Minggu, 08 September 2013

Tujuh Kewajiban Kita Terhadap Tauhid

gambar tauhidAda tujuh kewajiban terhadap tauhid yang harus kita perhatikan:

Pertama: Ilmu
Wajib bagi seorang muslim memiliki ilmu yang memadai tentang tauhid; memahami bagaimanakah cara mentauhidkan Allah dengan benar. Ilmu adalah pokok yang sangat penting dalam tauhid karena benar atau tidaknya tauhid kita sangat bergantung kepada pemahaman kita terhadap makna tauhid itu sendiri.
Untuk itulah banyak ayat dalam Al Qur`an serta hadis dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan pentingnya ilmu. Imam Bukhari mengatakan, “Ilmu sebelum berkata dan berbuat.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika beliau telah melaksanakan shalat subuh berdoa, “Ya Allah, sesunggunya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”

Kedua: Cinta
Setelah berilmu atau memahami tauhid dengan baik, maka tentu seorang muslim wajib mencintai tauhid sebagaimana ia mencintai Allah karena sesungguhnya tauhid adalah hak Allah yang paling agung atas hamba-hamba-Nya. Jika tauhid hanya sebatas pemahaman, maka hal itu juga dimiliki oleh orang-orang musyrik zaman dulu. Mereka sangat memahami tauhid dengan baik, namun mereka membencinya. Justru karena mereka sangat faham ajaran tauhid yang diwaba oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka menolak untuk mengucapkannya.

Ketiga: Azam
Azam atau tekad berikutnya sangat penting untuk kita miliki agar kita dalam menunaikan ketauhidan yang benar. Cinta yang tidak disetai tekad untuk mewujudkan segala konsekwesi dari nilai-nilai tauhid kelak akan membuat tauhid mudah goyah, tidak memiliki daya tahan dan lemah jika suatu saat dihadapkan pada rintangan dan cobaan. Karena sudah menjadi sunnatullah, orang yang beriman dan bertauhid akan diuji oleh Allah.

Keempat: Amal
Beramal adalah tahap selanjutnya dalam menunaikan kewajiban kita terhadap tauhid. Artinya, segala hal yang menjadi konsekwensi dari ajaran tauhid harus terwujud dalam amal perbuatan kita. Wujudkan tauhid itu dengan cara benar-benar memurnikan segala ibadah hanya untuk Allah dan jauhi segala hal yang bertentangan dengan nilai tauhid berupa kesyirikan dengan segala bentuknya.

Kelima: Beramal Dengan Ikhlas dan Benar
Perlu diingat, bahwa amal tidak menjadi sah tanpa disertai dengan ikhlas karena Allah dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah shalallallahu ‘alaih wa sallam. Keduanya harus ada secara bersamaan. Amal yang dikerjakan dengan keikhlasan saja tidak cukup, sebagaimana amal yang dilakukan dengan benar saja tidak cukup. Amal harus ikhlas, dan juga benar.

Keenam: Berhati-hati Terhadap Hal-hal yang Bertentangan dengan Tauhid
Selanjutnya, seorang muwahhid harus mengenal apa saja perkara yang bertentangan dengan tauhid dan berhati-hati terhadapnya. Agar ia tidak terjerumus ke dalamnya. Ilmu tentang hakikat tauhid tidak akan menjadi sempurna jika tidak disertai dengan ilmu tentang perkara-perkara yang bertolak belakang dengan tauhid. Dan tauhid tidak akan tegak jika padanya masih terdapat perkara-perkara yang bertentangan dengannya. Yang bertentangan dengan tauhid ini ada dua macam:
(1) Yang termasuk kategori pembatal tauhid, seperti: syirik besar.
(2) Yang termasuk pengurang tauhid, seperti: syirik kecil.

Ketujuh: Istiqomah dan Teguh
Kewajiban yang terakhir ini juga sangat penting. Setelah semua poin sebelumnya dapat dilalui, istiqomah dan teguh dalam menjaga tauhid harus dapat kita pertahankan hingga kita mati, meninggalkan dunia ini. Karena sesungguhnya kondisi yang sangat menentukan bagi kita di dunia ini dalam meraih kebahagian di akhirat adalah saat terakhir dari kehidupan kita. Dan peluang untuk mendapatkan akhir yang baik (husnul khatimah) itu hanya dimiliki oleh orang yang istiqamah.

[Diringkas dari Kajian Syarh Kitab At-Tauhid, Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Badr hafidzahullah]
https://sabilulilmi.wordpress.com/2013/09/08/tujuh-kewajiban-kita-terhadap-tauhid/


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar