Tuesday, November 8, 2011

JAMARAT

 
JAMARAT adalah sebuah nama wilayah di  Kota Mekah, tempat  berdirinya sebuah  bangunan berlantai tiga di dalamnya terdapat tiga tugu  berbentuk panel yang merupakan simbol setan yang diwujudkan dalam tugu Ula, Wustha, dan Aqaba.

Dimana pada tugu ini dibuat untuk memperingati bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim melontar setan yang tiga kali menggodanya agar tidak menjalankan perintah Allah swt untuk menyembelih putranya Nabi Ismail. Walaupun pada akhirnya Allah swt mengganti posisi Nabi Ismail dengan seekor kibas atau Domba. Sehingga setiap tahun lokasi Jamarat akan dikunjungi oleh jemaah haji untuk melontar sebagai suatu rukun haji.

Untuk sampai di Jamarat perlu tenaga dan perjuangan karena harus melewati terowongan Mina  yang kira-kira panjangnya satu kilometer dengan berdesakan ditambah suara gemuruh dan derap sendal membuat jemaah sering panik jika melewati terowongan Mina.

Hal itulah yang membuat banyaknya jemaah tewas pada tahun 1990 yang mencapai 1.426 orang. Semuanya jemaah asal Indonesia karena mereka panik lalu saling injak. Peristiwa itulah sehingga Presiden Indonesia yang saat itu dijabat HM Soeharto pada waktu itu langsung menemui Raja Arab Saudi untuk dibuat dua terowongan. Atas usul Soeharto, saat ini ada dua terowongan menuju dan kembali dari Jamarat.

Untuk musim haji tahun ini, akses menuju tempat pelontaran pun dijaga ketat oleh petugas keamanan. Demi menjaga lonjakan jemaah memasuki wilayah itu maka pemerintah Arab Saudi melalui Departemen Pengamanan Haji Bidang Manajemen Transportasi Massal, di bawah koordinasi Saad Bin Abdullah Alkhaelani telah membuat aturan jembatan Jamarat dapat dilalui dengan membatasi hanya 300 ribu jemaah perjam.

"Pembatasan jemaah ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Sebab kalau tidak ada pembatasan maka bisa terjadi arus kedatangan dan kepulangan dari Jamarat bisa fatal. Maklum, wilayah Jamarat ini cukup rawan karena melewati terowongan,"ucap Saad Bin Abdullah.

Sementara itu, seluruh Jemaah Konsorsium saat ini telah melakukan pelemparan jumrah di Jamarat. Mereka dikordinasi langsung Onasis Ande. Dimana seluruh jemaah pada saat dan sebelum melontar kondisinya cukup fit. Hanya beberapa jemaah yang berusia lanjut mendapat pelayanan khusus petugas dengan menggunakan kursi roda. Semuanya dapat berjalan lancar.

Hal itu karena koordinasi dan sistem pelayanan dari Konsorsium yang sudah terprogram dengan baik. Sebelum menuju Musdalifah bus yang akan kita tumpangi sudah menunggu dan begitu pula ketika tiba di Musdalifah, jemaah tidak perlu menunggu terlalu lama.

Jemaah hanya melintas dan memungut kerikil. Di ujung jalan bus sudah menunggu lalu mengantar jemaah menuju Jamarat untuk melontar. Ini sangat berbeda dengan jemaah lain yang masih harus menunggu berjam-jam lamanya apalagi yang jadi kendala utama di perjalanan ini adalah faktor transportasi bus yang membuat jemaah letih menunggu. (*)http://www.fajar.co.id


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment