Rabu, 04 September 2013

Jeddah : Kota Islam yang Kosmopolitan

PRLM - Jeddah bukan sekadar nama kota pelabuhan di Jazirah Arab yang terkenal sejak lama karena kesibukan-kesibukannya di dalam perdagangan, tetapi juga merupakan kota paling ramai dikunjungi oleh umat Islam dari seluruh pelosok dunia, di dalam rangkaian perjalanan ibadah haji ataupun umrah. Jeddah juga merupakan pintu gerbang menuju kota lain di dalam pelaksanaan ibadah haji ataupun umrah, khususnya kota-kota suci Mekah dan Madinah.

Letak Kota Jeddah di pantai Laut Merah, 75 km dari kota suci Mekah, memiliki arti penting dan strategis bagi kemajuan dan perkembangan Kerajaan Arab Saudi sejak zama dahulu. Pelabuhan Jeddah yang diberi nama "Pelabuhan Islam" (Jeddah Islamic Port) itu, merupakan pintu utama segala kegiatan bisnis, baik dalam bentuk komoditas impor maupun komoditas ekspor.

Ditunjang oleh pusat perdagangan modern yang sangat sibuk, bukan saja untuk Kerajaan Arab Saudi tetapi juga untuk negara-negara tetangganya, Jeddah menjadi kota internasional, berbeda dengan Mekah ataupun Madinah. Karena itu kehidupan di kota ini sangat jauh berbeda dengan kehidupan di kota-kota lainnya di Arab Saudi, apalagi dibandingkan dengan kehidupan di kota-kota suci Mekah dan Madinah.

Jeddah sebelumnya, pada 2500 tahun yang lalu, hanyalah sebagai desa nelayan. Didirikan pada tahun 647 M oleh Khalifah Utsman bin Affan yang akhirnya digunakan sebagai pelabuhan untuk kepentingan jamaah haji terutama pada masa-masa perjalanan jamaah haji dilakukan melalui laut, bukan melalui udara seperti sekarang ini.

Belum jelas asal usul Jeddah, namun dari sumber sumber yang umumnya dibawa oleh jamaah haji, kata Jeddah berasal dari kata dalam bahasa Arab Jaddah yang berarti nenek sebab di sana ada makam yang diyakini sebagai makam Hawa istri Nabi Adam yang merupakan nenek moyang manusia. Sumber lain mengatakan bahwa Jeddah berasal dari kata Jiddah dalam bahasa Arab yang berarti lepas pantai.

Banyak cerita mengenai bagaimana bebasnya Jeddah, kota kedua terbesar di Arab Saudi setelah Riyadh. Sebagai kosmopolitan yang didiami banyak ekspatriat dari berbagai negara, Jeddah relatif terbuka dengan budaya luar. Sebutlah, misalnya, tempat-tempat hiburan.

Di samping itu, Jeddah juga merupakan kota diplomatik, sebab di kota inilah berkedudukan istana raja, Departemen Luar Negeri Arab Saudi, dan perkantoran badan-badan perwakilan asing. Pintu gerbang Arab Saudi ini sering dijadikan ajang pertemuan antarbangsa untuk membicarakan masalah-masalah dunia Islam.
Akan tetapi, arti penting Jeddah dalam pengembangan Islam terutama ditentukan oleh kedudukannya sebagai pintu gerbang bagi jemaah haji yang datang ke kota Mekah, Madinah dan Arafah. Keamanan dan keterbukaan kota ini sepanjang sejarah Islam sangat mempengaruhi kelancaran pelaksanaan rukun Islam yang kelima dan sangat menentukan bagi syarat istitaah (kesanggupan) seorang jemaah haji. (Dadang Sutarjan/”PRLM”)***


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar