Thursday, January 12, 2012

Perjalanan Mark Shaffer Menggapai Hidayah Islam di Saudi

Mark Shaffer dikenal sebagai seorang pengacara terkemuka di negeri Paman Sam. Pemilik firma hukum, The Shaffer Law Firm itu pernah menangani sejumlah perkara hukum, khususnya masalah perdata, yang melibatkan beberapa nama pesohor di Amerika Serikat. Salah satu kliennya adalah penyanyi pop nomor satu dunia Michael Jackson alias Jacko.

Perkara hukum yang menimpa Jacko sepekan sebelum ‘’King of Pop’’ itu meninggal merupakan kasus besar terakhir yang ditangani Shaffer. Empat bulan berselang setelah kematian Jacko, tersiar kabar bahwa Shaffer berpindah keyakinan. Ia memeluk Islam.

Sebagaimana dilansir dari laman waryatv.com, Shaffer mendeklarasikan keislamannya di  Arab Saudi pada 17 Oktober 2009.  Saat itu,  pengacara kawakan  asal  Los Angeles itu tengah berwisata ke Arab Saudi. Ia  mengunjungi beberapa kota terkenal di negara Timur Tengah itu, seperti Riyadh, Abha dan Jeddah dalam kunjungan selama 10 hari.

Seorang pemandu wisata yang menemaninya selama 10 hari, Dhawi Ben Nashir, menceritakan: ''Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di Saudi, Shaffer banyak bertanya tentang Islam dan shalat. Sesampainya di Saudi, Shaffer menginap di kota Riyadh selama dua hari. Selama di sana, ia menunjukkan ketertarikannya terhadap Islam.''

Dhawi lalu mengajak Shaffer ke kota Najran, terus ke Abha dan Al-Ula. ''Di sana makin terlihat sekali ketertarikannya pada Islam, khususnya saat kami keluar berwisata ke padang pasir,’’ ungkap Dhawi.

Menurut Dhawi, Shaffer kaget saat melihat tiga pemuda Saudi yang mendampinginya di Al-Ula melaksanakan shalat di atas bentangan padang pasir yang amat luas. Pemandangan  itu sungguh sangat menakjubkan bagi Shaffer.

Setelah menghabiskan waktu selama dua hari di Al-Ula, mereka pun melanjutkan perjalanan ke Al-Juf. Sesampai di Al-Juf, Shaffer minta dicarikan buku-buku tentang Islam. ‘’Lalu saya berikan beberapa buku tentang Islam. Semua buku itu dibaca habis oleh Shaffer. Esok paginya, dia minta saya mengajarkannya shalat. Sayapun mengajarkannya shalat dan bagaimana cara berwudhu. Lalu dia ikut shalat di samping saya,’’ papar Dhawi.

Seusai shalat, Shaffer bercerita. Dia merasa jiwanya terasa tentram setelah mencoba menunaikan shalat. Keesokan sorenya, rombongan Shaffer meninggalkan Al-Ula menuju kota Jeddah. Selama di perjalanan, Shaffer terlihat serius sekali membaca buku-buku tentang Islam.

Keesokan paginya -- bertepatan dengan hari Jumat -- rombongan tersebut mengunjungi kota tua Jeddah. ''Sebelum waktu shalat Jumat masuk, kami kembali ke hotel dan saya minta izin padanya untuk shalat Jumat. Saat itu Shaffer berkata kepada saya kalau dia ingin ikut shalat Jumat agar bisa menyaksikan seperti apa shalat Jumat itu.’’

Dhawi pun mempersilakan Shaffer untuk ikut shalat Jumat.  Mereka pun kemudian pergi ke sebuah masjid yang berada tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap di Jeddah. ‘’Karena agak terlambat, saya dan sebagian jamaah shalat di luar masjid karena jamaahnya yang membludak,’’ ujarnya.

Sepanjang berlangsungnya shalat, Shaffer tampak mengamati setiap jamaah yang hadir. Terlebih,  setelah selesai shalat Jumat, para jamaah saling bersalam-salaman dengan wajah yang cerah dan gembira. Pemandangan tersebut semakin membuat Shaffer kagum.
 
Setelah kembali ke hotel, tiba-tiba Shaffer menyampaikan sebuah keinginan yang tak terduga kepada Dhawi. ‘’Saya ingin masuk Islam,’’ ungkap Shaffer. Dhawi pun bergembira mendengar ucapan itu. Ia lalu mempersilakan Shaffer untuk membersihkan diri.  ‘’Silahkan Anda mandi terlebih dahulu.’’

Setelah mandi, Dhawi kemudian membimbing Shaffer mengucapkan dua kalimah syahadat. Kemudian, sang pengacara kondang itu menunaikan shalat sunnah dua rakaat. Setelah itu, Shaffer mengungkapkan keinginannya untuk mengunjungi dan shalat di  Masjidil Haram, Makkah,  sebelum meninggalkan Arab Saudi.

Untuk dapat mewujudkan keinginan tersebut, Shaffer pergi ke kantor Dakwah dan Irsyad di kawasan Al-Hamro’ Jeddah untuk mengambil bukti formal keislamannya agar dapat memasuki kota Makkah dan Masjidil Haram. Lalu ia pun diberi sertifikat sementara masuk Islam.

Shaffer diantar ke Kota Suci Makkah oleh seorang guru agama yang baru dikenalnya di Jeddah, Ustaz Muhammad Turkistani. Lantaran, rombongannya harus kembali ke Amerika pada sore hari, sang advokat pun menyempatkan diri melihat Ka’bah dan shalat di Masjidil Haram pada pagi harinya.

Setibanya di Makkah, Shaffer langsung menuju ke Masjidil Haram. Di sana ia menyempatkan diri untuk menunaikan shalat. Terkait kunjungan Shaffer ke Masjidil Haram, Ustaz Turkistani menceritakan: ''Setelah Shaffer mendapatkan sertifikat Islam,  kami pun langsung berangkat menuju Masjidil Haram yang mulia.’’

Saat menyaksikan Masjidil Haram, menurut Ustaz Turkistani, Shaffer  tampak bahagia. ‘’Wajahnya sangat cerah dan memancarkan kegembiraan yang luar biasa. Ketika kami masuk ke dalam Masjidil Haram dan menyaksikan langsung Ka’bah, kegembiraannya semakin bertambah. Demi Allah saya tidak bisa mengungkapkannya dengan lisan akan pemandangan tersebut,’’ paparnya berkisah.

Setelah tawaf mengelilingi Ka’bah yang mulia, Shaffer shalat sunah dan kemudian keluar dari Masjidil Haram. Ustaz Turkistani mengungkapkan, Shaffer terkesan  sangat berat untuk berpisah dengan Masjidil Haram. Suatu saat, ia berharap akan kembali shalat di Masjidil Haram.
 
Kabar seorang pengacara kondang asal Amerika Serikat (AS), Mark Shaffer memeluk Islam langsung tersebar. Media di Arab Saudi pun segera mewawancarainya.  Shaffer sempat mengungkapkan kebahagiaannya kepada surat kabar Al-Riyadh.

''Saya tidak sanggup mengungkapkan perasaan saya saat ini. Akan tetapi, sekarang saya seperti baru dilahirkan kembali dan kehidupan saya baru dimulai…’’ ungkap Shaffer dengan penuh haru.

Ia lalu mengungkapkan perasaannya, ‘’Saya sangat bahagia. Kebahagiaan yang saya rasakan tidak sanggup saya ungkapkan pada Anda saat saya berkunjung ke Masjid Haram dan Ka’bah yang mulia.''

Menjawab pertanyaan tentang langkah ke depan yang akan dilakukannya setelah ia masuk Islam, Shaffer mengatakan, dirinya akan belajar lebih banyak tentang Islam dan akan mendalami agama Islam. Ia pun bertekad untuk kembali lagi ke Arab Saudi guna menunaikan ibadah Haji di Tanah Suci.

Sebelum memeluk agama yang paling benar, yakni Islam, Shaffer mengaku sudah memiliki informasi tentang Islam, tapi sangat sedikit. ‘’Ketika saya berkunjung ke Saudi dan menyaksikan langsung kaum Muslimin di sini dan saya saksikan mereka menunaikan shalat, saya merasakan sebuah dorongan yang kuat untuk mengenal lebih banyak lagi tentang Islam,’’ papar advokat masyhur itu.

 Setelah membaca informasi yang benar tentang Islam, Shaffer pun tak ragu lagi untuk meninggalkan keyakinan yang telah lama dianutnya. ‘’Saya pun yakin bahwa Islam adalah agama yang hak (benar),’’ ujar dengan penuh keyakinan.

Pada Ahad pagi, bertepatanl 18 Oktober 2009, Shaffer meninggalkan Bandara King Abdul Aziz Jeddah menuju Amerika. Namun sebelum meninggalkan Jeddah, saat mengisi formulir keimigrasian, Shaffer dengan bangga mencantumkan agamanya adalah Islam.
Redaktur: Heri Ruslan

STMIK AMIKOM  REPUBLIKA.CO.ID,


Artikel Terkait:

No comments:

Post a Comment