Selasa, 25 September 2012

Berlebaran di Saudi: Gak Ada Sungkem-menyungkem Ternyata

Seri terakhir dari rangkaian cerita lebaran di Timteng adalah tentang lebaran dan berpuasa di Saudi Arabia (SA). Mudah-mudahan belum pada bosen, yak….

Ceritanya nie, saya punya teman yang tinggal di SA. Teman yang akhirnya ketemu ketika Umroh bulan Maret lalu setelah hampir 6 tahun hanya kenal di dunia maya.

 Profil teman saya nie: Adiestianing Tyas, yang punya nama panggilan Yasmin. Berasal dari Yogya, jebolan D3 Pariwisata UGM. Sudah tinggal 10 tahun di SA karena menikah dengan warga SA yang bekerja di Maaden, perusahaan gold mining milik lokal Saudi.
***
Yasmin bercerita, tradisi Ramadhan bagi ibu-ibu rumah tangga di SA itu khas sekali, dengan menimbun bahan-bahan makanan. Entah kenapa, belanjaan grocery mereka selalu lebih banyak daripada hari biasa. Mungkin karena memang banyak macam makanan yang “wajib” hadir saat berbuka puasa. Seperti sambusak, semacam pastry yang gurih berbentuk segitiga berisi daging cincang atau keju feta; juga makanan wajib lainnya, yaitu sup barley dengan oatmeal yang dimasak dengan kambing, yang lazim disebut shorba.
Tentunya, yang gak boleh ketinggalan, ya, kurma dan air zamzam (“Tinggal di SA, ya, jelas airnya zamzam! Bikin sirik deh...”). Untuk minumannya, nah, ini yang unik dan sangat-sangat khas Ramadan: subia.
Subia  konon berasal dari Makkah. Dibuat dari campuran roti pita/khubs, barley, sultana (anggur kering), spices (biasanya kayu manis, cengkih dan kapulaga hijau) yang diperam selama 24 jam sebelum siap untuk dikonsumsi. Jika Ramadan tiba,  banyak dijual di pinggir-pinggir jalan. Dikemas dalam plastik dan berwarna putih seperti air beras putih campur dengan air beras merah. Rasanya manis segar.
Satu lagi yang khas adalah kopi arab, atau gahwa, untuk teman minum kurma. Kopinya khas sekali, karena di-roast dengan sangat light, hingga warnanya masih kecoklatan, dan tidak sepekat kopi biasa. Dibuatnya dengan direbus dan ditambahkan kapulaga hijau dan jahe parut. Disajikan dalam cawan kecil tanpa gula.
***
Ramadan selalu menjadi “bulan sibuk” bagi kebanyakan orang Saudi atau expat yang bermukim di Saudi. Selain harus menyiapkan full meal dua kali sehari, para ibu-ibu juga sibuk berbelanja keperluan Eid/Lebaran.
Kebiasaan orang Arab itu, kalau lebaran, harus berbaju baru. Artinya, semua baru; dari ujung kepala hingga ujung kaki, dari baju dalam sampai baju luar. Malahan nggak sedikit yang sengaja memanfaatkan momentum ini sebagai 'closet cleaner', alias cuci gudang-lemari. Sebagian baju-baju disedekahkan, karena emang sudah out of season.
Mesjid selalu penuh setiap Ramadhan. Di awal bulan memang agak sepi, tapi makin lama makin penuh. Terutama di 10 hari terakhir dan malam ke 27, yang dipercaya sebagai malam Lailatul Qadar.
Selain itu, banyak stall dadakan yang khusus buka dimalam hari; seperti pedagang kibdah dan tagati (hati kambing dan babat kambing yang ditumis kering). Juga pedagang kentang goreng dan balila (kacang cheakpeas rebus dengan kuah cuka, plus topping parutan ketimun).
Tapi, yang paling khas di Saudi selama Ramadhan itu hari menjadi “terbalik”: Malam jadi siang, dan siang jadi malam. Toko dan mall justru buka dan mulai ramai setelah Shalat Isha. Bahkan sebagian buka setelah taraweh.
Hal ini memang sangat menolong, karena orang-orang jadi leluasa berbelanja tanpa menggangu ibadah. Jalan sendirian di tengah malam hanya buat beli sandwich, misalnya, bukan hal yang aneh, karena memang pada saat itu jalanan masih sangat padat dan ramai. Anak-anak biasanya masih main petasan dan table soccer di pinggir-pinggir jalan hingga waktu sahur tiba.
Mungkin banyak yang bertanya, kok malam melek sih? Apa jadi gak kurang tidur, yah? Lalu, bagaimana dengan mereka yang bersekolah dan kerja kantoran?
Begini. Selama bulan puasa, jam kerja di Saudi yang biasanya 8 jam sehari,  diperpendek jadi 6 jam saja. Anak sekolah pun biasanya libur dua minggu sebelum lebaran dan dua minggu setelah lebaran. Tapi, karena tahun ini Ramadhan bersamaan dengan liburan kenaikan kelas, maka libur anak sekolah jadi lumayan panjang: 3 bulan!
***
Saat Ied  tiba. Orang-orang berbondong-bondong pergi ke masjid atau lapangan untuk shalat dengan berbaju baru, mirip seperti di tanah air.
Setelah Sholat Ied, biasanya banyak yang membagikan coklat dan permen.
Hidangan Ied gak jauh beda dengan sarapan sehari-hari; hanya ditambah beberapa menu istimewa saja.
Sarapan umumnya terdiri dari roti arab (samoli atau khubs), telur mata sapi dengan tomat, zaitun, keju, ghista/gemar/cream kental yang disajikan dengan aneka selai dan madu, juga halawa tahiniya/halva (semacam sweets yang terbuat dari wijen).
Yang istimewa di keluarga suami Yasmin adalah Dubyaza, semacam selai encer yang terbuat dari lembaran pasta apricot (qamar al deen), kurma, buah zaitun/fig/ara, apricot  kering yang disajikan dengan taburan kacang-kacangan dan dikucuri minyak zaitun. Cara makannya dicolekkan ke roti, dan rasanya asam-manis….
Selai aprikot dubiyaza dengan campuran kurma-kismis-fig yang tadi saya ceritakan. Kacang topping-nya dipisah di mangkok tersendiri.
***
Setelah sarapan, acara biasanya dilanjutkan dengan tidur hingga lohor (makanya jalanan sepi pada saat itu!), lalu makan siang di salah satu rumah sanak-saudara.
Malam harinya, mereka berkeliling mengucapkan “Kul 'am wa inti/inta bi khayr…” (yang artinya, kira-kira: “Semoga sepanjang tahun Anda dalam keadaan sejahtera…”).
Soal sungkem-menyungkem atau meminta maaf, justru tidak ada dalam tradisi Arab/Islam. Anak-anak biasanya hanya mengucap “Kul 'am wa inta/inti bi khayr…”  kepada orang tua masing-masing dan mencium kening mereka. Sedangkan para menantu, cukup dengan mencium tangan/pipi sang Mertua.
Kue yang wajib ada di hari raya di SA bukanlah kue kering. Melainkan permen beraneka jenis, juga coklat. Butik coklat lokal yang jadi favorit, tentunya Patchi (setidaknya di keluarga saya dan sebagian besar teman-teman).
Jadi, jangan heran kalau bertamu di keluarga Arab pada saat lebaran, suguhan utama mereka permen dan coklat beraneka jenis, yang memang cocok sekali disantap dengan kopi arab/gahwa yang pahit rasanya.
***
Demikian cerita Yasmin.
Kelihatannya berpuasa dan berlebaran di UAE dan Saudi emang gak banyak beda, ya. Hanya saja, Yasmin berada di tengah keluarga lokal. Sedangkan kami, meski berada di Jazirah Arab, tapi lingkungan kami tetap Indonesia, sehingga hampir semua kebiasaan di Indonesia diimpor ke UAE. Seperti lebaran dengan ketupat dan lauk-pauknya, atau ketika berbuka puasa gak lupa ada gorengan, kolak, dan tentunya makanan berat….
Tapi, “tradisi” keliling bertakbir seperti di Indonesia, emang gak popular di Timteng. Juga gak ada budaya cium tangan kepada semua orang, apalagi sungkem. Cium tangan hanya kepada kerabat dekat saja. Juga gak ada budaya ber maaf-maafan. 
 
penulis Estherlita Suryoputro di tnol.co.id
 


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar