Sabtu, 28 September 2013

Pembagian Tauhid Menjadi Tiga Bukan Trinitas

A.       Pendahuluan
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan segala limpahan rahmat dan nikmat-Nya. Yang jika kita mencoba untuk menghitungnya maka sungguh kita tak akan mampu untuk menghitungnya. Salawat beserta salam semoga tercurahkan kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad Saw, kepada keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umat muslim.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid merupaan landasan bagi setiap amal yang dilakukannya. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidlah, menurut tuntunan islam, yang akan menghantarkan menusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.
Allah Swt berfirman yang artinya “Barang siapa yang mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:97)
Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim untuk mempelajarinya.
Belakangan ini, kita sering mendengar pernyataan-pernyataan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab bahwa pembagian tauhid menjadi tiga yaitu rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa sifat sama seperti aqidah trinitas kaum Nasrani yang meyakini bahwa Allah terdiri dari tiga oknum.
Yang lebih aneh lagi mereka masih terus menganggap bahwa pernyataan mereka ini adalah hujjah yang sangat kuat untuk membantah salafiyin, padahal ini adalah hujjah yang sangat konyol dan sangat tidak masuk akal. Apakah semua yang dibagi menjadi tiga sama dengan trinitas?
Pada kesempatan ini, saya akan mencoba untuk mengulas beberapa konsep pembagian aqidah yang sangat berbeda dengan aqidah trinitas Nasrani.
B.       Pembahasan
Trinitas adalah doktrin Iman Kristen yang mengakui Satu Allah Yang Esa, namun hadir dalam Tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, di mana ketiganya adalah sama esensinya, sama kedudukannnya, sama kuasanya, dan sama kemuliaannya. Istilah Tritunggal mengandung arti tiga Pribadi dalam satu kesatuan esensi Allah.
Konsep trinitas bersumber pada ajaran kitab Injil yang diragukan keasliannya, disebabkan bukanlah kitab ‘Samawi’ (bersumber pada wahyu Allah Swt), namun kitab injil tersebut ditulis dan disusun setelah Al-Masih diangkat oleh Allah atau setelah penyalibannya menurut perkiraan orang-orang Nasrani. Dan masuknya konsep Trinitas pada agama Nasrani setelah kepergian Al-Masih dan para pengikutnya.
Oleh karena pengertian trinitas di atas, maka berikut adalah beberapa hujjah yang membantah pernyataan bahwa pembagian tauhid menjadi tiga adalah sama dengan aqidah trinitas Nasrani.
1.        Maksud dari pembagian Tauhid menjadi tiga, yaitu mentauhidkan Allah dalam Rububiyahnya, Uluhiyahnya, dan  Asmaa dan SifaatNya.
a)        Tauhid ar-Rubuubiyah artinya Mengesakan Allah dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan. Yaitu meyakini bahwa Allah Maha Esa dan tidak ada dzat lain yang ikut nimbrung membantu Allah dalam hal penciptaan, penguasaan, dan pengaturan.
b)        Tauhid al-Uluhiyah : Mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepadaNya. Artinya Allah Maha Esa dalam penyembahan, maka tidak ada dzat lain yang boleh untuk ikut serta disembah disamping penyembahan terhadap Allah.
c)        Tauhid al-Asmaa wa as-Sifaat : Mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifatnya. Artinya tidak ada dzat lain yang menyamai sifat-sifat Allah yang maha sempurna.
Jika kita bertanya kepada kaum muslimin secara umum tentang tiga makna tauhid di atas, maka secara umum tidak ada yang menolak, karena Allah memang Maha Esa dalam ketiga hal di atas. Lantas kenapa harus ada pengingkaran jika maknanya disetujui dan disepakati..??

2.        Tauhid asalnya tidaklah diterima kecuali tauhid yang satu. Karena asalnya Rob yang berhak disembah adalah Rob yang Maha Esa dalam penciptaan, dan juga Maha sempurna sifat-sifat-Nya. Jika ada Rob yang tidak Maha Esa dalam penciptaan atau tidak sempurna sifat-sifatnya maka dia tidak berhak untuk disembah. Karenanya asalnya bahwa tauhid tidaklah menerima pembagian. Ketiga makna tauhid di atas harus terkumpulkan menjadi satu. Lantas kenapa ada pembagian?

Makhluklah (yaitu kaum musyrikin) yang telah melakukan pembagian, sehingga mereka hanya mengimani dan mengerjakan sebagian dari makna tauhid.

Allah berfirman :

مُشْرِكُونَ وَهُمْ إِلا بِاللَّهِ أَكْثَرُهُمْ يُؤْمِنُ وَمَا

"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam Keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)" (QS Yusuf : 106)

Para salaf dan para ahli tafsir telah sepakat bahwa makna ayat ini adalah kaum musyrikin arab mengakui dan mengimani bahwasanya Allah Maha Esa dalam penciptaan dan pengaturan, akan tetapi mereka berbuat kesyirikan dengan beribadah juga kepada selain Allah.

Ayat ini menunjukkan bahwa kaum musyrikin Arablah yang membagi tauhid kepada Allah, sehingga hanya mengimani sebagian tauhid (yaitu tauhid rububiyah) dan berbuat syirik dalam tauhid al-uluhiyah.

Allah juga berfirman

يُشْرِكُونَ هُمْ إِذَا الْبَرِّ إِلَى نَجَّاهُمْ فَلَمَّا الدِّينَ لَهُ مُخْلِصِينَ اللَّهَ دَعَوُا الْفُلْكِ فِي رَكِبُوا فَإِذَا

Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah) (QS Al-'Ankabuut : 65)

Ayat ini menjelaskan bahwasanya dalam kondisi gawat kaum musyrikin mengesakan (tidak membagi) tauhid mereka sehingga ikhlas berdoa kepada Allah, akan tetapi tatkala mereka diselamatkan di daratan mereka kembali lagi melakukan pembagian tauhid dan menyimpang dalam tauhid al-uluhiyah.

3.        Syari'at tidak ingin tauhid dipisah-pisahkan, bahkan ingin agar tauhid merupakan seusatu yang satu kesatuan. Hanya saja timbul penyimpangan dari kaum musyrikin yang memecah dan membagi tauhid, dimana mereka beriman kepada sebagian makna tauhid dan mengingkari sebagian yang lain. Maka datanglah syari'at untuk meluruskan mereka sehingga menjelaskan dengan cara membagi antara keimanan mereka yang benar (tauhid ar-rububiyah) dan keimanan mereka yang salah dalam tauhid (yaitu tauhid al-uluhiyah). Sehingga sering kita dapati bahwasanya Al-Qur'an berhujjah dengan keimanan mereka terhadap tauhid ar-rububiyah agar mereka meluruskan tauhid mereka yang salah dalam tauhid al-uluhiyah. Seperti firman Allah yang artinya:

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu Mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS Al-Baqoroh : 21-22)

Dalam ayat ini Allah berhujjah dengan pengakuan kaum musyrikin dan keimanan mereka terhadap Rububiyah Allah agar mereka juga mentauhidkan Allah dalam uluhiyah/peribadatan.

Intinya : Pembagian tauhid nampak dan muncul pada makhluk lalu datanglah syari'at berusaha memperbaiki dan meluruskan pemahaman mereka yang keliru tentang tauhid. Jadilah timbul pembagian tauhid dalam syari'at yang memiliki 2 fungsi, (1) dalam rangka penjelasan dan (2) dalam rangka menjaga tauhid dari kesalahpahaman

4.        Timbul pertanyaan mengapa harus ada pembagian tauhid menjadi tiga? Rahasianya karena pembagian ini menjelaskan akan bedanya antara tauhid Ar-Rububiyah dengan tauhid Al-Uluhiyah. Dan barangsiapa yang mengakui tauhid Ar-rububiyah akan tetapi beribadah kepada selain Allah maka ia adalah seorang musyrik. Inilah pembagian yang mereka ingkari, mereka hanya ingin pembicaraan tauhid hanya pada dua model tauhid saja, yaitu tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat.

Karena dengan dibedakannya antara tauhid ar-rububiyah dan tauhid al-uluhiyah semakin memperjelas bahwa aqidah mereka tentang bolehnya berdoa kepada mayat-mayat penghuni kubur dan beristighotsah kepada para wali yang telah meninggal adalah kesyirikan yang nyata.

Mereka tidak mempermasalahkan jika seandainya tauhid dibagi menjadi dua, yaitu tauhid rububiyah dan tauhid al-asmaa wa as-sifaat, karena dalam buku-buku aqidah mereka ternyata memfokuskan pembicaraan pada dua model tauhid ini. Jika kita setuju pembagian tauhid hanya dua saja, maka bisa saja dikatakan ini adalah dualisme ketuhanan, sebagaimana penyembah dua dewa atau dua tuhan, dan ini juga kesyirikan. Sebagaimana trinitas adalah kesyirikan demikian juga dualisme ketuhanan  juga terlarang
C.       Kesimpulan

Dari beberapa pemaparan di atas dapat disimpulan bahwa aqidah trinitas nasrani sangatlah bertentangan dengan aqidah Islam yang dibagi menjadi tiga. Dan pembagian tauhid menjadi tiga yaitu rububiyah, uluhiyah serta asma’ wa sifat bukanlah trinitas yang membagi Tuhan menjadi tiga oknum.
 
D.      Referensi
·         http://firanda.com/index.php/artikel/aqidah/403-pembagian-tauhid-menjadi-tiga-adalah-trinitas


    Penulis: Romansyah Makalalag, Siswa kelas XII IPA 1,
    MAN Insan Cendekia Gorontalo.
http://www.buyahaerudin.com/2013/09/pembagian-tauhid-menjadi-tiga-bukan.html
 


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar