Kamis, 10 November 2011

Berburu Hewan Kurban untuk Dam di Makkah

MAKKAH - Berburu hewan kurban untuk dam biasa dilakukan jamaah haji usai menunaikan ibadah haji. Biasanya dam wajib dilakukan bagi haji tamattu dan pelanggan larangan ihram.

Haji tamattu adalah seorang jamaah yang memisahkan antara umrah dengan puncak haji seperti wukuf di Arafah, melepas ihram setelah tahalul umrah.

Membeli hewan kurban bisa dibilang gampang tapi sulit. Mudah ditemukan tempatnya, namun sulit didapat karena pedagang hewan kurban sering mematok dengan harga mahal. Jika tak pandai menawar, maka bersiaplah gigit jari dengan hewan kurban yang mahal.

Seperti petugas kesehatan Daker Jeddah, dr Abraham, dia kebingungan. Karena harga hewan kurban di pasar hewan Kalqiyah sangatlah mahal. Dari 350-400 riyal atau 850 ribu hingga 1.120.000 untuk ukuran kambing kecil hingga sedang, padahal tahun lalu harganya bisa didapat dengan harga 300 riyal atau Rp750 ribu.

Ternyata ada pasar hewan lebih murah dari Kalqiyah, yaitu di Muaysim. Dengan dibantu tenaga musiman asal Mesir, Tim MCH membeli hewan kurban di sana hanya dengan 280 riyal atau Rp700 ribu (kurs 2.500). Ukuran kambingnya pun bisa disebut lumayan atau kambing sedang. Paling mahal kambing berukuran besar seharga 700 riyal atau 1.750 ribu.

Mahasiswa asal Aceh, Rifat Zaki, memiliki kenalan warga Somalia yang sudah cukup lama berkutat di pasar hewan ini namanya Abdul Karim. Dengan dibantu Abdul Karim, Zaki, berhasil membantu jamaah haji untuk membeli kurban.

Di tempat ini tidak hanya dijual kambing, unta dan sapi juga dijual. Harga unta dan sapi bervariasi antara 2.500-4.500 atau Rp6-11 juta.

Di Muaysim ada dua tempat penjualan hewan, satu tempat untuk bank. Banyak jamaah haji yang membayar dam melalui bank-bank lokal Arab Saudi. Bersebelahan dengan tempat ini adalah pasar hewan untuk umum. Setelah membeli hewan tersebut, pembeli bisa menyaksikan hewan kurbannya dipotong di tempat pemotongan yang berjarak tidak sampai 100 meter.

Daging hewan tersebut boleh dibawa, boleh juga diserahkan ke tempat pemotongan untuk kemudian diserahkan ke pemerintah guna disalurkan masyarakat miskin atau negara miskin di dunia.

"Biasanya dagingnya dikalengkan terus dikirim ke negara-negara miskin," ungkap Zaki. (ded)http://haji.okezone.com


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar