Thursday, December 13, 2012

Heran


Sangat mengherankanku para pendengki tersebut. mereka mencari setiap celah untuk mencela penguasa negeri haramain. padahal mereka menyerukan untuk menegakkan khilafah agar syariat bisa terlaksana. jika mereka jujur bukankah harusnya mereka mendukung negeri saudi yang di sana tegak hukum had, tauhid dan sunnah di da'wahkan. 

Kita tidak mengatakan bahwa saudi seperti negerinya abu bakar, umar ataupun
 umar bin abdul aziz tapi adakah negeri yang lebih baik saat ini dari saudi. mereka menuduh para pemerintah dan ulama saudi dengan suatu tuduhan yang akan mereka pertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah. mereka mengatakan bahwa para penguasa dan ulamanya adalah antek-antek yahudi dan amerika dan kami cuma bisa bilang, "datangkanlah burhan jika kalian benar" burhan yang nyata dari Allah bukan qiila wa qaala. 

Mereka mencela saudi karena melakukan hubungan dengan negeri semisal amerika, lantas apakah mereka berani mencela Rasulullah yang beliau meninggal dalam keadaan baju besi beliau tergadai di tangan seorang yahudi. mereka mencela saudi karena dalam perang teluk pemerintah saudi meminta bantuan ke amerika untuk menghalau tentara saddam, apakah mereka akan mencela RAsulullah ketika beliau meminta bantuan kepada kaum yahudi ketika peristiwa perang handaq,

DUHAI TIDAKKAH MEREKA MAU BELAJAR FIQIH MUAMALAH DENGAN KAUM KUFFAR SEBELUM BERBICARA

mereka mencela saudi karena kekuasannya diteruskan turun temurun dari keluarga bani sa'ud, apakah mereka juga akan mencela Mu'awiyyah bin abu sufyan radhiallahu anhuma karena beliaulah yang pertama kali menurunkan kekuasaan kepada anaknya sehingga tersebutlah DINASTI UMAYYAH, lebih mengherankan lagi karena mereka juga mengelu-elukan dan menangisi Dinasti Utsmaniyyah padahala dalm perkara ini utsmaniyyah tidak ada beda dengan saudi. 

Jika saudi saja mereka cela maka bagaimana dengan negeri ini, kenapa mereka tidak berhijrah ke negeri yang menurut mereka lebih baik. 

Mereka membenci negeri yang menegakkan syariat islam sementara mereka berkata itulah tujuan mereka, SANGAT ANEH DAN GANJIL nya mereka itu.

sumber http://www.facebook.com/FahruddinAbuShafiyyah/posts/4073875652463

Wednesday, December 12, 2012

Saudi Tangkap 634 Penyelundup Narkoba


Polisi Saudi dalam salah satu operasi anti-narkoba
Hidayatullah.com—Kementerian Dalam Negeri Arab Saudi hari Selasa kemarin mengumumkan telah menangkap 634 orang penyelundup narkoba dan pelaku trafficking, termasuk 207 orang warga Saudi dalam tiga bulan terakhir, lapor Arab News (12/12/2012).



Mayjen Mansur al-Turki, jurubicara kementerian mengatakan bahwa para penjahat yang tertangkap itu berusaha menyelundupkan berbagai jenis narkoba senilai 886,31 juta riyal (sekitar 2,3 trilyun rupiah).
Mereka yang ditangkap termasuk 174 orang Yaman dan 253 orang warga 32 negara berbeda. Penangkapan dilakukan pada bulan Syawwal, Dzul Qa'dah dan Dzul Hijjah.

Selama operasi penangkapan itu, 12 orang polisi terluka, 2 orang polisi tewas dan 4 orang dari penyelundup terluka.

Narkoba yang diselundupkan terdiri dari 7,4 kg heroin, 10.623 kg ganja dan lebih dari 1,55 juta butir amphetamine.

Polisi juga menyita uang tunai 11,07 juta riyal dari tangan penyelundup dan pelaku trafficking.
Sebelumnya, selama lima bulan sampai Ramadhan kemarin, aparat keamanan Saudi telah menangkap 762 orang penyelundup, 6,3 kg heroin, 10,61 ton ganja, 13,26 juta pil narkotika, 1,69 kg kokain, serta menyita uang tunai SR16,73 juta dari para penyelundup.*

Monday, December 10, 2012

Susahnya Nyetir Kiri di Arab Saudi



ilustrasi (ddn-detikOto)

Riyadh - Semua mobil di Arab Saudi, setir atau kemudinya ada di sebelah kiri. Orang yang tidak biasa pasti akan mengalami kesulitan dan canggung saat mengendarainya.

Apalagi pintu penumpang ada di kanan sehingga sering membuat orang kecele. Belum lagi ditambah arus lalu lintas kendaraan juga dari kanan. Itu berbeda dengan di Indonesia yang berada di kiri.

Perasaan kagok atau canggung saat menyetir di kiri dirasakan pula oleh beberapa tenaga musiman (temus) di Arab Saudi saat mengendarai mobil pertama kali. Sebab di Indonesia semua pakai setir kanan dan lajur arus kendaraan juga dikiri.

"Pasti kagok, saya dulu saat pegang mobil pertama kali di Jeddah juga begitu," ungkap Syamsul Arifin (50) seorang mukimin di Arab Saudi kepada detikOto.

Namun perasaan kagok atau canggung itu pelan-pelan hilang ketika sudah berkali-kali mengendarai mobil tersebut. Dia sendiri baru bisa lancar sekitar satu minggu. Demikian pula dengan jalan di sisi kanan saat mobil berjalan juga baru lancar sekitar seminggu.

"Yang agak lama kalau kita ambil posisi mau belok, kadang masih sering lupa," katanya.

Menurut dia semua jalan di Arab Saudi adalah mulus dan aspal hotmix sehingga hampir semua kendaraan di jalan melaju dengan cepat. 

Di jalan luar kota seperti jalan tol ke arah Mekkah, Jeddah, Yanbuk ataupun Madinah yang lebar bisa dilalui 3-4 kendaraan besar. Namun tetap ada batas maksimal kecepatan yakni tidak boleh lebih dari 120 km/jam.

Bila kecepatan melebihi dari itu terpantau oleh kamera atau radar lanjut dia, pasti akan terkena tilang/denda dan tercatat dipemantauan jalan. Setelah itu harus bayar denda sekitar 600 riyal.

"Bayarnya bisa setelah itu atau lain waktu, semua tercatat dalam komputer dan kita tidak bisa mengelak," katanya.

Hal serupa dialami oleh Lukmanul Hakim, saat belajar mengendarai mobil hingga mahir di Indonesia menggunakan setir kanan. 

Namun saat mengadu nasib di Arab Saudi semua mobil menggunakan setir kiri. Meski hal tersebut sudah diberitahukan oleh pamannya saat di Indonesia, perasaan canggung tetap dialaminya saat mengendarai mobil pertama kali.

"Tetap saja canggung saat pertama pegang dan harus jalan di kanan," kata pria berdarah Madura kelahiran Arab Saudi itu.

Meski sudah diberitahui sebelum berangkat menjadi TKI di Arab Saudi kata dia, orang Indonesia yang akan bekerja menjadi sopir hendaknya berlatih mengemudikan mobil setir kiri. 

Namun sayangnya di Indonesia tidak ada satupun lembaga yang mengajari atau buka praktek setir kiri.

"Ini yang belum ada, sebaiknya ada lembaga yang memberikan pelatihan. Meski semua sopir itu sudah mahir," katanya.

Menurut dia untuk penyesuaian tidak memerlukan waktu lama. Namun untuk mengemudikan di jalan raya di jalur kanan membutuhkan penyesuaian yang lebih lama.

"Yang penting kita konsentrasi dan hati-hati. Jangan lupa kalau kita mengemudikan di jalur kanan bukan di kiri. Di Arab banyak mobil ber-cc besar di atas 2.500 cc dan kencang-kencang," katanya.

Bagus Kurniawan - detikOto

Aramco Diserang untuk Menghancurkan Ekonomi Saudi


Hidayatullah.com—Perusahaan minyak Arab Saudi Aramco hari Ahad (9/12/2012) mengatakan bahwa serangan siber bulan Agustus lalu atas jaringan komputernya, menarget tidak hanya perusahaan minyak negara itu saja tetapi juga perekonomian Arab Saudi secara keseluruhan.

Kementerian Dalam Negeri Saudi yang bergabung dengan tim penyelidik Aramco dalam investigasi kasus tersebut mengatakan, serangan siber yang mengenai 30.000 komputer Aramco dilakukan oleh kelompok peretas dari berbagai negara berbeda.

“Serangan itu menarget perekonomian negara secara keseluruhan, bukan hanya Aramco,” kata Abdullah al-Saadan yang mengepalai tim penyelidikan, dikutip Al Arabiya.

“Tujuannya adalah untuk menghentikan pengeboran minyak dan gas suplai untuk pasar domestik dan internasional,” katanya kepada wartawan.

Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Jenderal Mansur al-Turki mengatakan, penyelidikan gabungan mendapati bahwa sebuah kelompok terorganisir melancarkan serangan siber dari luar Arab Saudi dan berbagai negara berbeda.”

Dia menegaskan, tidak ada pegawai Aramco maupun kontraktornya yang terlibat dalam serangan itu.

Pada 27 Agustus lalu, Aramco mengumumkan bahwa mereka berhasil mengembalikan jaringan komputer yang terinfeksi virus pada 15 Agustus ke keadaan normal. Eksplorasi dan produksi tidak terganggu sebab memakai jaringan tersendiri.

Sampai saat ini Aramco masih mencari tahu asal virus yang teridentifikasi bernama “Shamoon”, yang merusak sekitar 85% komputer dalam jaringan Aramco.*

Rep: Ama Farah
Red: Dija

Sunday, December 9, 2012

Arab Saudi Evaluasi Tempat Kursus Bahasa Inggris


Hidayatullah.com—Di Indonesia siapa saja bisa dengan mudah membuka usaha kursus bahasa Inggris, namun tidak demikian halnya di Arab Saudi, yang menerapkan kebijakan evaluasi atas lembaga pendidikan informal tersebut.

Dilansir Saudi Gazette (7/12/2012), Kementerian Pendidikan sedang melaksanakan program nasional evaluasi atas lembaga-lembaga kursus bahasa Inggris dengan melihat kualitas pelayanan yang diberikan.

Delapan poin penting harus dipenuhi oleh setiap lembaga kursus bahasa asing yang kini banyak diminati warga Saudi itu. Di antaranya adalah kondisi gedung, sistem adminsitrasi, jurusan yang ada, sistem pelatihan atau pengajaran, program CSR (corporate social responsibility), serta tingkat kepuasan peserta didik dan pegawainya.

Menurut Basma Al Sioufi pengawas lembaga dan pusat pelatihan bahasa di Kementerian Pendidikan Nasional di Jeddah, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan lembaga-lembaga kursus bahasa itu akan diberi peringkat dan klasifikasi dilihat dari kualitasnya. Namun, jika hasil evaluasi itu tidak baik, maka bukan berarti lembaga pendidikan itu langsung akan ditutup. Menurut Al Sioufi, wewenang penutupan lembaga kursus bahasa bukan ada pada kementeriannya, melainkan wewenang dari pemerintah daerah dan pihak berwenang lain seperti kepolisian, komisi amar ma'ruf nahi munkar, gubernuran dan Kementerian Tenaga Kerja.

Sejauh ini, hasil evaluasi menunjukkan 75 persen lembaga kursus memiliki masalah terkait kualitas gedung. Banyak tempat kursus yang tidak memiliki tempat layak untuk belajar dan minim fasilitas pendukung belajar-mengajar.

Sementara dari pihak pengelola kursus mengeluhkan soal kesulitan mendatangkan pengajar petutur asli. Visa kerja yang dibutuhkan guru asing sulit didapat, sementara banyak peserta kursus yang ingin diajar langsung oleh petutur asli bahasa Inggris.*

Rektor Universitas Saudi: Pertahankan Kerukunan Umat Beragama


Rektor Universitas Islam Imam Muhammad ibn Saud, Saudi Arabia, Prof Sulaeman, meminta agar kerukunan umat beragama dipertahankan. Ia melihat toleransi umat beragama di Provinsi Jawa Barat, misalnya, berkembang baik.

Penilaian itu disampaikan Sulaeman seusai bersama Duta Besar Saudi Arabia Mustafa Ibrahim Al-Mubarak, menemui Gubernur Ahmad Heryawan di Bandung, Jumat (7/12/2012).
Universitas Islam Imam Muhammad atau Universitas Saudi adalah perguruan tinggi di bawah Kerajaan Saudi Arabia, yang berdiri pada 1953 dengan 24.000 lebih mahasiswa. Posisinya setara dengan Universitas Indonesia di Depok, Jabar.

Menurut Sulaeman, toleransi antarumat beragama yang berkembang positif di Jabar, dimungkinkan oleh karakter umat Islam di wilayah ini yang moderat. Warga Jabar umumnya dapat menempatkan diri secara baik, di tengah keberagaman latarbelakang. Umat Islam khususnya yang menjadi mayoritas, memiliki toleransi tinggi dengan kelompok minoritas.
"Nilai-nilai itu juga kami ajarkan dan kembangkan di Saudi Arabia. Dengan begitu, suasana damai di tengah masyarakat dapat kita raih," papar Sulaeman.
Perluasan LIPIA
Dalam pembicaraan Gubernur Ahmad Heryawan dengan Rektor Sulaeman, dibahas rencana pengembangan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) di Indonesia. LIPIA adalah perguruan tinggi hasil kerjasama pemerintah Arab Saudi dengan Indonesia, yang tenaga ahlinya sebagian besar dari Universitas Islam Imam Muhammad.
Menurut Sulaeman, LIPIA yang berdiri di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, berkembang baik. LIPIA yang beroperasi sejak 1980, tahun demi tahun semakin diminati mahasiswa Indonesia. "Perkembangan baik LIPIA, membuat kami berencana segera membangun lembaga pendidikan yang sama di beberapa daerah," ujarnya.
Daerah yang dipilih yakni Jawa Timur, Sumatera, dan Sulawesi. Atas permintaan Ahmad Heryawan, LIPIA juga segera didirikan di Jawa Barat.
Heryawan menjelaskan, minat lulusan SLTA memperdalam ilmu Al-Quran sangat besar dan dipastikan tidak tertampung di LIPIA Jakarta.KOMPAS.com
Editor :
Agus Mulyadi

Arab Saudi akan Dirikan Universitas Islam di Jabar


Arab Saudi berencana untuk mendirikan universitas berbasis Islam di Jawa Barat. 
Hal tersebut dikemukakan Duta besar Arab Saudi Yang Mulia Sa'adatul Ustadz Mustafa Ibrahim Al Mubarak dan Rektor Universitas Islam Imam Muhammad Bin Su'ud, Prof Dr Sulaeman Bin Abdullah Abul Khail dalam kunjungan silaturahmi ke Jawa Barat, Jumat (7/12). 
Sulaeman menjelaskan, akan sesegera mungkin membangun universitas tersebut. “Hubungan ini.tak hanya Jabar dengan univeristas tetapi juga terkait dua negara,” ujarnya di Bandung, Jumat (7/12).
Sulaeman mengaku akan terus membangun kerjasama pendidikan di Indonesia. Tak hanya di Jawa Barat, namun juga Jawa Timur, Sulawesi, dan Sumatera.
Menurutnya, Raja Arab Saudi dan Putra Mahkota selalu memperhatikan kerja sama dengan Indonesia. Karena merasa sebagai dengan satu agama, yaitu Islam. 
Di Jakarta, cabang universitas ini telah berdiri dengan nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab. 
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan berharap kerja sama ini tak sebatas pendirian universitas saja. Namun juga pemberian beasiswa mahasiswa Indonesia untuk belajar ke sana. 
Menurut Aher, 500 perguruan tinggi swasta di Jawa Barat masih belum cukup untuk mengakomodasi kebutuhan belajar masyarakatnya. 
Makanya, perlu ada peningkatan pertukaran pelajar maupun pertukaran dosen agar kualitas masyarakatnya dapat lebih meningkat.(Rep)

Kisah Berliku Anak-anak TKI Kelahiran Arab Saudi


Jakarta - Ada ribuan anak Indonesia yang dilahirkan di Arab Saudi. Mereka adalah anak para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja dan bermukim di Arab Saudi.

Generasi TKI yang mengadu untung di negeri riyal pada tahun 1980-an telah beranak-pinak. Sebagian anak mereka bekerja di berbagai tempat seperti hotel, restoran dan sopir terutama di Mekkah, Jeddah, Madinah dan Riyadh. 

Sejak lahir hingga dewasa, mereka kebanyakan menempuh pendidikan atau sekolah di Arab Saudi. Bila akan bersekolah yang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lain seperti bahasa Inggris hanya ada di Jeddah. Sedangkan di kota-kota lain seperti Mekkah dan Madinah tidak ada. Biayanya pun juga sangat mahal.

Arab Saudi bagi mereka adalah tanah tumpah darah pertamanya. Tanah air keduanya baru Indonesia yang juga merupakan tanah kelahiran orang tuanya. 

Meski berstatus WNI, namun di antara mereka ada yang belum pernah menginjakkan tanah di Indonesia. Ada pula yang pernah menengok sanak saudara mereka di Indonesia. Adapula yang menyelesaikan pendidikan mulai SD/Madrasah Ibtidaiyah hingga SMA atau Aliyah di Indonesia. Setelah itu, mereka kembali lagi ke Arab Saudi untuk bekerja.

Seperti Barakat Muhammad Asyari Hamid Banjar, seorang keturunan Banjar Kalimantan Selatan yang dilahirkan di Arab Saudi. Laki-laki umur 24 tahun itu baru 3 kali mengunjungi tanah kelahiran kedua orangtuanya di Banjarmasin.

Dia anak adalah anak nomor 4 dari 8 bersaudara yang semua lahir di Arab Saudi. Pada awalnya orangtua Barakat berdagang di Arab Saudi. Saat ini bersama anggota keluarga lainnya orangtuanya bekerja menjadi pembimbing ibadah haji dan umrah.

"Saya anak nomer 4 dari 8 saudara. Tiga perempuan dan lima laki-laki," kata Barakat mengawali cerita.

Dia mengatakan pendidikan madrasah baik dirinya maupun saudara-saudaranya ditempuh di Arab Saudi. Otomatis bahasa pengantar, percakapan ataupun bahasa pergaulan sehari-hari lebih banyak menggunakan Bahasa Arab.

Saat berbicara dengan anak-anak Indonesia yang seusianya lanjut Barakat, lebih banyak menggunakan bahasa Arab. Sebab ada beberapa temannya yang benar-benar tidak bisa berbahasa Indonesia.

"Kalau Bahasa Indonesia, saya sudah mulai lancar sekitar 5 tahunan terakhir ini. Kalau dengan keluarga bahasa yang dipakai campuran Arab, Indonesia dan Banjar," katanya.

Meski demikian ada beberapa kosa kata atau nama sesuatu jenis barang yang tidak diketahuinya. Dia mencontohkan jenis buah-buahan yang ternyata di Indonesia banyak sekali jenisnya. Sedangkan di Arab Saudi yang dia ketahui hanya buah jeruk sunkist, plum, anggur, pisang, semangka, melon, apel, peer dan nanas. 

Akibat sakit batuk berdahak yang tidak kunjung sembuh itu, Barakat yang sehari-hari menjadi tenaga kebersihan di ruang makan Daker Madinah itu sempat menjadi bahan guyonan oleh para petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Madinah. Oleh Pengawas Katering Sartoyo, dia disarankan makan isi buah kedondong bila sakit batuknya ingin sembuh.

Barakat pun langsung menyimak serius apa yangh diomongkan oleh Sartoyo. Sartoyo menyarankan agar mencari isi buah kedondong untuk dimasukkan ke tenggorakan. Isi buah kedondong itu lalu ditarik pakai kawat berkali-kali. "Nanti sembuh batuknya," kata Sartoyo.

Saat itu orang-orang Indonesia yang mendengarkan omongan Sartoyo langsung tertawa. Namun Barakat masih tetap serius mendengarkannya. Oleh temannya itu dia kemudian dikasih tahu kalau itu hanya guyonan saja. Barakat kemudian baru sadar kalau dia baru saja dikerjai oleh Sartoyo.

"Saya tidak tahu buah kedondong itu kayak apa, makanya saya dengarkan terus," katanya.

Dia menambahkan semua anggota keluarganya saat ini bekerja di Arab Saudi. Ada yang tinggal di Mekkah, Jeddah maupun Riyadh. Saudaranya ada juga yang menikah dengan orang Arab. Karena itu untuk mengurus iqomah atau surat izin tinggal lebih mudah dibandingkan TKI yang baru saja datang. 

Meski belum pernah tinggal lama di Indonesia terutama di Banjar, dia mengaku tidak belum mempunyai keinginan untuk tinggal menetap dan bekerja di Indonesia. Bersama anggota keluarga lainnya dia baru 3 kali mengunjungi Indonesia dan tidak lebih dari 2 minggu lamanya.

Saat ini dia ingin bekerja mencari uang di Arab Saudi. Sebab mencari uang di Arab lebih mudah dibandingkan di Indonesia. Beberapa pekerjaan yang bisa dijalani diantaranya jadi petugas cleaning service di hotel, pelayan restoran atau sopir.

"Kalau mau kerja di Indo susah. Di sini orang tidak punya uang masih bisa hidup. Kalau saya tinggal di Indo bisa tidak hidup dan saya belum tahu akan pulang ke Indonesia atau tidak," katanya.

Ketika ditanya mengenai sejarah Indonesia, dia mengaku tidak banyak mengetahui. Namun dia tahu kalau 17 Agustus itu hari kemerdekaan Indonesia. Ketika ada siaran langsung pertandingan Indonesia melawan Singapura dan Laos di Piala AFF beberapa waktu lalu, dia pun ikut menonton dan mendukung Indonesia.

Sementara itu, Lukmanul Hakim, seorang anak Indonesia kelahiran Arab Saudi menceritakan dirinya bersama kakaknya lahir di Arab Saudi. Namun saat menginjak usia sekolah Lukman bersama orangtua kembali ke Jember Jawa Timur. 

"Setelah selesai sekolah, saya bingung tidak punya kerjaan. Saya kembali ke Saudi tahun 2002," ungkap Lukman. 

Selain mahir berbahasa Arab, bekal ketrampilan seperti bidang mekanik dan mengemudikan kendaraan menjadi andalan untuk mengadu nasib di tanah kelahirannya.

Menurut dia, dengan bantuan pamannya, dia mendapatkan visa kerja TKI sebagai sopir. Setelah surat-surat dari PJTKI selesai diurus, Lukman siap berangkat ke Mekkah. Namun tanpa diduga pecah perang Irak sehingga keberangkatannya tertunda selama lebih kurang satu bulan.

"Untuk ngurus surat-surat waktu itu habis sekitar Rp 7 jutaan," katanya.

Di Mekkah, Lukman bekerja di tempat pamannya sendiri yang sudah menjadi mukimin. Gaji pertama yang diterima sebesar 600 riyal atau lebih kurang Rp 1,5 juta. Diapun sempat mencari tambahan penghasilan di sela-sela pekerjaan sehari-hari sebagai sopir.

"Saya kadang membantu jadi sopir lepas untuk travel, memperbaiki listrik, penjahit dan semua yang bisa saya kerjakan," katanya.

Gaji yang diterima terus dikumpulkan untuk membayar utang saat berangkat serta mengurus iqomah atau semacam KTP. Iqomah baru bisa dimiliki bila ada sponsor orang Saudi yang mau bertanggung jawab atau menjadi penjamin bekerja.

"Biayanya hingga 9 ribu riyal atau sekitar Rp 22,5 juta. Yang ngurus majikan, kita tinggal terima saja," katanya.

Meski sudah lebih dari 10 tahun mencari penghasilan di Arab Saudi sebagai sopir seorang keluarga di Makkah. Pekerjaan utamanya adalah mengantar jemput anggota keluarga. Majikannya juga sudah mempercayakan mobil kepadanya sehingga sering dipakai oleh keluarganya. .

"Selain mengantar majikan bepergian sore hingga malam hari, saya juga mendapat tugas tambahan menyirami tanaman. Gaji yang saya terima terus naik, saat ini sudah 1.700 riyal atau sekitar Rp 4,2 juta per bulan," katanya.

Gaji sebesar itu sudah cukup untuk menghidupi dia juga bisa menghidupi Lukman bersama istrinya warga Banjar Kalimantan Selatan dan telah dikaruniai 2 orang anak. 

"Saya masih bisa mengirimkan uang ke Indonesia untuk orangtua. Namun saya belum tahu kapan akan pulang, terutama untuk menyekolahkan anak," katanya.

(bgs/try) 

Zawaj al-Misyar, Nikah Sirri ala Arab Saudi


Di Arab Saudi ternyata ada praktik perkawinan yang menyerupai nikah sirri. Namanya zawaj al-misyar.

Berbeda dengan nikah sirri di Indonesia, nikah sirri ala Arab Saudi jauh lebih longgar. Pihak suami tidak perlu menafkahi istrinya setelah ijab kabul. Pihak suami juga tidak perlu meminta persetujuan istrinya apabila ingin menikah lagi dengan cara diam-diam.

Drs. H. Faisol, SH, MH, hakim tinggi PTA Yogyakarta, menceritakan hal itu melalui tulisan berjudul “Zawaj al-Misyar dan Managemen Unta”. Tulisan tersebut terdapat dalam buku Laporan Kegiatan Diklat Ekonomi Syariah di Riyadh, 12 Mei-13 Juni 2012.

Sebagaimana dijelaskan oleh Dr. Abdul Muhsin bin Abdullah al-Rasyid, Wakil Dekan Bidang Pendidikan al-Jami’ah al-Imam Riyadh, nikah misyar adalah perkawinan syar’i yang terpenuhi syarat dan rukun nikah, di mana pihak perempuan rela kehilangan hak tempat tinggal dan nafkah, dan bersedia dikunjungi oleh pihak laki-laki di rumah keluarganya kapan saja suaminya menginginkannya, siang atau malam.

Di Arab Saudi, pada umumnya yang melakukan nikah misyar adalah laki-laki yang telah berkeluarga dan perempuan yang  menjanda, cerai atau telah lewat usia nikah.

Keluarga pihak perempuan biasanya mengetahui status pernikahan tersebut. Maklum, syarat-syarat nikah misyar tidak jauh berbeda denan nikah resmi. Tetapi sebaliknya, keluarga pihak lelaki tidak tahu sama sekali.

Nikah Misyar, Berpisah Jauh Dari Pasangan

Nikah mis-yar (nikah miswar) adalah nikah di mana pasangan nikah hidup secara terpisah satu sama lain atas kesepakatan bersama dan tetap masih ada pemenuhan syahwat dan beberapa hak lainnya sesuai kesepakatan, dan bisa jadi si pasangan sepakat tidak ada pemberian tempat tinggal atau nafkah bulanan. Bagaimana pandangan Islam mengenai bentuk nikah semacam ini? Apakah dibolehkan?
Bentuk Nikah Misyar
Bentuk nikah misyar sudah ada sejak masa silam. Bentuk nikah semacam ini adalah suami mensyaratkan pada istrinya bahwa ia tidak diperlakukan sama dengan isti-istrinnya yang lain (dalam kasus poligami), bisa jadi pula ia tidak dinafkahi atau tidak diberi tempat tinggal, ada pula yang mensyaratkan ia akan bersama istrinya cuma di siang hari (tidak di malam hari). Atau bisa jadi si istri yang menggugurkan hak-haknya, ia ridho jika hanya ditemani suami di siang hari saja (bukan malam hari), atau ia ridho suaminya tinggal bersamanya hanya untuk beberapa hari saja. (islamqa.com: fatwa 97642)
Bentuk misyar ini sangat nampak sekali di negeri kita pada pasangan perselingkuhan  (tanpa status nikah) atau jika suami memiliki istri simpanan tanpa diketahui istri pertama, terserah dengan status nikah yang sah dengan istri kedua atau tidak.
Hukum Nikah Misyar
Nikah misyar tetap dikatakan sah jika terpenuhi syarat dan rukun nikah. Adapun pengguguran beberapa hak yang dipersyaratkan atau diizinkan oleh salah satu pasangan tidaklah menjadikannya nikahnya haram. Namun sebagian ulama memakruhkan nikah semacam ini. Akan tetapi, yang tepat nikah semacam ini masih boleh selama syarat dan rukun nikah terpenuhi.
Al Hasan Al Bashri dan ‘Atho’ bin Abi Robbah berpendapat bolehnya nikah nahariyah, yaitu membolehkan dilayani di siang hari saja, tidak di malam hari (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 337).  Nikah nahariyah adalah salah satu bentuk nikah misyar.
‘Amir Asy Sya’bi ditanya mengenai seseorang yang sudah beristri dan menikahi wanita lain lalu ia syaratkan pada istri kedua, “Saya hanya bisa melayanimu satu hari dan istriku yang lain dua hari”. Asy Sya’bi menganggap nikah semacam itu tidak bermasalah (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 3: 338).
Sedangkan Muhammad bin Sirin, Hammad bin Abi Sulaiman dan Az Zuhri memakruhkan nikah semacam ini. (Lihat Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah)
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz ditanya mengenai hukum nikah misyar, yaitu seorang pria menikah lagi dengan istri kedua, ketiga atau keempat, dan ia katakan pada istri tersebut untuk tetap tinggal di rumah orang tuanya, lantas si pria pergi ke rumah si istri ini pada waktu yang berbeda dari istri lainnya. Apa hukum dari nikah semacam ini?
Beliau rahimahullah menjawab, “Nikah misyar semacam ini tidaklah masalah asalkan terpenuhi syarat-syarat nikah, yaitu harus adanya wali ketika nikah dan ridho keduany pasangan, serta hadirnya saksi yang adil ketika akad berlangsung. Juga tidak adanya yang cacat yang membuat nikahnya tidak sah. Dalil akan bolehnya bentuk nikah semacam ini adalah keumuman dalil,
أَحَقُّ الشُّرُوْطِ أَنْ تُوْفُوْا بِهِ مَا اسْتَحْلَلْتُمْ بِهِ الْفُرُوْجَ
"Syarat yang paling berhak untuk ditunaikan adalah persyaratan yang dengannya kalian menghalalkan kemaluan (para wanita)" (HR. Bukhari no 2721 dan Muslim no 1418)
Begitu pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
وَالْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِمْ
"Dan kaum muslimin tetap berada diatas persyaratan mereka (tidak menyelishinya-pen)." (HR. Tirmidzi no. 1352 dan Abu Daud no. 3596, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
Jika kedua pasangan sepakat jika si istri tetap di rumah bapaknya, atau si suami hanya bisa melayani istri di siang hari saja atau pada hari tertentu, atau pada malam tertentu, maka nikah semacam ini tidak bermasalah. Namun dengan syarat nikah ini dilakukan terang-terangan (diumumkan ke khalayak ramai), bukan sembunyi-sembunyi. (Fatawa ‘Ulama Balad Al Haram, 450-451)
Namun berbeda statusnya jika yang terjadi adalah perselingkuhan (alias: zina), atau nikahnya tanpa wali. Status nikah misyar seperti ini jelas tidak sah sebagaimana diterangkan dalam dua hadits berikut.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : أَيُّمَا امْرَأَةٍ نَكَحَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ بَاطِلٌ بَاطِلٌ فَإِنِ اشْتَجَرُوْا فَالسُّلْطَانُ وَلِيُّ مَنْ لاَ وَلِيَّ لَهُ
Dari ‘Aisyah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang wanita yang menikah tanpa izin walinya maka pernikahannya adalah batiil, batil, batil. Dan apabila mereka bersengketa maka pemerintah adalah wali bagi wanita yang tidak memiliki wali”. (HR. Abu Daud no. 2083, Tirmidzi no. 1102, Ibnu Majah no. 1879 dan Ahmad 6: 66. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan)
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى الأَشْعَرِيِّ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : لاَ نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ
Dari Abu Musa Al Asy’ari berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sah pernikahan kecuali dengan wali”. (HR. Abu Daud no. 2085, Tirmidzi no. 1101, Ibnu Majah no. 1880 dan Ahmad 4: 418. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Nasehat: Sebaiknya Tidak Dilakukan
Syaikhuna –guru kami- Syaikh Sholeh bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan, salah satu anggota Al Lajnah Ad Daimah (Komisi Fatwa di Saudi Arabia) dan ulama senior di kota Riyadh, ditanya, “Apa pendapatmu –wahai Syaikh- mengenai nikah misyar dan hukum syari’at mengenai nikah semacam ini?”
Jawaban beliau, “Aku tidak merekomendasikan nikah semacam itu karena tidak terpenuhinya maslahat nikah di dalamnya. Nikah semacam ini hanya sekedar pemenuhan syahwat. Suami tidak bisa mengawasi istrinya dengan benar.  Istri juga tidak hidup bersama dengan suami. Jika ada anak dari nikah semacam ini, maka ia akan jauh dari kerabatnya. Yang jelas nikah semacam ini tidak bisa menggapai tujuan nikah. Maka kami pun tidak menganjurkannya.” (Sumber fatwa:http://alfawzan.ws/node/13734)
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
 @ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 9 Rabi’ul Awwal 1433 H

sumber

artikel : www.rumaysho.com

berita  : www.badilag.net