Senin, 30 Juli 2012

Pesedekah Rebutan Masjid di Madinah dan Makkah


Pesedekah Rebutan Masjid di Madinah dan Makkah
Persiapan buka puasa di Masjid Nabawi Madinah
MADINAH - Jemaah umrah yang sedang melakukan perjalanan religi ke Tanah Suci Madinah dan Makkah di Arab Saudi, bakal disuguhi menu unik.

Terlebih, jika mereka melangsungkan prosesi ritual pada bulan suci Ramadan. Perbedaan yang signifikan terasa saat hendak berbuka puasa dan salat tarawih.

Selama Bulan Ramadan 1433 Hijriah berlangsung, ratusan pesedekah berebut tempat di dua masjid agung di kota suci ini, yakni Masjid Nabawi di Madinah dan Masjidil Haram di Makkah.

Artinya, seluruh usahawan atau dermawan berebut tempat untuk bersedekah. Jika di Tanah Air jemaah yang hendak berbuka berebut makanan dan minuman, di sini justru kebalikannya, pesedekahnya berebut tempat dan jemaah.

Ini seperti dikisahkan oleh Muhammad Nuruddin, pembimbing (muthawwif) ibadah haji dan umrah dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Menurutnya, setiap Ramadan di Arab Saudi, semua orang kaya Arab berlomba-lomba bersedekah. Makanan dan minuman yang disuguhkan kepada jemaah harganya cukup berkelas.

Di sini, menu buka puasa disajikan dengan aneka makanan yang lezat dan menggugah selera. Sebut saja kurma madu hingga kurma ajzwa (kurma nabi), roti Mesir, roti Yaman, susu kaleng Marogi, minuman jus buah, dan pisang Mesir.

Berbagai makanan dan minuman itu disediakan secara gratis dan jor-joran. Sehingga, masing-masing jemaah yang ingin berbuka bisa memilih lokasi yang paling disukai.
“Setiap menjelang berbuka di Bulan Ramadan, masyarakat Arab Saudi berlomba-lomba melakukan sedekah sebanyak-banyaknya. Makanan dan minuman yang paling mewah sekalipun tersaji dan digelar membentuk shaf (barisan) di dalam dan luar dua masjid agung itu,” jelas Nuruddin,  yang sudah lima tahun berada di Arab Saudi, kepada Tribunnews.com, Minggu (29/7/2012).

Sebelum waktu salat magrib tiba, lanjutnya, 1-2 jam pesedekah sudah menyiapkan aneka makanan dan minuman yang terbaik.

Mereka biasanya datang lengkap dengan asisten dan karyawannya, paling sedikit berjumlah lima orang. Asisten ini bertugas mengusung dan membawa puluhan kilo makanan atau minuman ke dalam masjid.

Namun, sebelum makanan dihidangkan, para asisten sudah menyisir seluruh ruangan di dua masjid. Mereka membentangkan alas seperti terpal, plastik, atau kain untuk menghidangkannya. Di sinilah biasanya para pesedekah sering beradu mulut dengan pesedekah lain.

Mereka berkompetisi agar hidangan yang disuguhkan selama jelang berbuka, bisa habis dilahap jemaah. Untuk itu, para pesedekah sebisa mungkin mencari lokasi di seluruh penjuru ruangan dalam masjid. Bila terlihat kosong, maka asiten dan pesedekah langsung menggelar kainnya.

Di situlah aneka hidangan diberikan kepada jemaah secara gratis. Bahkan, jika mereka ingin membawa makanan dan minumannya pulang ke rumah atau hotel, juga dipersilakan. “Makanan dan minuman didatangkan dengan jumlah yang sangat besar. Siapapun boleh memakannya dengan sepuas-puasnya atau dibawa pulang. Pemandangan ini setiap hari terjadi, dan semakin hari semakin banyak makanan dan minuman yang disajikan,” ungkap Nururddin.

Tribunnews.com yang berada di lokasi Masjid Nabawi sejak Minggu, menyaksikan aktivitas yang sangat istimewa ini. Di halaman dalam dan luar Masjid Nabawi (seluas sekitar 8 hektare), saat menjelang berbuka selalu penuh sesak. Jemaah menyesaki lokasi untuk ikut berbuka puasa, dan pesedekah yang jumlahnya ratusan orang hanya membagi-bagikan makanan dan minuman gratis.

Sebelum buka puasa (ifthor jama’i) dilangsungkan, para jemaah dari seluruh dunia bisa memilih tempat lebih dulu. Tak ketinggalan, drum-drum berisi air zam-zam juga disediakan di masing-masing lokasi yang sudah ditetapkan. Ini agar setelah jemaah menyantap berbuka dan ingin meminum zam-zam, bisa lebih mudah menjangkaunya. (*)

Laporan Candra P Pusponegoro dari Madinah
TRIBUNNEWS.COM,



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar