Rabu, 26 September 2012

Menteri Saudi Peringatkan Iran Untuk Tidak Mencampuri Haji Dengan Ketegangan Sektarian

saudi arabia flagMenteri Urusan Islam, Wakaf, Dawah dan Bimbingan Arab Saudi, Salih bin Abd al-Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Al al-Syaikh menyatakan bahwa haji tidak dapat digunakan sebagai alat untuk tujuan sektarian dan politik. Hal ini disampaikan untuk memperingatkan Iran supaya tidak menyuntikkan ketegangan sektarian ke dalam ibadah haji.


"Haji dilakukan karena Allah. Haji ini tidak dapat digunakan sebagai alat untuk tujuan sektarian atau politik, "kata seorang ulama top muslim Arab Saudi.

Berbicara pada konferensi pers yang diadakan di kantor Direktorat Urusan Agama Turki, Selasa (25/9/12), Menteri Salih bin Abd al-Aziz, yang mengunjungi Ankara atas undangan kepala direktorat Turki, Mehmet Görmez, menjamin bahwa meskipun ketegangan baru terjadi di wilayah tersebut, tetap tidak akan ada kekhawatiran atas keamanan selama musim haji, pertemuan tahunan terbesar dunia Muslim.

Ia menambahkan bahwa negaranya telah mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.

"Ketegangan sektarian dan politik di kawasan Timur Tengah tidak akan mempengaruhi musim haji. Muslim akan mampu melakukan kewajiban agama mereka di tanah suci, "kata Menteri Salih bin Abd al-Aziz.

Görmez menyatakan bahwa empat topik utama yang dibahas dalam pertemuan dengan menteri Saudi.
"Dalam 10 tahun terakhir, kami telah menyaksikan serangan terhadap nilai-nilai suci yang telah berevolusi menjadi Islamophobia," kata Görmez, menambahkan bahwa serangan dan penghinaan mereka terhadap nilai-nilai suci agama Islam tidak boleh dianggap kebebasan berbicara.

Dia menambahkan bahwa umat Muslim harus mengembangkan kesadaran kolektif di antara mereka sendiri dalam rangka untuk bereaksi dengan benar terhadap serangan tersebut.

Menteri Salih menyatakan bahwa direktorat agama dari kedua negara telah bekerja sama di berbagai belahan dunia, dan menambahkan bahwa program dari kedua direktorat akan bersatu.

Ia menggarisbawahi bahwa Turki dan Arab Saudi adalah dua negara Muslim terbesar, dan menyatakan bahwa ada banyak masalah yang membutuhkan kerjasama dari kedua negara ini.

"Muslim di seluruh dunia menghadapi banyak masalah. Harus ada kerjasama antara negara-negara kami untuk mencegah perselisihan di kalangan umat Islam. Harus ada tugas umum yang akan memungkinkan persatuan di antara umat Islam, "katanya.

Menyinggung perlunya melindungi yayasan Islam di berbagai negara, menteri Salih mengatakan bahwa kerjasama diperlukan untuk melindungi yayasan Islam. (TDZM)

CYBER SABILI-ANKARA: 


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar