Thursday, January 26, 2012

Muslim Eropa butuh bantuan negara Islam

BRUSSEL---Demi menjembatani kesenjangan dalam kepemimpinan intelektural di Eropa, negara-negara Islam kaya diimbau untuk membantu mendirikan sekolah-sekolah dan fakultas teologi Islam di Eropa. "Salah satu masalah utama Muslim Eropa adalah minimnya pemimpin," kata profesor sosiologi asal Belgia, Felice Dassetto, seperti dilansir International Islamic News Agency, Rabu (25/1).

Ia menjelaskan persoalan ini merupakan akibat dari minimnya pendidikan Islam di Eropa. Sebabnya, kekurangan itu hanya dapat diatasi dengan bantuan negara-negara Islam kaya seperti Arab Saudi, Kuwait dan lainnya."Mereka harus membantu, karena Muslim Eropa merupakan penghubung dunia Islam dengan dunia Barat," ujarnya.

Namun, Dasseto menekankan bahwa Muslim Eropa memiliki interpretasi berbeda tentang Islam. "Kondisi itu wajar, mengingat Muslim Eropa tumbuh dan berkembang dalam lingkup psikologis dan sosiologis yang berbeda dengan saudara-saudaranya di Asia dan Afrika," papar dia.

Berbicara soal perkembangan Islam di Belgia, Dassetto yang merupakan keturunan Italia, mengatakan, persoalan yang dihadapi Muslim Belgia adalah kendala bahasa. Ia mengungkap, dari 77 ulama yang berada di Belgia, hanya dua atau tiga ulama mahir berbahasa Belanda atau Prancis, bahasa resmi Belgia. "30 tahun lalu, Islam datang ke Belgia, sungguh mengherankan apabila Muslim tidak bisa berbahasa Belanda atau Prancis. Ini masalah," ujarnya.

Ia mengakui dari sebagian besar ulama dan guru studi Islam tidak mendapat pelatihan bahasa Inggris. Akibatnya, pengetahuan mereka tantang Islam terbatas dalam sejumlah literatur. "Anda tidak mungkin langsung memindahkan realitas Islam di Maroko atau Turki misalnya, untuk diterapkan di Belgia. Itu sebabnya, mengapa kemampuan berbahasa ini menjadi sangat penting," katanya.

Terkait pandangan masyarakat Eropa terhadap Muslim, Dessoto mengatakan tidak ada permusuhan dalam pemahaman sesungguhnya.  "Ada beberapa pertanyaan tentang pandangan Eropa terhadap radikalisme atau hubungan antara perempuan dan laki-laki tapi ini tidak berarti ada permusuhan. Sebabnya, kita perlu membuka ruang diskusi lebih banyak guna membuka fakta baru soal asimilasi Muslim ke dalam masyarakat Eropa," katanya. 

REPUBLIKA.CO.ID,


Artikel Terkait: