Kamis, 21 Februari 2013

AL-DIRIYAH Tonggak Sejarah Kerajaan Arab Saudi

oleh:  Oleh Indah Wulandari
 
At Turaif District in ad-Dir'iyah
At Turaif District in ad-Dir'iyah Saudi Arabia
Pemimpin Turki Ibrahim Pasha pernah memerintahkan penghancuran Diriyah. Sementara, Raja Abdul Aziz berhasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya.
 
Melacak asal Dinasti Saudi dalam silsilah resmi Kerajaan Arab Saudi tentu tak pernah lepas dari keberadaan lokasi bersejarah Diriyah dan Qasr al-Hakam. Kedua tempat yang terletak di pinggiran Kota Riyadh ini tengah menjadi perhatian Pemerintah Arab Saudi untuk renovasi besar-besaran.
 
Kebesaran Dinasti Saudi Arabia bermula sejak abad ke-12 Hijriah atau abad ke-18 Masehi. Ketika itu, di jantung Jazirah Arabia, tepatnya di wilayah Najd, lahirlah Negara Saudi yang pertama yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Saud. Wilayah yang kemudian dikenal sebagai Al-Diriyah itu resmi berdiri pada 1175 H/1744 M. Wilayahnya pun meliputi hampir sebagian besar wilayah Jazirah Arabia.
 
Negara ini mengaku memikul tanggung jawab dakwah menuju kemurnian tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, mencegah perilaku bidah dan khurafat, kembali pada ajaran para salafus shalih, dan berpegang teguh pada dasar-dasar agama Islam yang lurus.
 
Periode awal Negara Saudi Arabia itu berakhir pada 1233 H/1818 M. Periode kedua di mulai ketika Imam Faisal bin Turki mendirikan Negara Saudi kedua pada 1240 H/1824 M. Periode ini berlangsung hingga 1309 H/1891 M. Pada 1319 H/1902 M, Raja Abdul Aziz ber hasil mengembalikan kejayaan kerajaan para pendahulunya, ketika dia merebut kembali Kota Riyadh yang merupakan ibu kota bersejarah kerajaan ini.
 
Semenjak itulah, Raja Abdul Aziz mulai bekerja, membangun, serta mewujudkan kesatuan sebuah wilayah terbesar dalam sejarah Arab modern. Yaitu, ketika dia berhasil mengembalikan suasana keamanan, ketenteraman ke bagian terbesar wilayah Jazirah Arabia, serta menyatukan seluruh wilayahnya yang luas ke dalam sebuah negara modern yang dikenal dengan nama Kerajaan Arab Saudi. Penyatuan dengan nama ini, yang dideklarasikan pada 1351 H/1932 M, sekaligus merupakan dimulainya fase baru sejarah Arab modern.
Raja Abdul Aziz Al-Saud pada saat itu menegaskan kembali komitmen para pendahulunya, raja-raja Dinasti Saud, untuk selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Syariah Islam. Dia juga berupaya meng amankan perjalanan haji ke Baitullah, memberikan perhatian pada ilmu dan para ulama, dan membangun hubungan luar negeri untuk merealisasikan solidaritas Islam.
 
Di atas prinsip inilah, para putra beliau sesudahnya mengikuti jejak-jejak langkahnya dalam memimpin Kerajaan Arab Saudi. Mereka adalah Raja Saud, Raja Faisal, Raja Khalid, Raja Fahd, dan pelayan dua kota suci Raja Abdullah bin Abdul Aziz.

Kota terkenal
Meski acap kali beberapa pihak mengidentifikasi lokasi Diriyah dengan pemukiman kuno yang disebutkan oleh Yaqut dan Al-Hamadani yang dikenal sebagai “Ghabra”, sejarah sejatinya bermula pada abad ke-15. Menurut penulis sejarah dari Najd, kota ini didirikan pada 1446-1447 oleh Mani al-Mraydi, nenek moyang keluarga Kerajaan Saudi.
 
Mani dan keturunannya berasal dari daerah Al-Qatif di bagian timur Saudi atas undangan dari Ibnu Dir, yang kemudian menjadi penguasa kelompok permukiman yang kini mencapai Riyadh. Ibnu Dir berhubungan dekat dengan Mani ‘al-Mraydi.
 
Sejak Ibnu Dir berkuasa, klan Mani diyakini telah meninggalkan area Wadi Hanifa pada beberapa tanggal tidak diketahui dan diperkirakan kembali ke negara asal mereka. Awalnya, Mani dan keturunannya menetap di Ghusaybah dan Al-Mulaybeed. Mereka dikenal sebagai kelompok Mrudah.
 
Setelah distrik Al-Turaif itu selesai dibangun, banyak keluarga dari kota lain atau dari suku Badui padang pasir terdekat akhirnya menetap di daerah itu. Memasuki abad ke-18, Diriyah telah menjadi sebuah kota terkenal di Najd.
 
Reruntuhan kota tua Diriyah ditemukan di antara kedua sisi lembah sempit yang dikenal sebagai Wadi Hanifa. Banyak bangunan kuno membujur hingga ke arah selatan melalui Riyadh dan seterusnya. Bangunan-bangunan itu hampir seluruhnya terbuat dari bahan bata lumpur.
 
Setelah melalui beberapa proses rekonstruksi, reruntuhan dibagi menjadi tiga kabupaten, yakni Ghussaibah, Al-Mulaybeed, dan Turaif. Kesemuanya ditemukan dibangun di atas perbukitan yang menghadap ke lembah. Di antara ketiga itu, Al-Turaiflah yang letaknya paling tinggi. Namun, aksesnya terjangkau oleh wisatawan dengan berjalan kaki saja.
 
Bagian dari tembok kota itu ditemukan di sepanjang tepi wadi dan juga terbuat dari batu bata lumpur. Tatanannya pun menyerupai bentuk kota modern di ketinggian yang lebih rendah di kaki bukit dekat Turaif. Bagian utara kota ter diri atas lembah, sejumlah kebun, kebun sawit, peternak an kecil, serta perkebunan milik penduduk. Sebuah bendungan yang dikenal sebagai Al-Ilb terletak lebih utara.
 
Diriyah pada abad itu berkembang pesat. Penaklukan Saudi terhadap Kota Suci Makkah dan Madinah memicu kemarahan dari Pemimpin Turki Ibrahim Pasha, memerintahkan penghancuran Diriyah (1811-1818.)
Upaya perlawanan ditampakkan para bangsawan Saudi dengan menghidupkan kembali Negara Wahhabi Diriyah. Ibrahim pun memerintahkan pasukannya untuk menghancurkan kota dengan membakarnya. Ketika Kerajaan Saudi kembali pada kejayaannya tahun 1824 hingga 1902, mereka membangun lagi wilayahnya hingga ke selatan di Riyadh.
 
Dalam The Kingdom, yang pertama kali diterbitkan pada 1981, penulis Inggris Robert Lacey mengamati bahwa Al-Saud telah berhasil menancapkan kebesaran negarawan. Selanjutnya, kebesaran itu menjadi modal penerusnya untuk mengembangkan kekayaan yang dimiliki wilayah tersebut. Sebuah kota baru lalu didirikan oleh Pemerintah Saudi pada akhir 1970 hingga Kota Diriyah direnovasi sebagai simbol tonggak sejarah Saudi. ed: asep nur zaman

Menjadi Situs Warisan Dunia
Menteri Pertahanan Kerajaan Arab Saudi Pangeran Salman memimpin pertemuan langsung dengan pengurus Raja Abdul Aziz Foundation (Darah) di istananya di Riyadh beberapa waktu lalu. Pangeran Salman adalah ketua dewan direksi Darah yang tengah melakukan pengembangan lokasi cikal bakal Dinasti Al-Saud, Diriyah, dan Qasr al-Hakam.
 
Komisi untuk Pariwisata dan Purbakala Saudi (SCTA), seperti dilansir laman Arab News, juga berusaha mencari cara pelestarian terbaik bagi dua situs warisan budaya itu. Pasalnya, Diriyah dan Qasr al-Hakam menyimpan berbagai simbol dari arsitektur warisan Saudi. Keduanya juga termasuk lokasi yang paling pen-ting dalam sejarah awal pembentukan Kerajaan Saudi.
 
Diriyah merupakan ibu kota Saudi pertama yang ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Unesco pada 2010. Sementara, Istana Musmak yang menjadi saksi bersejarah Saudi berada di area Qasr al-Hakam.
 
Nantinya, renovasi yang dilakukan bertujuan untuk melindungi sekeliling kedua tempat tadi. Beberapa konstruksi baru bakal didirikan di daerah Qasr al-Hakam serta akan melingkupi kawasan komersial Suwaiqah, Al-Muaiqiliyah, Dayrah, Zal, dan Justice Square. Renovasi lainnya juga dilakukan di area Al-Safah, alun-alun Muhammad bin Saud Imam, serta alun-alun dan halaman Istana Al-Musmak.
 
Sebagai pelengkap nuansa eksotik Arab, ribuan pohon kelapa sawit ditanam di lahan seluas 4.500 meter persegi. Pepohonan ini menyebar di seluruh halaman istana. Sisanya ditanam di bagian selatan. Pengembang juga memanfaatkan sisi timur untuk dijadikan sebagai gurun buatan dengan kontur tanah yang lebih tinggi agar melindungi kawasan istana.
 
Jalanan di sekeliling istana dibentuk jalan setapak beraspal. Sehingga, orang umum ataupun keluarga kerajaan bisa mengadakan acara-acara di kawasan tersebut dengan akses yang mudah. Area sekitar masjid Istana Musmak pun turut dirombak dengan gaya arsitektur Timur Tengah klasik. Masjid tersebut juga dirancang dengan keunikan tersendiri. Bangunannya memiliki dua menara dengan masing-masing ketinggiannya mencapai 50 meter. Pangeran Turki bin Abdullah Masjid juga dibuatkan akses jalan khusus melalui Justice Square dan Safa Square melintasi istana dan masjid tersebut.
 
Tahap pertama dari pengembangan Diriyah melibatkan pengembangan jaringan jalan, prasarana, halaman, dan pemisahan area dari kawasan museum Diriyah. Disusul tahap perbaikan Masjid Imam Muhammad bin Saud, renovasi Syekh Muhammad bin Abdul Wahab Foundation, dan penambahan fasilitas pencahayaan dan peredam suara di area museum.
 
Rumah-rumah tradisional dari tanah lempung di kawasan Diriyah juga akan direnovasi sebagai bagian dari pengembangan museum. Wisatawan juga dimanjakan dengan fasilitas toko-toko suvenir tradisional. Kompleks untuk kantor pemerintah, kantor pariwisata, dan pusat infomasi pengunjung menjadi sentra pendukungnya.
 
Tahap pembangunan perdana juga mencakup pembangunan pendukung pariwisata. Mulai dari taman umum di samping Hotel Heritage Al-Turaif Warisan hingga Hotel Al-Bujairi. Kemudian ada perbaikan stasiun kereta api Al-Turaif, renovasi restoran tradisional, klub kesehatan, apartemen, dan pembangunan pasar untuk produk pertanian.
 
Pemerintah Saudi memfokuskan pembangunan di Kabupaten Al-Turaif, Diriyah, karena sebagian bangunan bersejarah berdiri di sana. Sebagian besar berupa gedung-gedung kuno Pemerintahan Kerajaan Saudi. Termasuk pula Istana Salwa yang dibangun oleh pendiri Kerajaan Saudi, Imam Muhammad bin Saud, pada pertengahan abad ke-18.
 
Kebanggaan warga Al-Turaif bertambah dengan keberadaan Masjid Imam Muhammad bin Saud di daerahnya. Di tempat itulah ulama besar Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab menggembleng murid-muridnya.
 
Kawasan distrik Al-Bujairi termasuk pula area utama Diriyah yang menyimpan peninggalan budaya kerajaan. Di tempat ini berdiri masjid tertua dari generasi pertama ulama Salafi. Le taknya di tepi timur Wadi Hanifa. indah wulandari ed: asep nur zaman. 
 
Oleh Indah Wulandari, (Sumber: Khazanah, Republika Online, Kamis, 22 Desember 2011)


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar