Jumat, 05 Juli 2013

Renungan - Syirik di Balik Teknologi

candlestick-pay-telephone.jpgTEKNOLOGI. Sebagian kita, mungkin, perlu menjedakan diri atau barangkali menjaga jarak dengan kata yang satu ini. Tidak usah lama-lama, cukup sehari saja. Dan, marilah kita bertanya pada diri sendiri. Apakah makna teknologi buat saya? Atau sebaliknya, apa makna saya buat teknologi?

Pada tingkat yang lebih sederhana, pertanyaan tersebut bisa saja seperti ini: Apakah yang terjadi bila televisi yang biasa kita tonton tiba-tiba rusak seharian, atau Apakah yang terjadi jika HP kita tiba-tiba rusak?

Apakah yang anda rasakan bila pengalaman tersebut mengusik hidup anda? Stres, marah, kesal, atau tekanan psikologis lainnya? Tak bisa dipungkiri, di antara kita, tidak bisa menafikan sederet gangguan jiwa itu.

Uniknya, pada titik yang lain, kita seringkali terbuai dengan pernak-pernik teknologi baru yang kita miliki. Kita sangat senang punya HP baru, TV baru, komputer baru dan lainnya. Semua itu, membuat kita terlena. Kita puja dan sayangi mereka. Saat semua hilang, gangguan psikologis jawabannya.

Begitulah teknologi menguasai kita. Rupanya, kehadirannya bukan lagi sekedar mesin, melainkan kita menganggapnya sebagaimana layaknya manusia. Dan, diam-diam kita tuhankan dia dalam hati kita, dalam hidup kita. Kita begitu tergantung dengannya.

Padahal sejatinya, teknologi sendiri, konon, diciptakan untuk memudahkan manusia. Ia adalah seperangkat mesin yang akan melayani dan membantu kita. Namun, dalam catatan peradaban manusia, kaidah ini tidak berlaku. Justru manusia menjadi pelayan teknologi. Sesuatu yang tadinya kita kontrol malah terbalik mengontrol kita. Sampai titik ini timbul pertanyaan. Siapakah yang lebih berkuasa? Teknologi atau diri saya?

Teknologi menjadi semacam seperangkat barang yang telah dianggap memiliki ruh atau kekuatan tertentu hingga memiliki pengaruh magis dan daya pesona. Ia menjadi berhala modern tanpa kita sadari. Bukankah  Tuhan pernah berfirman,"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain (syirik) itu . . . ." (QS. An-Nisa':48). Naudzubillah min dzalik.

Namun, kendati demikian, di abad modern ini, kita memang tidak bisa menegasikan kehadiran dan kebermanfaatannya. Kita tidak mungkin melepaskan teknologi dari kehidupkan sehari-hari. Pilihan paling aman, mungkin, kita mesti pandai memilah sebuah kemajuan tanpa menjadi budaknya. Dengan cara inilah, TV, HP, Komputer dan lain-lain tidak membuat pembodohan, kehampaan dan pemurtadan rohani kita. Semoga. Wallahu'alam bilshowab.

http://myspiritstreet.mywapblog.com


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar