Senin, 17 September 2012

Imam Besar Saudi: Kecam Filmnya, Bukan Serang yang Tak Bersalah!

Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al ash-Sheikh
Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al ash-Sheikh
"Serangan terhadap sejumlah warga dan diplomat AS yang tidak bersalah itu adalah penyimpangan dari ajaran agama Islam.”
RIYADH, - Imam Besar Arab Saudi, Sheikh Abdulaziz bin Abdullah Al ash-Sheikh, mengecam sejumlah serangan terhadap diplomat dan kedutaan besar asing terkait beredarnya film kontroversi berjudul Innocence of Muslims. Kata dia, serangan tersebut tidak Islami, sekalipun dengan alasan pembelaan terhadap Nabi Muhammad SAW yang dihina lewat film tersebut.

Sheikh Abdulaziz, pemimpin agama tertinggi di negara kelahiran Islam ini, mengungkapkan yang perlu dikecam adalah filmnya, bukan malah menyerang para diplomat AS di seluruh penjuru dunia. Ia juga meminta kepada semua pemerintah negara dan lembaga internasional agar mengecam film yang menghina kesucian agama Islam dan Nabi Muhammad SAW.

"Jangan menghukum orang yang tak bersalah atas kejahatan yang dilakukan orang lain, atau menyerang mereka, atau membakar atau merusak bangunan umum," kata Al ash-Sheikh di dalam ceramahnya, Sabtu (15/9), seperti dilaporkan kantor berita resmi Arab Saudi, SPA. Pernyataan Sheikh Abdulaziz ini sekaligus menunjukkan sikap resmi Arab Saudi terhadap isu ini, bahwa negara itu mengecam keduanya, baik filmnya dan serangan yang menewaskan sejumlah orang tak bersalah.

“Memang tidak dipungkiri film tersebut telah menghina Islam dan bisa dibilang sebagai kejahatan penistaan agama. Namun, serangan terhadap sejumlah warga dan diplomat AS yang tidak bersalah itu adalah penyimpangan dari ajaran agama Islam,” tambahnya, yang dikutip dari Reuters, Minggu (16/9).

Film Innoncence of Muslims yang dirilis bertepatan dengan peringatan 11 tahun tragedi  11/9, Selasa (11/9) itu telah menyulut gelombang protes hampir di seluruh negara mayoritas muslim. Sedikitnya sembilan orang tewas setelah sholat Jumat, Jumat (13/9), dalam demonstrasi di seluruh Timur Tengah. Kerusuhan menyebar ke Mesir, Lebanon, Tunisia, Sudan, Yaman dan tempat lain.

AS telah mengirim tentara tambahan guna menjaga kedutaan besarnya setelah duta besar AS dan tiga staf berkebangsaan Amerika tewas di Libya pada Selasa (11/9).

Sejauh ini belum ada laporan mengenai demonstrasi anti-Amerika di negara dengan 1,6 miliar penduduknya beragama Islam itu.

Namun, di negara tetangganya, kelompok Al Qaeda yang berpusat di Yaman, Sabtu (15/9), menyerukan kepada semua umat muslim untuk membunuh diplomat AS di negara Islam dan meningkatkan protes terhadap film itu.(Jaringnews.com).

Menyikapi Film yang Menghina Nabi

Ulama senior di Kerajaan Saudi Arabia, sekaligus anggota Al Lajnah Ad Daimah (komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia), Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdillah Al Fauzan mendapatkan pertanyaan dalam kajian harian beliau di daerah Malaz Riyadh, “Fadhilatusy Syaikh –waffaqakumullaah-. Pertanyaan yang masuk saat ini banyak sekali. Di antaranya, ada yang bertanya tentang bagaimana nasehat Anda bagi para penuntut ilmu dan juga selain mereka tentang apa yang terjadi saat ini berkaitan dengan film yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa wejangan Anda dalam hal ini?”

Beliau hafizhohullah menjawab,
Nasehat kami dalam hal ini adalah hendaknya kita tetap tenang dan tidak mengingkari hal ini dengan cara-cara (yang keliru) seperti dengan melakukan demonstrasi, menzholimi orang-orang yang tidak memiliki keterkaitan dengan hal ini, atau sampai merusak harta benda (orang lain). Ini adalah cara-cara yang tidak diperbolehkan. Yang wajib untuk membantah mereka sebenarnya adalah para ulama, bukan orang awam. Para ulamalah yang berhak membantah dalam perkara-perkara ini. Hendaknya kita senantiasa tenang.

Orang-orang kafir sebenarnya ingin mengganggu kita serta memancing amarah kita. Ini yang mereka inginkan. Mereka juga ingin agar kita saling membunuh. Aparat keamanan berusaha menghalang-halangi, sedangkan yang lain (para demonstran muslim) berusaha menyerang, sehingga terjadilah pemukulan, pembunuhan, dan banyak yang terluka. Mereka menginginkan hal ini. Hendaknya kita senantiasa tenang dan bersikaplah tenang. Yang berhak untuk membantah mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan bashirah, atau hendaknya mereka tidak perlu dibantah. Orang-orang yang membantah mereka juga tidak boleh disamaratakan.

Ingatlah, dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penyihir, dukun, pendusta” dan perkataan hinaan lainnya. Namun, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk bersabar. Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi di Mekkah, tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum musyrikin, juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenanglah sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan jalan keluar bagi kaum muslimin.

Yang wajib dilakukan adalah tenang, khususnya saat ini, di saat munculnya banyak teror dan kejelekan di negeri-negeri kaum muslimin. Wajib untuk tenang dan tidak tergesa-gesa dalam masalah-masalah semacam ini. Orang-orang awam tidaklah pantas untuk menghadapinya. Mereka bodoh, tidak memahami hakikat masalah. Tidak boleh menghadapi masalah ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan bashirah. Na’am.

[Fatwa Syaikhuna -Syaikh Dr. Sholih Al Fauzan- dalam sesi tanya jawab kajian Al Muntaqo (karya Jadd Ibnu Taimiyah) di Masjid Jaami' Mut'ib bin ‘Abdul ‘Aziz, Malaz, Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia pada hari Sabtu, 28 Syawal 1433 H. Soal ini dibacakan setelah adzan ‘Isya dari kajian tersebut[1]]
Wallahu waliyyut taufiq.

@ Sakan 27 Jami’ah Malik Su’ud, Riyadh, KSA, 1 Dzulqo’dah 1433 H
Artikel Muslim.Or.Id
 




Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar