Senin, 09 Juli 2012

Kisah Syaikh Abdul Aziz bin Baz, Raja Abdullah, dan 6 Penuntut Ilmu Somalia yang Akan Dihukum Mati

Berikut ini adalah kisah Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz -rahimahullah- dengan enam penuntut ilmu Somalia yang akan dihukum gantung oleh pemerintah Somalia atas kejahatan yang tidak pernah mereka lakukan. Mungkin disebabkan karena hasad terhadap dakwah salafiyah yang menyebabkan mereka difitnah dan akan dihukum mati.

Asy-Syaikh Salim Ath-Thawil menceritakan:
Aku akan menceritakan sebuah kisah yang sebagian dari kalian belum mendengarnya. Aku yakin sebagian dari kalian belum pernah mendengarnya. Syaikh Falah bin Ismail Al-Mandakar menceritakan kepada kami yang pada waktu itu beliau masih menjadi seorang pelajar di Jami’ah Islamiyyah.

Beliau (Syaikh Falah) berkata:
Datang kepadaku empat saudara dari Somalia dan mereka dalam keadaan menangis. Mereka berkata bahwa ada enam saudara Salafi mereka yang akan dieksekusi besok pagi setelah sholat Shubuh oleh Siad Barre (yang waktu itu sebagai Presiden Somalia) dengan cara digantung.
Fulan.. Fulan.. dan Fulan dari saudara-saudara kami sejumlah enam orang dan empat orang di antaranya dikirim oleh mereka yang ditugaskan untuk memberi fatwa. Syaikh Ibn Baz-lah yang menanggung biaya (tinggal di sana) agar mereka bisa berdakwah di Somalia. Salafiyyun kenal dengan Syaikh Ibn Baz, enam orang dari mereka akan dihukum gantung setelah sholat Shubuh.
Mereka pun mengangisi keadaan saudara-saudara mereka. Bayangkan sendiri, enam saudara yang kamu sendiri telah saling mengenal satu sama lain dan saudara-saudaramu akan dihukum mati besok pagi. Dan waktu itu telah pukul 11 malam, apa yang bisa kami perbuat? Mereka berada di Madinah sedangkan yang lainnya berada di Somalia dan juga Syaikh Falah ketika itu hanyalah seorang pelajar. Akhirnya mereka memutuskan untuk menemui Syaikh Abu Bakr Al-Jaza’iri.
Dia berkata, “Kami akan mengetuk pintu rumahnya.” Dan ketika itu Syaikh sedang tidur.

Dia berkata, “Ini Falah bin Ismail Al-Kuwaity, ini amat penting.”
Kami pun masuk, “Wahai Syaikh, mohon dengarkanlah saudara kita ini hendak berkata. Mereka sedang menangis. Siad Barre akan menghukum mati enam saudara kita Salafiyyin.”
Syaikh berdiri dan menangis bersama mereka, “Apa yang perlu kami bantu?”
Kami tidak ada seorang pun lagi setelah Allah kecuali Al-Walid Syaikh Ibn Baz. Kami pun menghubungi beliau dan waktu itu telah menunjukkan pukul 12 malam lebih. Kami pun menghubungi Riyadh dan diangkat oleh sekretaris yang waktu itu adalah Syaikh Ibrahim -rahimahullah-.
Beliau berkata, “Ini Abu Bakr Al-Jaza’iri dari Madinah. Ini darurat, kami ingin berbicara dengan Syaikh Ibn Baz.”
Syaikh Ibrahim berkata, “Beliau sedang tidur.”
Syaikh Abu Bakr berkata, “Ini adalah perkara yang tidak bisa ditunda.”
Syaikh Ibrahim, “Baiklah, tunggu sebentar.”
Dan setelah itu Syaikh Ibn Baz menjawab dan berkata, “Ya?” Kemudian beliau meletakkannya ke pengeras suara. Empat orang saudara dari Somalia, Syaikh Abu Bakr dan saya (Syaikh Falah -pent) yang ke-enam.
Jadi, dia menjelaskan kepada Syaikh apa yang telah terjadi. Syaikh Ibn Baz pun mulai menangis bersama mereka.
Dia berkata, “Wahai Syaikh, Fulan dan Fulan yang engkau sendiri telah mengenalnya dan mengantarnya sendiri (ke Somalia -pent). Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Beliau berkata, “Letakkan telepon, kita lihat apa yang Allah akan perbuat untuk kita. Tunggulah.”
Syaikh Falah berkata, “Kami duduk menunggu hingga pukul setengah tiga malam di telepon.”
Dan saudara-saudara kita tersebut emosi yang mendalam terhadap saudara-saudara mereka yang akan dihukum mati keesokan harinya setelah sholat Shubuh.
Syaikh Ibn Baz menelepon mereka, “Bantuan telah datang! Bantuan telah datang! Tenanglah, bantuan telah datang!”
Syaikh Falah berkata, “Apa yang telah terjadi, wahai Syaikh?”
Syaikh Ibn Baz, “Syaikh Ibrahim yang akan menceritakannya kepadamu.”
Syaikh Ibrahim berkata:
Setelah Syaikh meletakkan telepon, beliau menghubungi Raja Abdullah (yang saat itu masih sebagai pangeran putra mahkota -pent). Dikatakan kepada beliau bahwa Pangeran sedang tidur.
Beliau berkata, “Sampaikan bahwa ini dari Abdul Aziz bin Baz.”
Dijawab, “Wahai Syaikh, beliau sedang tidur.”
Beliau berkata, “Demi Allah, jika beliau tidak menjawab panggilanku maka aku akan datang sendiri ke istana beliau. Ini adalah perkara yang tidak bisa ditunda.”
Dijawab, “Wahai Syaikh, anda ingin ke istana pada waktu ini?!”
Khalas, dia meletakkan telepon dan membangunkan Pangeran. Kemudian beliau menjawab dan berkata, “Assalamu’alaikum. Bagaimana kabar anda wahai Syaikh, baik?”
Syaikh Ibn Baz, “Siad Barre akan menghukum mati enam saudara kita setelah Shubuh besok dan empat di antaranya adalah yang telah aku hantarkan.”
Pangeran Abdullah berkata, “Barre adalah orang yang kejam. Wallahi, orang yang kejam. Engkau mengirim mereka (ke Somalia -pent) dan Barre akan membunuhnya?! Wallahi, Barre orang yang kejam. Baik, Tunggulah.”
Beliau mengatakan bahwa kami menunggu dan Pangeran menelepon Barre. Setelah itu Pangeran menelepon Syaikh kembali.
Pangeran berkata, “Semua telah selesai, wahai Syaikh. Aku telah berbicara kepadanya dan besok setelah Shubuh akan ada amnesti kepada semua orang (yang ada dipenjara)!
Syaikh Ibn Baz diberkahi, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang telah beliau perbuat kecuali Allah.

sumber : rizkytulus.wordpress.com



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar