Selasa, 03 Juli 2012

Perang Proxy di Balik Konflik Suriah

Perang Suriah
SEJUMLAH granat berpeluncur roket menghantam tiga tank yang tengah melintas di Harithan, kota berjarak 6 kilometer sebelah utara Aleppo, Suriah. Kobaran api segera menyelimuti kendaraan-kendaraan lapis baja tersebut.


Seluruh kru tank sontak membuka tutup palka dan lari tunggang-langgang. Sejurus kemudian, sejumlah pria melompat ke atas tiga tank. Dengan leluasa mereka melucuti senjata mesin dan kotak amunisi dekat pangkal meriam. Taktik mereka berjalan mulus.


Setelah berlangsung selama 16 bulan, konflik di Suriah kini menunjukkan perubahan. Kelompok-kelompok pemberontak sanggup memberikan perlawanan sengit terhadap militer Suriah berkat pasokan senjata dari mancanegara.


Kondisi tersebut, menurut beberapa sumber pemberontak, dimulai setelah peristiwa pembantaian di Kota Houla yang menewaskan 108 orang. Arab Saudi, Qatar, dan Turki--dengan persetujuan Amerika Serikat--gencar memasok senjata dan dana ke pemberontak Suriah.


"Semuanya berubah dalam beberapa pekan terakhir," ujar seorang petinggi kelompok pemberontak. "Sejak peristiwa Houla, posisi Turki bergeser. Ada banyak pasokan senjata baru, peluru antitank, senjata mesin, bahan peledak, dan amunisi bermunculan di sini dari Saudi dan Qatar. Turki telah mengizinkan barang-barang tersebut melalui wilayah mereka ke Suriah. Amerika tahu soal ini dan sepertinya sepakat."




Helikopter tempur
Di saat Arab Saudi, Qatar, Turki, dan AS membantu pemberontak Suriah, Rusia, Iran dan China justru menopang pemerintah Suriah. Saat ini sebuah kapal bernama MV Alaed siap berlayar dari Murmansk, Rusia, menuju Suriah. MV Alaed membawa sejumlah helikopter tempur Mi-24 dan sistem pertahanan udara buatan 'Negeri Beruang Merah'. Pemerintah Rusia berkeras helikopter-helikopter di MV Alaed merupakan milik militer Suriah yang telah rampung diperbaiki, bukan kiriman baru yang akan digunakan untuk kepentingan agresi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan pengiriman helikopter itu merupakan bagian dari kontrak yang disepakati pada 2008.

"Kontrak yang ditandatangani tersebut (menyepakati) untuk memperbaiki ulang helikopter-helikopter era Soviet dan dikirim lagi ke Suriah," ujar Lavrov dalam wawancara dengan televisi Rusia, Selasa (26/6).

Di lain pihak, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta menyatakan pihaknya tidak akan mendukung upaya mempersenjatai oposisi karena akan menghancurkan tanggung jawab transisi politik yang damai.


Berebut pengaruh
Menurut sejumlah analis, konflik di Suriah tidak lagi hanya melibatkan pemerintah Suriah dan pemberontak. Konflik yang berawal dari upaya aktivis menggulingkan Presiden Bashar al-Assad yang terkenal kejam itu, dinilai telah berkembang menjadi perebutan pengaruh antara negara-negara Islam Sunni dan negara Syiah. Di antara negara-negara Sunni yang mendukung kubu pemberontak adalah Turki, Arab Saudi, dan Qatar--semuanya sekutu AS. Adapun pendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad adalah Iran, Rusia, dan China.

Atas dasar itu pula beberapa pengamat menilai konflik Suriah telah menjurus ke arah perang proxy seperti yang terjadi antara Uni Soviet dan AS pada rentang waktu pasca-Perang Dunia II hingga akhir dekade 1980-an. Kala itu, perang proxy menuntun kedua negara terlibat konflik di Korea, Vietnam, Libanon, Afghanistan, Kuba, dan Nikaragua.
Pengamat dari Turki, Can Kasapoglu, menyatakan perang proxy bisa dilihat dari maraknya suplai senjata Iran kepada kaum Alawi yang merupakan submazhab Syiah di Suriah, serta Turki yang aktif mempersenjatai kelompok pemberontak yang berasal dari mazhab Sunni. Kepada stasiun televisi Iran Press TV, analis politik Suriah Taleb Ibrahim menegaskan hal serupa.

Bagaimana dengan posisi Moskow? "Dukungan Rusia kepada Suriah lebih karena basis ideologi," ujar Alexander Golts, pengamat independen Rusia. Menurut dia, keputusan Rusia memveto sanksi internasional kepada Suriah di Dewan Keamanan PBB merupakan bagian dari usaha menjaga Al-Assad sebagai mitra strategis di kawasan termasuk menjaga pangkalan militer mereka. "Tapi ini bukan hanya mengenai kontrak ataupun pangkalan (militer) kami," kata Golts. 
 
Perang proxy atau proxy war adalah perang yang terjadi ketika kekuatan lawan menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti untuk berkelahi satu sama lain secara langsung. Kekuatan pihak ketiga kadang-kadang berupa pemerintahan, agen, tentara bayaran, atau pihak ketiga lainnya. Diharapkan kelompok-kelompok ini bisa menyerang lawan tanpa menyebabkan perang skala penuh . 

Syiah.

Bila ingin mengetahui tentang syiah ini silahkan kunjungi gensyiah.com ,hakekat.com www.syiah.net haulasyiah.wordpress.com  www.syiahindonesia.com  atau videosyiah.com




dari berbagai sumber.






Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar