Saturday, March 17, 2012

Ucapan Salam Kita Baru Sebatas Lisan

Salam dalam agama Islam esensinya adalah saling mendoakan, momentum silaturahmi, dan mencairkan hubungan antarsesama. Kekuatan salam ini, jika dipraktikkan, akan mampu membawa dampak positif. Saya punya satu cerita soal salam ini, bagaimana kemampuannya memecahkan kebekuan suasana (break the ice).
Rekan saya yang sudah lama bermukim di Madinah Al-Munawwarah, H. Rusdin bin H. Usman, kerap berulah ketika bersua dengan rekan-rekannya dari Madinah Al- Munawwarah Arab Saudi. Bahkan, rekan saya itu sengaja memancing tensi emosi lawan bicaranya hingga nyaris berkelahi. Cara itu sengaja dilakukan untuk mengetahui seberapa melekat tradisi ke-Islam-an pada diri orang Arab, terutama masyarakat Madinah. Apalagi, Madinah paling lama tempat bermukimnya Rasulullah.
Ketika tensi emosi orang Madinah memuncak, Rusdin dengan fasih mengucapkan “Assalamu Alaikum”. Rekannya yang nyaris saja ingin memukulnya menarik bogemnya agar tidak mendarat pada wajah Rusdin dan spontan menjawab “Waalaikum Salam” sebagai kalimat damai. “Saya heran kamu ini, tadi berbuat kurang ngajar sama saya, memancing emosi saya, tetapi saat saya ingin memukul, kamu menyebut salam,” ujarnya yang dikutip Rusdin saat bercerita di Madinah beberapa tahun lalu.
Mengapa orang Arab tidak berani memukul orang yang jelas-jelas berulah kurang ajar pada dirinya? Ternyata, kata Rusdin adalah kalimat damai dan tidak boleh seseorang berlaku curang jika rekannya sudah berdamai. Apalagi, kalimat itu mengandung doa saling menyelamatkan dan keberkahan.
Cerita ini bukan mengada-ada, tetapi dilakukan sendiri oleh Rusdin dan ternyata tradisi perdamaian yang ditanamkan Rasulullah 14 abad lalu masih membekas di hati umatnya di Kota Madinah. Kebiasaan itu, berlaku juga pada aparat Kepolisian di sana. Saat merazia warga Negara lain yang berjualan di sekitar masjid Madinah, aparat Kepolisan Arab dengan akrab menyampaikan salam, lalu bersalaman saling berpelukan cium pipi kiri dan kanan. Saat itu juga menangkap siapa saja yang melanggar tanpa ampun, meski pedagang merontak-rontak ingin melepaskan diri. Mereka menciduk dan membawanya ke tempat penyekapan atau rumah tahanan hingga menunggu proses hukum selanjutnya.
Tidak ada istilah main-main atau diberi pelicin agar yang ditangkap bisa dibebaskan. Tidak ada istilah negosiasi atau apapun namanya. Polisi Arab Saudi melaksanakan tugas dan fungsi-nya (Tupoksi) dengan baik dan jujur. Mereka tidak main-main saat menangkap orang, meski dengan gaya yang sopan diawali salam dan peluk cium.
Mereka bukan karena benci, tetapi supremasi hukum harus ditegakkan, tanpa “pandang bulu”. Bahkan, jangan heran atasan mereka juga tetap diperiksa dan jika melanggar aturan mereka tidak segan-segan menangkapnya. “Itulah polisi Arab, fisiknya kurus-kurus dan tingkat pendidikan banyak yang tidak sampai tamat SMA, tetapi mereka sigap, jujur dan amanah melaksanakan tugas kenegaraan,”.
Tradisi damai itu, sangat kental terlihat saat beribadah haji. Saling menyapa, salam antara jamaah, meski dengan bahasa isyarat. Saling tukar pemberian, padahal baru kenal sekali sudah sok akrab. SKSD, sok kenal sok dekat! Namun, ada jamaah Indonesia marah-marah pada orang Afrika yang antrean panjang agar mendapatkan jatah pembagian kurma.
Saya melihat orang Indonesia yang kecil berani marah-marah pada orang Afrika yang tingginya berbeda jauh. Bahkan, jika saja orang Afrika itu marah, maka dengan menjambah rambutnya saja orang Indonesia itu tidak akan bisa berbuat apa-apa. Orang Afrika itu dengan sabar membelai dan mengucapkan salam. Mungkin karena tidak faham salam, orang Indonesia itu tetap marah, tetapi sayang orang Afrika itu mengucapkan salam dan meninggalkan saudaranya yang tidak mengerti juga tentang hakikat salam yang sesungguhnya.
Memang banyak jamaah haji Indonesia jengkel melihat ulah orang Afrika. Bayangkan, saat duduk tawaddu di masjid, kepala kita dipegang dan dilangkahinya. Itu barangkali tabiat mereka, tetapi hatinya cukup baik dan bisa menahan emosi, meski fisiknya ditakuti siapa saja. Salam yang mereka lafalkan bukan sekadar pemanis bibir (lips service), tetapi diimplementasikan dalam kehidupan nyata.
Mengapa salam ini tidak kita jadikan simbol perdamaian jika terjadi tawuran antar-pelajar, mahasiswa, antarkampung, dan lainnya. Apakah salam kita baru sebatas lisan? Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing.

http://www.kompasiana.com/abaneso


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment