Kamis, 10 Januari 2013

Buta huruf di Kerajaan Arab Saudi Turun Drastis

Hidayatullah.com—Angka buta huruf di Kerajaan Arab Saudi turun dari 60% di tahun 1972 menjadi 4% di tahun 2012, lapor Saudi Gazette Rabu (9/1/2013).

Saudi mulai menyatakan perang terhadap buta huruf sejak era kepemimpinan Raja Abdulaziz, saat raja memulai program pemukiman kembali suku Badui. Ketika itu Raja Abdulaziz mengutus para akademisi untuk mendidik orang-orang Arab Badui.

Tahun 1972 raja mengeluarkan dekrit. Isinya memerintahkan agar orang-orang dewasa yang buta huruf belajar membaca. Keputusan itu kemudian disusul dengan serangkaian rencana di mana banyak lembaga ikut berparisipasi dalam program pemberantasan buta aksara itu.

Jumlah lembaga pendidikan dan sekolah membaca untuk orang dewasa mencapai 3.087 di tahun 2012. Sebanyak 82.797 orang butu huruf dan tua lanjut usia baik laki-laki maupun perempuan datang belajar di lembaga-lembaga pendidikan itu.*



KOMPAS.com - Arab Saudi serius memberi perhatian pada pendidikan rakyatnya. Makanya, tak segan-segan, pemerintah negeri itu  menggelontorkan banyak duit untuk membikin rakyatnya makin pintar.

Koran Al Eqtisadiya pad
a Selasa (8/1/2013), menulis, sejak sepuluh tahun silam, Arab Saudi sudah mengeluarkan dana hingga 322 miliar dollar AS untuk pendidikan. Fulus sebanyak itu ada di pos-pos pendidikan universitas, pelatihan kejuruan, dan pembangunan kampus-kampus di berbagai kota.

Media massa itu juga menunjukkan kalau 48 persen dana pendidikan itu dipakai untuk pendanaan bagi sekolah-sekolah, khususnya sekolah swasta. Pada 2011, jumlah sekolah umum di Arab Saudi mencapai 20.600.

Lalu, sampai dengan akhir 2012, pemerintah juga membangun 750 sekolah baru. Data ini berasal dari Kementerian Pendidikan Arab Saudi. "Anggaran pendidikan untuk 2013 besarnya 54 miliar dollar AS,"kata pernyataan kementerian itu.

Sementara itu, catatan dari Harian Okaz menunjukkan kalau dana pendidikan melimpah itu sukses memberantas buta huruf. Pada 2007, angka buta huruf di Arab Saudi 60 persen dari total penduduk yang jumlahnya sekitar 27 jutaan. Lalu, lima tahun berikutnya, mereka yang belum melek huruf tinggal empat persennya.
 


Artikel Terkait:

2 komentar: