Selasa, 18 September 2012

Ketua Ulama Nusantara di Makkah, Muhammad Nur Al Fathani

A.   Nasab dan Kelahirannya
Beliau bernama lengkap Muhammad Nur bin Muhammad bin Isma’il Al Jawi Al Fathani Al Makki As Salafi rahimahullah. Beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 1290 H di tengah keluarga yang gemar menuntut ilmu. Terbukti dengan kedudukan Syaikh Muhammad Shaghir, ayah Al Fathani, adalah seorang ulama kenamaan. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikh ‘Abdus Sattar Ad Dahlawi dalam kamus tarajim-nya, Faidhul Malikil Wahhabil Muta’ali bi Anba’i Awailil Qarnits Tsalits ‘Asyar wat Tawali (3/ 1641), yang menggelari Muhammad Shaghir dengan ‘alim, fadhil, dan syaikh.
B.    Perjalanan Al Fathani dalam Thalabul ‘Ilmi
Pertama-tama Muhammad Nur Al Fathani mempelajari mabadi’ (dasar) Islam dari Syaikh Muhammad Shaghir Al Fathani, sang ayah, selanjutnya kepada Syaikh ‘Abdul Haq, pendiri Al Madrasah Al Fakhriyyah, Syaikh ‘Abid, mufti Madzahab Malikiyyah di Makkah, dan kepada sejumlah ulama lain di zamannya.
Setelah sekian lama menuntut ilmu di Makkah dan mendapatkan syahadah, Syaikh Al Fathani pun diberi izin untuk mengadakan halaqah ilmu sendiri untuk kemudian dihadiri para santri dari penjuru dunia yang ingin menuntut ilmu, namun beliau memandang dirinya perlu lagi kiranya menambah perbendaharaan ilmu lebih jauh. Dari situ, mulailah Syaikh Al Fathani meneruskan pengembaraannya dalam thalabul ‘ilmi ke Al Azhar Cairo.
Di Al Azhar, Syaikh Al Fathani menimba ilmu dari sejumlah ulama ahli sanad. Di antara ulama yang halaqahnya pernah dihadiri oleh Al Fathani adalah:
  1. Syaikh Muhammad ‘Abduh rahimahullah
  2. Syaikh Bakhit Al Muthi’i Al Hanafi rahimahullah
  3. Syaikh Muhammad Asy Syarbini rahimahullah
  4. Syaikh Hasan Zayid rahimahullah -penulis Al Mathla’us Sa’id dalam ilmu falak-.
Sebagian penulis biografi Syaikh Al Fathani memasukkan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha ke dalam daftar guru-guru Al Fathani. Ini mungkin saja bisa diterima mengingat karir Syaikh Muhammad Rasyid Ridha juga ditorehkan di Mesir karena memang saat itu beliau selain mengajar juga nyantri kepada Syaikh Muhammad ‘Abduh. Allahu a’lam.
Selain menuntut ilmu dari para ulama di atas, Al Fathani juga sangat gemar menelaah sendiri kitab-kitab karya ulama Ahlussunnah. Berkaitan dengan itu, kita persilahkan Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar menceritakannya untuk kita, “Beliaurahumahullah beraqidah salafi yang benih-benihnya diperoleh dari ustadznya, Muhammad ‘Abduh. Kemudian beliau menekuni kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, muridnya, Ibnul Qayyim, dan Al ‘Allamah Asy Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sampai benar-benar matang.” [Siyar wa Tarajim (hal. 270)]
C.     Karir Syaikh Al Fathani di Makkah
Setelah sekian lama pengembaraan dalam thalabul ‘ilm dari para ulama kenamaan di zamannya dan behkan sampai melawat pula ke negeri kinanah, Mesir, Al Fathani pun kembali ke Makkah dengan membawa oleh-oleh berupa perbendaharaan ilmu yang banyak, terlebih dengan adanya tanda tamat belajar di Al Azhar dengan peredikat tinggi.
Di Makkah Al Fathani mulai menyibukkan diri dengan mengadakan halaqah ilmu di Masjid Al Haram tepatnya di Bab Az Ziyadah. Selain mengajar di Masjid Al Haram, Al Fathani juga membuka pintu rumahnya lebar-lebar untuk para thalabul ‘ilmi. Maka jadilah rumah itu bagai telaga bagi para penuntut ilmu. Adapun mata pelajaran yang diajarkan oleh Al Fathani meliputi fiqh, tafsir, hadits, bahasa, manasik haji untuk para jama’ah haji, dan lain-lain.
Tentang bagaimana suasana Syaikh Al Fathani menyampaikan pelajaran, ‘Umar ‘Abdul Jabbar meriwayatkan, “(Beliau) menyampaikan pelajarannya dengan ungkapan yang jelas, metode ala Al Azhar, mampu menguasai qalbu-qalbu (pendengarnya) dengan penjelasan dan lisannya yang lincah bak ‘sihir’.” [Siyar wa Tarajim  (270)]
Jabatan lain yang pernah dipegang oleh Al Fathani adalah:
  1. Mengetahui kesungguhan dan kecukupan Al Fathani, Syarif Husan pun menunjuknya sebagai anggota Mudiriyah Al Ma’ari dengan ketua Syaikh Muhammad ‘Ali Al Maliki, kemudian Sayyid ‘Abdullah Zawawi, dan berikutnya Sayyid ‘Abbas Al Maliki
  2. Ketua para ulama Jawa (sebutan orang Arab untuk orang Indonesia, Malaysia, Patani, dan sekitarnya) yang berada di Makkah di masa Saudi
  3. Anggota di Mudiriyyah Al Ma’arif Al ‘Amah di bawah pimpinan Sayyid Shalih Syatha kemudian Syaikh Amin Fudah
  4. Kemudian Syaikh Al Fathani dipindah ke bagian kehakiman dan ditunjuk sebagai qadhi di Mahkamah Kubra di bawah pimpinan Syaikh Muhammad Al Marzuqi
D.    Potret Akhlak Syaikh Al Fathani dan Pujian Para Ulama
Syaikh Muhammad Nur Al Fathani tidak saja hanya sebatas memiliki ilmu yang luas, akan tetapi beliau juga mengamalkan ilmu tersebut sehingga tercermin dari akhlak kesehariannya.
Berikut kita simak pujian beberapa ulama kepada Syaikh Al Fathani yang tidak hanya ‘alim akan tetapi juga ‘amil.
Pujian pertama datang dari Al Musnid Al ‘Allamah ‘Abdus Sattar bin ‘Abdul Wahhab Ad Dahlawi As Salafi rahimahullah  yang beliau ‘rekam’ sendiri dalam kamus tarajimnya, Faidhul Malikil Wahhab (3/1641), “Seorang yang luas ilmunya, ahli falak, amat cerdas, tersohor kedalam ilmunya, sempurna, tajam pikirannya, dan pembesar. Beliau adalah shahabat kami.”
“Beliau pandai dalam banyak bidang disiplin ilmu,” masih kata Syaikh Ad Dahlawi,”Kembali ke Makkah lalu diberi izin untuk mengajar dan memberi faidah. Bersamaan dengan itu, beliau bersikap tawadhu’, memiliki akhlak mulia,  dan keshalihan… Banyak orang sejenisnya (orang-orang Jawa) yang mendapatkan manfaat darinya.”
Pujian yang sama juga diberikan oleh Syaikh ‘Abdullah Mirdad Abul Khair dalam Nasyrun Nur waz Zuhar yang kemudian diringkas menjadi Al Mukhtashar Min Nasyrin Nur waz Zuhar (hal. 474).
Berikutnya kita beralih kepada Syaikh ‘Umar ‘Abdul Jabbar rahimahullah yang beliau ungkapkan dalam Siyar wa Tarajim (hal. 270) ketika menceritakan Syaikh Al Fathani dalam berorganisasi, “Beliau –semoga Allah merahmatinya- bersama para ketua saling tolong-menolong dalam batas kewajibannya dengan amanah dan keikhlasan tanpa menjilat atau mencari muka di hadapan atasan-atasannya.”
E.     Syaikh Al Fathani Rahimahullah Kembali ke Haribaan Rabbul ‘Alamin
Syaikh Muhammad Al Fathani wafat tahun 1363 H. Beliau dikaruniai tiga orang putra, yaitu Yasin, Ahmad, dan ‘Abdullah.
F.     Karya-Karya Syaikh Al Fathani
Syaikh Al Fathani memiliki beberapa karya tulis ilmiah, yaitu:
  1. Terjemah kitab Al Hadiyyatus Saniyyah fil ‘Aqidatis Salafiyyah karya Syaikh Sulaiman bin Sahman rahimahullah. Kitab terjemahan ini kemudian dicetak diterbitkan atas perintah negara sebagai bentuk penyemangat dan pengakuan atas kemumpuniannya.
  2. Terjemah kitab  Sulamul Mubtadi [fi Thariqatil Muhtadi] fil Fiqh Asy Syafi’i karya kakeknya, Syaikh Dawud Al Fathani rahimahullah.Kitab ini dicetak dan diterbitkan oleh Darul Fikr Beirut.
  3. Kifayatul Muhtadi bisyarh Sulamil Mubtadi. Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu dengan tulisan Arab (baca: Arab pegon) berisi tiga disiplin ilmu, yaitu ‘aqidah salafu shalih, fiqih syafi’i, dan terakhir akhlak. Di Indonesia, buku ini dicetak dan diterbitkan oleh Al Haramain.
  4. At Tuhfaful Mardhiyyah.Kitab ini dimasukkan ke dalam daftar karya Syaikh Al Fathani
  5. Nida’ ‘Am min ‘Ulama Baladillahil Haram
G.    Juhud (Usaha) Syaikh Al Fathani dalam Memurnikan Ajaran Islam di Melayu
Sebagai seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, Syaikh Al Fathani menyadari bahwa selama ini amalan-amalan kaum muslimin di negeri asalnya banyak diwarnai hal-hal yan menyimpang dari faham Ahlussunnah. Terlebih faham-faham tasawwuf ala shufi yang ‘laris’ di kalangan orang-orang awam dan para ulamanya yang masih fanatic dengan apa yang mereka dapat dari guru-guru mereka tanpa sedikit pun mempertimbangkan.
Melihat kenyataan ini, Syaikh Al Fathani rahimahullah berkeinginan kuat untuk memasukkan faham Ahlussunnah sebagai ganti faham-faham bid’ah yang menyesatkan ke negeri asalnya itu dengan menerjemahkan kitab ‘aqidah Ahlussunnah yang berjudul Al Hadiyyatus Saniyyah fil ‘Aqidatis Salafiyyah karya Syaikh Sulaiman bin Sahman rahimahullah yang tak lain adalah seorang ulama tersohor di Nejed yang juga murid Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan bin Imam ‘Abdul Wahhab rahimahumullah. Kitab ini terdiri dari lima risalah ilmiah, yaitu:
  1. Sebuah risalah yang ditulis oleh Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Su’ud rahimahullah yang membicrakan masalah hakikat ibadah, tauhid dengan macamnya, dan lain-lain.
  2. Syai’ Min Sirah Asy-Syeikh wa Ta’alimihi karya Syaikh ‘Abdul Lathif bin ‘Abdurrahman Alu Syaikh rahimahullah
  3. Risalah yang ditulis oleh Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah yang membicarakan hakikat wahhabiyyah dari mulai dari sejarah sampai tuduhan-tuduhan miring yang pernah diterima.
  4. Al Fawakihur ‘Udzdzab fir Radd ‘ala Man Lam Yahkum bil Kitab was Sunnah karya Syaikh Ahmad bin Nashir An Nejedi
  5. Sebuah risalah karya Muhammad bin ‘Abdul Lathif Alu Syaikh rahimahullah yang berbicara masalah ‘aqidah Ahlussunnah
Usaha berikutnya yang dilakukan Syaikh Al Fathani dalam memperbaiki ‘aqidah bid’ah dinegerinya adalah mensyarah kitabSulamul Mubtadi karya Syaikh Dawud Al Fathani rahimahullah. Bahasan dalam kitab ini dimulai dengan menjelaskan ‘aqidah yang diyakini Salafu Shalih. Ketika menyebutkan sebab memilih kitab ini untuk disyarah, Syaikh Al Fathani, di antaranya, mengatakan, “Karena barang yang mengandungkan dia daripada ilmu tauhid yang bagi orang yang dahulu2 (salaf) yang shalih seperti shahabat dan tabi’in dan lainnya, dan ilmu fikih madzhab Imam Syafi’I yang rajah dan beberapa pengajaran agama dan lagi mengandung akan beberapa perangai yang baik2 bagi orang yang shalihin.” [Kifayatul Muhtadi (hal. 2-3)]
Contoh ‘aqidah Ahlussunnah yang diterangkan dalam kitab Kifayatul Muhtadi ini adalah permasalah bersemayamnya (istiwa’)Allah di atas ‘Arsy. Berikut kutipannya,”[Bersemayam di atas ‘Arsy] Allah  Subhanahu wa Ta’ala [bersemayam yang berpatutan dengan kebesaran-Nya seperti barang yang dikehendaki-Nya]. Istiwa’ Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ‘Arsy itu istiwa’yang patut dengan kebesaran-Nya yang tiada diketauhuikan bagaimana rupanya. Berkata Syaikh Al Baghawi pada tafsirkan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy” pada surah Al A’raf. Katanya, “Berkata Al Kalbi dan Muqatil: makna istiwa –istaqarra- yakni tetap dan berkata Abu ‘ubaidah: sha’ada,yakni naik. Dan telah menakwilkan Mu’tazilah akanistiwa’dengan  istila’ yakni memiliki atau memerintah. Adapun Ahlussunnah berkata mereka itu, bermula istiwa’ Allah Subhanahu wa Ta’ala atas ‘Arsy-Nya satu sifat bagi Allah ‘Azza wa Jall tiada diketahuikan bagaimananya. Wajib atas seorang beriman dengan dia dan menyerahkan mengetahuikan bagaimananya itu kepada Allah jua.” Kemudian beliau menyebutkan riwayat seorang yang menanyakan istiwa’ kepada Imam Malik dan jawaban Imam Malik atasnya.
Demikianlah, secara umum kitab Kifayatul Muhtadi ini menjelaskan ‘aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah seperti hakikat iman ada apa yang harus diimani. Kitab ini juga menyebutkan tentang kiamat, hasyr dan nasyr, haudh Nabi, surge dan neraka, syafat dan macam-macamnya, dan seterusnya.
Di antara yang perlu disebutkan di sini adalah bahwa Syaikh Al Fathani adalah salah satu ulama Ahlussunnah yang ikut serta menandatangani dokumen nota kesepakatan Ulama Makkah dan Nejd dalam mas-alah tauhid yang dikemudian hari diberi judul AlBayan Al Mufid fimattafaq ‘Alaihi ‘Ulama Nejd wa Makkah min ‘Aqaid At-Tauhid. Alhamdulillah, nota kesepakatan ini telah dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh saudara Fauzan bin ‘Abdullah, ST. dan diedit kembali oleh Ustadz ‘Abdullah Zaen, MA. lalu diberi judul ‘Ulama Makkah dan Nejd Bersatu Padu Membela Tauhid dan Memerangi Kesyirikan’. Allahua’lam. []

Referensi:
  • ‘Abduljabbar, ‘Umar. 1403. Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina fil Qarn Ar Rabi’ ‘Asyar lil Hijrah. KSA: Tihama
  • Ad-Dahlawi, ‘Abdus Sattar bin ‘Abdul Wahhab. 1430. Faidhul Malikil Wahhabil Muta’ali bi Anba’ Awailil Qarn Ats Tsalits ‘Asyar wat Tawali. KSA: Maktabah Al Asadi
  • Mirdad, Abul Khair ‘Abdullah. 1406. Al Mukhtashar Min Nasyrin Nur waz Zuhar diikhtishar oleh Al ‘Amudi dkk. KSA: ‘alamul Ma’rifah lin Nasyr wat Tauzi’
  • Al-Mu’allimi, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman. 1421. A’lamul Makkiyyin. KSA: Muassasah Al Furqan li At Turats Al Islami
  • Al-Fathani, Muhammad Nur bin Muhammad Shaghir. 1351.Kifayatul Muhtadi bisyarh Sulamil Mubtadi. Indonesia: Al Haramain
Penulis: Ibnu Mawardi
Artikel Muslim.Or.Id


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar