Minggu, 03 Maret 2013

Saudi Berhasil Luruskan Pemahaman 3.000 Ektremis

Pemberantasan terorisme tidak melulu mengandalkan senapan dan pembunuhan para pelaku teror. Pendekatan yang lebih humanis dan ilmiah diperlukan untuk meluruskan ideologi menyimpang dari para korban "cuci otak" kelompok ektremis.

Inilah yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi di Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Mohamed bin Naif di pinggiran kota Riyadh.

Diberitakan al-Arabiya, Minggu 24 Februari 2013, fasilitas ini telah berhasil meluruskan lebih dari 3.000 orang yang berpaham ekstremis. Sebanyak 92 persen dari peserta deradikalisasi berhasil lulus.
Menurut al-Arabiya, ini adalah bukti suksesnya pemerintah Arab dalam mengatasi terorisme hingga ke akar permasalahannya. Di fasilitas ini, mereka diberikan pendidikan oleh para pembimbing bahwa pemahaman mereka sebenarnya menyimpang dari syariah Islam.

Salah seorang mantan ekstremis, Abdul Rahman Al Houaity, mengatakan bahwa program deradikalisasi tersebut telah membuka matanya pada pemahaman lain yang berbeda dari pemahaman yang selama ini diyakininya. Dia juga mengatakan, kini dia bisa berpikir dengan jernih.

Tidak hanya berfokus pada pelurusan pemahaman Islam, kata Houaity, program ini juga memberikan pandangan baru bagi mereka soal dampak politik, sosial dan ekonomi dari ideologi yang mereka anut.

Selain itu, program ini juga kerap melakukan diskusi antara para ekstremis dengan ulama dan mantan ekstremis. Diskusi ini bertujuan untuk memberikan rasa percaya diri dan memudahkan mereka kembali ke masyarakat. (umi- viva.co.id )

Lewat Rehabilitasi Saudi Perangi Ekstrimisme Hidayatullah.com—Lebih dari 3.000 orang Saudi dilaporkan telah mengikuti program rehabilitasi untuk menghilangkan ideologi ekstrim yang mereka yakini.

Sebanyak 92 persen peserta program rehabilitasi di Pusat Konseling dan Perawatan Pangeran Muhammad bin Nayif, telah menyelesaikan program tersebut, lapor Al-Arabiya (24/2/2013).

Dalam program intensif tersebut, peserta diberikan pencerahan berbagai peristiwa historis dan politis dan kaitannya dengan hukum syariah. Peserta juga melakukan pertemuan dengan orang-orang yang sudah melepaskan paham ekstrimnya, dan dipertemukan dengan para ulama guna mempersiapkan diri kembali ke masyarakat.

Kepada Al-Arabiya salah seorang peserta bernama Abdulrahman al-Huwaity mengatakan, program itu telah membuka mata dan pikirannya untuk mau melihat pandangan dan pemikirian berbeda dari apa yang diyakininya.

Program itu telah membantunya memandang berbagai masalah dari aspek politik, sosial dan ekonomi, dan tidak semata-mata lewat sudut pandangan hukum syariah, imbuh Al-Huwaity.

Menurut Badr al-Anzy yang pernah terlibat dalam penganggulangan ekstrimisme, kelompok-kelompok ekstrim kerap mencuci otak para pengikut pemulanya, sehingga mereka keliru dalam memahami hukum syariah.

Melalui seminar dan kuliah umum, lembaga konseling itu telah mendekati lebih dari 8.000 orang yang diyakini memiliki pemikiran radikal.*


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar