Rabu, 03 Oktober 2012

Fenny Sumayah Hamim Saleh, Miliarder Bakso Madinah dari Blora

 
image

MADINAH, - Ketekunan hampir selalu berbuah sukses. 

Fenny Sumayah contohnya. Bermula sebagai pembantu rumah tangga, Fenny kini menjelma menjadi miliarder berkat kegigihannya.

Dua puluh lima tahun silam, Fenny Sumayah bukanlah siapa-siapa. Dia hanya satu dari ribuan, atau mungkin jutaan, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mencoba mengadu nasib di negeri orang. Pilihan Fenny, warga Desa Bogowanti, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, jatuh ke Arab Saudi.

Fenny bekerja sebagaimana kebanyakan TKI asal Indonesia di Saudi, yakni menjadi pembantu rumah tangga. Yang membedakan dia dengan TKI lain, barangkali, adalah semangatnya untuk berubah dan menjadi lebih baik.

Dia tak melulu menjadi PRT. Di sela waktu, sesekali, Fenny mencoba berjualan. Dia menjajakan barang-barang khas Indonesia mulai dari nasi bungkus dengan lauk sederhana semacam tahu-tempe hingga oleh-oleh lokal-- kepada para jamaah haji atau umrah asal Indonesia yang tengah berada di Madinah.

Bisnis kecil-kecilan itu ternyata lancar. Untungnya juga lumayan gede, jauh lebih gede dibanding bayarannya bekerja sebagai PRT. Fenny pun makin sering melakukannya. Tapi, dia tidak lantas meninggalkan pekerjaan aslinya begitu saja. Jualan nasi bungkus dan oleh-oleh itu tetap dia anggap sebagai sambilan.

"Saya merintisnya dari nol. Betul-betul dari bawah," kata Fenny (45), yang tetap ber-KTP Bogowanti dan mudik tiga kali setahun meski telah hidup mapan di negeri orang. Pernah sekali waktu ketika berjualan di sekitar Masjid Nabawi, Madinah, dagangan Fenny digusur. Di kawasan itu, pedagang asongan memang harus kucing-kucingan dengan polisi.

Tempat tersebut termasuk daerah terlarang bagi pedagang. Namun seperti halnya di Indonesia, di Madinah pun, tetap saja banyak pedagang yang nekat membuka dasaran di jalanan.

Setiap kali berjualan di sekitar Nabawi, Fenny selalu bersua dengan jamaah haji asal Indonesia. Makin hari, jumlah jamaah kian bertambah banyak. Di luar musim haji, jamaah umrah juga melimpah. Otaknya berbisik, ini adalah peluang besar yang bisa digarap.

Maka, dia pun mulai meningkatkan usaha. Fenny tak hanya membuka lapak kecil di jalanan. Dia mulai masuk hotel, menawar-nawarkan katering kepada para jamaah itu secara langsung. Dia pun memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai PRT dan menekuni wirausaha tersebut.

Awalnya, dia hanya menyiapkan nasi bungkus untuk para jamaah. Namun gayung tak langsung bersambut. Usaha Fenny berjalan berat. Selain harus masak dan menjajakan sendiri, tidak semua jamaah bersedia menerima tawarannya. Tapi dia tak berputus asa. Fenny terus bekerja keras dan berusaha meningkatkan kualitas kateringnya. Meski tetap sederhana, Fenny berusaha membuat citarasa masakan olahannya betul-betul cocok untuk lidah Indonesia. Model bungkus pun diubahnya menjadi kemasan alumunium foil.

Setahun, dua tahun, dan tahun-tahun berikutnya, usaha Fenny bertumbuh. Dari hanya sebuah usaha jalanan, bisnis Fenny kini telah menjadi raksasa.

Dia menjadi salah satu pengusaha katering terkemuka di Madinah. Fenny kini telah memiliki dapur moderen dengan kapasitas ribuan porsi per hari di dekat Bandara Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz Madinah. Dengan dapur moderen itu, Fenny sanggup melayani katering untuk ribuan jamaah.

"Dapur milik saya termasuk yang moderen dan besar di Madinah," ujar Fenny, yang  sebagaimana kebanyakan wanita Saudi saat berada di kawasan publik, mengenakan jilbab bercadar untuk menutup wajah.

Fenny menyewa lantai dua hotel tersebut selama dua bulan sejak pertengahan September lalu dengan harga sekitar 350 ribu riyal atau setara Rp 875 juta. Dia mempekerjakan puluhan karyawan dari Indonesia, Pakistan, dan India untuk melayani ratusan pengunjung yang saban hari antre.

Menu restoran ini beragam. Ada oseng cumi-cumi, lunpia, bakwan, rendang, dan yang favorit; bakso solo. Sepiring rendang dipatok 13 riyal atau setara Rp 34 ribu. Bakwan tiga riyal atau Rp 7.500. Seplastik kerupuk –yang di Indonesia dijual Rp 1.000—di restoran ini seharga lima riyal atau Rp 12,5 ribu.

Dengan harga 10 riyal per porsi (Rp 25 ribu) berisi lima biji bakso plus mie kuning, tak menghalangi pengunjung untuk berebut. Tak jarang antrean mengular hingga lebih dari 20 meter.

( Gunarso / CN32 / JBSM ) suaramerdeka.com


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar