Senin, 01 April 2013

Sejarah Pengakuan Kemerdekaan RI

 
Pengakuan atas Kemerdekaan RI tak lepas dari dukungan negara-negara Timur-Tengah, pemimpin negeri, ulama, pemimpin organisasi, bahkan masyarakat di sana.

Buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" memaparkan demikian bersimpatinya tokoh-tokoh Timur-Tengah dalam menyokong kemerdekaan RI, baik secara moral, material, dan diplomasi meski negeri mereka sendiri berada dalam ancaman sekutu kala itu. Hingga kemudian berbuah pengakuan defacto kedaulatan RI yang pertama kali oleh Negara Mesir.

Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Tim-Teng lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan itu membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan & pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional.

Diplomasi revolusi Indonesia di luar negeri ini merupakan kegigihan para pemuda-pelajar Indonesia di Timur Tengah. Seruan-seruan bagi Indonesia merdeka memang telah bergaung dikalangan pemuda-pelajar Indonesia jauh sebelum tahun ketika proklamasi kemerdekaan dibacakan. Perhimpunan-perhimpunan pelajar Indonesia dibentuk hingga kemudian mendapatkan momentumnya pada 17 Agustus 1945. Mereka membentuk panitia-panitia perkumpulan kemerdekaan Indonesia di negara-negara Timur Tengah dengan panitia pusatnya berada di Mesir. Mereka berperan seperti layaknya duta besar dengan menjalin komunikasi dengan para pimpinan negeri-negeri Arab, ulama, ormas yang menghasilkan dukungan sangat kuat kepada Indonesia. Mereka membantah 'black out' propaganda bohong sekutu di luar negeri yang sangat gencar atas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Baik melalui media-media Timteng & media-media internasional maupun dengan mengirim surat/kawat protes, seruan, memorandum secara langsung kepada negara-negara yang bersangkutan atau kepada lembaga internasional seperti PBB.

M. Zein Hassan, Lc. Lt. adalah orang yang diamanahi sebagai ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. Sebagai ketua, ia merelakan kesempatan untuk meraih gelar Dr. (S3) yang sudah di depan mata. Ia meninggalkan pelajaran dan bahan-bahan penulisan risalah dengan judul "Kemerdekaan Dalam Islam" yang telah dikumpulkannya selama 2 tahun guna meraih titel ilmiah Dr. yang diidam-idamkan demi perjuangan kemerdekaan tanah air Indonesia.

Sokongan dunia Arab terhadap kemerdekaan Indonesia sangat kuat. Para pembesar Mesir, Arab dan Islam membentuk 'Panitia Pembela Indonesia'. Para pemimpin negara dan perwakilannya di lembaga internasional PBB dan Liga Arab sangat gigih mendorong diangkatnya isu Indonesia dalam pembahasan di dalam sidang lembaga tersebut.

Muhammad Ali Taher (Pemimpin Palestina) menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata: "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!"
Bahkan setahun sebelum proklamasi terjadi, ketika berkembang isu bahwa Jepang mengakui kemerdekaan Indonesia, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini kepada Alam Islami pada 6 September 1944. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, disebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.”

Dukungan media-media Timur Tengah surat kabar maupun radio lokal pun begitu kuat dan gencar dalam menggalang opini mendukung Indonesia dan memberitakan setiap perkembangan yang terjadi. Siang-malam surat kabar-surat kabar dan pemancar-pemancar radio menyiarkan berita-berita agresi Belanda terhadap bangsa Indonesia.

Di jalan-jalan terjadi demonstrasi-demonstrasi dukungan kepada Indonesia oleh masyarakat Timur Tengah. Ketika terjadi serangan Inggris atas Surabaya 10 November 1945, demonstrasi anti Belanda-Inggris merebak di Timur-Tengah khususnya Mesir. Sholat ghaib dilakukan oleh masyarakat di lapangan-lapangan dan masjid-masjid di Timur Tengah untuk para syuhada yang gugur dlm pertempuran yang sangat dahsyat itu.
Pasca agresi militer Belanda ke-1, 21 juli 1947, pada 9 Agustus kapal "Volendam" milik Belanda pengangkut serdadu dan senjata telah sampai di Port Said. Ribuan penduduk dan buruh pelabuhan Mesir terutama dari aktifis Ikhwanul Muslimin berkumpul di pelabuhan itu. Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah-putih berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau motor-motor-boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal "Volendam" milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.

Kemudian motor boat besar pengangkut logistik untuk "Volendam" bergerak dengan dijaga oleh 20 orang polisi bersenjata beserta Mr. Blackfield, Konsul Honorer Belanda asal Inggris, dan Direktur perusahaan pengurus kapal Belanda di pelabuhan. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanan para buruh Mesir. Wartawan 'Al-Balagh' pada 10/8/47 melaporkan:

"Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain."
 ”Kemenangan diplomasi Indonesia mulai di Kairo. Karena dengan pengakuan mesir dan negara- negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji, sebagai selalu dilakukannya di masa-masa yang lampau. Dr. Moh. Hatta

 A.H. Nasution dalam sambutannya mengatakan:
”Karena itu tertjatatlah, bahwa negara-2 Arab jang paling dahulu mengakui RI dan paling dahulu mengirim misi diplomatiknja ke Jogja dan jang paling dahulu memberi bantuan biaja bagi diplomat-2 Indonesia di luar negeri. Mesir, Siria, Irak, Saudi-Arabia, Jemen, memelopori pengakuan de jure RI bersama Afghanistan dan Iran beserta Turki mendukung RI. Fakta-2 ini merupakan hasil perdjuangan diplomat-2 revolusi kita. Dan simpati terhadap RI jang tetap luas di negara-2 Timur Tengah merupakan modal perdjuangan kita seterusnja, jang harus terus dibina untuk perdjuangan jang ditentukan oleh UUD ’45 : ”ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.”

 Buku ini ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan Lc. Lt. Buku ini diberi kata sambutan oleh Moh. Hatta (Proklamator & Wakil Presiden pertama RI), M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI ketika buku ini diterbitkan), dan Jenderal (Besar) A.H. Nasution.

http://www.iatekunsri.com/index.php/artikel/artikel-bebas/120-dirgahayu-negeriku-ke-66-sejarah-pengakuan-kemerdekaan-ri



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar