Rabu, 11 Januari 2012

Taryadi Jadi Supir di Saudi Kumpul 10 Ribu Riyal


Taryadi Jadi Supir di Saudi Kumpul 10 Ribu Riyal
Taryadi (41 th)
Selapajang, BNP2TKI (9/1) Kesulitan hidup berupa hutang telah mendorong Taryadi (41 th) yang tinggal di desa Dukuh, Rt. 06/ Rw. 02 Blok B, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu untuk segera berangkata bekerja di luar negeri. Hutang itu berasal dari kecelakaan lalu lintas yang dialaminya saat mobil truk yang dipadati dengan sanak keluarga untuk keperluan hajatan perkawinan. Truk yang ia kendarai bertabrakan dengan kendaraan lain dan menyebabbkan beberapa penumpang truk tewas seketika dan lainnya luka-luka.

Akibatnya tabrakan maut itu, polisi Indramayu pun kemudian memenjarakan dia selama beberapa bulan atas tuduhan lalai mengendarai hingga menyebabkan kematian para penumpang.

“Saya tidak lama di penjara karena korban masih anggota keluarga saya”, kenang Taryadi ditemui di Balai Pelayanan Kepulangan TKI (BPKTKI) Selapajang, Sabtu (7/1).

Usai enam bulan di Taryadi penjara, Taryadi pun membuat keputusan penting terkait hutang yang ia harus bayar paska tabrakan maut di Indramayu itu. Menurutnya, jika hanya mengandalkan gaji yang sama sebagai supir truk di Indramayu, ia yakin tidak akan mempu melunasi hutang-hutangnya.
Tahun 2010, Taryadi dan istrinya, Komariah memutuskan untuk pergi bekerja di luar negeri. Melalui PT. Prolifindo Adhi Perdana di Jakarta, keduanya ditempatkan di Riyadh, Arab Saudi dengan masa kontrak selama 2 (dua) tahun bekerja. Taryadi bekerja sebagai supir sedangkan istrinya sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di rumah majikan yang sama dengan suaminya, Syekh Talud Al Zuhaim. Menurutnya, nama Al Zuhaim terkenal sebagai nama keluarga kaya yang cukup terpandang di kota itu.
Taryadi menceritakan, walau profesinya sebagai supir namun dia juga mengerjakan pekerjaan rumah yang lain seperti merawat tanaman. Keduanya sering bekerja hingga larut malam alias lembur. Istrinya, pergi kerja dari pukul 5.00 pagi dan pulang hingga jam 2.00 dini hari. Kebetulan dia dan istri melayani beberapa rumah keluarga majikannya.

“Tak jadi soal kita kerja lembur asalkan diperlakukan dengan baik,” ujarnya.
Taryadi mengakui, perlakukan majikan dan keluarga besar Al Zuhaim sangat baik terhadap ia dan istrinya. Salah satu kebaikan itu keduanya mendapatkan bonus dari majikannya untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2010.

Sebagai supir, kata Suryadi, dia dibayar per bulan 1.000 Riyal sementara istrinya dibayar 800 Riyal perbulan. Dari gajinya ini, dia sudah bisa mengatasn permaslahan hutang di kampung halamannya. Selain itu, dia juga berhasil membawa pulang hingga 10.000 real.

“Saya dan istri merasakan keberkahan bekerja di tanah Suci. Saya semakin rajin sholat tahajud, dhuha, sholat taubah,” aku Suryadi yang kini tampil dengan jenggot khas jamaah Ahlus Sunnah Waljama (Salafi).
Kepada pemerintah, Suryadi mengusulkan perlunya kenaikan upah bekerja sebagai supir di Arab Saudi. Pasalnya, jam kerja supir sangat panjang dan rute perjalanan jauh dan beresiko pula. Selain itu, ia mengharapkan agara KBRI Jeddah cepat merespon setiap laporan yang masuk.

Ditanya keinginan untuk kembali lagi kerja di Arab Saudi, Suryadi mengatakan cukup sekali saja dan tidak ada keinginan untuk kembali lagi. Dari tabungannya 10.000 Riyal ini, Tarydi yang memiliki 2 orang berusia anak 15 tahun dan 2 tahun ini dari perkawinannya dengan Komariah dengan 2 berencana untuk membeli sebuah mobil angkutan untuk profesinya sehari-hari. Selebihnya, tabungan itu akan ia simpan untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya dan keperluan hidupa sehari-harinya. (zul/anto).

bnp2tki.go.id


Artikel Terkait: