Senin, 03 Juni 2013

Pengkultusan Terhadap Orang Shaleh, Awal Syirik kaum Nabi Nuh 'Alaihi Salam.

kbrDi antara target dari tipu daya setan adalah agar manusia -setelah itu- berselisih dengan tidak lagi mengikuti para nabi dalam masalah tauhid dan agama yang telah diperintahkan kepada mereka, dan sebaliknya mereka terperosok ke dalam jurang kesyirikan karena telah mengkultuskan orang-orang yang sudah mati. Pada saat itulah, mereka akan terpecah menjadi dua bagian: Kelompok yang bertauhid (muwahhidin) dan kelompok yang berbuat syirik (musyrikin).

Begitulah, setan menerobos ke dalam hati mereka dengan memicu perselisihan di antara mereka agar tidak lagi mengikuti petunjuk para nabi. Dan mereka pun mengagungkan orang-orang di antara mereka yang sudah mati hingga mereka pun ber-i’tikaf di kuburan mereka. Juga, mereka mendirikan patung-patung orang-orang tersebut, bahkan sampai menyembah mereka. Maka, orang-orang musyrik yang ada di antara kaum Nabi Nuh ‘alaihi sallam ini, merupakan golongan yang pertama kali melakukan syirik. Adapun jenis kesyirikan mereka yang berupa ‘pengkultusan terhadap orang-orang yang sudah mati,’ merupakan bentuk penyekutuan terhadap Allahta’ala yang muncul pertama kali sepanjang sejarah dunia. Sedangkan Nabi Nuh ‘alaihi sallam, adalah rasul yang pertama kali diutus kepada kaum musyrikin (paganis).

Tidak sedikit di antara ulama salaf -berkaitan dengan firman Allah ta’ala:
وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَتَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَسُوَاعًا وَلاَيَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا
“Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyem-bahan) ilah-ilah kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”, (Nûh: 23)- yang mengatakan, bahwasanya nama-nama tersebut adalah nama-nama orang shalih yang ada di kalangan mereka. 

Ketika orang-orang tersebut meninggal dunia, mereka pun ber-i’tikaf di kuburan mereka, lalu mendirikan patung-patung mereka, dan akhirnya me-nyembah mereka. Hal itu merupakan awal mula penyembahan ter-hadap patung, dan bahwasanya patung-patung ini akhirnya sampai ke negeri Arab. Mereka telah berbid’ah dengan melakukan syirik dan menyembah berhala, sebagai bid’ah yang berasal dari hawa nafsu mereka, yang dipancing oleh berbagai propaganda (syubhat) yang ditimbulkan oleh setan kepada mereka, melalui parameter yang rusak dan filosofi yang menyimpang.

Imam al-Bukhari telah berkata di dalam Shahih-nya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu: “Nama-nama ini adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihi sallam. Maka, ketika mereka telah meninggal dunia, setan pun membisikkan kepada kaum mereka agar membangun patung-patung mereka di atas majlis-majlis yang biasa mereka tempati, dan agar menamakan patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Lalu, mereka pun melakukannya. Namun, patung-patung tersebut belum pernah disembah, hingga akhirnya ketika mereka semua (pembuat patung-patung tersebut) telah tiada, dan pengetahuan tentang asal usul patung-patung tersebut sudah bias (distorsif), patung-patung itu pun disembah.”

Pada saat patung-patung dan taghut-taghut telah disembah, dan orang-orang pun telah melegalisasi kesesatan dan kekufuran, maka Allah ta’ala-sebagai rahmat kepada hamba-hamba-Nya- mengutus seorang rasul pertama kepada penduduk bumi, yaitu Nabi Nuh ‘alaihi sallam. Nama lengkapnya adalah Nuh bin Lamak bin Mutawasylikh bin Ukhnukh -alias Nabi Idris ‘alaihi sallam - bin Yarad bin Mahlayabil Man Qinan bin Anusy bin Nabi Syits ‘alaihi sallam bin Adam ‘alaihi sallam. Antara Nabi Adam ‘alaihi sallam dan Nabi Nuh ‘alaihi sallam yang berjarak sekitar sepuluh abad lamanya ini, semua manusia berlandaskan pada ajaran Islam, sebagaimana yang disebutkan di dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Nabi Nuh ‘alaihi sallam hidup bersama kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun (950 thn), untuk menyerukan kepada mereka agar menyembah Allah ta’alasemata, yang tiada sekutu bagi-Nya, dan mencegah mereka menyembah selain Dia. Ketika Allah ta’ala menginformasikan kepada beliau bahwa di antara kaumnya tidak akan beriman kecuali orang-orang yang sudah beriman, maka Allah pun menghancurkan mereka dengan banjir bandang dikarenakan do`a beliau, lalu secara berturut-turut datanglah para rasul setelah-nya. Di antara mereka ada yang disebutkan namanya oleh Allah ta’ala di dalam al-Qur’an al-‘Azhim, adalah:

Nabi Hud ‘alaihi sallam, nama lengkapnya adalah Hud bin Syalikh bin Arfakhasyadz bin Sam bin Nuh ‘alaihi sallam. Beliau adalah nabi pertama dari keturunan Arab yang diutus oleh Allah ta’ala di tengah-tengah bukit pasir (al-Ahqaf) di Hadhramaut, sedangkan kaumnya merupakan suku ‘Ad yang pertama, yaitu kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah terjadinya angin topan, sebagaimana Allah ta’ala telah menjelaskan hal itu secara terperinci di dalam beberapa surat dalam al-Qur’an al-Karim, di antaranya:
“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Ad saudara mereka, Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?.” Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata, “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta.” Hud berkata, “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Rabb semesta alam. Aku menyampaikan amanat-amanat Rabbku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Rabbmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu. Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabb telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Mereka berkata, “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami, maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Ia berkata, “Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa adzab dan kemarahan dari Rabbmu.” Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan aku tentang nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu menamakannya, padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu. Maka tunggulah (adzab itu), sesungguhnya aku juga termasuk orang yang menunggu bersama kamu.” Maka Kami selamatkan Hud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, dan tiadalah mereka orang-orang yang beriman. (al-A’raf: 65-72).

“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahui-nya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan kepada kaum ‘Ad (Kami utus) saudara mereka Hud. Ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Ilah selain Dia. kamu hanya-lah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah men-ciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?” Dan (dia berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” Kaum ‘Ad berkata, “Hai Hud, kamu tidak menda-tangkan kepada kami suatu bukti yang nyata, dan kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu, dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Hud menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguh-nya Rabbku di atas jalan yang lurus.” Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. Dan Rabbku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikit pun. Sesungguhnya Rabbku Maha Pemelihara segala sesuatu. Dan tatkala datang ‘adzab Kami, Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari ‘adzab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Hud itu.” (Hud: 50-60).

“Kemudian, Kami jadikan sesudah mereka umat yang lain. Lalu Kami utus kepada mereka, seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata), “Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Ilah selain daripada-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya). Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia, “(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum.” Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu), jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi. Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.” Rasul itu berdo’a: “Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.” Allah berfirman, “Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal.” Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zhalim itu.”
 (al-Mukminun: 31-41).

“Dan sesungguhnya Rabbmu Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Kaum Aad telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguh-nya aku adalah seorang rasul kepercayan (yang diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam. Apakah kamu mendirikan pada tiap-tiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kamu membuat benteng-benteng dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia). Dan apabila kamu menyiksa, maka kamu menyiksa sebagai orang-orang kejam dan bengis. Maka bertaqwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan bertaqwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah meng-anugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, anak-anak, kebun-kebun dan mata air, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa adzab yang besar.” Mereka menjawab, “Adalah sama saja bagi kami, apakah kamu memberi nasehat atau tidak memberi nasehat, (agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu, dan kami sekali-kali tidak akan diadzab.” Maka mereka mendustakan Hud, lalu Kami binasakan mereka. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabb-mu, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (asy-Syu’ara: 123-140).

“Adapun kaum ‘Aad maka mereka menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dan berkata, “Siapakah yang lebih besar kekuatannya dari kami.” Dan apakah mereka itu tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan mereka adalah lebih besar kekuatan-Nya dari mereka. Dan adalah mereka mengingkari tanda-tanda (kekuatan) Kami. Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan akhirat lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat: 15-16).

“Dan ingatlah (Hud) saudara kaum ‘Aad yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya (dengan mengatakan), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa adzab hari yang besar.” Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari (menyembah) ilah-ilah kami? Maka datangkanlah kepada kami adzab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” Ia berkata, “Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh.” Maka tatkala mereka melihat adzab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan)! bahkan itulah adzab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung adzab yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (al-Ahqaf: 21-25).

Kemudian, Nabi Shalih ‘alaihi sallam, nama lengkapnya adalah Shalih bin ‘Ubaid bin Masih bin ‘Ubaid bin Hadir bin Tsamud bin ‘Atsir bin Iram bin Sam bin Nuh ‘alaihi sallam. Beliau adalah nabi kedua dari keturunan Arab yang diutus oleh Allah ta’ala kepada kaum Tsamud, setelah Nabi Hud ‘alaihi sallam di tengah-tengah kaum ‘Aad. Sungguh Allah ta’ala telah menyebutkan kisah mereka bersama Nabi Shalih ‘alaihi sallam, juga kisah unta dan ketetapan hati mereka untuk terus menyembah berhala di dalam beberapa surat al-Qur’an, tepatnya di dalam surat-surat yang telah tersebut di atas, surat al-Hijr, dan surat-surat lainnya.

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]

http://www.alsofwa.com/23090/awal-terjadinya-syirik-di-tengah-kaum-nabi-nuh-shallallahu-alaihi-wasallam-adalah-dalam-bentuk-pengkultusan-kepada-orang-orang-shalih-yang-telah-mati.html


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar