Saturday, January 21, 2012

Hentikan Stigma–Stigma Sesat Terhadap Wahabi

Oleh Khairil Miswar –


Sebelum menulis tentang persoalan ini, penulis sempat berpikir ratusan kali tentang efek negatif dari sebagian sahabat yang nantinya kebetulan membaca tulisan ini. Sebenarnya, penentangan yang akan datang dari sebagian sahabat menurut penulis wajar–wajar saja dan merupakan konsekuensi yang harus diterima sepenuh hati. Sebelumnya beberapa tulisan dengan tema hampir serupa, baik yang dimuat oleh Harian Aceh maupun di beberapa media online banyak mendapat kritik dan kecaman dengan bahasa yang kurang sedap. Kecaman dan kritik tersebut biasanya terjadi di kolom komentar yang terletak di bawah tulisan (edisi website).

Membaca komentar–komentar tak sedap tersebut penulis bukannya menjadi gentar tapi malah tambah bersemangat untuk menulis. Semakin banyak komentar (meskipun tak sedap) setidaknya menjadi bukti kecil bagi penulis bahwa tulisan tersebut dibaca orang. Persoalan ide dalam tulisan tersebut diterima atau ditolak mentah–mentah itu adalah urusan yang sangat tidak penting untuk digubris. Yang penting tulisannya dibaca dulu, dari dua puluh orang pembaca bukan tidak mungkin ada satu orang yang bisa menerima ide atau pendapat penulis.

Bukankah sesuatu yang banyak itu berawal dari sedikit? Hitungan normal selalu dimulai dari angka satu kemudian dilanjutkan dengan dua dan seterusnya. Menurut penulis, beberapa kalimat di atas sudah memadai sebagai pengantar tulisan singkat ini. Selanjutnya kita akan membahas sebuah topik simalakama sekaligus dilematis, kritis dan kontroversi namun tidak provokatif.

Siapa Wahabi?

Bagi sebagian orang (mayoritas) ketika mendengar istilah wahabi wajahnya menjadi merah menyala, telinga mengembang (bahasa Aceh; capang puny’ung), tangan mengepal, kaki menghentak dan dilengkapi dengan pertemuan dua sisi gigi (atas dan bawah) atau dalam bahasa keren sering diistilahkan dengan “kab igoe”. Mereka adalah orang–orang yang (mungkin) salah faham dan tidak mengenal apa itu wahabi. Namun demikian ada sebagian kecil orang (minoritas) yang tersenyum, hati tenang, pikiran dingin sambil tertunduk dan mengucap doa dalam hati. Mereka adalah orang yang kenal baik dengan wahabi atau setidaknya pernah membaca sejarah wahabi.

Syaikh Muhammad bin Manzhur An–Nu’mani dalam “Di’ayaat Mukatsafah Diddu Asy–Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hal 105–106 sebagaimana dikutip oleh Sofyan Chalid bin Idham Ruray, dalam bukunya “Salafi Antara Tuduhan dan Kenyataan”, menyebutkan bahwa sejarah telah mencatat bahwa istilah wahabi pertama sekali disematkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan pengikutnya oleh penjajah Inggris ketika mereka mendapat perlawanan keras dari para mujahid India. Seorang ulama dari Al Azhar Mesir, Syaikh Muhammad Hamid Al–Faqi menyatakan bahwa penisbatan nama Wahabi kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab salah dalam bahasa Arab, yang benar penisbatannya adalah Muhammadiyah (bukan wahabiyah) karena nama beliau adalah Muhammad, sedangkan Abdul Wahab adalah nama ayahnya (Sofyan Chalid: Salafi Antara Tuduhan dan Kenyataan, Toobagus Publishing, 2011, hal. 38).

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan di ‘Uyainah (Nejd) pada tahun 1115 H. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang reformis Islam yang telah berjasa memurnikan Islam dari unsur–unsur syirik, bid’ah dan khurafat yang merajalela di wilayah Nejd dan sekitarnya (Abu Mujahid & Haneef Oliver, Virus Wahabi, Toobagus Publishing, 2010, hal. 120 – 121).

Mengkafirkan Kaum Muslimin?

Berkembang fitnah di dunia Islam bahwa Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab mengkafirkan kaum muslimin yang tidak sependapat dengannya. Beliau juga dituduh telah membawa agama baru yang bertentangan dengan Ahlussunnah Waljama’ah. Isu–isu ini masih sangat hangat di Indonesia, khususnya di Aceh mitos ini sudah mengakar yang diturunkan oleh seorang guru kepada muridnya dalam bentuk dogma yang tidak boleh dibantah. Dalam pandangan penulis, cerita–cerita tersebut adalah fitnah besar yang sengaja dihembuskan oleh orang–orang yang tidak senang dengan dakwah tauhid yang beliau bawa.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam risalahnyanya menyebutkan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam suratnya yang dikirimkan kepada salah seorang ulama Iraq bernama As Suaidi. Dalam surat tersebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata (menulis): “Adapun saya menjelaskan kepada manusia pemurnian agama kepada Allah, saya melarang mereka dari menyeru kepada orang–orang yang masih hidup namun tidak hadir di tempat tersebut atau orang shalih yang telah mati. Saya juga melarang mereka dari mempersekutukan Allah. Di antara apa yang anda sebutkan bahwasanya saya mengkafirkan seluruh manusia kecuali yang mengikuti saya, betapa mengherankannya hal ini. Bagaimana hal ini bisa masuk ke dalam akal seorang yang berakal? Apakah ada seorang muslim yang mengatakan hal ini? Saya berlepas diri kepada Allah dari ucapan yang tidak keluar kecuali dari orang yang kurang akal ini” (Muhammad Jamil Zainu, Mitos Wahabi, terj.Abu Muhammad Farhan&Abu Yusuf, 2010, hal. 45 – 46). Dalam isi surat tersebut Nnampak jelas bahwa Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab membantah tuduhan dari orang–orang yang anti terhadap dakwah beliau.

Benarkah Wahabi Sesat?

Salah satu kitab yang pernah ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah “Kitabut Tauhid”, di dalamnya banyak berisi ayat–ayat Al Quran dan juga hadits Nabi Saw. Dalam kitab tersebut terdapat dalil–dalil tentang keutamaan tauhid. Dalam kitab tersebut beliau tidak pernah mengajak untuk menyembah selain Allah, dan malah beliau adalah orang yang paling tegas dalam menolak segala jenis kesyirikan (Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab Tauhid, terj. Abu Ismail Fuad, Yogyakarta: Pustaka Al Haura, 2009).
Tentang aqidah yang dianut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab juga sudah banyak disyarah oleh para ulama, di antaranya Syarah Aqidah Muhammad bin Abdul Wahab yang ditulis oleh Syaih Zaid bin Muhammad Al–Madkhaly. Di dalam kitab tersebut beliau membahas secara jelas dan rinci tentang aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab (Zaid bin Muhammad Al–Madkhaly, Syarah Aqidah Muhammad bin Abdul Wahab, terj. Hanan Hoesin Bahanan, Solo, Pustaka Ar–Rayyan, 2007). Seorang ulama besar Saudi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al–‘Utsaimin juga telah banyak melakukan pensyarahan terhadap kitab–kitab Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di antaranya Syarah Tsalasatul Ushul yang berisi tentang tiga landasan agama; pengetahuan hamba terhadap Rabbnya, pengetahuan hamba terhadap agamanya, pengetahuan hamba terhadap Nabinya (Muhammad bin Shalih Al–‘Utsaimin, Syarah Tiga Landasan Agama, terj. Abu ‘Abdirrahman Muhammad, Tegal: Ash – Shaf Media, 2009).

Dari sumber–sumber yang penulis sebutkan di atas tidak ditemukan adanya penyelewengan ataupun kesesatan yang selama ini dituduhkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Jika ada sahabat yang ingin meneliti lebih dalam bisa merujuk kepada beberapa sumber tersebut dan juga sumber–sumber lain yang tidak mungkin semuanya penulis sebutkan di sini. Penulis menyarankan para sahabat untuk membaca langsung di kitab aslinya. Namun jika tidak faham bahasa Arab, para sahabat bisa juga mencari edisi terjemahan yang sudah banyak beredar di Indonesia.

Jangan Lagi Menghujat

Di akhir tulisan ini penulis mengajak para sahabat yang selama ini sudah terlanjur menghujat dan menyesatkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan juga pejuang sunnah lainnya seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Syaikh Muhammad Abduh, Syaikh Rasyid Ridha, Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Bazz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, Syaikh Muhammad Nashieruddin Al Al Bani, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan dan sederetan ulama lainnya yang tidak mungkin penulis sebutkan semuanya di sini. Berhentilah menghujat mereka, apalagi sebagian dari mereka telah meninggal dunia dan tidak lagi mampu membalas fitnah–fitnah yang selama ini kita tuduhkan kepada mereka.

Apa gunanya menghujat orang yang sudah meninggalkan dunia ini. Jika memang ada pendapat ataupun fatwa mereka yang mungkin tidak bersesuaian dengan pandangan kita jangan diikuti tanpa perlu mencela. Ulama–ulama tersebut yang oleh sebagian orang diklaim sebagai “WAHABI” bukanlah kumpulan malaikat, mereka manusia biasa seperti kita, mereka tidak “ma’shum”. Mereka juga tidak terlepas dari salah dan silap, namun berjiwa besarlah terhadap kebenaran yang mereka bawa. Kita tidak bisa menafikan jasa–jasa mereka terhadap umat ini. Jika ada kesilapan yang telah mereka lakukan jadikanlah sebagai alasan bagi kita untuk mendoakan mereka, jangan sebaliknya menjadikan kesilapan dan kesalahan mereka sebagai bibit kebencian dan alasan untuk menghujat para ulama. Ingatlah, ulama adalah pewaris para Nabi. Wallahul Waliyut Taufiq.[]

*Penulis adalah Alumni IAIN Ar Raniry/Peminat Kajian Sosial, Politik dan Keagama
 
http://harian-aceh.com


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment