Jumat, 07 Juni 2013

Bahaya Syirik, Dosa yang Paling Besar



Jika kita paham bahwa semua dosa adalah berbahaya, maka ketahuilah bahwa dosa yang paling berbahaya adalah dosa kesyirikan. Sebagaimana jika kita tahu bahwa setiap dosa pasti akan ada balasan siksaNya, maka ketahuilah sesungguhnya siksa yang paling berat dan pedih adalah akibat dosa syirik, baik di dunia maupun di akhirat… Kita semua berlindung darinya.

Akan tetapi anehnya, di zaman kita sekarang amalan kesyirikan makin banyak dan tersebar dengan corak dan macamnya. Baik yang kecil maupun yang besar, berhubungan dengan yang dhahir maupun batin, bahkan dengan cara yang tersembunyi atau terang-terangan.

Banyak orang menyepelekan perkara kesyirikan, mulai dari pribadi, pemimpin, sampai penguasa di belahan dunia Islam, kecuali yang mendapat rahmat dari Allah. Padahal tanggung jawab mereka sangat berat di hadapan Allah kelak.

Seakan-akan syirik adalah dosa biasa dan ringan. Padahal syirik merupakan perkara yang luar biasa. Di antara akibatnya adalah: dosa yang tidak akan diampuni, menjadi murtad, sebab turunnya siksa, kekal di neraka, sebab malapetaka, rasa ketakutan, dicabutnya barakah, sebab bencana yang tidak akan pernah terputus dan lain-lain.

Maka tidakkah kita takut akan semua itu…??!! Lalu sampai kapankah kita akan sadar wahai saudaraku…??!! Belumkah tiba saatnya untuk kembali dan bertaubat….??!!

Logikanya sekarang, kalau perkara yang besar (syirik) saja, mereka abaikan dan dianggap kecil serta tidak diperhatikan, bagaimana dengan perkara yang kecil atau sederhana? Tentu mereka akan lebih meremehkan. Artinya, jika hak-hak Allah (yaitu mentauhidkan dan tidak berbuat syirik-Nya) saja sudah mereka lupakan, tentu hak-hak manusiapun akan biasa bagi mereka. Demikian pula kemungkaran dan kemaksiatan akan menjadi sesuatu ringan bagi sesorang tersebut.

Oleh karena itulah, disini penulis hanya akan membawakan dalil dalil yang menunjukkan akan haramnya syirik, baik dari al-qur’an maupun As-sunnah yang sangat banyak. Dengan tujuan agar kita lebih yakin dan mantap, akan terkutuk dan haramnya perbuatan ini, sehingga kita bisa meninggalkannya secara menyeluruh.

Diantara Dalil-dalil Haramnya Kesyirikan

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا (٤٨)
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (Surat: An-nisa, ayat: 48).

Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar, Rosulullah Sallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: قلت: يا رسول الله، أي الذنب أعظم ؟ قال: أن تجعل لله ندا وهو خلقك. (رواه البخاري ومسلم)
Dari Abdillah bin mas’ud –semoga Allah meridhainya- ia berkata, aku bertanya: “Wahai Rosulullah, dosa apakah yang paling besar? Maka ia menjawab: “yaitu kamu menjadikan tandingan bagi Allah, sedangkan Dialah yang menciptakan kamu”. (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Oleh karena itu Allah berfirman:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (١١٧)
“Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (Surat Al-Mukminun, ayat: 117).

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun”. (Surat An-Nisa’, ayat: 36).

“Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (Ar-Ra’d, ayat: 36).

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al-Kahfi, ayat: 110).

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (Surat, ayat: 13).

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhada-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu tidak dapat memberi pertolongan”. (Surat al-’araf, ayat: 191-192).

“Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberikan rezki kepada mereka sedikitpun dari langit dan bumi, dan tidak berkuasa (sedikit juapun)”. (Surat An-Nahl, ayat: 73).

“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. (Surat Al-an’am, ayat: 88).

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”. (Surat az-Zumar, ayat: 65).

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (surat An-Nisa’: 48).

“Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (Surat: An-Nisa, ayat: 48).

عن أبي ذر رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: (عرض لي جبريل فقال: (بشر أمتك أنه من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة فقلت يا جبريل وإن سرق وإن زنى قال: نعم.قال قلت وإن سرق وإن زنى قال نعم وإن شرب الخمر ). رواه البخاري و مسلم
Dari Abi Dzar semoga Allah meridhainya, sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malaikat jibril menampakkan kepadaku dan berkata: berikanlah kabar gembira kepada ummatmu, sesungguhnya barangsiapa yang meninggal dan tidak menyekutukan dengan Allah sedikitpun, maka ia akan masuk surga. aku bertanya: wahai jibril, sekalipun ia mencuri dan berzina? Maka ia menjawab: ya, walaupun ia mencuri dan berzina, aku bertanya lagi: sekalipun ia mencuri dan berzina? maka ia menjawab: ya, walaupun ia minum khamer”. (H.R. Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (Surat Al-Maidah, ayat: 72).

عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار ) رواه البخاري
Dari Abdillah bin Mas’ud –semoga Allah meridhainya- sesungguhnya Nabi shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa meninggal, sedangkan ia menyeru kepada sekutu dari selain Allah, maka akan masuk neraka”. (H.R. Bukhari).

وعن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من مات لا يشرك به شيئا دخل الجنة ومن مات يشرك به دخل النار ) رواه مسلم
“Dari Jabir bin Abdillah –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Aku mendengar Rosulullah shallahu ‘alaihi wasallab bersabda:”Barangsiapa yang meninggal tanpa menyekutukan dengan Allah sedikitpun akan masuk surga dan barangsiapa meninggal dengan menyekutukan kepada Allah, maka akan masuk neraka”. (H.R, Muslim).

“Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa’at dari orang-orang yang memberikan syafa’at”. (Surat al-Mudatssir, ayat: 48).

 عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (إذا فرغ الله من القضاء بين العباد وأراد أن يخرج برحمته من أراد من أهل النار أمر الملائكة أن يخرجوا من النار من كان لا يشرك بالله شيئا ممن أراد الله أن يرحمه ممن يشهد أن لا اله إلا الله فيعرفونهم في النار بأثر السجود تأكل النار ابن آدم إلا أثر السجود حرم الله على ا لنار أن تأكل أثر السجود فيخرجونهم من النار ) رواه البخاري.
Dari Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya-, sesungguhnya Nabi Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila Allah selesai memutuskan (perkara) diantara hambanya dan ingin mengeluarkan dari neraka orang yang Ia kehendaki, Maka Allah perintah malaikat untuk mengeluarkan dari neraka orang-orang yang tidak menyekutukan dengan Allah sedikitpun dari orang-orang yang ingin dirahmati oleh Allah, yang bersaksi bahwa “tidak ada ilah yang haq melainkan Allah”, maka malaikat mengetahui mereka dari bekas sujud. neraka akan memakan anak Adam kecuali bekas sujud. Allah telah haramkan atas neraka untuk memakan bekas sujud, kemudian malaikat mengeluarkan mereka dari neraka. (H.R. Bukhari )

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (لكل نبي دعوة مستجابة فتعجل كل نبي دعوته وإني اختبأت دعوتي شفاعة لأمتي يوم القيامة فهي نائلة إن شاء الله من مات من أمتي لا يشرك بالله شيئا ) رواه مسلم
Dari Abi Hurairah –semoga Allah meridhainya- ia berkata, Rosulullah bersabda: setiap Nabi mempuyai doa yang mustajab, maka setiap Nabi menyegerakan doanya. Dan sesungguhnya aku sembunyikan doaku sebagai syafaat untuk ummatku pada hari kiamat. Maka ia akan diperoleh insyaallah oleh orang yang meninggal dari ummatu yang tidak menyekutukan dengan Allah sedikitpun. (H.R. Muslim)

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu.maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” (QS. Al-A’raaf: 138-140)

Sesungguhnya akan dihancurkan kepercayaan yang mereka anut dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.

Musa menjawab: “Patutkah aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat[563]..

 عن أبي واقد الليثي رضي الله عنه قال: (خرجنا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى حنين و نحن حدثاء عهد بكفر وللمشركين سدرة يعكفون عندها وينوطون بها أسلحتهم يقال لها ذات أنواط قال فمررنا بالسدرة فقلنا: يا رسول الله اجعل لنا ذات أنواط كما لهم ذات أنواط فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الله أكبر, إنها السنن قلتم والذي نفسي بيده كما قالت بنو إسرائيل: (اجعل لنا إلها كما لهم آلهة قال إنكم قوم تجهلون ) لنركبن سنن من كان قبلكم ” رواه أحمد و الطبراني
Dari Abi Waqid Al-Laitsy -semoga Allah meridhainya-, ia berkata:”kami keluar bersama Rosulullah ke Hunain, sedangkan kami masih dekat dengan masa kekafiran. Dan orang-orang musyrik mempunyai pohon yang mereka jadikan ‘itikaf serta menggantung pedang-pedang mereka padanya, mereka namakan “DZATU ANWAT”. Perawi berkata: maka kami melewati pohon, kemudian bertanya wahai Rosulullah, buatkanlah bagi kami dzatu anwat sebagaimana mereka memiliki dzatu anwat, maka Rosulullah menjawab “Allahu akhbar” sesungguhnya itu adalah cara ibadah (orang-orang musyrik), demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian telah berkata sebagaimana banu israil mengatakan: “jadikanlah bagi kami sesembahan, sebagaimana mereka mempunyai sesembahan, Allah berfirman: “sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang bodoh”. Sungguh kalian akan mengikuti ibadah orang-orang sebelum kalian”. (H.R. Ahmad dan At-tabrany).

“padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu”. (Surat al-an’am, ayat: 119).

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia”. (Surat al-an’am, ayat: 151).

“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”. (Surat Ali ‘Imran, ayat: 80).

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah. dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Maksudnya: mereka mematuhi ajaran-ajaran orang-orang alim dan rahib-rahib mereka dengan membabi buta, biarpun orang-orang alim dan rahib-rahib itu menyuruh membuat maksiat atau mengharamkan yang halal.

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (Surat Nuh, ayat: 23).

Wadd, Suwwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr adalah nama-nama berhala yang terbesar pada qabilah-qabilah kaum Nuh.

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al Lata dan al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah”. (Surat An-najm: ayat: 20).
Al Lata, al Uzza dan Manah adalah nama berhala-berhala yang disembah orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya anak-anak perempuan Tuhan.

“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu, dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka apakah kamu tidak memikirkan ?”. (Surat yasin, ayat: 60-62).

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلا شَيْطَانًا مَرِيدًا (١١٧)
Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala[349], dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka. (QS. An-Nisa: 117)

Asal makna Inaatsan ialah wanita-wanita. Patung-patung berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan nama-nama perempuan sebagai Laata, al Uzza dan Manah. Dapat juga berarti di sini orang-orang mati, benda-benda yang tidak berjenis dan benda-benda yang lemah.

“Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. (Surat Al-an’am, ayat: 121).

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu. (Surat Al-isra’, ayat: 64).

Jika dengan al-qur’an dan As-sunnah tidak mempan, maka ke mana obat hendak dicari??!! Untuk itu mari kita memohan hanya kepada-Nya, supaya menjauhkan kita, keluarga dan keturunan kita dari penyakit dan virus yang sangat berhaya ini, dalam dalam keyakinan, ucapan maupun perbuatan kita semua.

Ya Robbi sesungguhnya engkau adalah Dzat yang maha kuasa lagi maha mengetahui kelemahan hambaMu ini, maka jauhkanlah kami dari segala bentuk kesyirikan…yang besar maupun kecil yang kami sadari atau tidak dan di manapum kami berada. Amiin…….

Penulis
Al-faqir ila afwi Rabbi
Hamidin As-sidawy Al-atsary, Abu harits
Makkah Al-mukarramah
(25/6/1434H )

http://cahayaummulquro.com/?p=727


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar