Saturday, February 18, 2012

Beautiful Madinah (3)

132112343674684423
mesjid nabawi malam by Iq

Bertempat tinggal di Madinah juga memiliki kenikmatan ibadah yang indah. Beberapa kali kami berkesempatan untuk menunaikan ibadah umroh. Jarak Madinah-Mekah sejauh 6 jam dengan bus saptco atau (+- 485 km) sekitar 3-4 jam dengan mobil pribadi bukanlah jarak yang jauh.  Umroh dilakukan  dengan beragam cara.  Kadang dengan cara backpacker. Menyetop angkutan umum seperti mobil carteran atau menumpang bus saptco sambil grabag-grubug membawa tas yang berisi perlengkapan bayi. Transportasi dan akomodasi diusahakan sendiri.  Tarif yang dipatok kurang lebih 50 real perpenumpang apabila naik bus saptco atau kurang lebih 200 real apabila menyewa mobil. Tergantung proses tawar menawar dengan sopir. Mobil yang tersediapun lumayan beragam. Dari yang biasa-biasa saja sampai sekelas camry, tergantung  pilihan kita dan tentunya anggaran yang tersedia. Sesampai di Mekah kami juga harus mencari hotel sendiri. Sekali waktu ketika umroh di bulan ramadhan, kami harus berputar-putar keluar-masuk mencari hotel yang terjangkau harganya karena rata-rata hotel di sekitar masjidil haram tarifnya naik hingga berkali-kali lipat dari hari biasa. 

Perjalanan Mekah-Madinah yang mulus  diwarnai pemandangan yang gersang dikiri-kanan jalan. Namun nuansa yang sangat terasa adalah perbedaan yang begitu kentara antara kedua suasana kota itu. Apabila Madinah adalah kota yang tenang maka Mekah adalah kota yang sibuk dan hiruk pikuk. Apabila Madinah adalah kota yang lapang, maka memasuki kota Mekah, kita akan dihadapkan pada kepadatan berbagai bangunan. Persamaannya, karena keduanya merupakan kota suci, maka suasana ibadah sangat kental ditemui, dimana hal ini kurang saya dapati ketika saya sempat berkunjung ke Jeddah yang metropolis.
13211226911816164786
Mesjid Nabawi dari kejauhan by Iq

Secara umum, suasana Madinah kesehariannya sangat tenang. Warga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Pusat keramaian biasanya di sekitar masjid terutama pada setiap waktu sholat dan setiap hari Jum’at untuk menunaikan ibadah sholat jum’at. Madinah bertambah ramai ketika memasuki musim haji dan bulan ramadhan. Pada bulan ramadhan suasana masjid Nabawi sangat ramai terutama menjelang buka puasa. Dihalaman masjid digelar tikar untuk warga yang hendak berbuka. Pada saat itu banyak orang kaya di Madinah menyediakan makanan dan minuman untuk berbuka puasa seperti kurma, roti, laban (semacam yoghurt), arsir (limun) bahkan nasi. Banyak juga warga kota yang sengaja membawa bekal untuk berbuka puasa dan tarawih di masjid. Dengan ramah, mereka akan menawarkan untuk berbagi bekal apabila kita tertarik untuk ikut mencicipi hidangan mereka.

Ketika musim liburan tiba, anak-anak menjadikan halaman masjid yang lapang sebagai arena bermain rollerblade. Sementara anak-anak bermain, para orang tua duduk-duduk minum teh susu dan makan bekal roti atau kebab di sekitar halaman mesjid sambil berbincang, menikmati suasana Madinah di waktu malam. Menjelang musim haji, para warga kota akan menyingkir sementara dari masjid Nabawi. Mereka memberikan kesempatan kepada jamaah haji yang akan menunaikan ibadah di masjid Nabawi. Mereka cukup paham akan sesaknya masjid apabila musim haji tiba. Mereka biasanya akan kembali mengunjungi mesjid segera setelah musim haji berakhir. 

Salah satu nikmat ibadah yang sangat kami syukuri adalah waktu yang lebih leluasa untuk mengunjungi raudhah. Biasanya raudhah agak sepi setelah musim haji atau sesudah ramadhan. Kami berkunjung ke raudhah pada waktu-waktu tertentu. Waktu yang diizinkan untuk kaum wanita mengunjungi raudhah adalah pagi hari, sekitar jam 07.00 sampai dengan 11.00, kemudian disambung lagi ba’da dhuhur sampai dengan sebelum ashar. 

Madinah memiliki sangat banyak mesjid dan tempat bersejarah. Adalah Masjid Quba dan Qiblatain yang sering dikunjungi oleh jamaah haji dan umroh. Masjid Quba terletak sekitar 2,3 km dari masjid Nabawi. Merupakan masjid pertama yang dibangun Rasulullah dan para sahabat di wilayah Madinah. Sedangkan masjid Qiblatain terletak di jalan Khalid ibn Walid. Masjid Qiblatain didirikan karena turunnya ayat kepada Rasulullah agar memindahkan kiblat. Pada hari-hari biasa, suasana kedua masjid ini tergolong sepi. Berbeda dengan hiruk pikuknya jamaah yang berkunjung pada saat musim haji tiba. Biasanya pada waktu-waktu tertentu seperti pada waktu sholat jum’at atau sholat isya dan magrib, masjid akan dipenuhi oleh warga sekitar yang akan menunaikan kewajiban sholat. Masjid yang lain adalah masjid Ijabah, masjid Jum’ah dan masjid Bilal. Masjid Ijabah terletak di dekat kawasan Asia dimana banyak terdapat toko dan restoran Indonesia. Tempat lain yang sering diziarahi jamaah haji adalah Jabal Uhud yang terletak dalam batas Madinah sebelah utara yang membentang dari timur hingga barat. (Bersambung)

http://www.kompasiana.com/weetta


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment