Senin, 27 Mei 2013

Memahami Tauhid Asma wa Shifat

Oleh Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A.

Segala puji bagi Alloh, Tuhan alam semesta. Sholawat dan salam untuk nabi terakhir yang membawa peringatan bagi seluruh umat manusia. Semoga sholawat dan salam juga terlimpahkan untuk keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan petunjuk mereka sampai dengan hari kiamat.

Para pembaca yang dirahmati Alloh, pembahasan kita pada kesempatan ini ialah seputar kaidah memahami tauhid asma’ wa shifat (nama-nama dan sifat-sifat Alloh).

Salah satu tujuan diutusnya para rosul dan nabi adalah untuk mengenalkan manusia kepada Alloh melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Sebab itu, tidak sedikit ayat-ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nama-nama Alloh yang indah dan sifat-sifat Alloh yang mulia.

Memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh sangat penting untuk meningkatkan keimanan kepada Alloh agar mencapai tingkat ihsan dalam beribadah kepada Alloh.

Nama-nama dan sif at-sifat Alloh harus dipahami sesuai dengan kaidah-kaidah yang dijelaskan para ulama Ahlus Sunnah yang berdasarkan al-Qur’an dan hadits-hadits shohih serta selamat dari dua bahaya: ta’thil (mengingkari sifat-sifat Alloh) dan tasybih (menyerupakan Alloh dengan makhluk).

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: “Maka tidak diragukan lagi bahwa berilmu tentang nama dan sifat-sifat Alloh serta perbuatan-Nya adalah ilmu yang seagung-agung-nya dan semulia-mulianya. Perbandingannya dengan ilmu-ilmu lain sebagaimana perbandingan antara Alloh itu sendiri dengan yang lain-Nya.”[1]
Berikut ini akan kami jelaskan tentang kaidah-kaidah umum dalam memahami tauhid asma’ wa shifat sebagaimana yang disebutkan para ulama Ahlus Sunnah dalam kitab-kitab mereka[2]:

KAIDAH   PERTAMA:
Beriman (mempercayai) segala nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al-Qur’an maupun dalam sunnah (hadits-hadits shohih).
Banyak sekali ayat maupun hadits Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan kita beriman secara mutlak dengan segala isi al-Qur’an baik yang berbentuk hukum-hukum maupun kabar tentang hal yang telah berlalu dan yang akan datang serta berita tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh. Alloh menegaskan hal ini dalam firman-Nya:2_85
…. Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidnpan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Alloh tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (QS. al-Baqoroh [2]: 85)

Kita tidak boleh memilah-milah dalam beriman kepada isi al-Qur’an. Beriman dengan ayat-ayat menerangkan hukum saja, tidak mengimani ayat-ayat yang menerangkan nama dan sifat-sifat Alloh, atau mengubah dan menakwilkan maksud ayat-ayat tersebut. Semua isi al-Qur’an wajib kita imani dan kita yakini secara utuh, tanpa memperbedakannya sedikit pun. Tidak boleh membeda-bedakan isi al-Qur’an antara ayat-ayat hukum dengan ayat-ayat yang menerangkan sifat-sifat Alloh. Jika hal itu kita lakukan maka kita telah terjerumus ke dalam ancaman kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat akan dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

Demikian pula halnya, kita wajib beriman dengan segala apa yang disampaikan Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau baik yang berbentuk hukum-hukum maupun kabar (berita) tentang hal yang telah berlalu dan yang akan datang serta berita tentang nama dan sifat-sifat Alloh. Alloh berfirman:4_150-152
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Alloh dan rosul-rosul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Alloh dan rosul-rosul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebagian dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang ypng kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan mtuk orang-orang ycmg kafir itu siksaan ycmg menghinakan (QS. an-Nisa’ [4]: 150-151)

Dilarang memperbedakan al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh mempercayai nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al-Qur’an saja tetapi tidak mempercayai yang terdapat dalam hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keduanya, al-Qur’an dan hadits, adalah wahyu yang diturunkan Alloh kepada Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Alloh tegaskan dalam firman-Nya:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS. an-Najm [53]: 3-4)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ

…. Apa yang diberikan Rosul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya. (QS. al-Hasyr [59]: 7)

Demikian pula Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam sabda beliau:
Dari Miqdam bin Ma’dikarib radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah sesungguhnya aku diberi al-Kitab dan yang seumpama dengannya, jangan sampai salah seorang kalian berkata sambil duduk di atas sofanya dalam keadaan kenyang: ‘Cukup kalian berpegang dengan d-Qur’an ini saja.’” (HR. Abu Dawud dan dishohihkan Syaikh al-Albani)

Dari Abu Rofi’, bahwasanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku tidak ingin mendapati salah seorang kalian duduk bersandar di atas sofanya lalu disampaikan kepadanya tentang sebuah urusan dariku baik sesuatu yang aku perintahkan atau sesuatu yang aku larang maka ia berkata: “Kami tidak tahu, kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dalam kitab Alloh. ” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dishohihkan Syaikh al-Albani)

Begitu pula, tidak boleh membeda-bedakan hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak boleh menerima hadits-hadits yang mutawatir[3] saja tetapi.tidak menerima hadits-hadits ahad[4] atau menerima hadits ahad dalam persoalan hukum saja tidak dalam masalah aqidah. Cara-cara seperti ini tidak pernah dilakukan generasi teladan umat ini: para sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in serta para ulama terkemuka setelah mereka.[5]

Membeda-bedakan dalam menerima hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mutawatir dan ahad sama dengan tidak mempercayai apa yang disampaikan oleh Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam secara utuh dan sempurna. Para ulama ahli hadits terkemuka tidak pernah membedakan antara hadits ahad dan hadits mutawati dalam segi penerimaan dan pengamalan. Mereka hanya membedakan dalam hal pengkajian dari segi kekuatan sanad. Tatkala terdapat dua hadits yang kontradiktif dalam konteksnya maka hadits mutawatir lebih valid (sah) daripada hadits ahad jika kandungan kedua hadits tersebut tidak bisa dicari titik temunya. Namun, perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang menerangkan sifat-sifat Alloh hampir tidak termasuk dalam kategori tersebut. Kesimpulannya, hadits-hadits sifat tidak ada yang kotradiktif jika dalam memahaminya merujuk kepada pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Termasuk dari penjabaran kaidah di atas, penegasan tentang sumber yang menjadi pegangan kita dalam memahami dan mengimani nama-nama dan sifat-sifat Alloh hanyalah perkataan Alloh (al-Qur’an) dan perkataan Rosul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (hadits-hadits yang shohih). Yang lebih mengetahui tentang Alloh adalah Alloh sendiri. Karenanya, segala nama dan sifat yang ditetapkan Alloh untuk diri-Nya wajib kita percayai dan tidak boleh kita selewengkan pengertiannya. Orang yang mengingkari atau menyelewengkan pengertian dari sifat-sif at Alloh seolah-olah telah mengaku lebih tahu daripada Alloh. Oleh sebab itu, Alloh sebutkan dalam firman-Nya:

قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ

…. Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Alloh...?” (QS. al-Baqoroh [2]: 140)
Kemudian, di kalangan manusia, yang lebih mengetahui tentang Alloh adalah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau sebutkan:
Sesungguhnya yang paling bertakwa di antara kalian dan paling mengetahui tentang Alloh adalah aku.” (HR. al-Bukhori)

Karena itu, tidak boleh berpegang pada akal semata dalam menetapkan dan memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh apalagi kalau menolak dengan akal nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah. Akal manusia memiliki kemampuan yang terbatas sebagaimana panca indra yang lainnya. Betapa banyak dalam kehidupan kita sehari-hari yang tidak terjangkau oleh akal manusia, seperti hakikat roh (nyawa) manusia itu sendiri padahal ia adalah bagian yang terdekat dengan manusia.

Sebagian ulama memberikan perumpamaan akal dengan wahyu bagaikan mata dengan cahaya. Sebagaimana mata tidak dapat melihat sesuatu kecuali ketika ada cahaya baik cahaya matahari pada siang hari atau cahaya lampu pada malam hari, akal tidak akan bisa menentukan sesuatu terutama dalam hal yang ghaib kecuali jika ada penjelasan dari wahyu.

Oleh karenanya, akal kita wajib tunduk dan menerima terhadap segala apa yang terdapat dalam al-Qur’an dan sunnah baik berupa hukum-hukum maupun tentang nama-nama dan sifat-sifat Alloh sebagaimana diwajibkannya hati dan anggota badan kita untuk tunduk kepada segala hukum al-Qur’an dan sunnah. Demikian pula, tidak boleh menjadikan teori-teori filsafat sebagai dasar dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Alloh yang terdapat al-Qur’an dan sunnah. Rujukan kita adalah pemahaman sahabat dan para ulama salaf dalam memahami al-Qur’an dan sunnah secara umum dan dalam memahami nama-nama dan sifat-sif at Alloh secara khusus.

KAIDAH KEDUA:
Menyucikan Alloh dari menyerupai makhluk dalam segala sifat-sifat-Nya
Dalam memahami nama dan sifat-sifat Alloh kita tidak boleh menyerupakan sifat Alloh dengan sifat para makhluk. Sifat Alloh adalah sifat yang mahasempurna sedangkan sifat makhluk adalah sifat yang memiliki kekurangan.

Orang yang menyerupakan sifat Alloh dengan sifat makhluk berarti telah menyerupakan Alloh dengan makhluk. Barang siapa yang menyerupakan Alloh dengan makhluk berarti telah kafir kepada Alloh. Mana mungkin Alloh bisa disamakan dengan makhluk. Sifat-sifat makhluk memiliki cacat dan kekurangan dalam berbagai segi sedangkan Alloh Mahasuci dari segala kekurangan. Alloh telah menegaskan dalam firman-Nya bahwa tiada suatu makhluk pun yang menyerupai-Nya.

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

…. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. asy-Syuro [42]: 11)

فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Alloh. Sesungguhnya Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl [16]: 74)

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُواً أَحَدٌ

Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Alloh). (QS. al-Ikhlas [112]: 4)
Dalam ayat-ayat di atas ditegaskan bahwa Alloh tidak serupa dengan makhluk-Nya. Sebaliknya, tidak satu makhluk pun yang mirip atau menyerupai Alloh baik dari segi zat dan nama maupun dari segi sifat dan perbuatan.

Sebagaimana zat Alloh tidak sama dengan zat makhluk, sifat Alloh tidak sama dengan sifat makhluk karena setiap sifat keadaannya sesuai dengan zat masing-masing. Kesamaan dalam penyebutan (penamaan) sifat tidaklah mesti sama pula dalam bentuk makna dan hakikat sifat tersebut.

Dalam kehidupan kita banyak sekali sifat yang sama namanya tetapi berbeda hakikatnya sesuai dengan zat masing-masing. Sebagai contoh, manusia memiliki sifat melihat, kucing juga. Akan tetapi, penglihatan manusia tidak sama dengan kucing. Manusia tidak bisa melihat pada waktu malam tanpa bantuan alat penerang (misalnya senter) sedangkan kucing bisa berjalan pada malam hari meskipun tanpa alat penerang.

Jika sifat sesama makhluk saja tidak sama dalam hakikat kualitasnya meski sama namanya— yaitu penglihatan— terlebih lagi perbedaan antara sifat Alloh Yang Mahasempurna dengan sifat makhluk yang serba kurang. Amat besar perbedaan antara sif at-Nya dengan sifat makhluk walau penamaannya sama.

Sebab itu, ketika sifat Alloh disebut jangan dipahami dengan menggambarkannya seperti sifat makhluk. Alloh memiliki sifat-sifat yang sempurna sesuai dengan keagvmgan dan kebesaran Alloh, tidak seperti sifat-sifat makhluk.

Alloh bersifat hidup (al-Hayyu) makhluk juga bersifat hidup, tetapi hidup Alloh tidak sama dengan hidup makhluk. Hidup Alloh tidak butuh makan dan minum sedang hidup rnakhluk butuh makan dan minum serta memiliki berbagai kekurangan seperti sakit, capek, letih, haus, lapar, dan seterusnya. Hidup Alloh tidak diawali dengan ketiadaan (‘adam) dan tidak pula diakhiri dengan kematian (al-fana’) sedang hidup makhluk diawali dengan ketiadaan dan diakhiri dengan kematian. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Diriwayatkan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a: “Aku berlindnng dengan keperkasaan Engkau yang tiada berhak disembah kecuali Engkau, Zat yang tidak akan pernah mati. Sedangkan jin dan manusia akan mati. ” (HR. al-Bukhori dan Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau katakan:
“Ya Alloh Engkaulah yang pertama tiada sesuatu pun sebelum Engkau dan Engkaulah yang terakhir tiada sesuatu pun setelah Engkau.” (HR. Muslim)

Hidup Alloh sangat sempurna dari segala segi sedang hidup makhluk penuh dengan berbagai kekurangan. Alloh adalah Zat Yang Mahahidup Sempurna sebagaimana Alloh katakan:
Alloh, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Mahahidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak pernah ditimpa rasa kantuk dan tidak pula tidur…. (QS. al-Baqoroh [2]: 255)

Begitulah kita mengimani semua sifat Alloh. Tidak boleh menyerupakan Alloh dengan makhluk. Juga, tidak boleh mengingkari nama-nama dan sifat-sif at Alloh yang Alloh tetapkan untuk diri-Nya atau Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapkan dalam hadits-hadits beliau. Landasannya ialah perkataan Alloh:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

…. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Dalam ayat di atas ditegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Alloh. Sebagian orang memahami ayat tersebut bahwa Alloh tidak memiliki sifat-sifat karena ada kesamaan dalam penamaan dengan sifat-sifat makhluk. Anggapan tersebut bertentangan dengan penggalan akhir ayat tersebut, Alloh menyatakan: “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Memang, manusia juga mendengar dan melihat sebagaimana Alloh katakan:

إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن نُّطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَّبْتَلِيهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيعاً بَصِيراً

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur ycmg Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. (QS. al-Insan [76]: 2)

Akan tetapi, penglihatan manusia amat terbatas, tidak sebanding dengan kemahasempurnaan penglihatan Alloh.

Dari sini dapat kita pahami bahwa Alloh memiliki sifat-sifat sempurna. Sifat-sifat tersebut terdapat pada sebagian makhluk namun tidak sama kualitasnya dengan sifat-sifat Alloh. Seandainya yang dimaksud dalam ayat yang lalu (QS. asy-Syuro [42]: 11) menafikan sifat tentu konteks kalimatnya tidak sebagaimana tersebut di atas, niscaya Alloh langsung nafikan bahwa Dia tidak memiliki sifat. Jadi, yang dinafikan bukan sifat-Nya melainkan kesamaan hakikat sifat meskipun penamaan sifat itu sama dengan sifat makhluk.

KAIDAH KETIGA:
Menutup keinginan untuk mengetahui bentuk hakikat sifat-sifat Alloh tersebut
Alloh subhanahu wa ta’ala memiliki sifat yang bermacam-macam. Itulah yang Alloh sebutkan dalam kitab-Nya yang mulia. Namun, Alloh tidak menyebutkan bentuk hakikat dari sifat-Nya. Sebab itu, harus kita yakini bahwa Alloh memiliki sifat-sifat walaupun kita tidak mengetahui bentuk hakikat sifat Alloh karena meyakini keberadaan sesuatu meskipun tidak mengetahui bentuk hakikatnya tidak mengurangi nilai keyakinan kita, sebagaimana kita meyakini adanya roh (nyawa) tetapi tidak mengetahui tentang hakikat roh tersebut.

Kita tidak pernah ragu tentang adanya roh meskipun tidak mengetahui hakikatnya. Demikian pula, kita yakin akan adanya surga serta segala bentuk nikmat yang terdapat di dalamnya sekalipun kita belum pernah melihatnya. Begitu pula, kita meyakini Alloh memiliki zat dan sifat tetapi kita tidak mengetahui bentuk zat dan sifat-Nya itu. Alloh pun tidak mewajibkan atas kita untuk mengetahui bentuk hakikat dari sifat-Nya tersebut.
Oleh sebab itu, kita tidak boleh berambisi untuk mengetahui hakikat dari sifat-sifat Alloh tersebut. Bila hal itu kita lakukan berarti kita melampaui batas dan ketentuan yang Alloh wajibkan atas kita. Rosul ‘alaihish sholaatu was salaam tidak pernah menyuruh kita untuk mengetahui hakikat sifat-sifat Alloh. Selain itu, akal manusia tidak akan bisa mengetahui hakikat dari sifat Alloh. Jangankan hakikat sifat Alloh, sesuatu yang amat dekat dengan manusia itu sendiri —yaitu roh—, akal tidak mampu mengetahui hakikatnya. Adapun untuk mengetahui bentuk hakikat sebuah sifat dapat dilakukan dengan tiga hal:
1.  Melihat zatnya
Alloh tidak dapat kita lihat di dunia ini. Karena itu, sifat Alloh tidak dapat kita ketahui bentuknya. Dengan kata lain, Alloh itu ghaib dan demikian pulalah sifat-Nya.
2.  Ada sesuatu yang mirip dengannya
Tidak ada sesuatu pun yang mirip dengan Alloh sehingga tidak mungkin Alloh (beserta segenap sifat-Nya) kita qiyas-kan (bandingkan) dengan sifat makhluk.
3.  Ada khobar shodiq (berita yang akurat)
Wahyu dari Alloh yaitu al-Qur’an maupun hadits-hadits hanya menyebutkan bahwa Alloh memiliki sifat tetapi tidak menerangkan hakikat bentuk sifat Alloh tersebut.
Alloh mengharamkan atas kita mengatakan sesuatu yang ilmunya tidak kita miliki. Firman-Nya:

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. al-Isro’ [17]: 36)

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَاناً وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembu-nyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (menghammkan) mempersekutukan Alloh dengan sesuatu yang Alloh tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Alloh apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-A’rof [7]: 33)

Haram menggambarkan bentuk hakikat sifat-sifat Alloh dalam bentuk tulisan dan lisan atau mengkhayalkannya dalam hati kita. Bagaimana pun rupa dan bentuk yang tergambar dalam benak kita tentang bentuk hakikat sifat Alloh, sesungguhnya Alloh jauh lebih indah, lebih besar, dan lebih sempurna dari gambaran tersebut. Sesungguhnya kesempurnaan Alloh dan kesempurnaan sifat-Nya sama sekali tidak akan tergambarkan rupanya dengan pemikiran kita.

Apakah ini berarti sifat-sifat Alloh itu tidak memiliki kaifiat (bentuk)? Bukan begitu, sifat-sifat Alloh itu ada kaifiat (bentuk)nya tetapi yang mengetahuinya hanyalah Alloh semata sedangkan makhluk tidak. Jadi, bukan kaifiatnya yang dinafikan melainkan ilmu makhluk tentang kaifiat tersebut.

Ketidaktahuan makhluk tentang bentuk hakikat sifat Alloh bukan merupakan sebuah kekurangan dalam meyakini atau mempercayai sifat Alloh karena banyak di antara makhluk yang hakikatnya tidak diketahui manusia namun diyakini keberadaannya. Misalnya, keberadaan roh, malaikat, jin, lauh mahfuzh, surga dan neraka, dan lain-lain.

Demikian bahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta segenap kaum muslimin. Wallohu A’lam.[]
Sumber: majalah al Furqon, no. 89, hal.25-29, 55 rubrik Aqidah

[1] Miftah Darus Sa’adah: 1/86
[2] Pembahasan ini bisa disimak dalam kitab at-Tadmuriyyah dan Fatawa td-Hamawiyyah kar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Manhaj wa Dirosat li Ayat Asma’ wa Shifat kar. Syaikh Muhammad Amin Syanqithi, Mu’taqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah Fi Tauhid Asma’ wa Shifat kar. Prof. Dr. Muhammad bin Kholifah at-Tamimi.
[3] Hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh para rowi hadits yang amat banyak dan tidak mungkin mereka bersepakat untuk melakukan kebohongan.
[4] Hadits ahad adalah hadits yang tidak sampai jumlah rowinya pada tingkat mutawatir. Menurut kesepakatan para ulama ahli hadits, hadits ahad yang memenuhi kriteria (syarat-syarat) hadits shohih wajib diterima meskipun diriwayatkan melalui jalan satu orang rowi saja.
[5] Pembahasan ini telah dikupas secara panjang lebar oleh Imam asy-Syafi’i dalam kitab beliau, ar-Risalah.

http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2013/05/19/memahami-tauhid-asma-wa-shifat/


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar