Friday, June 8, 2012

Shabiha: Pasukan Pembunuh Rezim Assad


Oleh Harriet Alexander, dan Ruth Sherlock

Pasukan Shabiha memulai gerakannya sebagai pemeras dan penyelundup. Tapi sekarang, mereka bergerak sebagai pasukan yang sangat loyal terhadap rezim brutal Suriah, mereka telah berperan jauh lebih haus darah, tulis Harriet Alexander dan Ruth Sherlock.

Pintu klinik Dr Mousab Azzawi itu, di pantai Mediterania Suriah itu selalu terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan. Tapi di klinik yang beroperasi di jantung milisi Shabiha yang ditakuti itu, ada sebagian pasien yang dokter itu lebih suka untuk tidak diobati.
“Mereka seperti monster,” kata Dr Azzawi, yang bekerja di Latakia. “Mereka memiliki otot besar, perut besar, dan jenggot besar. Mereka semua sangat tinggi dan menakutkan,. Dan memakai steroid untuk memompa bentuk tubuh mereka.
“Saya harus berbicara dengan mereka seperti anak-anak, karena Shabiha menyukai orang-orang dengan kecerdasan rendah. Tapi itulah yang membuat mereka begitu mengerikan - kombinasi kekuatan yang kasar dan kesetiaan yang buta terhadap rezim”
Saat Presiden Bashar al-Assad terus mengarahkan negara ke arah perang saudara penuh  kekerasan, dunia gelap dan rahasia Shabiha mulai terungkap.
Sembilan hari lalu, 108 orang dibantai oleh Shabiha di kota Houla. Para preman pro-Assad itu melalui desa-desa, rumah-rumah, dan menggorok leher siapa pun yang mereka temukan - termasuk 49 anak-anak. Tepat seminggu kemudian, Shabiha menarik 12 orang pekerja pabrik kelar dari bus di kota Qusayr, 40 mil ke selatan, mengikat tangan mereka di belakang punggung mereka, dan menembak kepala mereka.
“Ini anak saya, anak saya,” isak seorang pria tua di sebuah video setelah diposting di YouTube, saat dia menarik kaki mayat yang menghadap ke atas, dengan memakai kemeja biru penuh darah.
Dunia mengetahui betapa haus darahnya Shabiha. Tapi di Suriah, kebrutalan mereka yang mengerikan telah lama dikenal.
“Bahkan sebelum revolusi, setiap saat ada kerusuhan mereka akan turun ke jalan dan menghentikannya untuk pemerintah,” kata Selma, yang berasal dari keluarga Alawit - sebuah sekte Syiah, di mana keluarga Assad lahir, tempat hampir semua Shabiha berada. Sepupunya adalah Shabiha.
“Mereka akan mematahkan lengan dan kaki orang. Mereka akan berperang untuk Bashar sampai mati. Itu wajar - mereka harus membela sekte mereka.”
Sepupu-sepupunya mengenakan pakaian sipil, dia menjelaskan - “lalu televisi bisa mengatakan bahwa mereka hanyalah warga sipil yang mencintai Bashar.”
Memang, seorang yang selamat dari pembantaian Houla mengatakan mereka adalah Shabiha, dan bukan tentara, karena orang-orang itu mengenakan celana olahraga putih bukan sepatu bot militer hitam. Sepatu berwarna putih telah menjadi pemandangan mengerikan bagi rakyat Suriah, yang takut akan Shabiha, kejam tidak berprikemanusiaan melebihi tentara.
Pembalasan dengan pembunuhan yang setimpal di kedua belah sedang meningkat, dimana baik para pemberontak dan pasukan pro-pemerintah dituduh melakukan serangan. Tapi adalah Shabiha - yang dalam bahasa Arab berarti Hantu - yang mengilhami teror paling mengerikan.
Presiden Assad, dan ayahnya Hafez, menggunakan Shabiha untuk meneror rakyat Suriah untuk taat, dengan mencuci otak milisi itu agar percaya bahwa mayoritas Sunni adalah musuh mereka.
Alawi merupakan sekitar 12 persen penduduk Suriah, dan dalam sejarah mereka dianiaya oleh Sunni; hidup dalam kemiskinan di daerah pedesaan pegunungan di sekitar Homs dan di kota pelabuhan Latakia.
Alawi, yang keluar dari cabang Syiah Islam pada abad kesembilan, percaya bahwa tidak perlu melakukan sholat dan puasa atau pergi haji. Banyak dari rukun iman mereka adalah rahasia, dengan menambahkan mistik, meskipun sebagian ulama mengatakan Alawi telah memasukkan unsur-unsur agama Kristen menjadi keyakinan mereka. Sunni melihat hal itu sebagai bid’ah.
Setelah jatuhnya Kekhalifahan Utsmani, penguasa Perancis Suriah membutuhkan prajurit yang bersedia untuk membela rezim dari pemberontakan Sunni, sehingga mereka memasukkan sejumlah besar orang Alawi menjadi tentara, yang menjadi sangat senang karena bisa melawan Sunni yang “penindas”.
Mereka menjadi sekte paling kuat secara politik di Suriah, dan sebagian besar intelijen negara dan perwira militer memiliki keyakinan Alawi. Dari tentara itulah Hafez al-Assad muncul untuk melakukan kudeta.
Awalnya Shabiha adalah sebuah klan mafia yang menghasilkan uang melalui pemerasan. Selma, dengan keluarga Shabiha, mengatakan bahwa sepupunya “kaya raya” karena penyelundupan mesin diesel, susu dan elektronik. “Apa pun ke Libanon yang lebih murah di Suriah, dan apa saja yang diperlukan di Suriah dari Libanon,” katanya.
Keluarga penguasa Assad menutup mata terhadap perilaku kriminal dan metode kekerasan mereka. Sebagai imbalannya, Shabiha menjadi pembela dan pasukan Assad sangat setia.
“Mereka didorong oleh keyakinan bahwa mereka berjuang untuk kelangsungan hidup mereka,” kata Dr Azzawi. “Assad mengatakan kepada mereka bahwa mereka harus membela pemerintah atau akan dihancurkan, masalahnya adalah membunuh, atau dibunuh.”
Dr Azzawi, yang sekarang mengelola Jaringan Suriah untuk Ham dari London, menunjukkan kepada The Sunday Telegraph video tentang Shabiha yang sedang beraksi.
Seorang pria besar, yang terlihat di video sebagai Areen al-Assad - anggota klan keluarga presiden - berpose dengan senjatanya, sambil menyeringai terlihat roda kemudi mobilnya, dan meregang otot-ototnya. Dia memiliki bisep yang besar dan menonjol dengan tato bergambar wajah presiden.
Pada akhir video, para Shabiha menyatakan: “Bashar, jangan sedih: Anda punya pria yang minum darah.”
“Ini adalah moto mereka,” jelas Dr Azzawi, yang mengatakan bahwa banyak orang-orang itu direkrut dari klub binaraga dan didorong untuk memakai steroid. “Mereka diperlakukan seperti binatang, dan dimanipulasi oleh bos-bos mereka untuk melakukan pembunuhan Mereka tidak bisa dihentikan.”
Hamza al-Buweida, aktivis Sunni dari provinsi Qusayr,  mengatakan kepada The Sunday Telegraph saat dia menyaksikan dengan ngeri saat teman semasa kecilnya berhasil ditarik kedalam Shabiha tersebut.
“Bahkan ketika kami di universitas dia melihat Bashar seolah dia adalah Allah. Tidak seorang pun diizinkan untuk mengatakan sesuatu yang buruk tentang dia.
“Ini adalah seperti agama mereka yang menggerakkan mereka, dan media pemerintah menakutkan mereka bahwa teroris akan membunuh mereka jika Bashar jatuh dari kekuasaan.,” Katanya.
“Tentara memberi teman saya pistol, dia mulai menggunakannya untuk menembak orang-orang yang ikut dalam demonstrasi. Aparat keamanan memberikan identitas khusus bagi mereka.”
Milisi itu beroperasi dengan pengabdian yang buta kepada para pemimpin, yang disebut sebagai “Muallim”, yang berarti bos, atau “khaal”, paman. Dan memang, dalam banyak hal ini merupakan bisnis keluarga.
Sepupu Assad, Numir, telah mengambil alih poisi sebagai salah satu penguasa kunci Shabiha - meskipun pemerintah berhati-hati untuk menghindari hubungan langsung dengan milisi dan tindakan mereka yang kejam.
Bagaimana orang-orang itu dibayar tidaklah jelas, meskipun banyak yang mengklaim Shabiha ini didanai oleh para pengusaha yang terikat ke dalam kelompok Alawit yang mendominasi pemerintah.
Apa yang diketahui adalah bahwa Shabiha memiliki motif ekonomi yang kuat untuk mendukung rezim. Para prajuritnya bisa mendapatkan hingga £ 120 untuk tindakan premanisme sehari -  suatu jumlah uang yang banyak di Suriah.
Rezim Assad telah lama mendukung Alawi secara finansial: pada tahun 1980 Presiden Hafez al-Assad membangun rumah di daerah Mazzeh Damaskus bagi kaum buruh Alawit miskin yang pindah ke ibukota. Ketika pemberontakan dimulai pada Maret 2011, warga mengucapkan terima kasih kepada rezim itu dengan menindas setiap gejolak pemberontakan dengan kekerasan.
Selain kebencian sektarian dan motif ekonomi, Shabiha memiliki alasan lain untuk menjaga rezim Assad tetap berkuasa.
“Dengan pemikian kebanyakan rakyat Suriah untuk terikat dengan pemerintah, kaum Alawi benar-benar takut akan pembalasan jika pemerintah jatuh,” kata Profesor Joshua Landis, direktur Pusat Studi Timur Tengah di University of Oklahoma.
“Dan rasa takut itu mungkin cukup akurat. Kaum Alawi akan menghadapi hal yang sangat buruk jika Assads dipaksa mundur.”
Memang, meyakinkan 2,1 juta orang Alawi bahwa mereka tidak akan menjadi target pada masa setelah  Assad adalah salah satu kunci tujuan dari oposisi,  sambil bersama mendorong Alawi biasa untuk membelot.
Dari 239 jaringan pembangkan Suriah Untuk HAM di dalam negeri, hanya 19 yang Alawi. Dari 311 anggota Dewan Nasional Suriah, hanya lima sampai sepuluh yang Alawi.
Salah satu Alawi paling menonjol di dewan adalah Monzer Makhous.
“Para Alawi mendukung Assad karena mereka telah diberitahu bahwa Assad melindungi mereka, dan sangat takut apa yang akan terjadi seandainya dia hengkang,” katanya kepada The Sunday Telegraph. “Tapi saya tidak berpikir akan ada balas dendam terhadap mereka. Rakyat Suriah menginginkan perdamaian.
“Ini adalah tantangan besar bagi SNC untuk menarik lebih banyak Alawi. Shabiha membunuh mereka juga, jika mereka mencoba untuk pergi.. Tapi kita membutuhkan mereka di pihak kita.”
Alawi lainnya setuju bahwa lebih banyak yang harus dilakukan untuk mendorong pembelotan.
Oubab Khalil, seorang Alawit di Texas dari Organisasi Ekspatriat Suriah, mengatakan bahwa banyak yang bersedia untuk meninggalkan presiden.
“Assad mengangkat dirinya sendiri sebagai pelindung sekte, tetapi jelas tidak benar bahwa semua Alawi mendukungnya,” katanya. “Assad telah ditargetkan oleh Alawi juga.
“Mereka ada dalam demonstrasi, tetapi lebih banyak yang takut berbalik melawan dia.”
Tapi apakah karena alasan ekonomi, kebencian sektarian dan takut akan masa depan benar-benar alasan yang cukup untuk mendorong seseorang menggorok leher seorang anak? Selma berpikir begitu.
“Jika mereka tahu bahwa seluruh wilayah melawan rezim mereka tidak punya masalah membunuh semua orang,” katanya. “Itu adalah cara kerja mereka.” (translated by RZ)

Sumber: telegraph.co.uk (2/6/2012)
HT


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment