Wednesday, May 1, 2013

Tathayyur Merusak Tauhid


Posted by Abuzaid 25 Apr 2013

Keimanan kepada keesaan Alloh Ta’ala di dalam kekuasaanNya akan menjadikan seorang mukmin bertawakkal dengan sebenarnya kepadaNya. Seorang mukmin tidak akan dihinggapi rasa was-was dan khawatir sebagaimana yang dialami oleh orang-orang yang memiliki keyakinan sial terhadap sesuatu tertentu. Karena agama Islam melarang tathoyyur atau thiyaroh (anggapan sial terhadap sesuatu).

Definisi Tathayyur
   Tathayyur adalah:”Menganggap sial karena sesuatu yang dilihat atau didengar”[1].
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Jika engkau menghendaki maka katakanlah: Tathoyyur adalah anggapan sial terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, dan diketahui. Sesuatu yang dilihat seperti: jika seseorang melihat seekor burung lalu dia menganggap sial karena keadaannya yang menakutkan. Sesuatu yang didengar seperti: seseorang menginginkan sesuatu, lalu dia mendengar seseorang berkata kepada orang lain: “Wah, rugi!”, atau “Wah, gagal”, lalu dia menganggap sial. Sesuatu yang diketahui seperti: anggapan sial terhadap sebagian hari-hari, sebagian bulan-bulan, atau sebagian tahun-tahun”[2].
Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Asal tathayyur adalah dengan (anggapan sial terhadap) gerakan ke arah kanan dan ke arah kiri dari burung, kijang, dan lainnya. Dahulu, hal itu membuat orang-orang jahiliyah membatalkan apa yang akan mereka kerjakan, maka syari’at Islam meniadakannya dan menghapusnya. Syari’at Islam memberitahukan bahwa itu tidak memiliki pengaruh di dalam mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya”[3].

Contoh-contoh Tathayyur
·        Menganggap sial hari Rabu atau bulan Syawwal, Dari A’isyah-radiallohu anha- dia berkata:
تَزَوَّجَنِي رسول اللَّهِ  -صلى الله عليه وسلم-  في شَوَّالٍ وَبَنَى بِي في شَوَّالٍ فَأَيُّ نِسَاءِ رسول اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم-  كان أَحْظَى عِنْدَهُ مِنِّيْ.
“Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-menikahi saya pada bulan Syawwal dan beliau membina rumah tangga denganku pada bulan Syawwal, maka siapakah istri Rasulullah yang lebih beruntung dari ku”[4].
“Di sini A’isyah membantah keyakinan masyarakat jahiliyah dan keyakinan orang-orang awam tentang jeleknya menikah, menikahkan atau mulai membina rumah tangga pada bulan Syawwal, dan ini merupakan perkara batil dan tidak berdalil, serta merupakan tradisi peninggalan jahiliyyah di mana mereka menganggap sial akan bulan Syawwal ini”[5].
·        Orang-orang Syi’ah tidak suka mengucapkan angka sepuluh atau melakukan sesuatu yang berjumlah sepuluh, hal ini karena kebencian mereka yang begitu parah terhadap al-Asyrah al-Almubassyarun Bil Jannah (sepuluh sahabat yang dijanjikan Rasulullah masuk surga)[6].
·        Sebagian orang menganggap sial bila bertemu dengan orang buta, Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa:”Ada seorang penguasa yang keluar rumahnya untuk suatu urusan lalu ada seorang buta menemuinya, kemudian penguasa itupun menganggap dirinya sial karena bertemu orang yang buta tadi, maka diapun memenjarakannya, lalu sekembalinya dari keperluan penguasa itupun melepaskan orang buta itu, lantas si buta itu bertanya:”Apa salahku, mengapa aku dipenjara? Dijawab:”Aku menganggap sial bertemu denganmu”, dia berkata:”Lalu apa yang engkau temukan akibat sial dengan melihatku hari ini? Dia menjawab:”Tidak ada apa kecuali kebaikan”, dia berkata:”Aku keluar dari rumahku hari ini lalu bertemu denganmu, maka akupun mendapat bencana yaitu dipenjara, sedangkan engaku melihatku ketika keluar rumah dan justru engkau hanya menglami kebaikan, lalu siapa sebenarnya yang lebih sial?[7].
·        Sebagian orang menganggap sial bulan shafar. Sebagian orang apabila keluar rumah dengan mobil lalu salah satu roda mobil pecah maka ini dianggap kesialan, lantas merekapun tidak jadi berangkat. Menganggap sial angka 13.Menganggap sial apabila menikah di bulan Muharram.Dan lain-lain.

Dalil-dalil Pelarangan Tathayyur
   Larangan tatahyyur dijelaskan oleh Rasulullah dalam banyak hadits-hadits shahih, di antaranya adalah:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ
“Dari Abdulloh bin ‘Amr, dia berkata: Rosululloh-shallallahu alaihi wasallam-bersabda: “Barangsiapa dibatalkan oleh thiyaroh dari suatu keperluan maka dia telah melakukan syirik!”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasululloh, apakah kaffarohnya?”. Beliau menjawab; “Dia mengatakan: “Wahai Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikanMu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang telah Engkau takdirkan, dan tidak ada ilah yang haq kecuali Engkau”[8].
Dalam hadits lain dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah bersabda:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلَاثًا وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ
“Tathayyaur adalah syirik, tathayyur adalah syirik, (tiga kali). Dan tidaklah dari kita kecuali (ditimpa oleh tathayyur), tetapi Alloh menghilangkannya dengan tawakkal”[9].
 
Rasulullah-shallallahu alaihi wasallam-juga bersabda:
لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ
“Tidak ada penyakit menular (yakni dengan sendirinya), dan tidak ada thiyaroh (tathoyyur),haamah dan shafar[10].


Tathayyur Bertentangan Dengan Tauhid

   Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin berkata: “Ketahuilah bahwa tathayyur bertentangan dengan tauhid. Dan sisi pertentangannya dari dua sisi:
Pertama: bahwa orang yang bertathoyyur memutuskan tawakalnya kepada Allah dan dia bersandar kepada selain-Nya.

Kedua: bahwa dia bergantung kepada perkara yang tidak ada hakekatnya. Apakah hubungan antara perkara itu dengan apa yang terjadi padamu?  Tidak ada keraguan, ini merusakkan tauhid. Karena tauhid adalah ibadah (ketundukan mutlak) dan isti’anah (memohon pertolongan). Alloh Ta’ala berfirman:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.(Al-Fatihah: 5)

فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. (Huud: 123)



[1] Miftah Dar as-Sa’adah 3/311.
[2] Al-Qaulul Mufid Syarh Kitab at-Tauhid hlm.361.
[3] Fathul Majid hlm.278, lihat juga catatan kaki no.1 Mausu’ah al-Manahi as-Syar’iyyah  1/102 oleh Syaikh Salim al-Hilaly.
[4] HR.Muslim no.1423.                     
[5] Syarah Shahih Muslim  9/209.
[6] Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah 1/38.
[7] Miftah Dar as-Sa’adah  3/272.
[8] Silsilatul Ahadits as-Shahihah no.1065.
[9] HR.Abu Dawud no.3910  dan dishahihkan oleh al-Albany, at-Tirmidzy no.1614, Ibnu Majah no.3538, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.909.
[10] HR.al-Bukhari no.5757, Muslim no.2220, Ibnul Araby berkata:”Haamah adalah sejenis burung hantu, dahulu mereka bertathayyur dengannya, maka apabila ada burung hantu yang hinggap di sebuah rumah mereka mengatakan: ‘burung hantu ini menandakan kematianku atau kemtian salah seorang keluargaku, maka datanglah hadits ini untuk membatalkan keyakinan itu, adapun makna Shafar pada hadits di atas maka para ulama mengatakan bahwa dahulu mereka tathayyur dengan bulan shafar, mereka mengatakan: bulan ini adalah bulan sial, Ibnu Rajab berkata:”Bisa jadi inilah pendapat yang paling benar, tathayyur dengan bulan Shafar termasuk tathayyur yang dilarang, sama halnya dengan tathayyur dengan hari Rabu atau bulan Syawwal” (Fathul Majid hlm.409).


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment