Kamis, 26 Desember 2013

Sucikan Ibadah dengan Tauhid

Para pembaca kajian islam yang  semoga Allah curahkan  rahmat-Nya  kepada kita semua.   Pernahkah anda  mendengar istilah “ngalap  berkah” alias meminta-minta di  kuburan? Atau “ritual sesajian”   untuk menolak bala, Atau  melihat fenomena mendatangi  “orang pintar” untuk lancarnya  rezeki. Atau melihat jimat-jimat  yang dipasang untuk menjaga  rumah.

Anehnya semakin hari malah semakin banyak orang melakukannya. Tanpa menyadari bahwa hal-hal demikian ternyata bisa merusak bahkan menghapus habis amal-amal kebaikannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Jika kamu menyekutukan Allah. Niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar :65)

Wal iyyadzubillah, bila kita sudah capek-capek beramal, ternyata tidak diterima Allah Subhanahu wata’ala, lantaran satu kesyirikan. Ibarat panas setahun dihapus oleh hujan sehari.

Oleh karena itu pembaca Rahimahullah, mempelajari masalah tauhid dan lawannya yaitu syirik adalah perkara yang amat penting bagi setiap muslim. Amalan apapun yang dilakukan oleh seorang hamba, baik shalat, puasa, zakat, dan lainnya. Tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wata’ala tanpa landasan tauhid.
Karena ketahuilah, suatu ibadah tidaklah dinamakan ibadah kecuali jika didasari oleh pondasi tauhid. Sebagaimana shalat, tidaklah dinamakan shalat yang sah kecuali didahului bersuci / thaharah.

Sehingga jika suatu ibadah sudah dicampuri kesyirikan, maka ibadah tersebut akan rusak. Sebagaimana seseorang yang thaharahnya bisa batal karena berhadas.

Tauhid adalah kewajiban terbesar yang Allah perintahkan kepada manusia. Sedangkan kesyirikan adalah larangan terbesar yang  Allah larang kepada manusia. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (QS. Ad-Dzariyat : 56).

Makna dari “beribadah kepada Ku” ditafsirkan oleh shahabat ahli tafsir, Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yaitu : “Mentauhidkan Ku”. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah mempersekutukanNya dengan sesuatu apapun.” (QS. An-Nisaa: 36)
Berikut ini akan kami ketengahkan sedikit pembahasan tentang masalah tauhid  semoga bisa memberi manfaat kepada kita semua.

DEFENISI TAUHID
Tauhid artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sehingga makna dari mentauhidkan Allah adalah menjadikan peribadahan hanya ditujukan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Baik berupa ibadah yang tampak seperti shalat, do’a, puasa, maupun ibadah yang tersembunyi, seperti berharap, takut, cinta, atau ibadah lisan seperti  zikir, membaca  Al-Qur’an dan lainnya.

Maka semua jenis ibadah tersebut harus ditujukan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Tidak boleh ditujukan kepada sekutu-sekutu selain Allah Subhanahu wata’ala. Baik itu berupa orang saleh, malaikat ataupun Rasul.
Kenapa? Karena Dia-lah dzat satu-satunya yang telah melimpahkan karunia yang sangat banyak kepada kita, menciptakan langit dan bumi, menurunkan hujan, mengatur alam semesta. Allah Subhanahu wata’ala telah menciptakan kita yang mana sebelumnya kita sesuatu yang bisa disebut.

Allah Subhanahu wata’ala telah melimpahkan sekian kenikmatan sejak kita masih berada dalam perut ibu. Melewati proses kehidupan dalam tiga kegelapan. Yang mana pada fase ini, tidak ada seorangpun yang bisa menyampaikan makanan serta menjaga kehidupan kita melainkan Allah Subhanahu wata’ala.

Tatkala kita dilahirkan kedunia, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan bagi kita kedua orang tua yang mendidik dan mengasuh sampai dewasa dengan penuh kasih sayang.

Demikianlah seterusnya seorang manusia selalu diliputi nikmat kebaikan dan kasih sayang-Nya. Yang seandainya Allah Subhanahu wata’ala mencabut nikmat-Nya dan keutamaan-Nya walaupun hanya sekejap maka dia akan binasa.

Demikian pula jika Allah Subhanahu wata’ala menahan kasih sayang dan keutamaan-Nya dari manusia walau sedetik, niscaya mereka tidak akan bisa hidup didunia

Sehingga dengan kasih sayang  dan keutamaan yang sedemikian banyak tersebut menuntut kita untuk memberikan hak Allah yang paling besar, yaitu beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala  dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Dalam hadis yang mulia dari shahabat Muadz bin Jabal beliau berkata :
وعن معاذ بن جبل (رضي الله عنه) ، قال: ” كنت  رديف النبي صلى الله عليه وسلم على حمار، فقال  لي: يا معاذ! أ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟» قَالَ: قُلْتُ:  اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: «فَإِنَّ حَقَّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوا اللهَ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا» ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا أُبَشِّرُ النَّاسَ، قَالَ: «لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا»
“ Aku membonceng nabi diatas keledai, lalu nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku, “Wahai muadz tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hambaNya, dan apa hak hamba-hambaNya atas Allah?. Maka akupun berkata : ”Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.” Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Hak Allah atas hamba-hambaNya agar beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba atas Allah adalah, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan mengazab siapa yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” Maka akupun berkata, : “Wahai Rasulullah bolehkah aku kabarkan hal ini kepada manusia?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata : “Jangan engkau kabarkan karena ini akan membuat mereka bersandar (tidak beramal).  (HR. Al Bukhari Kitabul li bas, bab Irdaafur rajuli khalfat rajuli 24/4 dan Muslim Kitabul Iman bab Ad dalil  ‘Ala an man Mata  ‘ala tauhid Dakhala Al Jannah. 58/1)

Sehingga tujuan penciptaan manusia adalah untuk mewujudkan tujuan yang sangat agung yakni untuk mengesakan Allah Subhanahu wata’ala dalam segala peribadahan. Oleh sebab itulah Allah memberi karunia akal kepada manusia, menurunkan kitab-kitab dan mengutus para Rasul.

Ketika manusia beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukannya, maka kebaikannya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia akan merasakan ketenangan di dunia, mendapatkan rasa aman serta hidayah didunia dan di akhirat. Lalu Allah Subhanahu wata’ala akan membalas seluruh kebaikan manusia dengan kebaikan yang setimpal.

Peribadahan manusia tidak akan menguntungkan Allah sedikitpun dan bila mereka tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, itu tidaklah merugikan-Nya.

Kita tutup pembahasan ini dengan menukilkan keterangan Asy Syaikh As Sa’di dalam kitabnya Al Qoulus Sadid (Hal. 17-19).  Disini kita akan memaparkannya secara lengkap. Karena beliau menjelaskan keutamaan-keutamaan tauhid dengan jelas dan rinci. Asy syaikh As sa’di berkata:
 
Termasuk keutamaan tauhid adalah :
1.    Dapat menghapus dosa-dosa
2.    Merupakan faktor terbesar dalam melapangkan berbagai kesusahan serta melapangkan dari kesempitan di dunia dan akhirat.
3.    Mencegah kekekalan dalam api neraka, jika dihatinya ada keimanan walaupun sebesar biji sawi. Juga mencegah masuk neraka secara mutlak. (sama sekali tidak masuk neraka) bila tauidnya telah sempurna dalam hatinya. Ini termasuk keutamaan tauhid yang paling mulia.
4.    Memberi petunjuk dan rasa aman yang sempurna didunia dan akhirat.
5.    Merupakan sebab satu-satunya untuk menggapai ridho Allah dan pahala-Nya.
6.    Diterimanya seluruh amalan dan ucapan seseorang, baik yang tampak atau yang tersembunyi, tergantung kepada tauhidnya.
7.    Memudahkan seseorang hamba untuk melakukan kebaikan-kebaikan meninggalkan kemungkaran dan menghiburnya tatkala menghadapi berbagai musibah.
8.    Melepaskan seorang hamba dari perbudakan ketergantungan, rasa takut dan berharap kepada makhluk.
9.    Menjadikan amal yang sedikit menjadi amalan yang besar pahalanya.
Cukup banyak dalil yang menguatkan keterangan ini. Baik dari Al-qur’an maupun  as-sunnah. Dengan demikian cukup besar keutamaan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan bagi para hamba-hamba-Nya yang bertauhid.

Sangat beruntung orang yang bisa meraih seluruh keutamaanNya. Yaitu bagi orang yang mampu menyempurnakan tauhidnya. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala  memberikan taufik-Nya kepada kita semua agar digolongkan termasuk orang-orang yang bertauhid.

Wallahu a’lam bish shawwab. (Ditulis oleh Al Ustadzah Ummu Rumman)

MARAJI’ / REFERENSI :
•    Al Qoulul mufid Asy Syaikh Sholih Utsaimin
•    Al Qoulul Sadid Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar