Rabu, 20 Februari 2013

Tidak Ada Ampunan Tanpa Tauhid

imagesAllah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan akan mengampuni dosa apa saja yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Ampunan adalah perkara yang sangat dibutuhkan oleh setiap hamba. Karena hidup di alam dunia dengan segala bentuk cobaan dan godaan yang ada di dalamnya kerapkali membuat manusia terlena sehingga lebih memperturutkan hawa nafsunya dan karenanya ia terjatuh ke dalam jurang dan lembah dosa. Oleh sebab itu Allah dengan sifat pengampun dan kasih sayang yang ada pada-Nya memberikan jalan keluar berupa taubat kepada-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas kepada dirinya; Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala macam dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla senantiasa membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu siang dan membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubat pelaku dosa di waktu malam, sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya.” (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertaubat sebelum terbitnya matahari dari arah tenggelamnya niscaya Allah masih menerima taubatnya.” (HR. Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu di kalangan Bani Isra’il ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 jiwa manusia. Kemudian dia pun keluar dan mendatangi seorang rahib, lalu dia bertanya kepada rahib itu. Dia mengatakan, “Apakah aku masih bisa bertaubat?”. Rahib itu menjawab, “Tidak.” Maka lelaki itu pun membunuhnya. Setelah itu, ada seseorang yang memberikan saran kepadanya, “Datanglah ke kota ini dan itu.” Kemudian di tengah-tengah perjalanan tiba-tiba ajal menjemputnya. Dia meninggal dalam keadaan dadanya condong ke arah kota tujuannya. Terjadilah pertengkaran antara Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Allah pun mewahyukan kepada kota yang satu, “Mendekatlah.” Dan Allah  mewahyukan kepada kota yang lainnya, “Menjauhlah.” Lalu Allah memerintahkan, “Ukurlah berapa jarak antara keduanya.” Ternyata didapati bahwa lelaki tersebut lebih dekat sejengkal dengan kota yang baik; maka diampunilah dia.” (HR. Bukhari dan Muslim, ini lafal Bukhari)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh, Allah jauh lebih bergembira terhadap taubat hamba-Nya ketika dia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang suatu saat mengendarai hewan tunggangannya di padang yang luas namun tiba-tiba hewan itu lepas darinya. Padahal di atasnya terdapat makanan dan minumannya. Dia pun berputus asa untuk bisa mendapatkannya kembali. Lalu dia mendatangi sebuah pohon kemudian berbaring di bawah naungannya dengan perasaan putus asa dari memperoleh tunggangannya tadi. Ketika dia sedang larut dalam perasaan semacam itu, tiba-tiba hewan tadi telah berdiri di sisinya. Lalu dia pun meraih tali pengikat hewan tadi. Karena saking gembiranya dia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Rabbmu.’ Dia salah berucap gara-gara terlampau gembira.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafal milik Muslim)

Hal ini menunjukkan kepada kita betapa luasnya rahmat dan ampunan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terjerumus ke dalam dosa dan mau bertaubat kepada-Nya. Dan yang lebih luar biasa adalah tatkala Allah berkenan mengampuni dosa sebagian hamba-Nya yang belum bertaubat dari kesalahan mereka dan meninggal di atasnya semata-mata karena tauhid yang ada pada diri mereka. Itulah yang dimaksud oleh firman-Nya (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan akan mengampuni dosa apa saja yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48) (lihat Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [2/331])

Bahkan, tauhid merupakan syarat utama untuk bisa mendapatkan ampunan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ta’ala berfirman: Wahai anak Adam, selama engkau mau berdoa dan berharap kepada-Ku niscaya Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai setinggi langit kemudian kamu meminta ampun kepada-Ku maka Aku pasti mengampunimu. Wahai  anak Adam, seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun niscaya Aku datang kepada-Mu dengan ampunan sepenuh itu pula.” (HR. Tirmidzi dan beliau berkata hadits hasan sahih)

Barangsiapa yang menghadap Allah dengan membawa dosa hampir sepenuh bumi sedangkan dia masih memiliki tauhid maka Allah akan menemuinya dengan ampunan sepenuh itu pula. Akan tetapi ini tergantung kepada kehendak Allah. Jika Allah berkenan maka Allah akan mengampuninya, tetapi jika Allah berkehendak lain maka Allah akan menghukumnya karena dosa-dosa itu namun dia tidak akan kekal di neraka. Bahkan dia akan keluar darinya lalu masuk ke dalam surga (lihat Iqazh al-Himam al-Muntaqa min Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 563 oleh Syaikh Salim al-Hilali)

Namun, satu hal yang harus dipahami bahwa tauhid bukanlah semata-mata dengan mengucapkan kalimat laa ilallallah. Sebagian orang yang bodoh berdalih dengan dalil-dalil semacam ini dan menyangka bahwa ucapan kalimat tauhid saja sudah mencukupi meskipun orang itu meninggalkan kewajiban-kewajiban dan melakukan berbagai kemaksiatan. Padahal, hal itu bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh salaful ummah bahwasanya melakukan kewajiban, meninggalkan keharaman, dan mematuhi aturan dan batasan Allah adalah suatu keharusan yang tidak bisa diabaikan. Siapa saja yang meninggalkan kewajiban atau melakukan hal-hal yang diharamkan maka dia harus siap menanggung resiko hukumam dari Allah, meskipun dia telah mengucapkan kalimat tauhid dan meyakini kandungannya. Dan apabila dia melakukan suatu perkara yang membatalkan keislamannya maka dia berubah status menjadi murtad dan kafir, sehingga ucapan syahadat itu tidak lagi bermanfaat baginya. Oleh sebab itu kalimat tauhid ini harus direalisasikan di dalam kenyataan dan menjalankan konsekuensinya. Sebab kalau tidak demikian maka orang tersebut berada dalam ancaman bahaya yang sangat besar jika tidak bertaubat dari kesalahannya, meskipun dia adalah pemilik tauhid. Allahul musta’aan (lihat Syarh Kitab at-Tauhid oleh Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah, hal. 26)

dari http://terjemahkitabsalaf.wordpress.com/2013/02/14/tidak-ada-ampunan-tanpa-tauhid/


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar