Sabtu, 11 Agustus 2012

Arab Saudi Tujuan Ekspor Terbesar

Arab Saudi Tujuan Ekspor TerbesarJAKARTA - Negara Arab Saudi dan Pakistan menjadi tujuan ekspor nonmigas Indonesia terbesar pada periode Januari hingga Juni 2012. Komoditas ekspor utama kedua negara tersebut adalah produk otomotif kendaraan roda empat, kelapa sawit, batu bara, dan kacang areca.

"Arab Saudi dan Pakistan jadi tujuan ekspor tertinggi dengan nilai berturut-turut mencapai 947,5 juta dollar AS dan 757,48 juta dollar AS," kata Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, saat jumpa pers mengenai Kinerja Perdagangan Indonesia semester I-2012 di Jakarta, Jumat (3/8).

Gita menjelaskan pada periode yang sama tahun 2011, nilai ekspor ke Arab Saudi dan Pakistan berturut-turut sebesar 659,79 juta dollar AS dan 428,98 juta dollar AS.

Sementara itu, sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor dengan nilai di bawah Arab Saudi dan Pakistan adalah Kenya, Finlandia, dan Djibouti.

Menurut Gita, nilai ekspor nonmigas Indonesia pada semester I-2012 berjumlah 76,826 juta dollar AS atau turun 2,79 persen secara tahun ke tahun (yoy). Komoditas utama yang menyumbang angka terbesar adalah bahan bakar mineral dengan nilai 13,955 juta dollar AS.

Selain itu, komoditas lemak dan minyak hewan atau lemak nabati menempati posisi kedua dengan nilai 10,245 juta dollar AS

"Untuk ekspor Indonesia pada bulan Juni 2012 tercatat mencapai 15,4 miliar dolar AS, turun dari bulan sebelumnya 8,7 persen," kata Gita.

Menurut Gita, nilai ekspor tersebut berasal dari ekspor minyak dan gas sebesar 2,8 miliar dollar AS dan ekspor nonmigas 12,6 miliar dollar AS

Sementara itu, pertumbuhan ekspor Indonesia keluar negeri pada semester I-2012 mengalami penurunan sebesar 1,76 persen dari periode yang sama 2011 menjadi 96,884 juta dollar AS.

"Penurunan pertumbuhan ekspor tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan ekspor Brasil mengalami kontraksi dibanding periode yang sama pada 2011. Pertumbuhan nilai ekspor Brasil menjadi 0,92 persen dari sebelumnya 32,65 persen," kata Gita.

Ia menambahkan, pada semester I-2012, China mengalami pelambatan pertumbuhan ekspor menjadi 9,17 persen dari sebelumnya 24,01 persen, sedangkan nilai ekspor Jepang menjadi 4,18 persen dari sebelumnya 8,26 persen

Dia menilai penurunan pertumbuhan ekspor beberapa negara tersebut, termasuk Indonesia, diakibatkan menurunnya daya beli pasar tradisional, seperti di wilayah Eropa, Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Guna menggenjot kinerja ekspor-impor Indonesia, Kemendag melakukan strategi kebijakan perdagangan dengan meningkatkan daya saing produk dalam negeri, di antaranya mendukung upaya hilirisasi dan pengembangan industri di dalam negeri yang berorientasi ekspor. Pengembangan pasar ekspor baik berupa peningkatan ekspor nonmigas ke kawasan negara nontradisional, sampai peningkatan daya saing produk.

Hal lainnya, kata Gita, adalah meningkatkan efektivitas pengawasan dan infrastruktur perdagangan, diantaranya dengan memanfaatkan instrumen perdagangan (antidumping, safeguards, subsidi), memperlancar sistem distribusi nasional, meningkatkan pengawasan barang beredar, mengembangkan perdagangan berjangka komoditi, serta sistem resi gudang sebagai alternatif pembiayaan bagi petani dan pelaku usaha.

Industri Hulu
Sementara itu, Direktur Jenderal (Dirjen) Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Panggah Susanto, mengatakan untuk mengurangi defisit perdagangan serta mengurangi impor barang modal, pemerintah harus meningkatkan pembangunan industri hulu, seperti industri logam dasar dan petrokimia dasar. Fondasi industri hulu harus diperkuat agar di sektor hilir tidak bergantung pada impor.

Saat ini, kata dia, defisit perdagangan kembali terjadi karena kebergantungan atas impor bahan baku dan barang modal terutama petrokimia dan logam.

"Pembangunan industri hulu petrokimia dan logam sejalan dengan road map hilirisasi industri berbasis mineral logam. Ketersediaan energi juga dibutuhkan untuk mendukung suksesnya program ini," papar dia.

Panggah menduga lonjakan impor yang terjadi disebabkan oleh berbagai alasan, seperti jadwal penghentian operasi pabrik oleh beberapa industri karena bertepatan dengan jadwal perbaikan dan pemeliharaan tahunan atau overhaul. "Proses tersebut bisa berlangsung selama 20–30 hari. Akibatnya, pasokan dari impor meningkat," tandas dia. ran/E-3

koran-jakarta.com


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar