Kamis, 27 September 2012

Ayah Pengantin Wanita Minta Mahar 2 Riyal

RIYADH – Ini peristiwa yang langka di negeri Arab Saudi yang makmur. Seorang ayah calon pengantin wanita di Saudi telah menyimpang dari kebiasaan pemberian mahar yang kerapkali tinggi di negeri yang makmur ini. Ia hanya meminta mahar atau mas kawin sebesar dua riyal saja kepada calon pengantin laki-laki.

“Saya tidak menganggap mahar sebagai hal penting. Kami ingin melindungi anak menantu laki-laki dan memperhatikan putri kami. Ini sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW dan kita semestinya mengikuti ajaran itu. Kenyataannya, bila semua keluarga Saudi mau menurunkan permintaan mahar, maka kasus perawan tua bisa teratasi di masyarakat kami,” ujar pensiunan militer kepada suratkabar berbahasa Arab Al Yowm.

Ini adalah keputusan yang jarang diambil di masyarakat Saudi, dan juga di negara-negara Arab lain dan wilayah Teluk. Selama ini berlaku aturan di ma-syarakat Timur Tengah dimana keluarga pengantin wanita meminta mahar yang mahal kepada pengantin laki-laki.

Islam menganjurkan pemberian mahar yang sedikit sebagai tanda perhatian dan kasih sayang antara pengantin pria dan wanita dan keluarga mereka. Di Tunisia, yang merupakan salah satu negara liberal dalam hak-hak wanita, mahar lebih bersifat simbolis dan biasanya hanya berupa satu dolar AS saja.

Namun begitu, di banyak negara Arab lainnya, kebiasaan akan hidup mewah menyebabkan permintaan akan mas kawin semakin meningkat tajam.

Permintaan mas kawin rata-rata yang berlaku di Saudi adalah uang sebesar 30.000 dolar AS (setara dengan 8.000 dolar AS) untuk keluarga kelas menengah dan ratusan ribu riyal untuk keluarga kaya. Biaya pernikahan meningkat tajam karena resepsi yang mewah, makan malam dan pakaian pengantin yang mahal.
Situasi serupa juga terjadi di negara tetangga Bahrain, sementara biaya makin lebih tinggi di negara Teluk yang lain.

Akibat biaya pernikahan yang sangat tinggi, para pria dari beberapa negara di Teluk terpaksa mengambil istri dari negara lain, terutama dari Mesir, Suriah, dan Yordan di kalangan orang Arab, India, Pakistan, Thailand, dan Filipina.
Editor — Maghfur Ghazali


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar