Kamis, 26 Desember 2013

Sebotol Air Minum di Arab Saudi

Oleh Kuswantoro van Marco**
Negeri Arab Saudi yang sebagian besar merupakan padan pasir tandus dan bukit bebatuan.
Negeri Arab Saudi yang sebagian besar merupakan padang pasir tandus dan bukit bebatuan.
Arab Saudi (KSA) merupakan salah satu negara termiskin akan ketersediaan sumber daya airnya. Sebagian besar bentang alamnya berupa padang pasir yang tandus dan sebagian permukaan lainnya berupa batuan keras yang sulit ditembus oleh air maupun vegetasi. Iklimnya sangat kering (arid). Curah hujan rata-rata tahunannya hanya 90 mm dan jumlah hari hujannya kurang dari 20 hari dalam setahun [1]. Deskripsi itu menjelaskan bahwa sebegitu keringnya iklim dan cuaca di KSA, terlebih wilayah-wilayah di bagian tengah seperti Riyadh yang pada bulan-bulan musim panas (Juni - Agustus) suhu udaranya bisa mencapai 50 derajat Celcius. Kelembaban pun yang sangat rendah hanya 10%. Tak heran, teman-teman saya yang kuliah di Riyadh pernah bercerita bahwa kulit tangannya mengalami pecah-pecah dan iritasi, bahkan sampai ada yang mimisan. Saat musim panas memang luar biasa panasnya di siang hari. Begitu pula saat musim dingin, suhu malam hari dinginnya menusuk ke tulang. 
Nah, untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat KSA mengandalkan air tanah (groundwater). Tercatat bahwa sekitar 80-90% konsumsi airnya berasal dari air tanah, baik melalui sumur konvensional maupun pemompaan [2]. Selain itu pula tercatat bahwa cadangan air tanahnya sekitar 2259 miliar meter kubik [3], sedangkan volume air tanah yang dapat diperbaharukan (renewable) atau aquifer dangkal hanya berkisar antara 5000-8000 juta meter kubik [4]. Namun apabila masyarakat secara terus-menerus mengambil air dari dalam tanah, maka diprediksi akan habis dalam jangka waktu 25 tahun ke depan. Terlebih dengan semakin meningkatnya aktivitas pertanian yang telah berdampak pada semakin besarnya konsumsi air sekitar 84 % dari keseluruhan [5].
Sebelum ditemukan minyak bumi, kehidupan masyarakat KSA tak senikmat seperti sekarang ini. Pihak kerajaan hanya mengandalkan pendapatan dari kegiatan haji tahunan. Namun pada saat terjadinya kemunduran ekonomi global (Great Depression) sekitar tahun 1929 hingga 1940, jumlah jamaah haji mengalami penurunan secara drastis. Hal itu berimplikasi pada pendapatan kerajaan. Berbagai upaya dilakukan guna menemukan minyak bumi di tanah KSA. Hingga akhirnya pada tahun 1938 minyak bumi berhasil ditemukan pertama kalinya di Kota Dammam [6].
Pabrik desalinasi air laut Ras Al-Khair, Arab Saudi.
Pabrik desalinasi air laut Ras Al-Khair, Arab Saudi.
Kesejahteraan masyarakat KSA berangsur-angsur meningkat. Sarana dan prasarana mulai dibangun. Pendidikan generasi mudanya mulai diperhatikan bahkan kini sudah bertaraf internasional. Suplai listrik tak ada matinya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah kebutuhan air bersihnya mampu dipenuhi.
Tak ada rotan akar pun jadi. Begitulah kata pepatah bahasa Indonesia. Ternyata Arab Saudi mampu menyulap air laut yang asin menjadi air yang bisa diminum. Tepat pada tahun 1969, stasiun penyulingan air laut (desalinasi) berhasil didirikan [7]. Kini jumlah stasiun desalinasi sudah sebanyak 36 stasiun, dimana stasiun Ras Al-Khair saat ini akan menjadi stasiun desalinasi terbesar di dunia. Stasiun tersebut akan mampu menghasilkan setengah dari air desalinasi KSA. Total produksi air desalinasi yang dihasilkan tiap harinya rata-rata sebesar 3.3 juta meter kubik, sehingga per tahun bisa mencapai 1.2 miliar meter kubik. Berdasarkan informasi terkini, target di tahun 2015 total produksi air desalinasi akan bisa mencapai 1.83 miliar meter kubik. Tentunya anggaran biaya yang mesti disiapkan semakin besar, diperkirakan bisa mencapai 86.5 milyar riyal atau setara dengan 324.3 milyar dolar AS atau sekitar 3,892.5 triliun rupiah [5]. Wow, angka yang fantastis!!
Salah satu contoh air minum botolan 600mL yang beredar di Arab Saudi.
Salah satu contoh air minum botolan 600mL yang beredar di Arab Saudi.
Dalam setiap produksi 20,000 meter kubik air, biaya per meter kubik-nya sebesar 12 riyal atau 3.2 dolar AS. Namun tarif yang dikenakan kepada masyarakat hanya sebesar 0.12 riyal atau 0.03 dolar AS tiap meter kubik air, atau sekitar 360 rupiah. Luar biasa murahnya, bukan!
Suatu ketika saya berbelanja di warung kecil pinggir jalan, lalu bertanya,
”a’tini moyah wahid ya habibi. Kam fulus?” (Berikan saya sebotol air minum, Mas. Berapa duit yaks?)
Penjualnya seraya menjawab,
“Biriyal ya sodik” (satu riyal aja bro)
Maka tak heran, kalau harga sebotol air minum 600 mL hanya satu riyal saja atau setara dengan 3000 rupiah. Begitu juga dengan air isi ulang galon. Saya pikir harganya akan lebih mahal. Tapi ternyata hanya tiga riyal saja atau sekitar 8000- 9000 rupiah.
“Hemm..Kok harganya hampir sama dengan di Jakarta yah??  Padahal Indonesia itu kaya sekali dengan sumber daya airnya. Coba kurang apalagi bila dibandingkan dengan KSA. Setidaknya selama enam bulan sebagian besar wilayah Indonesia diguyur hujan tiap harinya. Sungai-sungai mengalir deras hingga ke pantai. Air sumur pun melimpah ruah. Belum lagi ada banyak danau dan waduk.
Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi buat kita untuk selalu berpikir dan berusaha untuk memperbaiki kekurangan di sana-sini. Untuk itu, mari kita perhatikan firman Allah berikut ini:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)
Semoga bermanfaat.
- Salam dari Jeddah-
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
* Artikel ini diterbitkan di Majalah Geospasial.
** Penulis adalah Master lulusan Universitas King Abdulaziz (KAU) Jeddah, bidang Hydrologi dan Pengelolaan Sumber Daya Air (2013). 
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Referensi:
[1] http://www.riyadh.climatemps.com/precipitation.php diakses pada 9 Desember 2013
[2] Al-Salamah IS, Ghazaw YM, Ghumman AR. 2011. Groundwater modeling of Saq Aquifer in Buraydah, Al Qassim for better water management strategies. Environ. Monit. Assess., 173: 851–860
[3] Abderrahman WA, Al-Harazin  IM. 2008. Assessment of climate changes on water resources in the Kingdom of Saudi Arabia. GCC Environment and Sustainable Development Symposium, 28–30 January 2008, Dhahran, Saudi Arabia, D-1-1 – D-1-13
[4] JCC-Jeddah Regional Climate Center. 2012. Assessment of climate change on water resources in Kingdom of Saudi Arabia. First National Communication Water Resources. http://jrcc.sa/First_National_Communication_Water_Resources.php. Accessed on 1 Oct. 2012 Kingdom of Saudi Arabia Standard (KSA). 2003. General presidency of meteorology and environment
[5] http://www.aawsat.net/2013/07/article55308131 diakses pada 9 Desember 2013


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar