ini tidaklah menunjukkan bahwa rusaknya aqidah tersebut akan secara terus menerus dan berkesinambungan.

Penduduk Najd Arab Saudi sebelum datangnya Nabi adalah kaum musyrikin sebagaimana penduduk daerah-daerah yang lain, dan setelah wafatnya Nabi shallallahu 'alahi wa sallam sebagian penduduk Najd Arab Saudi menjadi kafir dan mengikuti Musailamah Al-Kadzdzab. Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab baru berumur kurang lebih dua abad, lantas bukankah sebelum munculnya dakwah wahabi di Najd maka penduduk Najd sama seperti penduduk daerah-daerah yang lainnya. Dan menurut para penentang dakwah wahabi bahwasanya penduduk Najd -dari zaman tewasnya Musailamah hingga munculnya dakwah wahabi- semuanya dalam keadaan di atas petunjuk dan terbebaskan dari fitnah. Jika perkaranya demikian, maka apakah mereka tetap nekat memvonis hadits-hadits fitnah kepada kota Najd Arab Saudi??!!
bersambung... 

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

tentang Membongkar Koleksi Dusta Syaikh Idahram selengkapnya silahkan kunjungi www.firanda.com

Tuesday, January 15, 2013

Universitas Termewah di Riyadh

1357194254878950760
Salah satu gerbang masuk di universitas khusus perempuan prince Noura university. foto dokumen pribadi

Oleh : Arke
Riyadh sebagai ibukota salah satu negara terkaya di jazirah yaitu Arab Saudi sudah bisa disejajarkan dengan kota-kota besar lainnya didunia, seperti New York di Amerika maupun Moskow di Russia. Dibalik eksklusifnya gaya hidup orang Saudi, tersimpan banyak cerita menarik dan unik untuk dikupas, tentunya tanpa tendensi apapun didalamnya.

Disini saya ingin sekedar berbagi informasi kecil tentang kemewahan sebuah universitas di Riyadh.
Kenapa saya katakan mewah?

Uninversitas mewah tersebut adalah Princess Noura bint Abdulrahman Univerity for Women. Mungkin universitas ini menjadi satu-satunya universitas yang dilengkapi dengan fasilitas akomodasi berupa kereta api monorel yang berfungsi sebagai alat transportasi mahasiswi di tempat itu.

Seperti umumnya sekolah-sekolah di Arab Saudi, universitas ini juga menggunakan transortasi khusus untuk menjemput para murid dari rumah tinggal masing-masing,nah kelebihan di universitas ini, ada kereta api khusus yang akan menjadi penyambung kaki para mahasiswi menuju ke kelasnya masing-masing. Karena saking luasnya area tempat para mahasiswi menuntut ilmu.

Kebetulan saya mempunyai teman yang saudara perempuannya beruntung bisa sekolah di universitas ternama di negara tersebut, yang memang dikhususkan untuk perempuan saja. Jadi saya bisa sedikit berbagi cerita mengenai kelebihan universitas termewah sekaligus terbesar di timur tengah tersebut.

Nama universitas ini diambil dari nama Putri Nourah binti Abdulrahman, adik Raja Abdulaziz. Nourah dalam bahasa Arab berarti “cahaya”.
135722442837491973
Princess Noura University

Kampus PNU menyebar lebih dari 8 juta meter persegi, termasuk sebuah perpustakaan baru yang akan menampung 4,5 juta buku. Ada 800 bangunan dan sepuluh pintu gerbang antara Riyadh dan kampus universitas. Selain perumahan untuk staf universitas dan mahasiswa, fitur masjid, sekolah dan TK untuk anak-anak, dan fasilitas rekreasi. Ini adalah salah satu dari sepuluh universitas terbesar di dunia dan universitas terbesar bagi perempuan.

Kampus ini juga mencakup fasilitas olahraga yang dapat digunakan siswa. Namun, mereka belum dibuka untuk melayani para siswa.

Universitas ini didirikan pada tahun 1970 sebagai Universitas Riyadh for Women. Raja Abdullah meluncurkan pembangunan institusi terbesar dan paling modern di dunia perempuan pendidikan tinggi di kota pendidikan mandiri yang lebih tinggi. Visi ini telah menjadi kenyataan dengan dibukanya City University untuk Putri Noura Binti Abdulrahman University untuk Wanita. The City University diharapkan akan berfungsi penuh pada tahun 2012. Raja Abdullah mengatakan:

“Perempuan membawa tanggung jawab yang lebih dari kewajiban, untuk menjaga stabilitas masyarakat dan berkontribusi untuk membangun perekonomian bangsa, dan untuk mewakili masyarakat dan bangsa dengan standar tertinggi, di luar dan di dalam negeri. Untuk menjadi ibu peduli, warga teladan dan karyawan yang produktif. Di luar negeri, menjadi duta negara dan masyarakat, dan mewakili baik agamanya, iman dan nilai-nilai kita“

Perempuan merupakan 58% dari mahasiswa Arab Saudi tetapi hanya 14% dari angkatan kerja, jauh lebih sedikit daripada di negara-negara Islam tetangga. 85% dari wanita Saudi bekerja di bidang pendidikan, 6% dalam kesehatan masyarakat, dan 9% di sektor publik.
sumber gambar disini

sumber : http://www.kompasiana.com/ar48k3r3

Saudi Arabia Yang Fenomenal Dan Kontraversial

Oleh : Jiddan
Bagi sebagian kita Negara Saudi adalah negara yang menarik untuk diperbincangkan bahkan menjadi bahan perdebatan yang nyaris tak berkesudahan, di milist, kolom komentar, media sosial bahkan di kompasiana  tak henti hentinya pemberitaan mengenai Saudi menjadi Trend topik dan ramai komentar.

Banyak hal menarik yang bisa di angkat mengenai saudi arabia yang memang tak ada di belahan dunia manapun, semisal hukum pancung, terlarangnya perempuan mengendarai kendaraan hingga tak adanya perayaan pergantian tahun seperti di negara lain, saat adzan berkumandang semua aktifitas berhenti tak ada yang berani membuka untuk melakukan transaksi jual beli, polisi syariah berkeliling untuk mengingatkan mereka untuk sholat, sedangkan mereka yang non muslim lebih banyak menunggu di pelataran toko.

Perempuan di saudi arabia yang konon di marginalkan justru kenyataannya sangat istimewa, prioritas dalam sebuah antrian hingga ruang tunggu khusus untuk mereka seakan dimanjakan, beberapa bank bahkan memiliki ladies branch yang mengkhususkan wanita sebagai custumernya.

Lalu bagaimana dengan hukum di saudi arabia? apakah rumor yang mengatakan hukum mati tidak berlaku untuk warga negara saudi itu benar ? saya tidak berani mengatakan bahwa hukum saudi tidak fair, dari beberapa kasus pembunuhan hanya beberapa saja yang dihukum pancung, tapi secara logika mereka warga saudi lebih mudah untuk meminta permohonan maaf kepada keluarga korban apalagi ada pertalian keluarga yang memudahkan mereka untuk saling memaafkan, lalu bagaimana dengan pelaku pembunuhan atau kejahatan dari negara lain ? jawabannya adalah tergantung dari kerja keras pemerintah negaranya, di tambah faktor keberuntungan si pelaku sendiri untuk mendapatkan permohonan pengampunan dari pemilik darah, apalagi jika ternyata pemerintah negara pelaku bersikap acuh atau bahkan tidak mau tahu.

Saudi memang fenomenal, cap wahabi dan image jelek  yang dipropagandakan kaum syiah dan yang sefaham dengan mereka tidak menjadikan negara ini terpuruk dan dijauhi, tapi justru menjadi cambuk untuk pemerintah dengan memberikan pelayanan kepada muslim seluruh dunia tanpa kecuali dengan sebaik baiknya, pembangunan dua kota suci Makkah dan Madinah yang bisa menampung jutaan jamaah adalah bukti bahwa kerajaan ini tak melihat latar belakang pemahaman jamaahnya, kita doakan semoga pelayan dua kota suci  Raja Abdullah selalu di beri kesehatan dan panjang umur Aamiin..

sumber : http://www.kompasiana.com/jiddan


Raja Saudi Kirim 500 Ton Gandum Untuk Pengungsi Suriah Di Yordania

RAJA Abdullah Bin Abdul Aziz, Arab Saudi, telah memerintahkan pengiriman 500 ton gandum untuk pengungsi Suriah di kamp Zaatari di Yordania, Al Arabiya TV melaporkan hari Ahad kemarin (13/1/2013).
 
Tiga ratus truk sarat dengan gandum sedang menuju kamp pengungsi, kata Badr al-Samhan, manajer regional dari kampanye nasional Saudi untuk rakyat Suriah.

Samhan mengatakan kedutaan Saudi di Yordania telah memulai pertemuan darurat untuk membuka jalan dalam upaya mendistribusikan gandum.

Menteri Dalam Negeri Saudi Pangeran Muhammad Bin Nayif juga memerintahkan 2.000 tenda tambahan untuk pengungsi Zaatari setelah banjir besar menghancurkan beberapa tenda di kamp pengungsi.

Setelah usulan PBB untuk lebih banyak bantuan bagi pengungsi Suriah, Arab Saudi memutuskan untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan mereka kepada 30.000 pengungsi Suriah di Zaatari yang berjuang dengan kondisi memprihatinkan
.
Sebelumnya, Saudi membagikan sekitar 10.000 keranjang makanan serta 700 pemanas. Pada hari Jumat pekan lalu, Raja Abdullah memerintahkan penggelontoran dana sebesar 10 juta dolar untuk pengungsi Suriah di Yordania.

Suhu yang membeku dan adanya bencana banjir yang telah menewaskan sedikitnya 11 jiwa di seluruh wilayah, memperburuk nasib ratusan ribu pengungsi Suriah yang meringkuk di kamp-kamp tenda di Yordania, Turki dan Lebanon.

Sementara itu, di samping bantuan Saudi yang ditawarkan kepada pengungsi di Yordania, Samhan mengatakan bahwa “ada juga 10 helikopter yang bergerak untuk membantu pengungsi Suriah di Turki.”(fq/islampos/alarabiya)

Sunday, January 13, 2013

Jihad dan Penguasa

Perkara jihad merupakan wewenang penguasa bukan orang selain mereka, sehingga seorang mujahid tidak diperkenankan menegakkan jihad tanpa seizin mereka. Hal ini berdasar beberapa dalil berikut:
 
Pertama, hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَعَدَلَ كَانَ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرٌ وَإِنْ يَأْمُرْ بِغَيْرِهِ كَانَ عَلَيْهِ مِنْهُ
“Seorang imam merupakan perisai, kaum muslimin berperang di belakangnya dan berlindung dengannya. Apabila dia memerintahkan untuk bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan berlaku adil, maka dia akan mendapat pahala akan hal itu. Akan tetapi apabila dia memerintahkan untuk berbuat maksiat, maka dia berhak memperoleh dosanya.” (HR. Muslim 3428).

Hadits ini berbentuk berita namun mengandung perintah dan merupakan dalil tegas dalam masalah ini.
An Nawawi berkata, “(imam adalah perisai) seakan-akan dirinya adalah tabir dikarenakan dirinya menghalangi musuh untuk tidak menyakiti kaum muslimin dan mencegah kaum muslimin agar tidak saling menyakiti dan melindungi negeri islam. Manusia berlindung kepadanya dan takut dengan hukumannya. Dan makna (berperang di belakangnya) adalah kaum muslimin ikut berperang bersama mereka dalam menghadapi kaum kuffar, pemberontak, Khawarij dan seluruh golongan yang berbuat kerusakan dan kezhaliman.” (Syarh Muslim 12/230).

Ibnu Hajar mengatakan, “Dikarenakan seorang imam melindungi kaum muslimin dari gangguan musuh dan mencegah terjadinya penganiayaan sesama kaum muslimin. Dan yang dimaksud dengan imam adalah mereka yang menangani urusan kaum muslimin.” (Fathul Baari 6/136).

Kedua, hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Hudzaifah ibnul Yaman  radliallahu ‘anhu mengatakan, Aku bertanya pada rasulullah, “Wahai rasulullah, apa saranmu jika aku menemui hal tersebut? Beliau menjawab, “Hendaknya engkau mengikuti jama’ah kaum muslimin dan imam mereka” Maka aku bertanya lagi, “Jika ternyata mereka tidak memiliki jama’ah dan imam, apa yang harus aku lakukan?” Maka beliau menjawab, “Tinggalkan seluruh kelompok itu, dan gigitlah akar pohon (ajaran agama yang hak) hingga maut datang menjemputmu dalam keadaan demikian.”

Sisi pendalilan dari hadits ini adalah Hudzaifah diperintahkan untuk mengikuti jama’ah kaum muslimin beserta imam mereka dan tidak diperkenankan baginya untuk memisahkan diri dari mereka.

Apabila dikatakan: “Seseorang yang pergi berjihad-di saat ini- pada hakekatnya berpindah dari satu jama’ah kaum muslimin dan imamnya kepada jama’ah kaum muslimin yang lainnya. Maka dirinya tetap dianggap mengikuti jama’ah kaum muslimin beserta imam mereka.

Jawaban untuk hal tersebut: Hal ini tidak boleh bahkan hal tersebut adalah bentuk pengkhianatan senyatanya yang telah dilarang oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullan ibn Umar, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْغَادِرَ يُنْصَبُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ هَذِهِ غَدْرَةُ فُلَانِ
“Sesungguhnya seorang pengkhianat di hari kiamat kelak akan membawa panji, kemudian akan ada pengumuman yang berbunyi, “Inilah si pengkhianat fulan.” (HR. Bukahri 5710; Muslim nomor 3266).
Ibnu Umar berdalil dengan hadits ini untuk menunjukkan haramnya melepas ikatan bai’at dari Yazid untuk menjalin bai’at kepada Ibnu Muthi’ dan Ibnu Hanzhalah.
Dan diantara dalil yang menerangkan akan keharaman hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Muslim dari Ibnu Umar bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ لَقِيَ اللَّهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا حُجَّةَ لَهُ
“Barangsiapa yang melepas ketaatan dari imam, maka dia akan bertemu dengan Allah tanpa memiliki hujjah.” (HR. Muslim nomor 3441).

Ketiga, kaidah: Suatu kewajiban yang tidak tersempurnakan tanpa adanya sesuatu, maka hukum sesuatu ini adalah wajib. Kaidah ini merupakan dalil bahwa jihad adalah wewenang penguasa, jika tidak demikian maka akan terjadi kekacauan dikarenakan perbedaan persepsi yang terjadi di antara manusia, bahkan bisa jadi mereka akan saling membunuh.
Hal ini disebabkan golongan yang satu memandang jihad tidak patut dilakukan sehingga golongan yang lain bisa jadi memerangi kelompok yang pertama karena menganggap kelompok tersebut telah mengingkari pensyari’atan jihad, sedangkan kelompok lain memerangi kelompok islam lainnya karena beranggapan kelompok tersebut telah kafir dan demikian seterusnya.

Inilah perkataan ulama yang patut engkau cermati dalam permasalahan ini:
Ibnu Qudamah mengatakan, “Perkara jihad diserahkan kepada pendapat dan ijtihad penguasa. Sedangkan rakyat wajib mentaati  pendapat yang mereka pilih dalam permasalahan tersebut.” (Al Mughni 13/16).

Al Qurthubi mengatakan, “Tidak boleh pasukan berangkat ke medan perang tanpa izin dari imam, meskipun dia bertujuan memata-matai musuh untuk menyelidiki kekuatan mereka sehingga hal ini dapat membantu pasukan (muslimin). Terkadang mereka membutuhkan pelarangan jihad dari imam.” (Al Jami’ li Ahkamil Qur-an 5/275)

Al Hathab mengatakan, ““Ibnu Arafah Asy Syaikh bertanya pada Al Muwaziyah yaitu, “Apakah diperbolehkan berperang tanpa izin imam?” Maka dia menjawab, “Pasukan  dan sekelompok manusia tidak diperbolehkan berperang melainkan dengan seizin imam dan adanya pemimpin yang memimpin mereka.” Kemudian dia berkata, “Ibnu Habib mengatakan, “Aku mendengar para ulama mengatakan, “Apabila imam melarang untuk berperang dikarenakan adanya suatu maslahat, maka tidak boleh untuk menyelisihi perintahnya tersebut melainkan musuh menyerang dengan tiba-tiba, maka pada saat itu diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk berperang membela diri tanpa menunggu izin imam.” (Mawahibul Jalil 3/349).

Pengarang Al Muharrar mengatakan, “Tidak boleh berperang melainkan dengan izin imam, kecuali musuh menyergap dengan tiba-tiba dan dikhawatirkan apabila harus meminta izin terlebih dahulu akan menimbulkan kerusakan yang berat.” (Al Muharrar fil Fiqh 2/170).

Al Buhuti mengatakan, “Apabila kaum kuffar berniat untuk memerangi kaum muslimin, maka kaum muslimin diperkenankan untuk berperang sebagai bentuk pembelaan diri atas jiwa dan kehormatan mereka. Sedangkan perkara  jihad diserahkan pada imam dan ijtihadnya, karena dialah sosok yang paling mengenal kondisi rakyat dan musuhnya, serta strategi untuk mengalahkannya dan jarak mereka dari negeri kaum muslimin. Dan rakyat wajib untuk mentaati segala pendapatnya terkait hal itu.” (Kisyaful Qina’ 3/14).
Dia juga mengatakan, “Tidak boleh berperang melainkan dengan izin penguasa, karena dirinya lebih tahu akan seni berperang dan urusan tersebut diserahkan kepadanya. Hal ini dikarenakan apabila duel sebelum perang dimulai tidak diperbolehkan melainkan dengan izinnya, maka tentu peperangan lebih layak untuk dikedepankan daripada hal tersebut (duel).” (Kisyaful Qina’ 3/72).

Syaikh Sa’ad bin Hamd bin Atiq rahimahullah mengirim sebuah risalah kepada beberapa ikhwan di Arthawiyah, Ghathghat, Utaibah, Mathir, Qahthan dan selainnya yang bertuliskan, “Diantara kepercayaan yang dianut oleh sebagian orang yang bodoh dan tertipu ini adalah memandang remeh pemerintahan kaum muslimin, menyelisihi dan membangkang terhadap imam kaum muslimin terkait masalah peperangan dan selainnya. Hal ini salah satu bentuk kedunguan dan perusakan di muka bumi.
Hal itu diketahui oleh mereka yang memiliki akal dan iman. Telah menjadi suatu aksioma dalam agama ini bahwa tidak ada agama melainkan dengan tegaknya jama’ah, serta tidak ada jama’ah melainkan dengan terwujudnya kepemimpinan, dan tidak ada kepemimpinan melainkan dengan ketundukan dan ketaatan. Sesungguhnya pembangkangan terhadap penguasa kaum muslimin merupakan sebab terbesar kerusakan pada suatu negeri dan rakyat, serta hal tersebut merupakan bentuk penyimpangan dari jalan petunjuk.” (Ad Durarus Saniyah, kitab Al Jihad, cetakan kedua 7/302, cetakan kelima 9/139).

Syaikh Umar bin Muhammad bin Salim berkata dalam risalah yang beliau tulis bagi penduduk Arthawiyah, “Tidak boleh menentang penguasa dalam masalah mengadakan peperangan dan mengadakan perjanjian dzimmah dan mu’ahad tanpa seizinnya. Karena tidak ada agama melainkan dengan tegaknya jama’ah, serta tidak ada jama’ah melainkan dengan terwujudnya kepemimpinan, dan kepemimpinan tidaklah berfungsi melainkan dengan ketundukan dan ketaatan, sesungguhnya pembangkangan terhadap penguasa kaum muslimin merupakan sebab terbesar kerusakan pada suatu negeri dan rakyat (Ad Durarus Saniyah, cetakan kedua 7/313, cetakan kelima 9/166).

http://salafiyunpad.wordpress.com/2011/07/05/jihad-dan-penguasa/

Saturday, January 12, 2013

Mahasiswi Saudi Beri Kehangatan di Musim Dingin

Hidayatullah.com—Seiring dengan musim dingin yang semakin membekukan tubuh, sekelompok mahasiswi Universitas Putri Noura, Arab Saudi, menyelenggarakan kegiatan kemanusiaan dengan slogan “Berikan aku kehangatan.”

Dalam kegiatan itu mereka memberikan peket berupa tas berisi pakaian hangat yang dibagi-bagikan kepada para petugas kebersihan di Riyadh oleh anak-anak kecil, yang merupakan saudara dari para mahasiswi.

Pengawas kegiatan itu Abeer Saleh mengatakan, inisiatif tersebut tidak lain merupakan bagian dari kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pihak universitas.

“Musim dingin dimulai dengan suhu yang sangat dingin tahun ini, sementara di luar sana ada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Mereka sangat miskin dan sangat-sangat membutuhkan pakaian untuk menghangatkan tubuh mereka,” kata Abeer, dikutip Arab News (12/1/2013).

Sepanjang tahun Universitas Putri Noura, yang merupakan universitas khusus perempuan terbesar di dunia, menggelar berbagai macam kampanye di samping kegiatan seminar, forum dan lokakarya, sebagai bagian dari layanan terhadap masyarakat.
Kampanye peduli terhadap orang yang membutuhkan di musim dingin dengan membagikan pakaian hangat ini berlangsung selama satu pekan.*

Rep: Ama FarahRed: Dija


Raja Arab Saudi izinkan perwakilan wanita di Dewan Syura

Raja Abdullah
Raja Abdullah
Sindonews.com - Raja Arab Saudi, Abdullah telah menunjuk 30 wanita untuk duduk di Dewan Syura. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah, kaum wanita bisa masuk dalam badan penasehat kerajaan. Keputusan yang dikeluarkan pada Jumat (11/1/2013) ini menandai terobosan dalam tubuh Kerajaan Arab Saudi yang dikenal menerapkan pembatasan ketat bagi kaum wanita.

Raja Abdullah mengambil keputusan itu setelah berkonsultasi dengan para pemimpin agama di Arab Saudi, yang menerapkan versi ketat hukum syariah Islam. Kerajaan Arab Saudi mengalokasikan kuota 20 persen di dewan konsultatif bagi kaum wanita yang ditunjuk oleh raja untuk menasehatinya tentang kebijakan,  tetapi mereka tidak bisa mengatur.

"Ini adalah kejutan yang baik dan janji yang telah dipenuhi. Raja bertekad untuk menempatkan perempuan di pusat perhatian. Ini akan menyuarakan, bahwa Arab Saudi akan mengamankan lebih banyak hak bagi kaum perempuan,” kata Novelis wanita Arab Saudi, Badriya al-Bishr.

Namun, dekrit ini tetap menerapkan pedoman yang ketat. Anggota Dewan Syura pria akan dipisahkan dengan kaum wanita. Perempuan akan duduk di daerah khusus dan masuk ke ruang Dewan Syura melalui pintu terpisah agar tidak bergaul dengan rekan-rekan pria mereka.

Raja Abdullah telah dengan hati-hati melakukan perubahan.