Minggu, 03 Maret 2013

Refleksi kehidupan wanita (domisili) Saudi; terkungkung atau kembali pada fitrah

Oleh Qanitta Zahiyya

Bismillah.. 

Tiga bulan memang bukan waktu yang lama untuk menggambarkan kehidupan kami tinggal di Riyadh KSA tepatnya. Mungkin belum banyak hal yang kami alami tetapi tulisan ini hanya untuk menggambarkan awal-awal kehidupan kami di sini dengan segala culture shock yang sangat berbeda dengan kehidupan kami di Jakarta. Di Jakarta semua sudah mafhum bagaimana tetangga saling bersinggungan, wanita-wanita terbiasa mengurusi banyak sendi kehidupan tanpa suami (atau mahram lainnya), anak-anak terbiasa berlarian di gang-gang kecil, dan lain sebagainya.

Tinggal di apartemen berukuran studio sangat membatasi ruang gerak anak kami yang berusia dua tahun dimana dia sudah terbiasa menjelajah, berlarian, dan memanjat-manjat. Huh, terbayang bagaimana sulitnya ia menyalurkan energi di awal kepindahan kami. Anak kami yang kedua masih berusia empat bulan. Tidak ada kendala yang berarti buatnya dan semua berjalan normal seperti biasa. Perubahan suhu pun mereka lalui dengan baik kecuali sedikit flu dan batuk karena perbedaan ekstrim Jakarta dan Riyadh kala itu. Jakarta biasa dengan suhu 20-30 derajat sedangkan Riyadh waktu itu sedang memasuki musim dingin antara 7-15 derajat.

Alhamdulillah..tidak banyak yg dikeluhkan mengenai anak-anak. Bagaimana dengan perkembangan sosial mereka? kami menyiasati untuk pergi tiap weekend ke rumah teman-teman dekat apakah itu orang Indonesia atau bukan. Tujuannya hanya memberikan kesempatan mereka bertemu dengan orang lain. Masalah sosial ini sedikit demi sedikit teratasi walaupun belum maksimal. Anak kami yang kedua sampai saat ini masih takut bila bertemu dengan orang lain.

Tiga bulan berselang di apartemen berukuran studio itu, kami memutuskan untuk pindah ke apartemen yang lebih besar. Si Sulung bisa berlarian dan aktif bergerak di tempat baru ini.  Tapi lagi-lagi kami tidak memiliki tetangga dan masih setiap pekan berkunjung sana sini untuk mempererat silaturahmi. Dibalik itu semua, entah saya masih merasakan sedikit ‘keanehan’ walaupun masalah sosialisasi anak-anak sedikit demi sedikit teratasi.

Bangun pagi memasak sarapan dan menghangatkan sisa makan malam untuk bekal makan siang suami kemudian sorenya memasak lagi untuk makan malam. Di sela-sela itu sy manfaatkan untuk bersosial media sembari mengurusi kebutuhan anak-anak. Dan rutinitas tersebut terulang terus setiap hari. Itulah kegiatan saya selama suami “ngantor”, tidak ada yang namanya berkunjung sendiri ke rumah saudara, jalan keluar rumah bersama anak-anak, ke supermarket untuk sekadar cuci mata dan jalan bersama anak-anak atau berbelanja kebutuhan rumah tangga, dan menyuapi anak sore-sore bersama ibu-ibu lainnya. Tidak ada!

Kecuali weekend saya bisa request untuk kesana kemari bersama suami dan anak-anak. Ternyata berpikir lebih mendalam lagi saya bahagia menjalaninya. Betapa Allah telah memerintahkan seorang wanita untuk menjaga harta suaminya dirumah dan untuk mendidik anak-anaknya. Bahkan Rasulullah pernah bersabda siapa-siapa wanita yang bersama anak-anaknya dirumah akan bersamanya di surga nanti. Subhanallah, inilah yang disebut kembali pada fitrah. Fitrah wanita yang sebenarnya adalah rumah mereka, bahkan shalat wanita dirumah adalah lebih utama ketimbang shalat di Masjid.

Tidak ada wanita menyetir disini dan kecuali untuk jarak yang sangat dekat, tidak ada wanita yang keluar berpergian tanpa mahram (suami atau ayah misalnya). Bahkan untuk mengantar jemput anak sekolah harus diserahkan kepada sang ayah atau bisa dengan jemputan sekolah. Inilah bentuk ‘ kemanjaan’ dan ‘kemudahan’ yang didapatkan wanita-wanita Saudi. Yang banyak dianggap sebagai kungkungan akibat ‘anggapan’ bahwa hal-hal tersebut membatasi ruang gerak wanita. Inilah betapa Islam sebenarnya sangat memudahkan urusan wanita dan memperlakukannya dengan mulia seperti ratu.

Maka ketika suami saya bertanya tentang kerinduan tanah air, pada hakikatnya saya lebih senang menjalani fitrah saya yang sebenarnya :)
 

Komentar Umm maryam
salam alaikum ukhty ahlan….
sebenarnya banyak kok kegiatan utk wanita di saudi …walaupun infonya mmg kurang ya jika ukhty tertarik ada kegiatan tahfidz quran dan belajar bhs arab…utk anak2 jg ada kegiatan serupa dan rawdah atau tk utk usia 4 tahun..usia sulungnya blm cukup kyknya ya…wanita di saudi mmg tdk menyetir tapi tdk menghalangi utk berktifits diluar..kegiatan utk wanita ada transportsinya kok antar jemput….mungkin jk suami kemesjid bs liat info ttg kegiatan utk wanita …salam ukuwah dr saya umm mariam di yic ksa

sumber http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/25/refleksi-kehidupan-wanita-domisili-saudi-terkungkung-atau-kembali-pada-fitrah-538081.html


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar