Kamis, 04 Juli 2013

Awal terjadinya syirik pada kaum Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dalam bentuk penyembahan terhadap kumpulan tata surya

islamPenyakit syirik telah menggejala di muka bumi dari arah yang baru, yaitu dari agama Shabi’ah di Hiran, orang-orang musyrik yang menyembah bintang, matahari dan bulan di Kabul, dan dari para penyembah berhala di Babilonia (Irak), sewaktu para Namrud dan Fir’aun menjadi penguasa di belahan bumi timur dan barat. Jenis syirik kedua ini, yaitu ‘penyembahan terhadap kumpulan tata surya’ adalah syirik samawi yang berasal dari kaum musyrikin setelah kaumnya Nabi Nuh ‘alaihi salam yang telah menyembah kuburan.

Konon setiap orang yang ada di permukaan bumi ini telah menjadi kafir, kecuali Nabi Ibrahim al-Khalil ‘alaihi salam, istrinya, Sarah dan keponakan laki-lakinya, Luth ‘alaihi salam. Ketika keadaan sudah sedemikian rupa, maka Allah ta’ala mengutus dari negeri Babil seorang rasul bernama Ibrahim, sebagai kekasih Allah ta’ala yang menjadi imam bagi orang-orang yang hanif, bapaknya para nabi, dan peletak dasar agama yang suci. Nama lengkapnya adalah Ibrahim bin Azar -alias Tarikh- bin Nahur bin Sarugh bin Ra’u bin Falagh bin ‘Ayir bin Syalikh bin Arfakhasyadz bin Sam bin Nuh ‘alaihi salam.

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam inilah yang menjadi media Allah ta’ala untuk memberantas berbagai kejahatan dan kesesatan tersebut, karena Allah ta’ala telah membimbing jalannya sejak usia kecilnya, mengutusnya sebagai rasul, dan menjadikannya sebagai kekasih pada masa tuanya. Sungguh Allah ta’ala telah menceritakan kisahnya bersama bapaknya dan kaumnya di dalam sejumlah surat al-Qur’an khususnya surat Ibrahim, berkenaan dengan pengingkaran beliau terhadap penyem-bahan berbagai berhala yang dilakukan oleh mereka, juga penghinaan, pelecehan dan penghancuran beliau terhadap berhala-berhala terse-but di hadapan mereka, serta diskusi dan perdebatannya dengan raja Babilonia, Namrud bin Kan’an, hingga akhirnya Allah ta’ala membunuh raja Namrud melalui seekor nyamuk.

Setelah itu, Nabi Ibrahim ‘alaihi salam berhijrah ke negeri Syam, lalu pindah lagi ke beberapa daerah di Mesir dan menikah denga Hajar. Beliau dikarunia dua anak lelaki dan keduanya sama-sama menjadi nabi, yaitu: Nabi Isma’il ‘alaihi salam dari pernikahannya dengan Hajar al-Qibthiyyah al-Mishriyyah, dan Nabi Ishaq ‘alaihi salam dari pernikahannya dengan Sarah, putri dari pamannya. Ketika terjadi api kecemburuan di antara Sarah dan Hajar, maka beliau pun berhijrah bersama Hajar dan putranya, Isma’il ‘alaihi salam, ke tanah Mekah -semoga Allah ta’ala tetap menjaganya-. Di antara peristiwa-peristiwa besar yang telah mereka lakukan di tanah Haram ini adalah terjadinya sumber air zamzam dan pembangunan Baitullah Ka’bah.

Sementara itu, Luth bin Haran bin Tarikh juga telah diutus oleh Allah ta’ala sebagai seorang nabi, dan pengangkatannya bersamaan dengan pengangkatan pamannya, Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bin Tarikh bin Azar. Di antara kisahnya bersama kaumnya di daerah Sadum di Syam yang terletak di dekat Yordania, adalah seperti yang telah diceritakan oleh Allah ta’ala di dalam al-Qur’an, yaitu mulai dari seruan beliau kepada kaumnya agar menyembah Allah ta’ala dan berhenti menyembah berhala, hingga tindakan amoral (sodomi, homoseks) yang telah mereka perbuat. Lalu, Allah pun membumi hanguskan kaumnya dan hanya menyelamatkan beliau beserta keluarganya saja, kecuali istrinya yang lebih memilih ditinggal bersama kaumnya.

Setelah itu, Allah ta’ala mengutus Nabi Syu’aib ‘alaihi salam -selaku juru khutbah para nabi- kepada suku Madyan yang merupakan penyembah ‘al-aikah’ (sejenis pohon), yaitu suatu kaum dari bangsa Arab yang berdiam di daerah Madyan yang terletak di perbatasan negeri Syam.

Nama lengkapnya adalah Syu’aib bin Mikyal bin Basyjan bin Madyan bin Ibrahim. Namun, di sana ada pendapat yang menyebutkan bahwa nasabnya tidak demikian. Adapun kisahnya disebutkan berulang-ulang kali di dalam sejumlah surat al-Qur’an al-‘Azhim. Dan begitulah muncul para nabi dari keturunan Nabi Ibrahim ‘alaihi salamsecara berturut-turut melalui jalur kedua anaknya, Nabi Isma’il ‘alaihi salam yang menjadi bapaknya bangsa Arab, dan Nabi Ishak ‘alaihi salam.

Nabi Isma’il ‘alaihi salam diutus oleh Allah ta’ala di tengah-tengah kaum Jurhum, al-‘Amaliq, Yaman dan negeri-negeri di jazirah Arab lainnya yang masih termasuk wilayah Hijaz (Saudi) dan Yaman. Di antara keturunnya adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan nabi terakhir.

Sedangkan Nabi Ishak ‘alaihi salam diutus oleh Allah ta’ala sebagai nabi di negeri Syam, Hiran dan wilayah sekitarnya. Di antara anaknya, ada yang bernama Ish yang darinya lahirlah Nabi Ayyub ‘alaihi salam bin Ish bin Ishak bin Ibrahim.

Juga, di antara keturunan Nabi Ishak ‘alaihi salam, adalah Nabi Dzulkifli ‘alaihi salam. Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Orang-orang telah mengklaim dia (Dzulkifli) sebagai anaknya Nabi Ayyub ‘alaihi salam.” Setelah itu, terbuktilah bagi Ibnu Katsir bahwasanya dia adalah seorang nabi. Nabi Ayyub ‘alaihi salam bersama Nabi Dzulkifli‘alaihi salam ini telah diutus kepada penduduk Damaskus yang terdapat di negeri Syam.

Kemudian, di antara keturunan Nabi Ishak ‘alaihi salam lainnya, adalah Nabi Ya’qub ‘alaihi salam -alias Israil- yang kepadanya Bani Israil bernasab. Lalu, secara berturut-turut disusul para nabi dari Bani Israil lainnya, seperti Nabi Yusuf ‘alaihi salam, Nabi Musa ‘alaihi salam, Nabi Harun ‘alaihi salam, Nabi Ilyas ‘alaihi salam, Nabi Ilyasa ‘alaihi salam, Nabi Yunus ‘alaihi salam, Nabi Daud ‘alaihi salam, Nabi Sulaiman ‘alaihi salam, Nabi Yahya ‘alaihi salam, Nabi Zakariya ‘alaihi salam, dan Nabi Isa ‘alaihi salam.

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta] 
sumber : http://www.alsofwa.com


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar