Selasa, 26 Maret 2013

Tauhid Asma wa Shifat

Pendahuluan
Keimanan terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah salah satu rukun iman kepada Allah azza wa jalla, yang terdiri dari keimanan kepada wujud-Nya, keimanan kepada rububiyah-Nya, keimanan kepada uluhiyah-Nya, dan keimanan kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Mentauhidkan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah salah satu dari tiga jenis Tauhid: Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma wa Shifat. Seorang hamba tidak mungkin dapat beribadah kepada Allah dengan sempurna sampai ia mempunyai ilmu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah. Oleh karena itu kedudukan ilmu ini sangat penting dan urgen untuk dibahas. Berikut ini akan kami bawakan pembahasannya secara ringkas.

Pengertian
Tauhid Asma wa Shifat pengertiannya adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya baik dalam al-Quran ataupun as-Sunnah sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, dengan tanpa mengubah, meniadakan, menyerupakan, dan mengilustrasikan keadaannya. Tauhid Asma wa Shifat pada dasarnya terkandung dalam Tauhid Rububiyah, akan tetapi ketika muncul banyak orang yang mengingkari dan menyebarkan kerancuan tentangnya, para ulama membahas dan menjadikannya bagian tersendiri. Banyak buku yang telah mereka tulis dalam masalah ini.

Dalil-dalil Tentang Tauhid Asma wa Shifat
Dalil dari al-Quran diantaranya ialah firman Allah yang artinya: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-A’raaf: 180) “Dan hanya bagi-Nya lah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ruum: 27)
Dalil dari as-Sunnah diantaranya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa menghafalnya maka ia akan masuk surga.” (HR. at-Tirmidzi 3508) Dan “Aku meminta kepada-Mu dengan segenap nama-Mu, yang telah Kau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Kau turunkan dalam kitab-Mu, atau Kau ajarkan kepada salah satu hamba-Mu atau Kau simpan di dalam ilmu ghaib yang ada disisi-Mu.” (HR. Ahmad 3712)

Metode Yang Benar Berkenaan Dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Dalam masalah ini metode yang benar ialah meyakini dan membenarkan secara sempurna dan tanpa keraguan sedikitpun terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh-Nya, baik yang ada di dalam al-Quran maupun as-Sunnah, dengan tanpa mengubah, meniadakan, menyerupakan, dan mengilustrasikan hakikat keadaan nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut.
Mengubah nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu menggantinya dengan bentuk lain. Terdapat dua bentuk pengubahan berkenaan nama-nama atau sifat-sifat Allah:
1. Mengubah secara lafadz, yaitu menambah atau mengurangi huruf atau mengubah harokat yang ada pada lafadz-lafadz yang berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Seperti menambah huruf ‘lam’ pada lafadz ‘istawa’ yang terdapat di dalam al-Quran surat Thahaa ayat 20, sehingga lafadz itu menjadi ‘istaula’
2. Mengubah secara makna. Yaitu menafsirkan lafadz-lafadz yang berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah secara tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti menafsirkan kata ‘al-yadu’ bagi Allah ‘azza wa jalla yang maknanya adalah tangan, menjadi ‘al-quwwah’ (kekuatan) atau ‘an-ni’mah’(anugerah).
Meniadakan nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu menafikan sifat-sifat Allah atau tidak meyakini keberadaan sifat-sifat tersebut. Seperti orang yang mengatakan “Allah tidak mendengar atau melihat” atau yang semisalnya.
Menyerupakan nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu menyerupakan nama-nama atau sifat-sifat tersebut dengan makhluk. Seperti orang yang mengatakan “Allah mempunyai pendengaran seperti pendengaran kita”, atau “Allah punya wajah seperti wajah kita” dan yang semisalnya.
Mengilustrasikan hakikat keadaan nama-nama atau sifat-sifat Allah yaitu membayangkan sifat-sifat itu dengan bentuk-bentuk tertentu. Seperti mengilustrasikan bahwa tangan Allah keadaannya adalah demikian dan demikian, atau Allah berada di atas ‘Arsy-Nya dengan keadaan begini dan begitu, dan yang semisalnya. Sungguh perkara ini adalah batil, karena tidak ada yang mengetahui bagaimana keadaan sifat-sifat Allah kecuali Allah sendiri. Seluruh makhluk sama sekali tidak ada yang mengetahui hal itu. Mereka tidak mampu untuk mencapainya.
Metode ini terangkum dalam tiga perkara. Barangsiapa merealisasikan tiga perkara ini, ia akan selamat dari penyimpangan dalam masalah ini. Tiga perkara itu adalah:
1. Mensucikan Allah ‘azza wa jalla dari keserupaan dengan sifat-sifat makhluk. Karena Allah berfirman yang artinya “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.” (QS. asy-Syura: 11) “Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 74) “Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS. Maryam: 65) dan “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS.al-Ikhlash: 4).
2. Mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaih wa sallam sesuai dengan keagungan dan kebesaran Allah Subhaanahu wa ta’ala. Allah berfirman yang artinya: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Hasyr: 22-24)
3. Menghilangkan keinginan untuk mengetahui hakikat keadaan sifat-sifat Allah ta’ala. Karena hal itu adalah sesuatu yang mustahil bagi makhluk. Allah Subhaanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (QS. Thaaha: 110) “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-An’am: 103)

Beberapa Kaidah Berkenaan Dengan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah
Untuk memudahkan memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, para ulama meletakkan beberapa kaidah. Di antara kaidah tersebut:
1. Nama dan Sifat Allah adalah sesuatu yang tauqifi (tidak ditetapkan kecuali berdasarkan al-Quran dan as-Sunnah). Tidak ada ruang bagi akal dalam perkara ini. Seseorang wajib berhenti pada nash al-Quran dan as-Sunnah, tidak menambah-nambah atau menguranginya. Karena akal tidak mengetahui nama-nama dan sifat-sifat yang pantas bagi Allah. Allah ta’ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. al-Israa: 36) Sebagian ulama menegaskan bahwa ada tiga cara yang bisa membuat seseorang dapat mengetahui sifat-sifat sesuatu: melihatnya secara langsung, melihat yang serupa dengannya, mengetahuinya dari orang yang mengerti tentangnya. Sementara pengetahuan kita tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya hanya terbatas dengan cara ketiga, yaitu mengetahui sifat sesuatu dari orang yang mengerti tentang sesuatu tersebut. Dan tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah kecuali diri-Nya sendiri kemudian orang-orang yang diberi wahyu oleh Allah tentang diri-Nya, yaitu rasul-rasul-Nya. Maka kita wajib mengikuti wahyu tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, karena kita belum pernah melihat Allah Subhaanahu wa ta’ala.
2. Keyakinan tentang sifat Allah seperti keyakinan tentang Dzat-Nya. Maksudnya, sifat, dzat, dan perbuatan Allah tidak serupa dengan apapun. Jika Allah memiliki dzat secara hakiki dan dzat itu tidak serupa dengan dzat apapun, demikian pula sifat-sifat Allah yang ada di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Allah menyandang sifat-sifat tersebut secara hakiki dan tidak serupa dengan apapun.
3. Keyakinan tentang sebagian sifat Allah seperti keyakinan tentang sebagian sifat yang lain. Maksudnya, cara memahami sebagian sifat-sifat Allah sama dengan cara memahami sebagian sifat dan yang lain.
4. Semua nama Allah adalah baik. Maksudnya, nama-nama Allah semuanya baik, dan sama sekali tidak ada yang buruk,  karena nama-nama itu menunjukkan dzat yang memiliki nama tersebut yaitu Allah ‘azza wa jallaa. Nama-nama itu menunjukkan sifat-sifat kesempurnaan yang tidak mengandung kekurangan sedikitpun dari segala sisi. Allah berfirman yang artinya: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik.” (QS. al-A’raaf: 180)
5. Nama-nama Allah tidak terbatas pada jumlah tertentu. Nabi Shallallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Aku meminta kepada-Mu dengan segenap nama-Mu, yang telah Kau namakan diri-Mu dengannya, atau Kau turunkan dalam kitab-Mu, atau Kau ajarkan kepada salah satu hamba-Mu atau Kau simpan didalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu.” (HR. Ahmad 3712)

Bentuk-bentuk Penyimpangan Berkenaan Dengan Tauhid Asma wa Shifat
Sebagaimana Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah, pada Tauhid Asma wa Shifat pun terjadi penyimpangan. Penyimpang tersebut ialah memahami atau mensikapinya secara tidak sesuai dengan apa yang diwajibkan. Di antara bentuk penyimpangan yang terjadi adalah:
1. Mengingkari sebagian atau seluruh nama dan sifat yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya. Seperti orang-orang Jahmiyah (aliran sesat di dalam islam) yang berkeyakinan bahwa Allah tidak memiliki nama dan sifat.
2. Menganggap nama-nama Allah itu serupa dengan sifat makhluk. Seperti orang-orang yang menyamakan pendengaran Allah dengan pendengaran makhluk karena Allah memiliki nama ‘as-sami’ yang berarti Maha Mendengar.
3. Menamai Allah dengan nama-nama yang tidak Allah gunakan untuk menamai diri-Nya. Seperti perbuatan orang-orang Nasrani yang menamakan Allah dengan sebutan ‘al-Abu’ Tuhan ‘Bapak’.
4. Mengambil pecahan kata dari nama-nama Allah dan memberikannya kepada berhala. Seperti perbuatan orang-orang musyrikin Arab yang menamakan berhala mereka dengan sebutan ‘al-‘Uzza’ yang diambil dari nama Allah ‘al-‘Aziz’, atau ‘al-Latta’ yag diambil dari nama Allah ‘al-Ilaah’ (berdasarkan salah satu dari dua pendapat tentang penamaan berhala ‘al-‘Uzza’ dan ‘al-Latta’)

Beberapa Contoh Nama-nama dan Sifat-sifat Allah Subhaanahu wa ta’ala
Sungguh banyak sekali ayat al-Quran dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat bagi Allah ta’ala dengan bentuk serta konteks kalimat yang beraneka ragam. Di antara nama Allah Subhaanahu wa ta’ala adalah: ‘al-Hayyu’, ‘al-Qayyuum’, ‘ar-Rahman’, dan ‘ar-Rahiim’. Di antara sifat Allah Subhaanahu wa ta’ala adalah: ‘al-Qudrah’ (berkuasa), ‘al-Hayaah’ (hidup), ‘al-‘Ilmu’ (mengetahui), ‘al-Iradah’ (berkehendak) dan ‘al-‘Uluw’ (tinggi) dan masih banyak lagi yang lainnya. Nama-nama dan sifat-sifat ini kita yakini dimiliki oleh Allah ta’ala sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya, karena terdapat di dalam al-Quran dan as-Sunnah. Kita juga tidak menyerupakannya dengan makhluk karena tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah ‘azza wa jallaa. Kemudian kita mengilustrasikan bagaimana keadaannya karena akal manusia tidak mampu mencapainya serta tidak ada keterangan dari al-Quran ataupun as-Sunnah yang memberitahukan bagaimana hakikat keadaan sifat-sifat Allah tersebut.

Penutup
Demikianlah pembahasan yang bisa kami sampaikan tentang Tauhid Asma wa Shifat, mudah-mudahan bisa menjadi tambahan ilmu untuk memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhaanahu wa ta’ala dengan benar. Semoga tulisan ini menjadi motivasi bagi kita untuk memperdalam ilmu tentang Allah ta’ala, agar kita semakin mengenal-Nya sehingga bisa beribadah kepada-Nya dengan sempurna dan memperoleh kebaikan di dunia dan akhirat.

Sumber
Ushul Iman Fii Dhaui al-Kitab wa as-Sunnah, Nukhbatun minal ‘Ulama, Qowaidul Mutsla, Ibnu ‘Utsaimin, al-Irsyad ilaa Shahihil I’itiqad, DR. Shalih Fauzan bin al-Fauzan 

http://sunnah.or.id/buletin-assunnah/tauhid-asma-wa-shifat.html


Artikel Terkait:

1 komentar: