Senin, 16 Juli 2012

PRT Kabur Saat Ramadhan Pusingkan Warga Saudi

Menjelang Ramadhan banyak para wanita karir di Saudi yang mulai mencari pembantu rumah tangga (PRT) tambahan. Namun, pada saat yang sama mereka dikhawatirkan dengan banyaknya PRT yang kabur selama bulan Ramadhan untuk mencari upah yang lebih tinggi.

“Selama bulan Ramadhan, banyak pekerjaan tambahan seperti memasak, bersih-bersih dan menjamu tamu,” kata Sawsan, seorang pegawai di perusahaan lokal.

“Sulit bagi saya untuk memenuhi semua tugas harian tanpa pembantu tambahan,” katanya, dikutip Arab News (15/7/2012).

Sawsan mengaku sudah memiliki seorang pembantu, namun perlu satu orang lagi untuk bekerja selama 3 pekan saja. Tetapi ia belum berhasil mendapatkannya.

“Kebanyakan pembantu yang sudah pernah saya temui biasanya meminta bayaran SR1.000-1.200, tetapi sekarang paling sedikit SR3.000 jika termasuk masak, dan SR2.500 jika hanya bersih-bersih selama sebulan itu.” Padahal, kata Sawsan, gaji sendiri sebagai pegawai setiap bulan hanya SR4.500.

Selama bulan Ramadhan upah pembantu naik, biasanya sampai tiga kali lipat. Oleh karena itu banyak pembantu rumah tangga (PRT) yang sengaja menunggu momen bulan Ramadhan untuk melarikan diri dari majikannya.

Sebagian keluarga yang khawatir kehilangan PRT terpaksa mengunci kediaman mereka dan tidak membiarkan pekerjanya keluar selama bulan Ramadhan.

“Saya punya pengalaman masalah dengan para pembantu yang melarikan diri dulu, terutama selama Ramadhan,” kata Enas, warga Saudi yang bekerja sebagai dokter di rumah sakit pemerintah.

“Itu kenapa saya mengunci semua pintu keluar dan menjeruji semua jendela agar aman dan mencegah para pembantu kabur saat malam hari atau saat saya pergi bekerja.” Dokter wanita itu menjelaskan bahwa para pembantunya bebas ke mana saja di dalam rumah, tetapi tidak bisa keluar.

Saat ia ditanya mengapa menurutnya mengunci para pembantu adalah tindakan yang bisa diterima, ia menjawab, “Saya merasa punya hak untuk melakukan hal yang perlu dilakukan, karena saya majikan yang menanggung semua keperluan pembantu.”

“Jika dia kabur, maka saya yang harus membayar biaya tambahan dan dibebankan dengan tambahan pekerjaan rumah tangga.”

“Saya juga harus menunggu berbulan-bulan sampai mendapat seorang pengganti yang bisa dipekerjakan,” jelasnya.
Menurut keterangan Kamar Dagang dan Industri Jeddah, majikan yang pembantunya melarikan diri bisa dikenai denda sampai SR10.000 (sekitar 25 juta rupiah), dan PRT kabur yang tertangkap aparat setempat akan dideportasi.

Angka pekerja rumah tangga ilegal diperkirakan menurun tahun ini karena pengetatan visa umrah, yang biasa digunakan oleh orang asing masuk ke Saudi dengan tujuan mencari pekerjaan. Di samping adanya larangan perekrutan PRT dari Filipina dan Indonesia sejak tahun lalu.* Hidayatullah.com

Rep: Ama Farah
Red: Dija

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar